Kebebasan Terkontrol Manusia

Manusia hidup di dunia diberikan sebuah kebebasan untuk memilih. Ia bebas untuk melakukan apapun, kapanpun dan dimanapun. Karena itulah dalam agama kemudian kita kenal ada hisab (penghitungan) yaitu sebuah perhitungan amal yang kelak akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Dalam salah satu madhab teologia Islam yaitu madhab Asy’ariyah yang didirikan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ary, menyatakan bahwa pada dasarnya manusia tidak memiliki kebebasannya sama sekali, segala yang dikerjakannya semuanya adalah takdir dari Tuhan dan manusia tiada berkuasa sama sekali atas semua pekerjaannya. Paham teologi Asy’ari pada esensinya adalah paham fatalitas atau dalam sejarah Islam dikenal sebagai aliran jabariyah. Paham ini menyatakan bahwa manusia tidak mempunyai kuasa apapun atas dirinya dan atas berbagai tindakan yang dilakukannya. Semuanya adalah by setting Tuhan. Lanjut membaca

Budaya Bandung Bondowoso dan Sangkuriang

Dulu saat kuliah saya sering bertanya-tanya, kenapa ya saya suka sekali mengerjakan makalah di saat-saat akhir, jadi dulu jika besok sudah waktunya maju makalah, maka saya bisa menghabiskan malam saya dengan membuat makalah dan hanya ada jeda shalat subuh saja. Saat itu saya berpikir, apakah saya satu-satunya orang yang seperti itu, lambat laun saya menyadari ternyata tidak. Banyak teman-teman saya yang juga seperti itu. Ini terbukti saat saya nge-kos (maksudnya numpang nginap di kos teman, hihi) saya juga menemukan ada beberapa teman yang seperti saya. Suka berleha-leha saat waktu luang dan main kebut setelah waktunya mepet. Tapi sebenarnya sih, kalau boleh membela diri, waktu itu (waktu kuliah dulu) bukannya berleha-leha, tapi karena paling tidak saat itu saya aktif di organisasi kampus baik intra maupun ekstra. Aktifis tahun 2000-an lah pokoknya.kalau bawa tas, hamper bisa dipastikan bahwa isi tasnya selain pena dan buku adalah sabun dan sikat gigi, hehe. Masalah mandi di mana, maka saya dan para teman-teman seperjuangan dulu menganut satu falsafah negeri ini, “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Ya di mana di rasa badan sudah tidak enak dan mulai gatal-gatal, ya saya dan teman-teman mandi di tempat itu. Bisa di kamar mandi BEM, kamar mandi perpustakaan, kamar mandi masjid kampus hingga kamar mandi kos teman (itu karena sejak dulu saat s1 sebenarnya tidak pernah indekos). Di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak, ups, maksudnya adalah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Lanjut membaca

Iyjad al-Wujud dalam “Aku”

“Aku” adalah sebuah simbol bunyi yang diucapkan untuk menunjukkan si empunya bunyi. Sebuah simbol penunjukan eksistensi diri pada sebuah realitas yang berdiri di sekitarnya atau bahkan pada diri si pengucap.

Kata “aku” dalam artian bahwa itu menunjukkan subjek ke-1 atau yang dalam tata gramatikal Bahasa Arab dikenal dengan sebagai “mutakallim wahdah” yang berarti si pembicara itu sendiri tanpa melibatkan orang lain untuk bersekutu dengannya. Misal, “aku mengangkat batu ini.” kalimat ini mempunyai pengertian bahwa yang mengangkut batu adalah orang itu by him self, tidak dengan bantuan sekutu. Lain halnya jika kita mengatakan, “kami mengangkat batu ini” maka hal itu menunjukkan bahwa yang mengangkat batu lebih dari satu orang atau ada orang lain yang ikut mengangkat selain si pembicara.
Lanjut membaca

Franky dan Kesadaran Diri

Dulu saya mengenalnya hanya sebagai penyanyi balada, dulu bagi saya ia tak lebih hanya sebagai seorang penyanyi layaknya penyanyi lain yang saya sukai, saat “perahu retak” diperdengarkan, saya baru saja masuk bangku kuliah. Saat itu saya mulai terlibat akan isu-isu sosial dan kegiatan-kegiatan populis. Layaknya para mahasiswa aktifis, saya pun juga menggelar demo, mulai dari demo yang main segel-segelan hingga demo tahlilan dalam rangka mendesak pemerintah untuk mengusut kematian Munir yang saat itu masih diberitakan meninggal karena mengidap penyakit jantung. Lanjut membaca

Monogami vs Poligami

“Perintah Al-Qur’an itu awal kalinya adalah menikah dua!” begitu kata saya di main office Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya (SAIMS) yang dipenuhi para ustadhah-ustadhah. Kontan saja ruangan menjadi riuh, para ustadhah-ustadhah tidak setuju bahkan ada yang bilang, “Saya benci Ustadz Ihsan!” begitu kata salah seorang ustadhah kepada saya. Tapi tidak demikian dengan para ustadz-ustadz, mereka menanggapi dengan senyum-senyum bahkan beberapa di antaranya bilang “betul-betul”. Saya kemukakan alasan saya secara syar’ie kenapa poligami itu halal dan diperbolehkan dalam Islam. Lanjut membaca

Perek itu Perez (Bag. II)

Tadi malam (01 Desember 2010) saat jam menunjukkan pukul 10 malam, saya cangkruk dengan dua orang sahabat. Sebut saja namanya adalah Ram dan Ridho. Pertamakali, saya cangkruk bersama Ram dan saat itu Ridho belum datang. Ram curhat kepadaku tentang dua pacarnya yang sama-sama hamil. Yang pertama lambat menstruasi satu minggu dan yang kedua sudah hamil satu bulan. Dia pusing karena tak tahu harus berbuat apa. Disamping karena kedua pacarnya masih dalam masa pendidikan, ia juga tidak bisa berpikir dan tak pernah membayangkan bagaimana harus menikahi kedua-duanya. Beberapa saat kemudian, datanglah sms dari pacar pertamanya yang mengatakan bahwa ia baru saja minum Sprite empat kaleng yang dicampur dengan garam dan kontan langsung menstruasi, tapi menurut pengakuan si pacar, sakitnya melebihi menstruasi biasanya. “Kok bisa ya, San?” langsung ku jawab, “Sakit orang yang menggugurkan kandungan konon jauh lebih sakit dibanding melahirkan secara normal. Atau paling tidak pacar pertamamu itu merasakan sakit seperti sakitnya orang keguguran.” Begitu jelasku pada Ram. Tentu saja sepengetahuanku. Lanjut membaca

Perek itu Perez (Bag. I)

Perek (perempuan ekslusif) atau yang biasa kita kenal dengan cewek cabutan kelas atas atau yang biasa kita tahu sebagai mereka yang menerapkan tarif 400-1.000 per kencan sangat banyak berkeliaran di kota-kota metropolitan termasuk kota Surabaya. Tak sulit menemukannya, tinggal kontak agency atau perantaranya atau yang biasa disebut sebagai “joki” maka mereka akan siap datang (tentu dengan kesepakatan harga). Tapi bukan itu yang akan jadi rasanan saya kali ini. Tapi lebih pada gaya hidup mereka yang harus dibayar mahal dan mulut manisnya yang mengandung bisa di sisi lain. Lanjut membaca