Usia pernikahan yang berkisar antara umur 20-30 tahun acapkali membuat anak muda tak bisa menahan hasrat yang mulai matang sejak umur 9-15 tahun. Dalam ilmu kejiwaan, perubahan struktur hormon terjadi pada antara usia 9 hingga 15 tahun, usia inilah yang biasa kita sebut sebagai dunia remaja, saat agama sudah tidak dipegang lagi seperti dulu kala, saat paham kebebasan dari barat kita impor secara bebas tanpa filter. Paham kebebasan seks pun juga turut menyertainya. Selain itu tuntutan akan kemandirian ekonomi juga menjadi alasan kenapa para anak muda kita enggan menikah muda, mereka merasa tidak siap untuk berumah tangga karena masih belum hidup mapan. Entah yang mereka maksud sebagai mapan apakah mempunyai rumah dan mempunyai pekerjaan yang bisa dibanggakan ataukah yang dimaksud siap adalah kecelakaan terlebih dahulu ”maried by accident”. Tapi jujur harus saya katakan tuntutan orang tua yang mengharuskan anaknya mandiri terlebih dahulu membuat anak-anak muda kita tertekan dan memilih sex before maried sebagai solusi.” Daripada hasrat tak tersalurkan dan harus menunggu pernikahan yang tak tahu kapan datangnya. Ya, sudah main seks saja dulu. Kalau ingin aman pakai kondom”. Begitu mungkin pikir para anak muda kita. (lagi…)
Masukan dari Mei 2008
Dunia Sex dan Anak Muda
Mei 30, 2008 · 11 Tanggapan
Kategori: Awewe · Renungan · Sosial Kemasyarakatan · pemikiran
Ditandai: muda, Seks
Aura Kasih Ngajak Ngeseks
Mei 15, 2008 · 19 Tanggapan
“Berdansa dan menari ikuti alunan lagu, semua mata pun kini hanya tertuju padaku, tapi tatap matamu seolah inginkan aku, ingin dekat dipeluk aku dan sentuh cintaku.tapi tunggulah dulu kau jangan coba merayu tunggu-tunggulah dulu jangan coba dekati aku
Sabarlah-sabarlah dulu jangan marah padaku bukan salahku jika banyak yang mau padaku
Mari semua dansa denganku dekap aku dan hanyut aku dengar irama yang menggoda, melepaskan hasrat dirimu 2X
Kau inginkan aku, peluk aku, cium aku, kau inginkan aku, ingin bercinta denganku.
Mari semua dansa denganku dekap aku dan hanyut aku dengar irama yang menggoda melepaskan hasrat dirimu 2X
Berdansa dan menari ikuti alunan lagu, semua mata pun kini hanya tertuju padaku, tapi tatap matamu seolah inginkan aku, ingin dekat dipeluk aku dan sentuh cintaku.tapi tunggulah dulu kau jangan coba merayu tunggu-tunggulah dulu jangan coba dekati aku
Sabarlah-sabarlah dulu jangan marah padaku bukan salahku jika banyak yang mau padaku
Mari semua dansa denganku dekap aku dan hanyut aku, dengar irama yang menggoda melepaskan hasrat dirimu 2X
Kau inginkan aku, peluk aku, cium aku, kau inginkan aku, ingin bercinta denganku.
Mari semua dansa denganku dekap aku dan hanyut aku dengar irama yang menggoda melepaskan hasrat dirimu 2X
malam ini bukan hanya untukmu, malam ini kita bercinta bersama.”
Pertama kali melihat dan mendengarkan video klip “Mari Bercinta” milik Aura Kasih, satu hal yang dirasakan dan coba ditonjolkan dari klip ini yaitu keseksian dan sensualitas Aura Kasih. saat mendengarkan teks akhir dari lagu ini,”mari kita bercinta bersama” dengan suara yang serak-serak meminta, setelah sebelumnya kita diprovokasi dengan pakaian mini yang memamerkan kedua paha indah dan gerakan-gerakan kaki “nakal” yang biasa kita dapatkan pada pelacur-pelacur kelas atas Indonesia, makin membuat hati lelaki manapun menjadi berdesir. Kesan nakal, seksi, menggairahkan, menggemaskan dan minta “dimakan” menjadi kesan dari klip Aura Kasih. istilah bercinta bersama juga bisa berarti pesta seks. (lagi…)
Saatnya ”Rakyat Hidup” bukan “Hidup Rakyat!”
Mei 12, 2008 · 2 Tanggapan
Hidup rakyat!, Hidup Buruh!, Hidup Orang Miskin! dan hidup-hidup yang lain sering kali kita dengarkan. Bahkan saya sendiri sebenarnya dulunya adalah penganut madhab ini, berada di bawah terik matahari, di jalanan panas, dipentungi petugas yang memang ditugasi sebagai centeng oleh orang yang kita pilih sendiri sebagai pemimpin. Lama saya ikut demonstrasi-demonstrasi seperti ini dalam skala besar ataupun dalam skala kecil di Jawa Timur. Bahkan adakalanya giuran datang dari beberapa “pemain” untuk berunjuk rasa bukan atas nama nurani. Idealisme seperti dipertaruhkan dalam ombang-ambing “Tuhan” yang bernama demokrasi. Lama saya termenung, apakah ini semua menyelesaikan masalah?mungkin pada tahun 1998, saat penindasan begitu terasa dan saat kebebasan betul-betul dibutuhkan secara mendesak dan Soeharto tuli mendengar tuntutan rakyat, unjuk rasa memang menjadi jalan satu-satunya untuk mengungkapkan ketidakpuasan kita. Tapi saat sekarang ini, masihkah itu tepat untuk mengatasi segala permasalahan yang terjadi, yel-yel “hidup rakyat” masih saja dikumandangkan mulai saat saya mendengarnya tahun 1998, saat saya meneriakkannya pada 2002 dan saat saya masih mendengarnya pada tahun 2008. (lagi…)


