Pada 1 Juni kemarin saat peringatan hari kesaktian pancasila oleh AKBB, semua orang tak dinyana akan terfokus pada isu yang satu ini, bukan karena peringatannya akan tetapi oleh karena terjadinya bentrok antara massa AKKBB dengan massa Laskar Islam yang dikomandoi oleh mantan Ketua Komnas HAM.
Pertama menyaksikannya, saya tidak habis berpikir bagaimana massa yang menyebut dirinya sebagai organisasi Islam dapat memukuli orang seperti itu, padahal mereka yang dipukuli adalah sama orang-orang Islamnya. Saat itu juga saya memprihatinkan aksi Laskar Islam yang banyak didominasi oleh orang-orang FPI sangat brutal.
Akan tetapi beberapa waktu berselang, saya melihat banyak kejanggalan dalam bentrok monas, pertama, menurut pengakuan Yenny Wahid, setengah jam sebelum terjadinya bentrok, Pramono Anung dari PDI-P dan kelompoknya diperingatkan oleh Polisi agar menyingkir dari Monas. Kedua, kedua, dalam video milik FPI, diperlihatkan seseorang yang memakai pita merah putih di lengannya memprovokasi massa FPI dengan mengeluarkan senjata api. Orang ini menurut FPI dan Laskar Islam lainnya adalah panitia AKKBB, sedang menurut AKBB, orang tersebut tidak mereka kenal dan bukan panitia AKBB karena Panitia AKBB tidak memakai pita merah putih tapi memakai co-card yang dikalungkan ke leher. Ketiga, jumlah Polisi yang ada di lapangan sangat sedikit, bahkan menurut Yenny, saat itu hanya terdapat satu Polisi saja.
Melihat fakta di atas, bentrok Monas adalah sebuah kejanggalan. Banyak hal-hal aneh yang terjadi. Dari itu ada kemungkinan Intelijen ikut bermain di sana. Pihak intelijen sengaja bermain dengan cara membenturkan kedua belah massa. Padahal seperti pengakuan FPI dan Laskar Islam lainnya, saat itu Laskar Islam hendak mengadakan demo kenaikan BBM ke Istana Negara. Membenturkan kedua massa ini tentu saja langsung mengalihkan perhatian tokoh dan masyarakat yang selama ini konsern menolak kenaikan harga BBM di dalam negeri menjadi berbalik pada isu kekerasan satu Juni.
Tentu dari sini saya tidak ingin mengatakan siapa yang salah atau yang benar tapi salah satu kunci untuk menuntaskan kasus ini adalah dengan cara memeriksa secara intensif orang yang disebut memprovokasi massa Laskar Islam tersebut.



2 tanggapan so far ↓
Arif // Juni 23, 2008 pada 7:39 am |
Masak Iya Bang. Apa Ente tidak takut dituduh melakukan pencemaran nama baik?
Ihsan Maulana // November 3, 2008 pada 4:22 am |
tiada satu maksud hati untuk mencemarkan salah satu pihak tapi hanya ingin mengemukakan dalam hasil analisis saya atas beberapa indikasi yang bisa dilihat dan ditelaah dalam alur logika