Oase Filsafat Diri

Saatnya ”Rakyat Hidup” bukan “Hidup Rakyat!”

Mei 12, 2008 · & Komentar

Hidup rakyat!, Hidup Buruh!, Hidup Orang Miskin! dan hidup-hidup yang lain sering kali kita dengarkan. Bahkan saya sendiri sebenarnya dulunya adalah penganut madhab ini, berada di bawah terik matahari, di jalanan panas, dipentungi petugas yang memang ditugasi sebagai centeng oleh orang yang kita pilih sendiri sebagai pemimpin. Lama saya ikut demonstrasi-demonstrasi seperti ini dalam skala besar ataupun dalam skala kecil di Jawa Timur. Bahkan adakalanya giuran datang dari beberapa “pemain” untuk berunjuk rasa bukan atas nama nurani. Idealisme seperti dipertaruhkan dalam ombang-ambing “Tuhan” yang bernama demokrasi. Lama saya termenung, apakah ini semua menyelesaikan masalah?mungkin pada tahun 1998, saat penindasan begitu terasa dan saat kebebasan betul-betul dibutuhkan secara mendesak dan Soeharto tuli mendengar tuntutan rakyat, unjuk rasa memang menjadi jalan satu-satunya untuk mengungkapkan ketidakpuasan kita. Tapi saat sekarang ini, masihkah itu tepat untuk mengatasi segala permasalahan yang terjadi, yel-yel “hidup rakyat” masih saja dikumandangkan mulai saat saya mendengarnya tahun 1998, saat saya meneriakkannya pada 2002 dan saat saya masih mendengarnya pada tahun 2008. (lagi…)

Kategori: Cangkruan · pemikiran