Tulisan ini mencoba mempertanyakan film-film setan atau horor lokal yang coba diketengahkan di bioskop-bioskop kita akhir-akhir ini. semakin ditanyakan, kadang semakin membuat kita tidak mengerti dan di sisi lain terkadang membuat kita tersenyum dengan tingkah polahnya. Yah, walaupun hal itu tidak diniatkan menjadi film humor. Bayangkan saja, saat setan di negeri lain masih dekil dan kotor, setan di negera kita sudah keramas (Suster Keramas), saat setan di negera lain jalannya hanya lompat-lompat, setan di negera kita sudah bisa goyang karawang (lupa judul filmnya), saat setan di Negara lain gak bisa keluar darah, setan di negeri kita malah masih aktif datang bulan (Setan datang Bulan). Lanjut membaca
Arsip Kategori: Renungan
Generasi yang Teronani
Kenapa anak-anak sekarang jauh lebih dewasa secara psikologis dibanding umurnya? Jawabnya ada tiga. Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Kedua, lingkungan. Ketiga, teknologi. Lanjut membaca
Iyjad al-Wujud dalam “Aku”
“Aku” adalah sebuah simbol bunyi yang diucapkan untuk menunjukkan si empunya bunyi. Sebuah simbol penunjukan eksistensi diri pada sebuah realitas yang berdiri di sekitarnya atau bahkan pada diri si pengucap.
Kata “aku” dalam artian bahwa itu menunjukkan subjek ke-1 atau yang dalam tata gramatikal Bahasa Arab dikenal dengan sebagai “mutakallim wahdah” yang berarti si pembicara itu sendiri tanpa melibatkan orang lain untuk bersekutu dengannya. Misal, “aku mengangkat batu ini.” kalimat ini mempunyai pengertian bahwa yang mengangkut batu adalah orang itu by him self, tidak dengan bantuan sekutu. Lain halnya jika kita mengatakan, “kami mengangkat batu ini” maka hal itu menunjukkan bahwa yang mengangkat batu lebih dari satu orang atau ada orang lain yang ikut mengangkat selain si pembicara.
Lanjut membaca
Antara Pendidikan Islam dan Pendidikan Barat
Pendidikan merupakan salah satu unsur yang sangat penting terhadap pembentukan akhlak dan pembangun peradaban suatu bangsa. Setidaknya ada tiga faktor pembentukan sebuah peradaban yaitu pandangan hidup (worldview), ilmu pengetahuan (science) dan salah satunya adalah pendidikan (education). Kaitan antara ketiga faktor tersebut merupakan circle (lingkaran). Artinya pandangan hidup dapat lahir dan berkembang dari akumulasi ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui proses pendidikan. Lanjut membaca
Perempuan Tua di Senja Hari
Saat itu, saya sedang ngopi di warung kopi yang hanya berjarak sekitar 100 m kea rah barat dari rumah. Sebuah warung kopi yang hanya diterangi lampu neon 10 watt pada malam hari dan dipayungi oleh pohon sejenis beringin yang berdiri pas di depan warung membuat warung menjadi rindang saat siang hari dan menjadi sejuk saat malam hari. Acara ngopi di senja hari ini sebagai qodho’an (pengganti) atas kenyataan tadi pagi yang belum ngopi akibat ada acara di kampus.
Lanjut membaca
Gambar dan Koptasi Ideologi Pendidikan Kita
Beberapa saat yang lalu saya menjadi narasumber diklat epistemologi di sebuah perguruan tinggi negeri di Jember Jawa Timur. Iseng-iseng saya ingin melihat kira-kira file apa yang akan “dicetak” peserta diklat jika saya meminta mereka untuk menggambar. Ternyata dari 46 mahasiswa yang saya minta untuk menggambar pemandangan, 32 (69.5%) di antaranya menggambar gunung, 22 (48%) di antaranya yang 32 tadi menggambar dua gunung dalam gambarnya, sembilan (19%) lainnya menggambar gambar berunsur air terutama air laut, dan sisanya yaitu lima (10%) orang menggambar gambar lain.
Hal ini setidaknya menunjukkan satu hal bahwa mayoritas gambar yang mereka gambar ternyata tidak berdasarkan kenyataan yang ada yaitu dua gunung. Karena hampir tidak pernah ditemukan dua buah gunung yang berdiri sejajar di muka bumi ini paling tidak yang saya temui di Indonesia. Kebanyakan gunung berdiri tunggal atau berjajar dari beberapa banyak gunung atau bukit. Dari mana mereka mendapatkan file gambar tersebut. Jawaban pastinya setelah saya tanya adalah sekolah. Ya, sekolah menjadi penanam ide bahwa gambar pemandangan itu berarti menggambar dua buah gunung. Penanaman ide ini menurut pengakuan mereka terutama terjadi pada saat TK (Kindegarden) dan SD (elementary school) tingkat awal. Dalam kata lain, ternyata sekolah mewariskan penanaman ideologi pada anak didiknya berupa gambar dua gunung baik disadari atau tidak oleh si guru. Yang sangat mengenaskan adalah dari 46 mahasiswa tersebut saat saya minta menggambar rumah ternyata 45 (97.8%) orang di antaranya menggambar rumah persegi panjang dengan model atap segitiga memanjang. Sangat tampak sekali bahwa gambaran itu tidak berdasarkan kenyataan yang ada. Idea mereka diwariskan oleh guru yang dulu mengajari mereka bahwa menggambar rumah itu seperti itu. Lanjut membaca
Hayy bin Yagzan (Tarzan on Islam Verses)
Karya dalam bidang filsafat yang juga berpengaruh besar pada Abad pertengahan di Barat selain karya-karya Ibn Sina dan Ibn Rusyd adalah Risalat Hayy bin Yaqzan dari Ibn Thufail. ‘Novel filsafat’ ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti bahasa latin, Yahudi, Inggris, Belanda, Spanyol, jerman, Perancis, dan Rusia (H.L. Bec & N.J.G.Kaptein, 1988:73-74). Membacanya membuat saya teringat pada kisah Tarzanyang saya suka ketika saya kecil. Tapi membaca Hayy bin Yagzan jauh lebih bernilai dan memberikan pencerahan ketimbang membaca cerita Tarzan Lanjut membaca