Junayd Al-Baghdadi, Kehidupan dan Pemikirannya

Al-Junayd merupakan keturunan Persia, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, tapi diperkirakan lahir pada tahun 210 H di kota Baghdad, sedangkan keluarganya sendiri berasal dari kota Nihawand, propinsi Jibal, Persia. Ayah Al-Junayd yaitu Muhammad ibn Al-Junayd Al-Qawariri meninggal dunia ketika Junayd masih kanak-kanak, selanjutnya Junayd kecil dipelihara oleh pamannya, Sari al-Saqati untuk kemudian diasuh dan dibesarkan hingga dewasa. Masa kecil Junayd jarang dibicarakan, namun diperkirakan ia dibesarkan dalam keluarga pedagang, bahkan ia kelak menjadi pedagang sutera di kota Baghdad.

Awal pendidikan al-Junayd dimulai dengan belajar ilmu pengetahuan agama pada pamannya sendiri, Sari al-Saqati, yang juga dikenal sebagai seorang sufi yang sangat luas ilmu pengetahuannya. Ketika usianya 20 tahun, al-Junayd mulai belajar hadits dan fiqh pada Abu Thawr, sorang faqih terkenal di Baghdad pada masa itu. Setelah mempelajari hadits dan fiqh, al-Junayd beralih menekuni tasawuf, sekalipun sebenarnya dia sudah mulai mengenal ajaran tasawuf sejak berumur 7 tahun di bawah bimbingan Sari al-Saqati. Selain itu Junayd kecil juga belajar sufisme dari siapa saja sehingga pengetahuan sufismenya semakin hari bertambah luas. Ketika dewasa bisa dibilang ilmu al-Junayd dalam sufisme telah cukup matang.

Al-Junayd adalah seorang sufi yang cerdas, memiliki pikiran cemerlang dan selalu cepat tanggap dalam menghadapi segala situasi dan kondisi. Analisisnya terhadap berbagai masalah yang diajukan kepadanya sangatlah tajam, sehingga sering membuat para pendengarnya terkagum-kagum. Padahal sifat dan kemampuannya ini sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Kedudukannya di antara para sufi sangatlah terhormat, bahkan Sari al-Saqati sendiri sempat mengakuinya. Dalam riwayat dinyatakan, ketika seseorang bertanya pada Sari al-Saqati, “Apakah seorang murid dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari gurunya dalam tasawuf?” Sari al-Saqati menjawab, “Tentu saja dapat, lantaran ada banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut. Ketahuilah bahwa tingkat tasawuf al-Junayd itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang pernah kucapai.”

Dalam kehidupan sehari-hari, al-Junayd memiliki sikap yang berbeda dari para sufi yang lain. Dimana dia tidak menjalani kehidupannya dengan menjauhi keduniawian, namun juga tidak hidup dalam kemewahan. Sebagai seorang sufi yang pedagang (wiraswasta/entrepreneur), al-Junayd selalu menyesuaikan kehidupannya dengan profesi itu. Meskipun kehidupannya dapat dikatakan kaya raya, sebagai sufi yang shalih, tidak pernah ia berlebihan dalam menggunakan hartanya untuk kehidupan sehari-hari. Al-Junayd memiliki pribadi yang menyenangkan, oleh karena itu dia banyak disukai oleh para sufi pada masanya, sehingga rumahnya selintas bagaikan tempat berkumpulnya para sufi. Namun demikian, al-Junayd sendiri tidak pernah mengeluh menghadapi itu, bahkan sebaliknya dia merasa senang dengan kunjungan mereka. Sehingga al-Junayd selalu menerima dan menjamu mereka sebaik mungkin.

Al-Junayd bukanlah orang radikal, sehingga sikapnya lebih cenderung kepada pemikiran salaf yang selalu menekankan bahwa ajaran tasawuf haruslah didasarkan pada al-Qur’an dan Hadits. Untuk membuktikan pernyataan tersebut, dia selalu berusaha menerapkan dan menjabarkannya pada semua ajaran tasawuf yang diberikannya. Sehingga kekaguman umat dan ulama syariat atas pandangan sikapnya terhadap tasawuf membuat ajaran tasawufnya dapat diterima di masyarakat. Lanjut membaca

Gaya Lebay Imrithy

“Wa al-nahwu awla awwalan an yu’lama
Idz al-kalamu dunahu la yufhama”

Syair di atas sebenarnya agak berlebihan dengan beberapa alasan. Pertama, ilmu nahwu lahir jauh setelah bahasa Arab lahir. Kedua, banyak orang Arab tidak paham nahwu tapi mengerti saat bahasa Arab dikatakan atau ditulis. Ketiga, ilmu nahwu itu pada intinya adalah I’rab. Dan I’rab adalah tagyiru akhiril kalimi li awamili ad-dhakhilati lafdhan aw taqriran- berubahnya akhir kalimat karena masuknya amil baik secara lafal ataupun perkiraan-. Jadi perkataan idzil kalamu dunahu la yufhama adalah berlebihan buat saya. Lanjut membaca

Hayy bin Yagzan (Tarzan on Islam Verses)

Karya dalam bidang filsafat yang juga berpengaruh besar pada Abad pertengahan di Barat selain karya-karya Ibn Sina dan Ibn Rusyd adalah Risalat Hayy bin Yaqzan dari Ibn Thufail. ‘Novel filsafat’ ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti bahasa latin, Yahudi, Inggris, Belanda, Spanyol, jerman, Perancis, dan Rusia (H.L. Bec & N.J.G.Kaptein, 1988:73-74). Membacanya membuat saya teringat pada kisah Tarzanyang saya suka ketika saya kecil. Tapi membaca Hayy bin Yagzan jauh lebih bernilai dan memberikan pencerahan ketimbang membaca cerita Tarzan Lanjut membaca

Ngaji Logika Tuhan

“Alaysa dhaalika biqaadirin ‘alaa an yuhyiya al-mawtaa (QS:75:40)”

Itu kata Tuhan dalam al-Qur’an penutup surat al-Qiyaamah, yang artinya begini “Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati.” Atau dalam arti bebasnya dalam narasi orang Surabaya mungkin terjemahan bebasnya jadi seperti ini, “ Kalau aku menciptakanmu dari gak ada apa-apa saja aku bisa, tentu menghidupkanmu kembali adalah lebih mudah bagiku.” Atau dalam bahasa medok Surabaya akan jadi seperti ini, “Lek aku nggawe awakmu teko gak ono ae iso opo mane saiki. Aku wes nduwe blue print-ne awakmu seng ono nang setiap sel awakmu, lah yo lebih gempil bos!”. Surat al-Qiyaamah atau dalam bahasa Indonesianya disebut sebagai kiamat yang berarti the end of the day, memiliki 40 ayat dan tergolong dalam jajaran surat-surat Makkiyah atau surat yang diturunkan sebelum Nabi bermigrasi ke Yastrib (nama asal dari Madinah al-Munawwarah).
Lanjut membaca

Islam Apa Adanya dalam Novel Pemuja Oksigen

Sudah membaca novel ini? Ceritanya tentang seorang pemuda 22 tahun bernama Rimba Bonaventur yang secara tak sengaja masuk dalam pusaran masalah. Awalnya, motor butut Rimba yang knalpotnya naudzubillah min dzalik itu “dikerjai” oleh sekelompok ekstrimis pecinta lingkungan. Rimba membalas. Tapi balasan itu kebablasan. Hingga menyebabkannya terseret ke persoalan-persoalan yang lebih rumit. Lanjut membaca

Sampainya Hadiah Bacaan al-Qur’an Untuk Mayyit (Orang Mati)

Dalil-dalil Hadiah Pahala Bacaan

Seorang teman, men-sms saya, dia menulis begini, “ Assalamu’alaikum, Ihsan, jika pean punya refrensi tentang tahlil dan diba’, dalil-dalil yang menjadi dasarnya apa?bunyinya bagaimana?diriwayatkan siapa, penting, tolong ya, matur suwun. Wassalamu’alaikum.” Demikianlah apa yang disampaikan teman saya tersebut. Daripada itu, saya pun berpikir kenapa jawaban saya tidak saya jabarkan secara luas saja karena saya yakin orang yang bertanya seperti teman saya di atas bukan hanya teman saya tapi juga banyak muslim lain di penjuru lain dunia ini.
Berikut adalah hasil penelusuran saya pada dalil-dalil tentang seputar tahlil. Lanjut membaca

Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Filsafat dan Tasawuf Pasca al-Ghazali

Al-Ghazali; Pemikiran, Kondisi Sosiologis Dan Dampaknya

Al-Ghazali, tokoh yang satu ini namanya begitu besar dalam sejarah Islam, ia dianggap sebagai hujjah al-islam, wali al-ulama’, dan sebutan prestise lainnya. Bahkan namanya menembus hingga pada khazanah sejarah ilmu pengetahuan orang-orang Eropa.

Tokoh yang satu ini juga sering disebut al-Ghazzali (tasydid huruf za’) yang berasal dari kata ghazzal yang berarti tukang pintal, karena Ayahnya adalah seorang tukang pintal benang wol. Dilahirkan di kota Thus, ia diangkat sebagai guru besar di Madrasah al-Nidhamiyah, setelah sebelumnya menunjukkan kecemerlangan sebagai seorang murid Juwaini yang mengagumkan. Lanjut membaca