Dulu saat kuliah saya sering bertanya-tanya, kenapa ya saya suka sekali mengerjakan makalah di saat-saat akhir, jadi dulu jika besok sudah waktunya maju makalah, maka saya bisa menghabiskan malam saya dengan membuat makalah dan hanya ada jeda shalat subuh saja. Saat itu saya berpikir, apakah saya satu-satunya orang yang seperti itu, lambat laun saya menyadari ternyata tidak. Banyak teman-teman saya yang juga seperti itu. Ini terbukti saat saya nge-kos (maksudnya numpang nginap di kos teman, hihi) saya juga menemukan ada beberapa teman yang seperti saya. Suka berleha-leha saat waktu luang dan main kebut setelah waktunya mepet. Tapi sebenarnya sih, kalau boleh membela diri, waktu itu (waktu kuliah dulu) bukannya berleha-leha, tapi karena paling tidak saat itu saya aktif di organisasi kampus baik intra maupun ekstra. Aktifis tahun 2000-an lah pokoknya.kalau bawa tas, hamper bisa dipastikan bahwa isi tasnya selain pena dan buku adalah sabun dan sikat gigi, hehe. Masalah mandi di mana, maka saya dan para teman-teman seperjuangan dulu menganut satu falsafah negeri ini, “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Ya di mana di rasa badan sudah tidak enak dan mulai gatal-gatal, ya saya dan teman-teman mandi di tempat itu. Bisa di kamar mandi BEM, kamar mandi perpustakaan, kamar mandi masjid kampus hingga kamar mandi kos teman (itu karena sejak dulu saat s1 sebenarnya tidak pernah indekos). Di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak, ups, maksudnya adalah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Lanjut membaca
Arsip Bulanan: Oktober 2011
Iyjad al-Wujud dalam “Aku”
“Aku” adalah sebuah simbol bunyi yang diucapkan untuk menunjukkan si empunya bunyi. Sebuah simbol penunjukan eksistensi diri pada sebuah realitas yang berdiri di sekitarnya atau bahkan pada diri si pengucap.
Kata “aku” dalam artian bahwa itu menunjukkan subjek ke-1 atau yang dalam tata gramatikal Bahasa Arab dikenal dengan sebagai “mutakallim wahdah” yang berarti si pembicara itu sendiri tanpa melibatkan orang lain untuk bersekutu dengannya. Misal, “aku mengangkat batu ini.” kalimat ini mempunyai pengertian bahwa yang mengangkut batu adalah orang itu by him self, tidak dengan bantuan sekutu. Lain halnya jika kita mengatakan, “kami mengangkat batu ini” maka hal itu menunjukkan bahwa yang mengangkat batu lebih dari satu orang atau ada orang lain yang ikut mengangkat selain si pembicara.
Lanjut membaca