Allah itu Cahaya langit-langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti oblek yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu ada di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Nur: 24)
Sengaja kata misykat dalam kata kamisykatin fiihaa mishbah saya artikan dengan kata oblek, karena orang-orang di rumah saya tidak mengerti dengan kata misykat, apalagi saya sendiri tidak mengerti bentuk misykat dalam bentuk aslinya sebagaimana orang Arab zaman Nabi mememahaminya. Jadi saat saya membacakan surat al-Nur:24 tersebut dan saat ada yang bertanya, “Apa misykat itu Ustadz?” saya jawab saja, “ Oblek…, ya obleke Tuhan”. Saya berani mengambil kata oblek karena kata misykat menurut keterangannya dalam kitab-kitab tafsir adalah lubang yang terdapat di dinding yang tidak tembus ke dinding sebelahnya yang biasanya digunakan untuk tempat lampu. Lah, kalau di tempat saya yang para nenek moyangnya hanya mempunyai rumah yang terbuat dari gedek (bidik/tabing) tentu tidak ada dalam kamus mereka misykat seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an tersebut. Yang ada di rumah mereka hanyalah oblek yang menyinari ruangan di dalam rumah. Jadi seandainya saya salah, semoga dimaafkan oleh Tuhan. (lagi…)


