Oase Filsafat Diri

Soe Hok Gie Dan Wajah Sunyi Kebenaran

Januari 14, 2008 · & Komentar

Orang memang dengan mudah berubah, orang memang dengan mudah terlena. Banyak dari sahabat kita yang dulu berjuang bersama-sama dan mengusung idelisme sama-sama kini telah menjadi anjing-anjing hal yang dulu mereka musuhi.

Memperjuangkan kebenaran memang laksana menelan kegetiran, memperjuangkan idealisme memang sering kali menyakitkan apalagi mempertahankannya.

Aku bukan orang yang anti terhadap dinamika, tapi aku adalah orang yang memegang teguh nilai-nilai. Walau kadang terasa pahit, walau kadang terasa getir, tapi aku akan tetap pilih jalan ini daripada menjadi penjilat anjing-anjing kotor yang selalu aku tentang.karena bagiku kegetiran dalam idealism masih lebih nikmat daripada kenikmatan dalam kemunafikan.

Bagiku kebenaran adalah harga mati, tidak dapat ditawar-tawar lagi. Jika mempertahankan kebenaran adalah mati, biarlah mati menjemputku dalam kebenaran, bila pahit adalah harga kebenaran itu biarlah aku telan kepahitan itu. Aku suka kemakmuran tapi aku benci kesewenang-wenangan. Jika kemakmuran jadi alasan kesewenang-wenangan maka itu tidak bisa dibenarkan.

Tapi aku bertanya pada Tuhan, apakah selamanya kebenaran itu selalu kalah, apakah selamanya keadilan itu hanya  ada dalam cerita,. Jika tidak,  mengapa kulihat sehari-hari seperti itu. Aku percaya seratus persen  akan firman Tuhan jika datang kebenaran maka lenyaplah kebatilan, tapi kapan kebatilan itu terhapuskan, kapan janji Tuhan itu akan datang, di akhirat? Aku percaya akan akhirat. Tapi apakah hanya itu jawaban Tuhan. Jika hanya itu jawaban Tuhan, maka jangan salahkan Mark menganggapnya sebagai candu. Kenapa manusia selalu tertarik untuk membohongi hati nuaraninya, kenapa manusia selalu tak peduli dengan sesamanya, kenapa keikhlasan itu tidak pernah kulihat kecuali pada Ibu yang menyusui anaknya, pada induk singa yang melindungi anaknya, pada guru yang rela kehujanan demi anak didiknya.

Apakah kebenaran harus menjadi Soe Hok Gie, terperangkap dalam sunyi dan sendiri dalam sepi. Apakah memang kebenaran sudah tidak mempunyai teman. Apakah wajah kebenaran sering kali berada dalam kesunyian. Sesunyi kematian Gie, semisterius kejadiannya.

Aku percaya bahwa kebenaran bisa kupegang , aku juga masih percaya kebenaran bukanlah kegetiran walau untuk meraihnya terasa getir. Dan aku percaya jika kebenaran bukan lawan dari kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagiaan.

Kategori: Cangkruan · Pitakonan · Renungan

5 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar