Tulisan ini mencoba mempertanyakan film-film setan atau horor lokal yang coba diketengahkan di bioskop-bioskop kita akhir-akhir ini. semakin ditanyakan, kadang semakin membuat kita tidak mengerti dan di sisi lain terkadang membuat kita tersenyum dengan tingkah polahnya. Yah, walaupun hal itu tidak diniatkan menjadi film humor. Bayangkan saja, saat setan di negeri lain masih dekil dan kotor, setan di negera kita sudah keramas (Suster Keramas), saat setan di negera lain jalannya hanya lompat-lompat, setan di negera kita sudah bisa goyang karawang (lupa judul filmnya), saat setan di Negara lain gak bisa keluar darah, setan di negeri kita malah masih aktif datang bulan (Setan datang Bulan). Lanjut membaca
Arsip Kategori: Sosial Kemasyarakatan
Franky dan Kesadaran Diri
Dulu saya mengenalnya hanya sebagai penyanyi balada, dulu bagi saya ia tak lebih hanya sebagai seorang penyanyi layaknya penyanyi lain yang saya sukai, saat “perahu retak” diperdengarkan, saya baru saja masuk bangku kuliah. Saat itu saya mulai terlibat akan isu-isu sosial dan kegiatan-kegiatan populis. Layaknya para mahasiswa aktifis, saya pun juga menggelar demo, mulai dari demo yang main segel-segelan hingga demo tahlilan dalam rangka mendesak pemerintah untuk mengusut kematian Munir yang saat itu masih diberitakan meninggal karena mengidap penyakit jantung. Lanjut membaca
Monogami vs Poligami
“Perintah Al-Qur’an itu awal kalinya adalah menikah dua!” begitu kata saya di main office Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya (SAIMS) yang dipenuhi para ustadhah-ustadhah. Kontan saja ruangan menjadi riuh, para ustadhah-ustadhah tidak setuju bahkan ada yang bilang, “Saya benci Ustadz Ihsan!” begitu kata salah seorang ustadhah kepada saya. Tapi tidak demikian dengan para ustadz-ustadz, mereka menanggapi dengan senyum-senyum bahkan beberapa di antaranya bilang “betul-betul”. Saya kemukakan alasan saya secara syar’ie kenapa poligami itu halal dan diperbolehkan dalam Islam. Lanjut membaca
Perek itu Perez (Bag. II)
Tadi malam (01 Desember 2010) saat jam menunjukkan pukul 10 malam, saya cangkruk dengan dua orang sahabat. Sebut saja namanya adalah Ram dan Ridho. Pertamakali, saya cangkruk bersama Ram dan saat itu Ridho belum datang. Ram curhat kepadaku tentang dua pacarnya yang sama-sama hamil. Yang pertama lambat menstruasi satu minggu dan yang kedua sudah hamil satu bulan. Dia pusing karena tak tahu harus berbuat apa. Disamping karena kedua pacarnya masih dalam masa pendidikan, ia juga tidak bisa berpikir dan tak pernah membayangkan bagaimana harus menikahi kedua-duanya. Beberapa saat kemudian, datanglah sms dari pacar pertamanya yang mengatakan bahwa ia baru saja minum Sprite empat kaleng yang dicampur dengan garam dan kontan langsung menstruasi, tapi menurut pengakuan si pacar, sakitnya melebihi menstruasi biasanya. “Kok bisa ya, San?” langsung ku jawab, “Sakit orang yang menggugurkan kandungan konon jauh lebih sakit dibanding melahirkan secara normal. Atau paling tidak pacar pertamamu itu merasakan sakit seperti sakitnya orang keguguran.” Begitu jelasku pada Ram. Tentu saja sepengetahuanku. Lanjut membaca
Cino juga Orang Indonesia
Pagi ini, saya mencuci motorku di depan rumah. Saat itu ada seorang anak SD keturunan Tionghoa sedang menjemput temannya yang anak Madura. Tiba-tiba ada seorang anak Jawa yang lewat dan mengolok-olok anak keturunan Tionghoa itu dengan perkataan “Cino!” dengan nada penghinaan. Saya naik pitam gara-gara itu. Langsung saja saya bentak anak Jawa itu dengan berkata, “Heehh. Gak oleh ngomong koyok ngono iku!- tidak boleh ngomong seperti itu!-“ saya betul-betul langsung kehilangan selera mencuci motor gara-gara perkataan rasial itu. Bagi saya siapapun Anda, baik Anda Cina, Jawa, Madura, Bugis, Betawi, Melayu ataupun negro semuanya sama. Tak ada yang boleh memperlakukan berbeda apalagi menghina golongan lain hanya gara-gara dia berbeda dengan kita. Dan itu harga mati bagi saya. Beberapa waktu saya mencoba menguasai diri. Mencoba untuk tak memarahi lanjut anak yang mengolok-olk tadi sambil mencoba memahami kenapa anak tadi mengolok-olok si anak keturunan Tionghoa. Lanjut membaca
Sosialisme Warung Kopi
Wajahnya beku, jika ia ingin senyum maka senyumlah dia, jika tidak, maka siapapun yang datang ekspresi bekunya tetap saja begitu. Penjaga warung kopi di Jl. Kedondong Surabaya itu memang terkenal dengan tampang apa adanya. Sebagian teman yang punya pengalaman ngopi pertama kali di sana biasanya berkomentar, “kok wajah penjaganya gak senyum, sih” mendengar itu saya hanya bisa berkomentar, “Jika ia ingin senyum maka tersenyumlah dia”. Hal itu misalnya dialami oleh sahabat saya yang bernama Brahmanto Anindito. Jangankan teman saya tadi, pendata kegiatan ekonomi dari kelurahan dan kecamatan saja juga diperlakukannya secara sama. Tapi jangan dulu berprasangka bahwa warung kopi tersebut sepi. Pengunjungnya sangat ramai sekali mulai dari kuli bangunan, tukang sampah, penjual bakso keliling, perangkat RT/RW, hingga orang-orang kaya yang rumahnya menjulang tinggi dan garasi mobil yang luas yang memang mengepung warung kopi yang hanya terbuat dari kayu dan atap asbes tersebut. Kopi susunya memang enak sekaligus sangat murah untuk ukuran harga di Surabaya. Dari sana saya kemudian berpikir, mungkin inilah jiwa sosialisme yang pernah diterapkan di Uni Soviet atau yang sekarang banyak dianut di dunia selatan Benua Amerika.
Lanjut membaca
TKW Madura, Istri Harun al-Rashid dan Masjid
Tersebutlah dahulu istri Harun al-Rashid, penguasa dinasti Abbasiyah sedang bertengkar dengan suaminya, pada puncak pertengkaran Harun berkata, “Keluarlah kamu dari kerajaanku dalam waktu sehari semalam”. Lah, masalahnya saat itu kekuasaan dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Harun al-Rashid membentang luas dari ufuk barat sampai ufuk timur, dari Maroko di sebelah barat hingga anak benua India di sebelah timur. dari Yaman di sebelah selatan hingga Mesopotamia di sebelah utara. Jadi bagaimanalah mungkin sang istri bisa pergi dari kerajaan Harun al-Rashid dalam waktu hanya sehari semalam. Lanjut membaca