<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bilik Falsafah</title>
	<atom:link href="http://ihsanmaulana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com</link>
	<description>Mencari makna melampaui kata</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Jan 2012 19:24:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ihsanmaulana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/871b59d47cc712f236921d07236208e0?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Bilik Falsafah</title>
		<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ihsanmaulana.wordpress.com/osd.xml" title="Bilik Falsafah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ihsanmaulana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kebebasan Terkontrol Manusia</title>
		<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2012/01/17/kebebasan-terkontrol-manusia/</link>
		<comments>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2012/01/17/kebebasan-terkontrol-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 15:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihsan Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cangkruan]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihsanmaulana.wordpress.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[Manusia hidup di dunia diberikan sebuah kebebasan untuk memilih. Ia bebas untuk melakukan apapun, kapanpun dan dimanapun. Karena itulah dalam agama kemudian kita kenal ada hisab (penghitungan) yaitu sebuah perhitungan amal yang kelak akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Dalam salah satu madhab teologia Islam yaitu madhab Asy’ariyah yang didirikan oleh Imam Abu al-Hasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=476&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2012/01/painting1_lrg.jpg?w=422&#038;h=591" class="alignleft" width="422" height="591" />Manusia hidup di dunia diberikan sebuah kebebasan untuk memilih. Ia bebas untuk melakukan apapun, kapanpun dan dimanapun. Karena itulah dalam agama kemudian kita kenal ada hisab (penghitungan) yaitu sebuah perhitungan amal yang kelak akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Dalam salah satu madhab teologia Islam yaitu madhab Asy’ariyah yang didirikan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ary, menyatakan bahwa pada dasarnya manusia tidak memiliki kebebasannya sama sekali, segala yang dikerjakannya semuanya adalah takdir dari Tuhan dan manusia tiada berkuasa sama sekali atas semua pekerjaannya. Paham teologi Asy’ari pada esensinya adalah paham fatalitas atau dalam sejarah Islam dikenal sebagai aliran jabariyah. Paham ini menyatakan bahwa manusia tidak mempunyai kuasa apapun atas dirinya dan atas berbagai tindakan yang dilakukannya. Semuanya adalah <em>by setting</em> Tuhan.<span id="more-476"></span></p>
<p>Kebalikan dari paham jabariyah, manusia modern sekarang kebanyakan adalah penganut madhhab liberalis, sebuah madhab yang menyebutkan bahwa manusia memiliki kuasa untuk memilih dan mengerjakan sesuatu. Menurut paham kebebasan ini (dalam versi liberalis muslim-mu’tazilah-), bukannya Tuhan tidak berkuasa untuk mengatur masing-masing manusia, tapi ia memang sengaja untuk memberikan kebebasannya atas manusia agar logika keadilannya terpenuhi. Paham seperti ini menegaskan jika Tuhan meng-hisab manusia atas segala perbuatannya maka itu berarti manusia bertanggung jawab atas apa yang menjadi pilihan tindakannya. Sebuah pilihan yang dilakukan secara bebas oleh manusia , karena jika tindakan yang dilakukan oleh manusia adalah pilihan Tuhan maka tentu manusia tidak perlu mempertanggung jawabkannya di hadapan dzat yang telah memilihkan tindakan.<br />
Berbeda dari kaum teologia, Kaum sufi mendekati Tuhan dari sisi yang lain. Jika kaum teologi (kalam) mendekati Tuhan dari fatalitas atau liberalitas, maka kaum sufi telah sampai pada tingkat penyatuan hasrat Tuhan dan hasrat manusia. Apa yang diinginkan Tuhan telah menyatu menjadi keinginan mereka, dan apa yang hendak dilakukan Tuhan akan mereka lakukan. Kaum sufi berpendapat bahwa diri mereka adalah perwujudan Tuhan paling tinggi di atas muka bumi dan bertugas menjadi cermin Tuhan di muka bumi di mana mereka hidup.</p>
<p>Mereka sadar bahwa diri mereka mempunyai pilihan-pilihan manusiawi (nasut) dalam hidupnya. Akan tetapi jika pilihan-pilihan manusiawinya itu ia kosongkan dari dorongan-dorongan manusiawi (nasut) dan mengisinya dengan keinginan Tuhan (lahut), maka mereka menjadi kaum fatalitas bebas yang mendasari segala pilihan dan tindakannya atas buah kesadaran, menggerakkannya dalam gerakan Tuhan. jika seperti ini yang terjadi maka kaum sufi telah menjadi kaum fatailitas di satu sisi sekaligus liberalis di sisi lain.</p>
<p>Mungkin saja anggapan sebagaian orang mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang kehilangan eksistensi diri tapi mereka sendiri akan melihat dirinya telah menyatu dalam eksistensi yang lebih besar dan agung yaitu eksistensi penggerak alam semesta.<br />
Pengalaman Pribadi</p>
<p>Saya memang merasakan bahwa saya diberikan Tuhan untuk melakukan pilihan-pilhan atas hidup. Saya dihadapkan pada sebuah pilihan untuk berbuat baik atau berbuat jelek, pilihan untuk memakai hukum Islam atau memakai hukum yang lain. Saya diberi kebebasan untuk bertindak apapun yang saya inginkan dan yang saya lakukan.<br />
Pilihan-pilihan telah saya ambil dalam hidup baik saya sadari ataupun tidak. Semuanya berirama dalam hukum kausalitas. Setidaknya demikianlah menurut mata awam. Akan tetapi adakalanya hukum kausalitas tidak berlaku dan ini terjadi sangat sering sekali pada diri saya. Salah satu contoh yang masih saya ingat adalah saat saya sakit batuk. Kelihatannya enteng, ringan dan bukan penyakit yang perlu ditakuti. Saat itu kalau tidak salah saya sudah mempunyai gaji tetap dari pekerjaan yang saya jalani, saat itu saya belikan obat batuk di toko kelontongan, bukannya sembuh tapi malah bertambah parah, saya belikan obat sirup di apotik, tapi benar-benar tidak dapat membantu sama sekali, tak tahan dengan batuk, saya memutuskan untuk ke dokter. Tapi sungguh tidak membantu sama sekali. Uang saya saat itu benar-benar habis dibuat untuk berobat. Saya sudah kehabisan cara untuk menyembuhkan batuk yang sebenarnya tidak pernah saya perhitungkan sebelumnya, saat saya benar-benar tak berdaya, saya ingat ada Tuhan. Hal ini bukan berarti sebelum itu saya tidak ingat Tuhan, tapi memang sebelum itu saya menyatakan dalam hati, “Sudahlah, akan saya obati penyakit batuk ini.” Tapi saat diri tidak berdaya, saya bilang sama Tuhan, “Tuhan, saya menyerah. Saya sudah tidak bisa lagi mengobati penyakit yang saya derita. Sekarang yang saya punya hanya Sampean. Jadi semuanya terserah kebijakan Sampean.” Tidak menunggu lama, kalau tidak salah hanya dalam jangka dua hari, saya benar-benar sembuh dari penyakit batuk yang selama ½ bulan menyiksa.</p>
<p>Setelah itu saya sadari bahwa kebebasan manusia itu masih dikontrol oleh Tuhan, ia masih terus menatap kita, memperhatikan kita dengan cara yang tidak kita mengerti. Sekarang terserah kita apakah mau menghilangkan dia dalam kehidupan kita atau berusaha untuk mengenalnya. Tapi jujur, walau agak nakal, saya benar-benar mencintai Tuhanku. Ternyata setelah saya dekat dengannya Ia adalah Maha Keren. I LOVE U, GOD!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ihsanmaulana.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ihsanmaulana.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ihsanmaulana.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ihsanmaulana.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ihsanmaulana.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ihsanmaulana.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ihsanmaulana.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ihsanmaulana.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ihsanmaulana.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ihsanmaulana.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ihsanmaulana.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ihsanmaulana.wordpress.com/476/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ihsanmaulana.wordpress.com/476/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ihsanmaulana.wordpress.com/476/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=476&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2012/01/17/kebebasan-terkontrol-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd9b30e17f2bf59d1f8c13168311d7cc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iksan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2012/01/painting1_lrg.jpg?w=214" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Generasi yang Teronani</title>
		<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/11/24/generasi-yang-teronani/</link>
		<comments>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/11/24/generasi-yang-teronani/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 06:55:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihsan Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cangkruan]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Pitakonan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[onani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihsanmaulana.wordpress.com/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa anak-anak sekarang jauh lebih dewasa secara psikologis dibanding umurnya? Jawabnya ada tiga. Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Kedua, lingkungan. Ketiga, teknologi. Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Ada banyak uraian akan hal ini. Salah satu di antaranya adalah tidak adanya lagu anak-anak yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=472&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://persma.com/images/medium/seorang-anak-sekolah-dasar-menuliskannya-ketika-sedang-dalam-proses-belajar-mengajar.jpg" title="Belum Waktunya" class="alignleft" width="500" height="375" />Kenapa anak-anak sekarang jauh lebih dewasa secara psikologis dibanding umurnya? Jawabnya ada tiga. <em>Pertama</em>, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. <em>Kedua</em>, lingkungan. <em>Ketiga</em>, teknologi.<span id="more-472"></span></p>
<p><em>Pertama</em>, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Ada banyak uraian akan hal ini. Salah satu di antaranya adalah tidak adanya lagu anak-anak yang bertemakan kejenakaan dan bertemakan dunia anak-anak. Anak sekarang mulai usia sebelum sekolah sudah dipaksa membiasakan diri mendengarkan lagu-lagu dewasa yang celakanya lagi adalah rata-rata lagu dewasa itu bertemakan cinta pada lawan jenis, yang secara psikologis masih belum layak menjadi konsumsi anak-anak. Sehingga, anak-anak kecil sekarang ini sudah terbiasa mendengar kata pacar, cinta, dan hal-hal yang berhubungan dengan ikatan dewasa tersebut.</p>
<p><em>Kedua</em>, lingkungan. Ya, lingkungan-lah yang paling bertanggung jawab atas teronaninya anak-anak kita hingga menjadi dewasa sebelum waktunya. Bagaimana tidak, saat sekarang ini, para orang dewasa secara sadar atau tidak mengajari anak-anaknya untuk berpacaran. Saat ada teman lawan jenisnya datang ke rumah, biasanya sang ibu atau ayah akan pergi meninggalkan mereka berdua. Belum lagi lingkungan sekitar yang menunjukkan bagaimana muda-mudi yang berlalu lalang dengan pasangannya masing-masing dan menjadi pemandangan lumrah bagi anak-anak yang sedang asyik bermain. Suatu ketika saya kaget saat bertanya pada anak kelas dua SD. “apakah kamu sudah punya pacar?” dia menjawab, ”sudah”. Kemudian saya bertanya lagi, “apa pacar itu?” anak tadi menjawan, “ya itu kak, gandengan tangan, ngasih hadiah dan cup-cup-an”. Jujur, kontan saat itu saya kaget mendengar jawaban yang sangat dewasa itu. Apalagi saat saya bertanya, “punya berapa pacar?” anak tadi menjawan, “dua”. Hah, saat itu saya lebih kaget lagi, hingga saya tertarik untuk bertanya lebih lanjut, “kenapa sampai punya dua?”, anak tadi menjawab, “enak biar dapat banyak hadiah”.</p>
<p><em>Ketiga</em>, teknologi. Harus diakui teknologi mengambil peran penting terhadap hal ini. Dulu untuk mendapatkan konten pornografi kita harus bersusah payah mendapatkannya. Sekarang tinggal download atau bluetooth saja. Dan parahnya lagi, hp anak-anak sudah sangat memungkinkan untuk menyimpan, menonton, bahkan hingga membuat atau menyebarkan. Akhirnya seringkali terjadi bisi-bisik di kalangan anak-anak lebih keras dan kencang dibanding bisik-bisik pada orang dewasa.</p>
<p>Lalu apa urgensinya saya membahas hal ini. <em>Toh</em>, mungkin saja Anda akan berkata bahwa itu adalah hak mereka. Yang saya temukan saat sekarang ini adalah kenyataan beberapa anak sekolah yang harus mengalami MBA (<em>Married By Accident</em>) atau dengan kata lain, kesempatan mereka untuk mengoptimalisasi dirinya dalam dunia pendidikan harus berakhir hanya gara-gara hamil duluan. Atau jika tidak demikian, maka persoalan-persoalan yang berkenaan dengan hal tersebut menjadi sangat sulit untuk dijelaskan atau mungkin juga menjadi sulit untuk dipecahkan. Akhirnya konsentrasi anak-anak yang semestinya pada pelajaran malah tersedot persoalan asmara-asmaraan tersebut. Semoga ini menjadi PR kita bersama. <em>Wallahu a&#8217;lam!</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ihsanmaulana.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ihsanmaulana.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ihsanmaulana.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ihsanmaulana.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ihsanmaulana.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ihsanmaulana.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ihsanmaulana.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ihsanmaulana.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ihsanmaulana.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ihsanmaulana.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ihsanmaulana.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ihsanmaulana.wordpress.com/472/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ihsanmaulana.wordpress.com/472/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ihsanmaulana.wordpress.com/472/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=472&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/11/24/generasi-yang-teronani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd9b30e17f2bf59d1f8c13168311d7cc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iksan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://persma.com/images/medium/seorang-anak-sekolah-dasar-menuliskannya-ketika-sedang-dalam-proses-belajar-mengajar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Belum Waktunya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budaya Bandung Bondowoso dan Sangkuriang</title>
		<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/10/28/budaya-bandung-bondowoso-dan-sangkuriang/</link>
		<comments>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/10/28/budaya-bandung-bondowoso-dan-sangkuriang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 09:36:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihsan Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cangkruan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Pitakonan]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Bondowosa]]></category>
		<category><![CDATA[Bung Karno]]></category>
		<category><![CDATA[Sangkuriang]]></category>
		<category><![CDATA[SKS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihsanmaulana.wordpress.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Dulu saat kuliah saya sering bertanya-tanya, kenapa ya saya suka sekali mengerjakan makalah di saat-saat akhir, jadi dulu jika besok sudah waktunya maju makalah, maka saya bisa menghabiskan malam saya dengan membuat makalah dan hanya ada jeda shalat subuh saja. Saat itu saya berpikir, apakah saya satu-satunya orang yang seperti itu, lambat laun saya menyadari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=468&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/10/candirorojonggrang.jpg?w=400&#038;h=251" class="alignleft" width="400" height="251" />Dulu saat kuliah saya sering bertanya-tanya, kenapa ya saya suka sekali mengerjakan makalah di saat-saat akhir, jadi dulu jika besok sudah waktunya maju makalah, maka saya bisa menghabiskan malam saya dengan membuat makalah dan hanya ada jeda shalat subuh saja. Saat itu saya berpikir, apakah saya satu-satunya orang yang seperti itu, lambat laun saya menyadari ternyata tidak. Banyak teman-teman saya yang juga seperti itu. Ini terbukti saat saya nge-kos (maksudnya numpang nginap di kos teman, hihi) saya juga menemukan ada beberapa teman yang seperti saya. Suka berleha-leha saat waktu luang dan main kebut setelah waktunya mepet. Tapi sebenarnya sih, kalau boleh membela diri, waktu itu (waktu kuliah dulu) bukannya berleha-leha, tapi karena paling tidak saat itu saya aktif di organisasi kampus baik intra maupun ekstra. Aktifis tahun 2000-an lah pokoknya.kalau bawa tas, hamper bisa dipastikan bahwa isi tasnya selain pena dan buku adalah sabun dan sikat gigi, hehe. Masalah mandi di mana, maka saya dan para teman-teman seperjuangan dulu menganut satu falsafah negeri ini, “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Ya di mana di rasa badan sudah tidak enak dan mulai gatal-gatal, ya saya dan teman-teman mandi di tempat itu. Bisa di kamar mandi BEM, kamar mandi perpustakaan, kamar mandi masjid kampus hingga kamar mandi kos teman (itu karena sejak dulu saat s1 sebenarnya tidak pernah indekos). Di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak, ups, maksudnya adalah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.<span id="more-468"></span></p>
<p>Tapi pertanyaan-pertanyaan di atas tentang kenapa dan siapa saja, akhirnya membawa saya pada penelusuran sejarah bangsa ini (Indonesia). Dulu saat Bung Karno dan Bung Hatta akan memproklamirkan kemerdekaan, teks kemerdekaannya di buat pada malam harinya oleh Bung Karno sendiri. Ternyata Pak Karno sama saja dengan anak muda sekarang, hehe. Ditelisik lebih jauh ke dalam sejarah bangsa ini ternyata kita sudah punya orang dengan tipe sama seperti saya atau mirip-mirip saya, yaitu Bandung Bondowoso dan Sangkuriang. Si Bandung, misalnya, ia mencoba membangun seribu candi (candi sewu) dalam waktu hanya semalam saja. Wah, benar-benar nekat nih si Bandung! Tapi karena cintanya pada RoroJongrang saat itu, apapun dilakukannya, “demi nyai” begitulah kira-kira dalam bahasa orang Sunda. Begitupun juga dengan Sangkuriang, karena cintanya pada seorang wanita cantik yang sebenarnya adalah ibunya sendiri (cerita lengkap silahkan baca dongengnya) Sangkuriang menyanggupi untuk membuat perahu besar. Tapi karena hingga waktu yang ditentukan belum jadi, maka si Sangkuriang, menendangnya dan kemudian terbalik dan hingga sekarang dikenal dengan gunung Tangkupan Perahu.</p>
<p>At least, mereka juga sama-sama mengerjakan sesuatu dalam waktu semalam atau yang dikenal oleh mahasiswa sebagai system SKS (Sistem Kebut Semalam) sebagai plesetan dari arti kata SKS sesungguhna yaitu Sistem Kredit Semester. Tapi ada satu hal yang terlupa atau dilupakan oleh bangsa ini dari beberapa pelajaran di atas. Yaitu dalan kedua cerita rakyat tersebut kedua-duanya tidak dapat menyelesaikan apa yang menjadi pekerjaannya. Akan tetapi, untungnya Bung Karno termasuk yang berhasil menyelesaikan naskah proklamasi dan membacakannya tepat waktu.<br />
Nah, akhirnya saran saya, jika Anda punya waktu cukup, gunakan waktu itu sebaik mungkin. Karena apapun yang kita kerjakan dengan baik dan terencana biasanya hasil akhirnya akan jauh lebuh baik daripada sesuatu yang dikerjakan secara sporadic dan dadakan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ihsanmaulana.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ihsanmaulana.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ihsanmaulana.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ihsanmaulana.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ihsanmaulana.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ihsanmaulana.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ihsanmaulana.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ihsanmaulana.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ihsanmaulana.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ihsanmaulana.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ihsanmaulana.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ihsanmaulana.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ihsanmaulana.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ihsanmaulana.wordpress.com/468/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=468&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/10/28/budaya-bandung-bondowoso-dan-sangkuriang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd9b30e17f2bf59d1f8c13168311d7cc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iksan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/10/candirorojonggrang.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Iyjad al-Wujud dalam &#8220;Aku&#8221;</title>
		<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/10/04/iyjad-al-wujud-dalam-aku/</link>
		<comments>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/10/04/iyjad-al-wujud-dalam-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 08:20:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihsan Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cangkruan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihsanmaulana.wordpress.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[“Aku” adalah sebuah simbol bunyi yang diucapkan untuk menunjukkan si empunya bunyi. Sebuah simbol penunjukan eksistensi diri pada sebuah realitas yang berdiri di sekitarnya atau bahkan pada diri si pengucap. Kata “aku” dalam artian bahwa itu menunjukkan subjek ke-1 atau yang dalam tata gramatikal Bahasa Arab dikenal dengan sebagai “mutakallim wahdah” yang berarti si pembicara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=461&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/10/mansoor.jpg?w=400&#038;h=170" class="alignleft" width="400" height="170" />“Aku” adalah sebuah simbol bunyi yang diucapkan untuk menunjukkan si empunya bunyi. Sebuah simbol penunjukan eksistensi diri pada sebuah realitas yang berdiri di sekitarnya atau bahkan pada diri si pengucap.</p>
<p>Kata “aku” dalam artian bahwa itu menunjukkan subjek ke-1 atau yang dalam tata gramatikal Bahasa Arab dikenal dengan sebagai “mutakallim wahdah” yang berarti si pembicara itu sendiri tanpa melibatkan orang lain untuk bersekutu dengannya. Misal, “aku mengangkat batu ini.” kalimat ini mempunyai pengertian bahwa yang mengangkut batu adalah orang itu by him self, tidak dengan bantuan sekutu. Lain halnya jika kita mengatakan, “kami mengangkat batu ini” maka hal itu menunjukkan bahwa yang mengangkat batu lebih dari satu orang atau ada orang lain yang ikut mengangkat selain si pembicara.<br />
<span id="more-461"></span><br />
“Aku” juga berbeda dengan kata “saya”. “Aku” lebih bebas sekatan sosial ketimbang “saya”. Jika “saya” itu bermakna merendahkan diri karena berasal dari kata “hamba sahaya” maka tidak demikian dengan “aku”. Aku biasa ditujukan pada orang yang sejajar dan bahkan yang lebih tinggi secara sosial.</p>
<p><img alt="" src="http://farm3.static.flickr.com/2411/2095974398_68d28de7c1.jpg" class="alignleft" width="500" height="314" />Di sisi lain “aku” adalah penunjukan  eksistensi diri akan ke-aku-an. Sedangkan penunjukan eksistensi diri adalah hal niscaya bagi yang berjiwa. Penulis ingin menunjukkan ke-aku-an penulis pada orang lain dengan coba mengekspresikan apa yang bisa penulis perbuat. Karena sungguh naif sekali jika ada jiwa yang tidak ingin menunjukkan ke-aku-an-nya. Jangankan kita sebagai manusia sebagai kreasi tertinggi Tuhan, tumbuhan pun mengekspresikan keakuannya dengan tumbuh, berbunga untuk kemudian mati. Tumbuh dan berkembangnya tumbuhan adalah bentuk ekspresi diri akan eksistensinya. “aku” adalah ekspresi kata yang digunakan kala ia menciptakan Adam (sesungguhnya aku menjadikan di muka bumi seorang pemimpin), Tuhan juga memakai kata “aku” untuk menunjukkan eksistensi kekuasaannya pada ciptaan atau makhluk-Nya.</p>
<p>Dari ke-aku-an inilah manusia kemudian memiliki ke-khas-an- ke-khas-an yang melekat untuk kemudian menjadi kepribadian-kepribadian. Kepribadian sendiri adalah ke-khas-an yang bermula dari citra diri, citra rasa dan citra karsa yang dilakukan oleh manusia secara kesinambungan dalam ketiga ranahnya (kognisi, afeksi dan psikomotorik-Bloom-).</p>
<p>“Aku” yang sebenarnya adalah aku yang ideal dan yang benar seperti kata Tuhan, “Aku adalah yang Benar-Ana al-Haq-”. Maka dari itu idealitas ke-aku-an manusia adalah tatkala ia mempunyai sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. Akan tetapi pernyataan ini tentu tidak cocok untuk kaum materialisme dan paham materialistiknya. Dalam paham materialisme selain materi tidak ada yang benar. Kebenaran yang mutlak dalam materialisme adalah materi itu sendiri tanpa terkait pada hal-hal yang non-inderawi. Namun tidak demikian bagi orang-orang beragama yang percaya bahwa materi itu sebenarnya transendental (bergantung atau bersandar). Itu disebabkan orang beragama percaya bahwa ada kekuatan lain yang tidak nampak yang berkuasa atas manusia dan bersifat superior. Kekuatan inilah yang dipercaya sebagai kreator atas keberadaan manusia di atas muka bumi.</p>
<p>Mengapa kekuatan yang dipercaya harus tidak nampak atau berbeda dari semua mahkluk. Hal itu dikarenakan jika masih sama dengan makhluk (yang dicipta) maka ada rangkaian cara berpikir yang akan menyatakan bahwa ia bukanlah pencipta. Yang mencipta haruslah yang benar-benar kuasa dan abosulu kekuasaannya, ia tak dibatasi oleh kekuasaan manapun. Kemutlakan adalah sifatnya. Dalam bahasa Aristoteles disebut sebagai Nous.<br />
Proses ke-aku-an dalam diri manusia menuju aku yang mutlak berbeda dari satu orang ke orang lain, berdasarkan realita eksternal dan realita internal yang ada dalam dirinya. Tapi setidaknya secara psikoligi dapat menjadi acuannya. Sebagaimana diketahui perkembangan manusia secara dasar terbagi pada masa balita, masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, dan masa lanjut usia.</p>
<p>Dalam perkembangan kedirian manusia, masa balita adalah masa manusia melibatkan instink dasar untuk mengekspresikan diri pada kebutuhan yang dasar pula. Seperti ekspresi lapar ataupun ekspresi hendak buang kotoran. Uniknya manusia dewasa bisa mengerti akan ekspresi ini.</p>
<p>Masa ekspresi yang kedua adalah masa kanak-kanak. Masa ini ditandai dengan duplikasi-duplikasi yang dilakukan oleh seorang anak. Masalah makna belum menjadi penting bagi anak. Yang penting ia melihatnya dilakukan oleh pribadi baik secara rekayasa ataupun natural ia akan mencontohnya. Masalah ideologi pada masa ini juga akan secara mudah bisa diterima oleh si anak tanpa pertanyaan yang bersifat esensi. Maka pada masa ini yang paling banyak dilihat dan diperhatikan haruslah menjadi perhatian para orang tua dan orang sekitarnya. Paling tidak sebagai dasar sikap saat kelak ia akan memasuki fase lebih lanjut.<br />
Masa ketiga adalah masa remaja. Pada masa ini anak-anak telah mulai bertransisike dunia dewasa tapi ia tak dapat sepenuhnya lepas dari dunia anak-anak. Pada masa ini para remaja mulai memikirkan kembali apa yang dipercayanya secara mentah pada saat ia anak-anak, pada masa ini remaja telah mulai berpikir tentang idealitas dan realitas. Remaja sangat rentan akan stress karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya baik secara psikis maupun fisik. Sebuah masa yang saya sebut sebagai pertaruhan terbesar dalam hidup manusia. Jika ia selamat pada masa ini maka ia akan bisa menentukan mau kemana hidup selanjutnya, tapi jika ia tidak bisa selamat pada godaan pada masa ini maka masa-masa selanjutnya ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, penyesalan tiada henti, kedua, memperbaiki kesalahan yang ada atau dalam istilah yang sedikit konyol, “mencoba mengolah nasi yang sudah terlanjur menjadi bubur”.</p>
<p>Masa keempat adalah masa dewasa. Pada masa ini manusia sudah dan harus bertanggung jawab sepenuhnya atas semua yang diperbuatnya. Pada masa ini ia sudah bisa berlaku bijak dalam setiap mengambil keputusan. Pada masa dewasa awal, seringkali seseorang mengalami konversi agama atas dasar realita internal yang ada dalam dirinya dan atas beban batin yang ada di kepala dan hatinya.</p>
<p>Sedangkan masa yang kelima adalah masa lanjut usia. Pada fase ini manusia cenderung menarik diri dari aktifitas keduniawian dan cenderung untuk berprilaku lebih spiritual dibanding pada masa sebelumnya. Mungkin ini juga menjadi jawaban kenapa masjid-masjid dan vihara kita lebih banyak dihuni oleh orang yang sudah lanjut usia dibanding mereka yang masih muda.</p>
<p>Semua proses dan fase di atas pada puncaknya akan menuju penyatuan diri pada entitas yang lebih besar berupa alam dan secara ruhani menuju Tuhan yang kekal. Inilah salah satu jawaban kenapa dalam Islam saat ada orang meninggal kita dianjurkan untuk mengucap, “sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya pada-Nya lah kita kembali”. Ini proses tertinggi dari ke-aku-an kecil melebur menuju ke-AKU-an besar. <em>Ana al-Haq, Ana al-Haq, Ana al-Haq</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ihsanmaulana.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ihsanmaulana.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ihsanmaulana.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ihsanmaulana.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ihsanmaulana.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ihsanmaulana.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ihsanmaulana.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ihsanmaulana.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ihsanmaulana.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ihsanmaulana.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ihsanmaulana.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ihsanmaulana.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ihsanmaulana.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ihsanmaulana.wordpress.com/461/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=461&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/10/04/iyjad-al-wujud-dalam-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd9b30e17f2bf59d1f8c13168311d7cc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iksan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/10/mansoor.jpg?w=150" medium="image" />

		<media:content url="http://farm3.static.flickr.com/2411/2095974398_68d28de7c1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Togel, Mimpi dan Masturbasi Otak</title>
		<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/08/27/togel-mimpi-dan-masturbasi-otak/</link>
		<comments>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/08/27/togel-mimpi-dan-masturbasi-otak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 18:21:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihsan Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cangkruan]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Pitakonan]]></category>
		<category><![CDATA[Masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[Togel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihsanmaulana.wordpress.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Togel (toto gelap) merupakan salah satu jenis permainan judi yang paling marak dan populer di Indonesia. Judi ini mirip dengan SDSB yang pernah mendapat ijin dari pemerintah pada tahun 1986, kemudian secara resmi ditutup dan dilarang pada awal 1990. Togel atau totoan (berasal dari bahasa jawa berarti judi) gelap walaupun bersifat tidak resmi dan sembunyi-sembunyi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=443&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Togel (toto gelap) merupakan salah satu jenis permainan judi yang paling marak dan populer di Indonesia. Judi ini mirip dengan SDSB yang pernah mendapat ijin dari pemerintah pada tahun 1986, kemudian secara resmi ditutup dan dilarang pada awal 1990. Togel atau totoan (berasal dari bahasa jawa berarti judi) gelap walaupun bersifat tidak resmi dan sembunyi-sembunyi, namun pengelolaannya dilakukan secara modern dengan agen yang tersebar di seluruh negeri. Pusat togel ini setidaknya menurut http://agentogel.nuke.im/prediksi-togel-sejarah-togel/ berasal dari Singapura dan Malaysia atau yang juga biasa disebut sebagai judi 4-digit.<br />
<span id="more-443"></span><br />
Aturan umum bermain togel :<br />
- 1 kupon togel berharga Rp. 1000,-<br />
- Setiap kupon hanya bisa diisi dengan 1 bilangan (2 angka, 3 angka, atau 4 angka) Jika tebakan benar maka si pemain mendapatkan hadiah, dengan ketentuan sesuai jumlah angka tebakan yang dipasang :</p>
<p>Teori probabilitas/ peluang yang merupakan bagian dari Matematika adalah suatu teori yang terinspirasi oleh masalah perjudian. Tokoh utamanya adalah Girolamo Cardano (1501-1576) ilmuwan berkebangsaan Italia sekaligus penjudi sejati. Walaupun judi berpengaruh buruk terhadap keluarganya, namun judi juga memacunya untuk mempelajari peluang dan berhasil menyusun sebuah buku yang berjudul Book on Dice Games pada tahun 1565, buku inilah yang menjadi titik awal berkembangnya teori peluang. Dalam teori peluang terdapat istilah nilai harapan atau ekspektasi yang dapat digunakan untuk mengukur nilai harapan besar hadiah yang akan diterima dan variansi untuk mengukur<br />
resiko bermain togel.</p>
<p><strong>Definisi</strong><br />
Jika X adalah variabel random dengan fungsi probabilitas f(x), maka nilai harapan atau ekspektasi (E(X)) dan variansi (Var(X)) dari X adalah :<br />
<a href="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/08/23susmt2.jpg"><img src="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/08/23susmt2.jpg?w=300&#038;h=44" alt="" title="23susmt" width="300" height="44" class="alignnone size-medium wp-image-452" /></a></p>
<p>Untuk kasus judi togel, diasumsikan semua angka mempunyai peluang yang sama untuk keluar. Dengan mendefinisikan variabel random X adalah banyak hadiah (Rp) diperoleh, maka fungsi probabilitas X adalah :<br />
<a href="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/08/2lsi3cl3.jpg"><img src="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/08/2lsi3cl3.jpg?w=640&#038;h=106" alt="" title="2lsi3cl" width="640" height="106" class="alignnone size-full wp-image-458" /></a><br />
Dari tabel 2 di atas, tampak bahwa untuk satu lembar kupon (satu nomor yang dipasang), semakin banyak jumlah angka (puluhan, ratusan, ribuan) yang dipasang maka peluang untuk mendapat hadiah (menang) semakin kecil tetapi hadiah yang diperoleh semakin besar dan lebih menggiurkan. Namun besarnya hadiah tidak sebanding dengan kecilnya peluang untuk menang, hal ini bisa dilihat dari nilai E (X) yang semakin kecil. Nilai E (X) atau nilai harapan besar hadiah yang diperoleh jika memasang 2 angka adalah 600, 3 angka adalah 300, dan 4 angka 250, ketiganya lebih kecil dari harga kupon sebesar 1000 sehingga nilai E (X) – 1000 yang menunjukan tingkat keuntungan yang diharapkan untuk ketiganya bernilai – (negatif) artinya dalam jangka panjang bermain togel tidak akan memberikan keuntungan secara finansial atau rugi. Selain itu, tampak bahwa semakin banyak jumlah angka yang dipasang maka resikonyapun semakin besar.</p>
<p><strong>Togel dan Mimpi</strong></p>
<p>Sejak lama, di sekitar saya, saya seringkali melihat bahwa untuk bermain judi togel. Orang-orang mengandalkan mimpi. Sebuah hal yang tak masuk akal bagi saya. Bagaimana tidak, nomor togel bias diprediksi dengan mimpi. Hubungannya di mana dan bagaimana cara menghubungkannya saya sampai saat sekarang ini tidak tahu dan tetap tidak mengerti. Mimpi sebagai wilayah yang tidak teraba dan menjadi hak prerogative Pencipta alam semesta tiba-tiba ditafsirkan dengan nomer-nomer yang dapat menjerumuskan orang pada kerusakan ekonomi tersebut. Jika Nabi Ibrahim bermimpi, saya bias mengerti, jika Abu Musa al-Asy’ari bermimpi saya mengerti, termasuksaat Roosevelt bermimpi saya mengerti. Tapi dalam kaitannya dengan togel. Langsung saja otakku dibuat lumpuh total. Otak yang telah dianugerahkan oleh Tuhan secara sengaja dimasturbasi akan sesuatu yang tak nyata bahkan menyesatkan. How it can?!<br />
Di tempat saya ada makam seorang petinggi Mojopahit, tapi di sanalah seringkali para penghobi togel banyak mencari mimpi atau yang mereka sebut wangsit (walau seringkali juga tidak lewat mimpi). Mereka bisa mengartikan terbangnya debu menjadi angka-angka termasuk jatuhnya daun dan desiran angin. Sebuah hal yang tak masuk akal. Tapi kenapa hal ini bisa terjadi? Nalar bagaimana yang dipakai. Yang jelas judi togel secara fakta ada terutama banyak kita temukan di masyarakat yang tidak sejahtera dan cenderung selalu mengadu peruntungan. Tentu perlu penelitian lebih serius untuk menyebut kalimat bergaris saya.</p>
<p>at least, Mendingan kerja yang bener, cari nafkah yang halal, biar hidup tenang dan tentram </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ihsanmaulana.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ihsanmaulana.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ihsanmaulana.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ihsanmaulana.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ihsanmaulana.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ihsanmaulana.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ihsanmaulana.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ihsanmaulana.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ihsanmaulana.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ihsanmaulana.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ihsanmaulana.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ihsanmaulana.wordpress.com/443/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ihsanmaulana.wordpress.com/443/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ihsanmaulana.wordpress.com/443/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=443&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/08/27/togel-mimpi-dan-masturbasi-otak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd9b30e17f2bf59d1f8c13168311d7cc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iksan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/08/23susmt2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">23susmt</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/08/2lsi3cl3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2lsi3cl</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gaya Lebay Imrithy</title>
		<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/08/10/gaya-lebay-imrithy/</link>
		<comments>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/08/10/gaya-lebay-imrithy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 08:03:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihsan Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cangkruan]]></category>
		<category><![CDATA[Kitabe Cak]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Pitakonan]]></category>
		<category><![CDATA[Imrity]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Lebay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihsanmaulana.wordpress.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[“Wa al-nahwu awla awwalan an yu’lama Idz al-kalamu dunahu la yufhama” Syair di atas sebenarnya agak berlebihan dengan beberapa alasan. Pertama, ilmu nahwu lahir jauh setelah bahasa Arab lahir. Kedua, banyak orang Arab tidak paham nahwu tapi mengerti saat bahasa Arab dikatakan atau ditulis. Ketiga, ilmu nahwu itu pada intinya adalah I’rab. Dan I’rab adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=437&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Wa al-nahwu awla awwalan an yu’lama<br />
Idz al-kalamu dunahu la yufhama”<br />
</em><br />
<a href="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/08/12.jpg"><img src="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/08/12.jpg?w=100&#038;h=150" alt="" title="12" width="100" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-438" /></a>Syair di atas sebenarnya agak berlebihan dengan beberapa alasan. <em>Pertama</em>, ilmu nahwu lahir jauh setelah bahasa Arab lahir. <em>Kedua, </em>banyak orang Arab tidak paham nahwu tapi mengerti saat bahasa Arab dikatakan atau ditulis. <em>Ketiga, </em>ilmu nahwu itu pada intinya adalah I’rab. Dan I’rab adalah <em>tagyiru akhiril kalimi li awamili ad-dhakhilati lafdhan aw taqriran- </em>berubahnya akhir kalimat karena masuknya amil baik secara lafal ataupun perkiraan-. Jadi perkataan <em>idzil kalamu dunahu la yufhama</em> adalah berlebihan buat saya.<span id="more-437"></span></p>
<p>Saya sebenarnya mulai agak lupa dengan bait-bait Imrity tersebut, tapi tiba-tiba saja langsung teringat saat menghadiri sebuah momen haflah akhir tahun sebuah madrasah di Rek-Kerek Pamekasan. Tiba-tiba seorang ustad maju ke depan panggung dan berkata dengan gagah beraninya, “<em>Wa al-nahwu awla awwalan an yu’lama-Idz al-kalamu dunahu la yufhama” </em>kontan pikiran saya benar-benar terusik. <em>Ah</em>, lebay banget nih. Begitu bathinku ketika itu. Sebagai perbandingan saja, teman-teman kita di Ponpes Gontor Ponorogo atau Al-Amin Sumenep, mewajibkan kalam memakai bahasa Arab walau mereka belum belajar nahwu. Dan terbukti bahwa santri kedua pondok tersebut relatif jauh lebih berhasil dibanding santri pondok pesantren tradisional yang tersebar di seluruh pelosok Jawa. Atas realita tersebut kemudian saya berkata, kalau hanya untuk memahami perkataan dalam bahasa Arab atau hanya membaca teks bahasa Arab, tak perlulah kita menguasai nahwu. Apalagi mengingat kenyataannya bahwa nahwu secara keilmuan baru muncul pada abad pertengahan Islam jauh setelah bahasa Arab muncul.</p>
<p>Apa yang ingin saya tarik dari sekelumit kata di atas, ialah kalau ingin menguasai bahasa Arab atau bahasa lain ya lebih efektif langsung praktekkan saja bahasa-nya. Tak perlu kita tahu lafadz “ayna” itu jadi apa dan seterusnya yang biasanya menjadi kebanggaan para santri di pondok pesantren tradisional. Kecuali kalau memang kita mau menjadi ahli di bidang tata bahasa. Kalau sudah begitu maka lain persoalannya. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ihsanmaulana.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ihsanmaulana.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ihsanmaulana.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ihsanmaulana.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ihsanmaulana.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ihsanmaulana.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ihsanmaulana.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ihsanmaulana.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ihsanmaulana.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ihsanmaulana.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ihsanmaulana.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ihsanmaulana.wordpress.com/437/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ihsanmaulana.wordpress.com/437/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ihsanmaulana.wordpress.com/437/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=437&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/08/10/gaya-lebay-imrithy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd9b30e17f2bf59d1f8c13168311d7cc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iksan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/08/12.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">12</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surabaya di Suatu Pagi</title>
		<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/07/06/surabaya-di-suatu-pagi/</link>
		<comments>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/07/06/surabaya-di-suatu-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 05:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihsan Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cangkruan]]></category>
		<category><![CDATA[Falun Dafa]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Surya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihsanmaulana.wordpress.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Dari kejauhan tampak belasan orang di depan pemkot Surabaya sedang merentangkan tangan, kemudian menurunkannya kemudian melakukan gerakan seperti menarik nafas. Sejenak dari kejauhan terlihat seperti gerakan taichi dalam film-film Hongkong yang sering saya tonton. Semakin mendekat ke arah orang-orang dengan berbagai kelompok umur itu saya mulai tahu bahwa itu adalah mereka yang sedang mempraktekkan Falun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=432&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://student.eepis-its.edu/~ucil/poto/Photo/Taman%20Surya.jpg"><img alt="Taman Surya di saat Subuh" src="http://student.eepis-its.edu/~ucil/poto/Photo/Taman%20Surya.jpg" class="alignleft" width="400" height="260" /></a>Dari kejauhan tampak belasan orang di depan pemkot Surabaya sedang merentangkan tangan, kemudian menurunkannya kemudian melakukan gerakan seperti menarik nafas. Sejenak dari kejauhan terlihat seperti gerakan taichi dalam film-film Hongkong yang sering saya tonton. Semakin mendekat ke arah orang-orang dengan berbagai kelompok umur itu saya mulai tahu bahwa itu adalah mereka yang sedang mempraktekkan Falun Dafa atau yang biasa disebut sebagai Falun Gong. Sebuah gerakan (kesehatan) yang dilarang sampai sekarang oleh Partai Komunis Cina (PKC). Tapi saya tak ambil peduli dengan sikap Cina tersebut, bagi saya selama bermanfaat dan baik buat manusia, silahkan dikerjakan.<span id="more-432"></span><br />
<a href="http://ayahaan.files.wordpress.com/2009/05/falun4-088.jpg?w=500&amp;h=375"><img alt="" src="http://ayahaan.files.wordpress.com/2009/05/falun4-088.jpg?w=499&#038;h=375&#038;h=374" class="alignnone" width="499" height="374" /></a>Hari minggu ini saya memang berniat untuk kembali berolah raga setelah beberapa bulan tidak melakukannya dengan alasan klise eksekutif muda Surabaya “Sibuk” (walaupun saya tidak bisa juga dibilang eksekutif muda Surabaya karena saya hanya seorang guru di empat lembaga pendidikan). Sesudah shalat subuh saya mengambil sepatu sket yang sudah beberapa bulan juga tidak saya sentuh. Dimulai dari jalanan Basuki Rahmat, beberapa pemuda saya lihat juga melakukan hal yang sama dengan saya, beberapa yang lain memilih bersepeda (bike). Saya terus berlari melewati Tunjungan Plaza kemudian menyeberang ke Gedung Grahadi. Gedung yang ditempati Gubernur Jawa Timur itu lenggang pertanda bahwa si Gubernur tidak berada di dalam. Dulu saat Grahadi ditempati Presiden SBY, gedung dijaga oleh Paspampres dan PM (Polisi Militer) berbeda sekali dengan sekarang saya lewat.</p>
<p>Kaki pun melanjutkan ke arah SMA 6 Surabaya. Salah satu SMA favorit selain SMA komplek dan SMA 15 tempat saya pernah mengajar. Marmer bertuliskan SMA 6 sungguh sangat berbeda sekali dengan kayu bertulisan madrasah yang sudah lapuk tempat dulu saya pernah bertugas di desa terpencil di Kabupaten Sumenep pada 2001, jika gaji guru di SMA 6 saat ini berkisar 3-4 juta (jika ditotal dengan sertifikasi) maka guru di madrasah pedesaan berkisar 100-200 ribu. Dulu malah lebih parah, para orang tua siswa biasanya membayar saat panen dengan jagung, padi, dan sejenisnya secara suka rela. Jadi wajar jika di Sumenep, saat musim tanam tiba para guru memilih untuk bercocok tanam apalagi jika sudah musim tembakau (<em>Madurese Tobacco is famous in Indoenesia). </em>Sebuah bukti ketidak adilan jika Unas diterapkan!<!--more--></p>
<p>Langkah terus menuju ke Balai Pemuda, orang-orang bersiap-siap untuk senam, saya terus melangkahkan kaki melewati gedung DPRD Kota Surabaya yang ketuanya belum membayar pemain Persebaya selama semusim. Seratus meter ke arah timur Nampak patung jenderal Sudirman menyapa orang-orang yang akan ke Pemkot (Orang Surabaya biasa menyebut gedung Pemkot Surabaa dengan Kotamadya). Di sana terlihat para praktisi Falun Gong yang saya ceritakan di atas. Surabaya adalah kota terindah yang saya tahu karena kemajemukan etnis yang ada di dalamnya dan menyatu menjadi warga Surabaya, dan sekarang semakin terasa indah setelah Risma, Walikota Surabaya saat ini “menyulap” kota ini dengan banyak taman. Tidak saja di pusat kota tapi juga di banyak sudut kota. Wajar jika Surabaya saat ini dijuluki sebagai “Kota seribu taman”. Para warga kota sangat menikmati tatanan kota yang indah ini. Hal ini juga menyulut keprihatinan di sisi lain saat memperhatikan kota Sampang tempat ayah saya dilahirkan. Di sana kota jangankan terasa indah, jika hujan sebentar saja, bisa dijamin kota pasti akan terendam banjir. Dan parahnya dalam jangka waktu yang lama. Andai kota Sampang mau belajar dari Surabaya.</p>
<p>Di dalam taman Surya, terlihat anak kecil yang bermain dengan sang ayah sedang sang ibu mendampingi keduanya. Sungguh suatu pemandangan yang menyentuh hati pemandangan seperti ini saat ini banyak kita temui di Surabaya. Sehingga saya optimistis jika generasi Surabaya selanjutnya akan mempunyai masa depan yang cerah, insyaallah. Karena letih, saya memilih duduk di dalam taman sambil melihat orang senam. Beberapa berpakaian ketat beberapa juga masih berpakaian longgar. Di sisi lain saya juga melihat perempuan yang memakai burqah. Tapi sayang, mereka yang memakai burqah saya lihat tidak coba membaur dengan masyarakat lainnya. Hal ini sebenarnya merugikan imej mereka. Karena sering kali para perempuan yang memakai burqah terasa sangat menutup diri dan cenderung eksklusif. Tapi biarlah, <em>toh, </em>itu adalah pilihan mereka. Sebagian mereka yang ikut senam beberapakali melakukan kesalahan gerakan sehingga cukup membuat bibir saya tersenyum,<em> “it’s so funny for me”</em>.</p>
<p>Setelah lari mengitari taman surya, saya langsung bergegas pulang melewati jalan-jalan yang tadi saya lewati. Sungguh Surabaya terasa indah pada pagi ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ihsanmaulana.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ihsanmaulana.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ihsanmaulana.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ihsanmaulana.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ihsanmaulana.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ihsanmaulana.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ihsanmaulana.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ihsanmaulana.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ihsanmaulana.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ihsanmaulana.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ihsanmaulana.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ihsanmaulana.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ihsanmaulana.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ihsanmaulana.wordpress.com/432/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=432&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/07/06/surabaya-di-suatu-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd9b30e17f2bf59d1f8c13168311d7cc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iksan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://student.eepis-its.edu/~ucil/poto/Photo/Taman%20Surya.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Taman Surya di saat Subuh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayahaan.files.wordpress.com/2009/05/falun4-088.jpg?w=500&#38;h=375" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>TUHAN YANG DICIPTAKAN DAN TUHAN YANG SEBENARNYA</title>
		<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/06/04/tuhan-yang-diciptakan-dan-tuhan-yang-sebenarnya/</link>
		<comments>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/06/04/tuhan-yang-diciptakan-dan-tuhan-yang-sebenarnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 11:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihsan Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Pitakonan]]></category>
		<category><![CDATA[Diciptakan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Arabi]]></category>
		<category><![CDATA[Menciptakan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihsanmaulana.wordpress.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[PADA suatu hari di penghujung 1970-an (saya tidak ingat lagi tahun berapa persisnya) di Direktorat Urusan Agama Hindu dan Buddha, Departemen Agama Republik Indonesia, yang pada waktu itu berlokasi di Jl. M.H. Thamrin, Jakarta, seorang pegawai Direktorat itu yang menganut Buddhisme dan saya sempat berdiskusi secara singkat sekitar konsep tentang Tuhan. Saya memulai diskusi itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=427&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://bilikml.files.wordpress.com/2011/03/who-is-god.jpg?w=387&#038;h=381" class="alignleft" width="387" height="381" />PADA suatu hari di penghujung 1970-an (saya tidak ingat lagi tahun berapa persisnya) di Direktorat Urusan Agama Hindu dan Buddha, Departemen Agama Republik Indonesia, yang pada waktu itu berlokasi di Jl. M.H. Thamrin, Jakarta, seorang pegawai Direktorat itu yang menganut Buddhisme dan saya sempat berdiskusi secara singkat sekitar konsep tentang Tuhan. Saya memulai diskusi itu dengan mengkritik ketidakjelasan konsep Buddhis tentang Tuhan. Saya mengatakan kepadanya bahwa konsep Buddhis tentang Tuhan tidak jelas. Buku-buku tentang Buddhisme, pada umumnya, tidak memuat uraian dan pembahasan tentang Tuhan. Siddharta Gautama tidak memberikan penjelasan dan doktrin tentang Tuhan. Penolakan Gautama terhadap pembicaraan tentang Tuhan telah &#8220;memiskinkan&#8221; Buddhisme dalam pembicaraan tentang Tuhan. Buddisme tidak mempunyai konsep yang jelas tentang Tuhan.<br />
<span id="more-427"></span><br />
Pegawai yang cerdas itu berbalik mengkritik konsep Islam (atau orang-orang Muslim). tentang Tuhan. Ia mengatakan bahwa orang-orang Muslim membuat suatu kesalahan besar dalam memahami Tuhan. Kesalahan itu, menurutnya, terletak pada pemahaman dan kepercayaan orang-orang Muslim bahwa Tuhan adalah &#8220;begini&#8221; dan &#8220;begitu&#8221;. Orang-orang Muslim mengatakan bahwa Tuhan mempunyai 20 sifat, atau mempunyai 99 nama. Tuhan adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Raja, Maha Suci, Pemberi bentuk, Pencipta, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan banyak lagi nama-nama atau sifat-sifat lain. Ini berarti bahwa orang-orang Muslim membuat konsep, ide, atau gagasan tentang Tuhan. Mereka mengungkapkan Tuhan yang tidak terbatas dengan kata-kata dan bahasa manusia yang terbatas.</p>
<p>Pegawai itu mengatakan bahwa Tuhan dalam konsep, ide, atau gagasan bukanlah Tuhan yang sebenarnya karena Tuhan yang sebenarnya di luar konsep, ide, atau gagasan. Tuhan seperti itu adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia, bukan Tuhan yang sebenarnya. Tuhan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan bahasa. Tuhan adalah misteri yang tidak dapat diketahui, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dipikirkan oleh akal manusia. Karena itu, Tuhan tidak dapat dikatakan &#8220;begini&#8221; dan &#8220;begitu&#8221;.</p>
<p>Mendengar kritiknya itu, saya terdiam karena saya tidak dapat membantahnya. Waktu itu saya memang masih menjadi mahasiswa S1 yang sedang merampungkan penulisan skripsi tentang konsep monoteisme dalam agama-agama besar (Yudaisme, Kristen, Islam, Hinduisme, dan Buddhisme), belum menjadi sarjana. Tetapi itu tidak boleh menjadi alasan. Pokoknya, saya tidak berkutik terhadap &#8220;pukulan keras&#8221; itu. Saya hanya dapat berharap agar saya dapat lebih banyak lagi mempelajari dan memahami persoalan yang saya diskusikan dengan orang itu.<!--more--></p>
<p>Tulisan yang Anda baca ini ingin mendiskusikan kembali persoalan tersebut. Maka pertanyaan-pertanyaan yang perlu diajukan di sini adalah; Sejauh mana manusia dapat mengetahui Tuhan yang transenden dan absolut itu? Bagaimana pengetahuan manusia yang benar tentang Tuhan? Jika Tuhan tidak dapat dinamai, dibicarakan, dan diungkapkan, bagaimana mungkin manusia dapat mengetahui dan berhubungan dengan-Nya?</p>
<p><strong>Tuhan yang Diciptakan<br />
</strong><br />
Ibn al-&#8217;Arabi (560-638/1165-1240), salah seorang Sufi terbesar, mengkritik orang yang memutlakkan, atau, jika boleh, &#8220;menuhankan&#8221;, kepercayaannya kepada Tuhan, yang menganggap kepercayaannya itu sebagai satu-satunya yang benar dan menyalahkan kepercayaan orang lain. Orang seperti itu memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu adalah Tuhan yang sebenarnya, yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai oleh orang lain yang dianggapnya salah. Ibn al-&#8217;Arabi menyebut Tuhan yang dipercayai manusia<br />
&#8220;Tuhan kepercayaan&#8221; (ilah al-mu&#8217;taqad), &#8220;Tuhan yang dipercayai&#8221; (al-ilah al-mu&#8217;taqad), &#8220;Tuhan dalam kepercayaan&#8221; (al-ilah fi al-i&#8217;tiqad), &#8220;Tuhan kepercayaan&#8221; (al-haqq al-i&#8217;tiqadi), &#8220;Tuhan yang dalam kepercayaan&#8221; (al-haqq al-ladzi fi al-mu&#8217;taqad), dan &#8220;Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan&#8221; (al-haqq al-makhluq fi al-i&#8217;tiqad).<img alt="" src="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/06/where-is-god-front.jpg?w=592&#038;h=400" class="alignnone" width="592" height="400" /></p>
<p>Kata i&#8217;tiqad data mu&#8217;taqad, yang dalam tulisan ini diterjemahkan dengan &#8220;kepercayaan&#8221;, berasal dari akar &#8216;-q-d, yang berarti merajut, membuhul, mengikat; mengikatkan dengan sebuah buhul; memasang, mengumpulkan, menggabungkan, mengunci; mengecilkan, menyempitkan, mengerutkan; mengarahkan, memusatkan; melengkungkan, melekukkan; bertemu, berkumpul; mengadakan pertemuan, mengadakan rapat, mengumpulkan; membuat perjanjian, mengikat kontrak. Kata i&#8217;tiqad sendiri, secara literal (harfiah) atau figuratif (majazi), berarti menjadi terikat atau tersusun dengan kuat. Maka i&#8217;tiqad, &#8220;kepercayaan&#8221;, adalah suatu &#8220;ikatan&#8221; yang diikat dengan kuat dalam kalbu atau pikiran, sebuah keyakinan bahwa sesuatu adalah benar. Bagi Ibn al-&#8217;Arabi, &#8220;kepercayaan&#8221; adalah sebuah (peng)ikatan (binding) dan (pem)batasan (delimitation) Wujud Yang Tak Terbatas, Wujud Absolut (al-wujud al-muthlaq), yang dilakukan oleh dan berlangsung dalam subyek manusiawi.<br />
Kepercayaan seorang hamba kepada Tuhannya ditentukan dan diwarnai oleh kapasitas pengetahuan sang hamba. Kapasitas pengetahuan itu tergantung kepada &#8220;kesiapan partikular&#8221; (al-isti&#8217;dad al-juz&#8217;i) masing-masing individu hamba sebagai bentuk penampakan &#8220;kesiapan universal&#8221; (al-isti&#8217;dad al-kulli) atau &#8220;kesiapan azali&#8221; (al-isti&#8217;dad al-azali) yang telah ada sejak azali dalam &#8220;entitas-entitas permanen&#8221; (al-a&#8217;yan al-tsabitah), yang merupakan bentuk penampakan diri (tajalli) al-Haqq (yaitu Tuhan). Tuhan menampakkan diri-Nya kepada hamba-Nya sesuai dengan kesiapan sang hamba untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan yang akhirnya &#8220;diikat&#8221; atau &#8220;dibatasi&#8221; oleh dan dalam kepercayaannya sesuai dengan pengetahuan yang dicapainya. Dengan demikian, Tuhan yang diketahui oleh sang hamba adalah identik dengan Tuhan dalam kepercayaannya. Dapat pula dikatakan bahwa Tuhan yang diketahuinya adalah identik dengan kepercayaannya.</p>
<p>Tuhan memberikan kesiapan (al-isti&#8217;dad), sesuai dengan firman-Nya, &#8220;Dia memberi segala sesuatu ciptaannya&#8221; [Q. s.Thaha/20:50]. Maka Dia mengangkat hijab antara Dia dan hamba-Nya. Sang hamba melihat-Nya dalam bentuk kepercayaannya; jadi Tuhan adalah identik dengan kepercayaannya sendiri. Baik kalbu maupun mata tidak pernah melihat sesuatu kecuali bentuk kepercayaannya tentang Tuhan. Tuhan yang ada dalam kepercayaan itu adalah Tuhan yang bentuk-Nya diliputi oleh kalbu; itulah Tuhan yang menampakkan diri-Nya kepada kalbu sehingga Dia dikenal. Maka mata tidak melihat selain Tuhan kepercayaan.163<br />
&#8220;Tuhan kepercayaan&#8221; adalah gambar atau bentuk Tuhan, atau pemikiran, konsep, ide, atau gagasan tentang Tuhan yang diciptakan oleh akal manusia atau taklidnya. Tuhan seperti itu bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya, Zat-Nya, tetapi adalah Tuhan yang diciptakan oleh manusia sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, penangkapan, dan persepsinya. Tuhan seperti itu adalah Tuhan yang &#8220;ditempatkan&#8221; oleh manusia dalam pemikiran, konsep, ide, atau gagasannya dan &#8220;diikat&#8221;-nya dalam dan dengan kepercayaannya. &#8220;Bentuk&#8221;, &#8220;gambar&#8221;, atau &#8220;wajah&#8221; Tuhan seperti itu ditentukan atau diwarnai oleh pengetahuan, penangkapan, dan persepsi manusia yang mempunyai kepercayaan kepada-Nya. Apa yang diketahui diwarnai oleh apa yang mengetahui. Dengan mengutip perkataan al-Junayd, Ibn al-&#8217;Arabi berkata: &#8220;Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya&#8221; (Lawn al ma&#8217; lawn ina&#8217;ihi). Itulah sebabnya mengapa Tuhan melalui sebuah hadits qudsi berkata: &#8220;Aku adalah dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku&#8221; (Ana &#8216;inda zhann &#8216;abdi bi).164 Tuhan disangka, bukan diketahui. Dengan kata lain, Tuhan hanya dalam sangkaan manusia, bukan dalam pengetahuannya. Tuhan tidak diketahui dan tidak dapat diketahui.</p>
<p>Menarik untuk memperhatikan lanjutan firman Tuhan dalam hadits qudsi yang dikutip ini, yaitu: &#8220;Maka hendaklah ia [sang hamba] bersangka baik tentang Aku&#8221; (Fal-yazhunn bi khayran).</p>
<p>Tuhan menyuruh agar kita bersangka baik tentang Dia dalam setiap keadaan dan melarang kita bersangka buruk tentang Dia.165 Kita harus menjadikan sangkaan kita sebagai pengetahuan bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penolong, dan Maha Pengampun. Kita tidak boleh bersangka bahwa Tuhan adalah &#8220;pengawas yang selalu mencari kesalahan&#8221;, &#8220;petugas keamanan yang kasar dan galak&#8221;, atau &#8220;tuan besar yang bengis&#8221;. Sangkaan baik tentang Tuhan mendorong kita untuk mendekati dan mencintai-Nya agar kita mendapat rahmat-Nya. Nabi s.a.w. berkata: &#8220;Rahmat Tuhan mendahului (mengalahkan) murka-Nya&#8221;. Sangkaan buruk tentang Tuhan membuat kita jauh dari-Nya, menyalahkan-Nya, dan akhirnya berputus asa. Tuhan tidak menyenangi orang-orang yang berputus asa.</p>
<p>Kritik Ibn al-&#8217;Arabi terhadap orang yang memutlakkan Tuhan dalam kepercayaannya, Tuhan yang diciptakannya dalam kepercayaannya, mengikatkan kita kepada kritik Xenophanes (kira-kira 570-480 SM), seorang filsuf Yunani, terhadap antropomorfisme Tuhan, atau tuhan-tuhan. Kritik tokoh dari Kolophon, Asia Kecil, ini berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentu kuda akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai sapi, dan dengan demikian mereka akan mengenakan rupa yang sama kepada tuhan-tuhan seperti terdapat pada mereka sendiri. Orang Etiopia mempunyai tuhan-tuhan hitam dan berhidung pesek, sedangkan orang Trasia mengatakan bahwa tuhan-tuhan mereka bermata biru dan berambut merah.166</p>
<p>Sebagaimana dikatakan di atas, &#8220;Tuhan kepercayaan&#8221; adalah Tuhan ciptaan manusia. Barangsiapa yang memuji ciptaannya memuji dirinya sendiri. Ibn al-&#8217;Arabi berkata:<br />
Tuhan kepercayaan adalah ciptaan bagi yang mempersepsinya. Dia adalah ciptaannya. Karena itu, pujiannya kepada apa yang dipercayainya adalah pujiannya kepada dirinya sendiri. Itulah sebabnya mengapa ia mencela kepercayaan orang lain. Jika ia menyadari [persoalan yang sebenarnya], tentu ia tidak akan berbuat demikian itu. Tidak diragukan bahwa pemilik obyek penyembahan khusus itu adalah bodoh tentang itu karena penolakannya terhadap apa yang dipercayai oleh orang lain tentang Allah. Jika ia mengetahui apa yang dikatakan oleh al-Junayd, &#8220;Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya&#8221;, ia akan memperkenankan apa yang dipercayai setiap orang yang mempunyai kepercayaan dan mengakui Tuhan dalam setiap bentuk dan dalam setiap kepercayaan.167</p>
<p>Teori Ibn al-&#8217;Arabi tentang &#8220;Tuhan kepercayaan&#8221; didasarkan pula kepada sebuah hadits Nabi s.a.w. tentang penampakan diri Tuhan (tajalli al-haqq) pada hari kiamat.168 Nabi menceritakan bahwa pada hari kiamat, Tuhan akan menampakkan diri-Nya kepada umat manusia dalam berbagai bentuk, yang tiap-tiap bentuk akan ditolak oleh setiap orang yang tidak mengenalnya dan akan diterima oleh setiap orang yang mengenalnya. Akhirnya, semua orang atau kelompok akan menyadari bahwa sebenarnya Tuhan yang menampakkan diri-Nya dalam berbagai bentuk itu adalah satu dan sama; itu juga, tidak lain.</p>
<p>Pandangan Ibn al-&#8217;Arabi ini sesuai dengan larangan Nabi s.a.w. agar para sahabatnya tidak menyalahkan seorang awam yang pernah mengatakan kepada beliau di hadapan mereka bahwa Tuhan berada di langit, nun jauh di atas. Para sahabat mempersoalkan kepercayaan orang awam itu karena Tuhan berada di mana saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu, dan tidak berbentuk. Tetapi Nabi memandang bahwa &#8220;sangkaan&#8221; orang awam itu tentang Tuhan sudah memadai baginya. Nabi sendiri pernah berkata: &#8220;Kasihilah siapa yang di bumi, niscaya engkau akan dikasihi oleh siapa yang di langit&#8221; (Irham man fi al-ardi, yarham-ka man fi al-sama&#8217;). Yang dimaksud dengan &#8220;siapa yang di langit&#8221; dalam hadits ini adalah Tuhan. Tuhan berada di langit. Dengan alasan ini, dapat dikatakan bahwa Tuhan dalam kepercayaan Islam adalah &#8220;Tuhan Langit&#8221; (&#8220;the Sky God&#8221;), &#8220;Tuhan Surgawi&#8221; [karena surga berada di langit] (&#8220;the Heavenly God&#8221;), atau &#8220;Wujud Tertinggi Samawi&#8221; (&#8220;the Celestial Supreme Being&#8221;). Langit adalah simbol ketinggian, keagungan, keindahan, dan keabadian. Karena itu, langit dijadikan simbol Tuhan. Simbol bukan menunjukkan dirinya sendiri, tetapi menunjukkan sesuatu yang lain di luar dirinya. Simbol Tuhan bukanlah Tuhan, tetapi menunjukkan Tuhan.</p>
<p>Tuhan dalam kepercayaan Islam adalah seorang &#8220;laki-laki&#8221;, atau, lebih tepatnya, disimbolkan dengan seorang &#8220;laki-laki&#8221;. Tuhan dalam kepercayaan Islam, seperti Tuhan dalam kepercayaan-kepercayaan Yahudi dan Kristen, adalah Huwa (&#8220;He&#8221;), bukan Hiya (&#8220;She&#8221;). Tuhan dalam kepercayaan Islam selalu dipahami dengan kata-kata maskulin. (Pandangan yang menekankan aspek maskulin Tuhan atau memahami Tuhan sebagai &#8220;Tuhan Laki-Laki&#8221; seperti ini ditentang oleh teologi feminis radikal yang menekankan aspek feminin Tuhan atau memandang Tuhan sebagai &#8220;Tuhan Perempuan&#8221;). Dengan demikian, Tuhan dalam kepercayaan Islam, sebagaimana dalam kepercayaan-kepercayaan Yahudi dan Kristen, adalah seorang &#8220;person,&#8221; seorang &#8220;pribadi&#8221;. Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa Tuhan agama-agama monoteistik atau teistik, termasuk Islam, adalah &#8220;personal&#8221;, &#8220;berpribadi&#8221;. Tuhan dalam arti ini bukan &#8220;impersonal&#8221;, bukan &#8220;tak-berpribadi&#8221;, dan, karena itu, Dia bukan &#8220;Itu&#8221; (&#8220;It&#8221;).</p>
<p>Pengaruh kebudayaan terhadap bentuk atau tipe kepercayaan kepada Tuhan, terhadap &#8220;Tuhan kepercayaan&#8221;, dibuktikan oleh sejarah agama agama. Tuhan dalam kepercayaan orang-orang yang berkebudayaan patriarkal pastoral, yang berkebudayaan perayahan yang hidup dengan menggembala, berbeda dengan Tuhan dalam kepercayaan orang-orang yang berkebudayaan matriarkal agrikultural, yang berkebudayaan peribuan yang hidup dengan bertani. Bapa Samawi atau Bapa Surgawi adalah Tuhan tipikal orang-orang nomad yang hidup dari hasil kawanan ternak mereka; kawanan ternak itu hidup di padang rumput, dan pada gilirannya padang rumput tergantung kepada hujan dari langit. Ibu Bumi atau Ibu Pertiwi adalah Tuhan tipikal para petani yang hidup dari hasil tanah atau bumi.169 Dalam kebudayaan patriarkal pastoral, biasanya bapa dan langit dijadikan sebagai simbol Tuhan. Dalam kebudayaan matriarkal agrikultural, ibu dan bumi sering dijadikan sebagai simbol Tuhan. Agama-agama Semitik lebih cenderung kepada kebudayaan tipe pertama. Bukankah agama-agama Semitik, karena diturunkan dari langit, sering disebut &#8220;agama-agama samawi&#8221;, &#8220;agama-agama langit?&#8221; Dalam ketiga agama ini, karena &#8220;Tuhan berada di langit&#8221;, maka ungkapan-ungkapan simbolis, seperti &#8220;turun dari langit&#8221;, &#8220;naik ke langit&#8221;, dan &#8220;berada di langit&#8221;, lazim digunakan untuk melukiskan peristiwa-peristiwa sakral dan pengalaman-pengalaman spritual.</p>
<p>Sekali lagi, semua deskripsi dan ungkapan ini adalah simbol (yang menunjukkan) Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Di mata kaum monoteis, kekeliruan kaum politeis terletak pada penuhanan mereka akan simbol-simbol seperti langit, matahari, bulan, dan bumi. Kaum politeis tidak lagi sepenuhnya bertuhan kepada Tuhan, tetapi telah bertuhan kepada simbol-simbol.</p>
<p>Di mata Ibn al-&#8217;Arabi, orang yang menyalahkan atau mencela kepercayaan-kepercayaan lain tentang Tuhan adalah orang yang bodoh karena Tuhan dalam kepercayaannya sendiri, sebagaimana dalam kepercayaan-kepercayaan yang disalahkannya itu, bukanlah Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, karena Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya tidak dapat diketahui. Orang seperti itu mengakui hanya Tuhan dalam bentuk kepercayaannya atau kepercayaan kelompoknya sendiri dan mengingkari Tuhan dalam bentuk-bentuk berbagai kepercayaan lain. Padahal Tuhan yang menampakkan diri-Nya dalam semua bentuk kepercayaan-kepercayaan yang berbeda itu adalah satu dan sama. Kritik Ibn al-&#8217;Arabi ini, jika harus konsisten, tertuju kepada setiap orang yang mencela kepercayaan-kepercayaan lain yang berbeda dengan kepercayaannya tentang Tuhan, baik dalam lingkungan orang-orang yang seagama dengannya maupun dalam lingkungan orang-orang yang berbeda agama.<br />
Ibn al-&#8217;Arabi memperingatkan kita sebagai berikut:<br />
Maka berhati-hatilah agar anda tidak mengikatkan diri kepada ikatan (&#8216;aqd) [yaitu kepercayaan, doktrin, dogma, atau ajaran] tertentu dan mengingkari ikatan lain yang mana pun, karena dengan demikian itu anda akan kehilangan kebaikan yang banyak; sebenarnya anda akan kehilangan pengetahuan yang benar tentang apa itu yang sebenarnya. Karena itu, hendaklah anda menerima sepenuhnya semua bentuk kepercayaan-kepercayaan, karena Allah Ta&#8217;ala terlalu luas dan terlalu besar untuk dibatasi dalam satu ikatan tanpa ikatan lain, Dia berkata: &#8220;Kemana pun kamu berpaling, di situ ada wajah Allah&#8221;, [Q 2:115] tanpa menyebutkan arah tertentu mana pun.170</p>
<p>Pengetahuan yang benar tentang Tuhan, menurut Sufi dari Andalusia ini, adalah pengetahuan yang tidak terikat oleh bentuk kepercayaan atau agama tertentu. Inilah pengetahuan yang dimiliki oleh &#8220;para gnostik&#8221; (al- &#8216;arifun). Karena itu, &#8220;para gnostik&#8221;, yaitu para Sufi, tidak pernah menolak Tuhan dalam kepercayaan, sekte, aliran, atau agama apa pun. Ini berarti bahwa Tuhan, bagi mereka, dalam semua kepercayaan, sekte, aliran, atau agama, adalah satu dan sama. Kata Ibn al-&#8217;Arabi, &#8220;Barangsiapa yang membebaskan-Nya [yaitu Tuhan] dari pembatasan tidak akan mengingkari-Nya dan mengakui-Nya dalam setiap bentuk tempat Dia mengubah diri-Nya.&#8221;171</p>
<p><strong>Tuhan Yang Sebenarnya</p>
<p></strong>Tuhan sebagaimana Dia sebenarnya, Tuhan pada diri-Nya, Zat Tuhan, tidak diketahui dan tidak dapat diketahui oleh akal manusia. Tuhan dalam arti ini oleh Ibn al-&#8217;Arabi disebut &#8220;Tuhan Yang Sebenarnya&#8221;, &#8220;the Real God&#8221; (al-ilah al-haqq) &#8220;Tuhan Yang Absolut&#8221;, &#8220;the Absolute God&#8221; (al-ilah al-muthlaq); dan &#8220;Tuhan Yang Tidak Diketahui&#8221;, &#8220;the Unknown God&#8221; (al-ilah al-majhul). Tuhan dalam arti ini adalah munazzah (tidak dapat dibandingkan [dengan alam], sama sekali berbeda dengan alam, transenden terhadap alam. &#8220;Tidak sesuatu pun serupa dengan-Nya&#8221; (Q., s. al-Syura/42:11). &#8220;Penglihatan tidak dapat mempersepsi-Nya, tetapi Dia mempersepsi semua penglihatan&#8221; (Q., s. al-An&#8217;am/6: 103). Itulah Tuhan yang tidak bisa dipahami dan dihampiri secara absolut, yang sering disebut Dzat Tuhan. Itulah Yang Absolut dalam keabsolutan-Nya yang terlepas dari semua sifat dan relasi yang dapat dipahami manusia. Dia adalah &#8220;yang paling tidak tentu dari semua yang tidak tentu&#8221;, &#8220;yang palingtidak diketahui dari semua yang tidak diketahui&#8221; (ankar al-nakirat). Dia adalah selama-lamanya suatu misteri, yang oleh Ibn al-&#8217;Arabi disebut &#8220;Misteri Yang Absolut&#8221; (al-ghayb al-muthlaq) atau &#8220;Misteri Yang Paling Suci&#8221; (al-ghayb al-aqdas). Dilihat dari sudut penampakan diri (tajalli) Tuhan, dikatakan bahwa Yang Absolut dalam keabsolutan-Nya adalah pada tingkat &#8220;keesaan&#8221; (ahadiyah).</p>
<p>Karena Tuhan, yaitu Dzat Tuhan, tidak dapat diketahui oleh siapa pun, maka Nabi s.a.w. melarang orang-orang beriman untuk memikirkan Tuhan. Beliau bersabda: &#8220;Berpikirlah, tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Dzat Allah.&#8221; Hadits ini cukup terkenal di kalangan orang-orang yang mempelajari ilmu tawhid. Larangan ini diperkuat oleh Ibn al-&#8217;Arabi dengan firman Tuhan yang berbunyi: &#8220;Allah memperingatkan kamu tentang diri-Nya&#8221; (Q., s. Alu &#8216;Imran/3:28). Ibn al-&#8217;Arabi menegaskan sebagai berikut:<br />
Berpikir (fikr) tidak mempunyai hukum dan daerah kekuasaan dalam [mengetahui, atau memahami] Zat al-Haqq, baik secara rasional maupun menurut Syara&#8217;. Syara&#8217; telah melarang berpikir tentang Zat Allah. Inilah yang disinggung oleh firman-Nya, &#8220;Allah memperingatkan kamu tentang diri-Nya,&#8221; [Q., s. Alu 'Imran/3: 28] yaitu &#8220;Jangan kamu berpikir tentang-Nya [Zat-Nya)!" Larangan ini ditetapkan karena tidak ada hubungan antara Zat al-Haqq dan zat al-khalq.172</p>
<p>Dari segi diri-Nya, Zat Tuhan tidak mempunyai nama, karena Dzat itu bukanlah lokus efek dan bukan pula diketahui oleh siapa pun. Tidak ada nama yang menunjukkannya yang terlepas dari hubungan dan bukan pula dengan pengukuhan. Nama-nama berfungsi untuk pemberitahuan dan pembedaan, tetapi pintu [untuk mengetahui Zat Tuhan] dilarang bagi siapa pun selain Allah, karena tidak ada yang mengetahui Allah kecuali Allah.173<br />
Ibn al-&#8217;Arabi mengecam orang-orang yang melanggar larangan berpikir tentang Zat Tuhan dan menuduh mereka telah menambah kesalahan dengan al-khawdl (melakukan upaya spekulasi besar-besaran dan serampangan). Ia memandang bahwa upaya mereka itu adalah sia-sia.</p>
<p>Pandangan bahwa Tuhan tidak dapat diketahui ditemukan pula dalam Bibel. Salah satu bagian Kitab Suci ini mengatakan bahwa Tuhan, meskipun hadir dalam alam dan manusia, adalah misteri yang tidak dapat dipahami oleh akal manusia. Ketika Nabi Musa berada di Gunung Sinai, ia melihat dan menyaksikan dalam semak-semak yang menyala (tetapi tidak dimakan api) Kehadiran Tuhan yang memerintahkannya untuk menghadapi Fir&#8217;awn dan membebaskan bangsa Israel dari raja yang zalim itu. Lalu, Musa bertanya kepada Tuhan tentang nama-Nya untuk mengetahui siapa diri-Nya, Tuhan menjawab:</p>
<p>&#8220;Ehyeh asyer Ehyeh&#8221; (Keluaran 3:14). Terjemahan yang biasa dari ungkapan Ehyeh asyer Ehyeh adalah &#8220;Aku adalah Aku&#8221; (&#8220;I am that I am&#8221;) atau &#8220;Aku akan jadi Aku&#8221; (&#8220;I will be that I will be&#8221;). Leo Schaya, seorang sarjana terkemuka tentang Kabbalisme (mistisisme Yahudi), menafsirkan bahwa Kehadiran Zat yang esa itu menyatakan diri-Nya kepada Musa sebagai Ehyeh, &#8220;Wujud (&#8216;Being&#8217;) yang esa dan universal,&#8221; sebagai &#8220;Wujud yang adalah Wujud&#8221; (&#8220;Being that is Being&#8217; (Ehyeh asyer Ehyeh), di luar dan di dalam seluruh eksistensi. Tetapi Ia juga menyatakan kepadanya [yaitu Musa] bahwa Ia bukan hanya Zat dan Prinsip eksistensi, tetapi secara serentak tetap dalam keadaan pada diri-Nya, dalam Supra-Wujud atau Bukan-Wujud Nya &#8211;yang dalam Kabbalah disebut Ain, &#8220;Ketiadaan&#8221; ilahi (the divine &#8220;Nothingness&#8221;).174</p>
<p>Kaum Kabbalis, dalam keinginan besar mereka untuk menekankan ketakterpahaman (incomprehensibilty) Tuhan pergi begitu jauh sehingga mereka berbicara tentang Tuhan sebagai &#8216;Ayn &#8211;&#8221;Dia Yang Bukanlah&#8221;, &#8220;Dia Yang adalah Bukan&#8221; (&#8220;He Who is Not&#8221;)&#8211; yaitu untuk mengatakan bahwa sesungguhnya orang tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan ada [dan tentu pula sebaliknya tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan tidak ada], karena mengatakan demikian adalah juga suatu deskripsi tentang yang tidak dapat dideskripsikan.175<br />
Jawaban Tuhan tersebut, Ehyeh asyer Ehyeh, menunjukkan bahwa diri-Nya tidak dapat dipahami oleh akal manusia. Karena itu, Musa diperingatkan oleh Tuhan agar tidak bertanya tentang diri-Nya, Dzat-Nya.</p>
<p><strong>Catatan kaki:<br />
</strong>163 Ibn al-&#8217;Arabi, Fushush al-Hikam, diedit oleh Abu al-&#8217;Ali&#8217; Afifi, 2 bagian (Beirut: Dar al-Kitab al-&#8217;Arabi, 1980), 1:121.<br />
164 Fushush, 1:225-226.<br />
165 Ibn al-&#8217;Arabi, al-Futhuhat al-Makkiyah, 4 vol. (Beirut: Daral-Fikr, t.th.), 4:446.<br />
166 H. Diels W. Kram, Die Fragmente der Vorsokratiker, Griechisch und Deutsch, 3 vol. (Berlin, 1934-1937), fr. 15-16. Kedua fragmen ini dikutip oleh K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Yogyakarta: Kanisius,1989), h. 40.<br />
167 Fushush,1:226.<br />
168 Lihat Muslim, al-Shahih, Kitab al-Imam, no. 302 (Kairo: Muhammad &#8216;Ali Shabih,1334/1916), 1:114-117. Bandingkan dengan Ibn al-&#8217;Arabi, Futuhat, 1:314; 2:311; idem, Fushush, 1:184.<br />
169 Raffaele Pettazzoni, &#8220;The Supreme Being: Phenomenological Structure and Historical Development,&#8221; dalam Mircea Eliade and Joseph M. Kitagawa, eds.., The History of Religion: Essays in Methodology (Chicago &amp; London: The University of Chicago Press, 1959, Seventh Impression, 1974), h. 64-65; Nico Syukur Dister, Pengalaman dan Motivasi Beragama: Pengantar Psikologi Agama (Jakarta: Leppenas,1982), h. 36-37; idem, Psikologi Agama: Bapa &amp; Ibu sebagai Simbol Allah (Yogyakarta &amp; Jakarta: Gunung Mulia &amp; Kanisius,1983), h. 43-45.<br />
170 Fushush,1:113.<br />
171 Fushush, 1:121.<br />
172 Futuhat, 2:30.<br />
173 Futuhat, 2:69.<br />
174 Leo Schaya, &#8220;Contemplation and Action in Judaism and Islam,&#8221; dalam Yusuf Ibish and Ileana Marculescu, eds., Contemplation and Action in World Religions (Seattle and London: Rothko Chapel, 1978), h.165.<br />
175 Rabbi Louis Jacobs, We Have Reason to Believe (London: Vallentine, Mitchell, 1965), h.14. </p>
<p><strong>Tulisan di atas ditulis oleh Kautsar Azhari Noer<br />
Ketua Jurusan Perbandingan Agama, IAIN Jakarta,<br />
Pemimpin Redaksi Jurnal Pemikiran Islam Paramadina </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ihsanmaulana.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ihsanmaulana.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ihsanmaulana.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ihsanmaulana.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ihsanmaulana.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ihsanmaulana.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ihsanmaulana.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ihsanmaulana.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ihsanmaulana.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ihsanmaulana.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ihsanmaulana.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ihsanmaulana.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ihsanmaulana.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ihsanmaulana.wordpress.com/427/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=427&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/06/04/tuhan-yang-diciptakan-dan-tuhan-yang-sebenarnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd9b30e17f2bf59d1f8c13168311d7cc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iksan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bilikml.files.wordpress.com/2011/03/who-is-god.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://ihsanmaulana.files.wordpress.com/2011/06/where-is-god-front.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>La Ilaha Illa Ana (Ekspresi Manunggaling Kawula Gusti)</title>
		<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/05/14/la-ilaha-illa-ana-ekspresi-manunggaling-kawula-gusti/</link>
		<comments>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/05/14/la-ilaha-illa-ana-ekspresi-manunggaling-kawula-gusti/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 May 2011 09:20:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihsan Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Gusti]]></category>
		<category><![CDATA[Jenar]]></category>
		<category><![CDATA[Kawula]]></category>
		<category><![CDATA[Manunggal]]></category>
		<category><![CDATA[Siti]]></category>
		<category><![CDATA[Syekh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihsanmaulana.wordpress.com/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Aku tak sudi di perintah. Syahadat, sholat, zakat, puasa, aku tak sudi mengerjakanya. Sejak mentari memancarkan cahaya terangnya aku sudah berdiri di atas gumpalan padang ini. Biarkan aku kembali pada Tuhan-ku bersatu dengan zat-Nya. Dalam kajian dengan tema tentang insiden hulul atau peleburan Tuhan pada diri Syekh Siti Jenar. Syekh siti jenar, juga banyak dikenal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=424&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku tak sudi di perintah. Syahadat, sholat, zakat, puasa, aku tak sudi mengerjakanya. Sejak mentari memancarkan cahaya terangnya aku sudah berdiri di atas gumpalan padang ini. Biarkan aku kembali pada Tuhan-ku bersatu dengan zat-Nya.</p>
<p>Dalam kajian dengan tema tentang insiden hulul atau peleburan Tuhan pada diri Syekh Siti Jenar.<br />
Syekh siti jenar, juga banyak dikenal dalam banyak nama lain antara lain Lemah abang, Sitibrit, Suluk Abdul Jalil dan lain sebagainya. Tokoh ini hidup pada zaman wali songo, dan termasuk kategori pendakwah yang menyebarkan agama islam dengan konsepsi sufi. Di masyarakat pada umumya terdapat banyak sekali varian cerita mengenai asal usul Syekh Siti Jenar ini.<br />
<span id="more-424"></span><br />
Sebagian umat Islam, menjustifikasi ajaran Syekh Jenar ini sesat, dengan indikasi bahwa beliau telah keluar dalam kategori islam. Ajaran Syekh Siti Jenar ini sangat kontroversi dalam khalayak publik. Konsepsi manunggaling kawula gusti inipun pernah juga dikumandangkan oleh ulama besar Al-Hallaj, tokoh sufi islam yang di hukum mati pada masa sekitar abad ke-922 Masehi.</p>
<p>Dalam Beberapa pemikiran syekh siti jenar, pada forum ini dispesifikan pada pemahaman Hulul (Peleburan Tuhan Pada Manusia), dan ittihad (Persatuan Tuhan Pada Manusia). Kiranya untuk berijtihad masalah ini ada baiknya kita fles back kepada pendirinya yaitu Al-Hallaj dan para sufi yang terinspirasi pada beliau di antaranya; Ibnu Arabi, Rumi, Busthami.</p>
<p>Jenis tasawuf yang digandrungi oleh para sufi di atas ialah jenis tasawuf pengalaman ekstasis (syathahat: ucapan para sufi yang dikenal aneh, seolah bertentangan dengan syari’at secara lahiriyah dan akal fikiran). Terungkap dalam tuturan Al-hallaj seperti  “Anal Haq”, kalau Syek Siti Jenarnya berkata “ingsun Gusti”. Dan juga Syiir Al-hallaj mengenai jalan spritualnya.<br />
<em>“Anaa man ahwa wa man ahwa ana # nahnu ruhani halalna badana<br />
Fa idza abshartani abshartahu # wa idza abshartahu absahartana</em>”<br />
Aku orang yang mencinta dan Dia yang mencinta# kami dua ruh yang melebur dalam satu tubuh<br />
Apabila kau memandang-ku, kau memandangnya# dan apabila kau memandang-Nya kau memandangku.</p>
<p>Dalam lontaran syair di atas sudah sangat jelas bahwa beliau mengnut paham penitisan Tuhan pada manusia. Bagi sufi konvensional, finalitas relasi Tuhan manusia adalah dualisme. Dalam bahasa kaum teolog: tanzih, memposisikan Tuhan dalam ke-lahut-annya, dan sekaligus menempatkan manusia pada posisi ke-nasut-annya. Sejenis laku spiritual yang tahu diri bahwa antara Tuhan dan manusia ada semacam sekat plafon kaca yang tidak bisa disangkal.</p>
<p>Berbicara tentang konsep ontologi yang satu (al-wahid) dan yang banyak (al-katsir), kalangan sufi memulainya pada konsep wahdatul wujud (kesatuan wujud) dasar filosofis dalam memahami Tuhan dalam hubunganya dengan alam termasuk manusia. Dalam metodologi ini dapat di simpulkan bahwa Tuhan tidak bisa di pahami kecuali dengan memadukan dua sifat yang berlawanan pada-Nya. Tuhan menampakan diri pada dalam bentuk yang tidak terbatas pada alam.<br />
Alasan logikanya dapat ditelusuri dalam pandangan Ibnu Arabi, bahwa hubungan ontologis antara yang satu dan yang banyak menggunakan metode matematis. Bilangan-bilangan yang banyak (yang tak terbatas) berasal dari yang satu dengan pengulanganya menurut pengelompokan yang telah di ketahui. Hukum bilangan hanya ada karena adanya yang di bilang(di hitung). </p>
<p>Setiap unit bilangan adalah realitas dari satu hingga sepuluh, dari yang terkecil hingga yang terbesar hingga yang tak terbatas. Tidak satupun dalam unit itu yang merupakan kumpulan dari satu-satu semata, namun di pihak lain masing-masing unit itu merupakan kumpulan satu-satu. Jadi walaupun yang banyak berasal dari yang satu, akan janggal kedengaranya jika untuk menyebut angka yang banyak sebagai manifestasi-manifestasi dari angka satu dalam pengertian bahwa obyek-obyek fenomena adalah manifestasi dari yang satu. Kesimpulanya antara konsepsi monoteisme ataupun politeisme tak ada masalah. Pada dasarnya perbedaan di antaranya hanya bersandar pada logika saja</p>
<p>Akhirnya, bahwasanya faktor persaingan ideology saja tidak cukup bisa mengkukuhkan tindakan anarkis hingga hilangnya nyawa seseorang tetapi jauh dari itu, yaitu ketika agama berkolaborasi dengan konstitusi suci(agama), dalam satu tafsiran. Maka dengan mudahnya kita menghukumi sesat, kafir bahkan murtad pada seseorang yang berada diluar arus pemikiran kita. Kiranya pada konteks zaman sekarang sejarah terulang ketika sekte-sekte islam khususnya dihukumi sesat.Wallahu alam bishowab.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ihsanmaulana.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ihsanmaulana.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ihsanmaulana.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ihsanmaulana.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ihsanmaulana.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ihsanmaulana.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ihsanmaulana.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ihsanmaulana.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ihsanmaulana.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ihsanmaulana.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ihsanmaulana.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ihsanmaulana.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ihsanmaulana.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ihsanmaulana.wordpress.com/424/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=424&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/05/14/la-ilaha-illa-ana-ekspresi-manunggaling-kawula-gusti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd9b30e17f2bf59d1f8c13168311d7cc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iksan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Franky dan Kesadaran Diri</title>
		<link>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/04/24/franky-dan-kesadaran-diri/</link>
		<comments>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/04/24/franky-dan-kesadaran-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 01:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ihsan Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cangkruan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Kemasyarakatan]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Franky]]></category>
		<category><![CDATA[Sahilatua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ihsanmaulana.wordpress.com/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[Dulu saya mengenalnya hanya sebagai penyanyi balada, dulu bagi saya ia tak lebih hanya sebagai seorang penyanyi layaknya penyanyi lain yang saya sukai, saat “perahu retak” diperdengarkan, saya baru saja masuk bangku kuliah. Saat itu saya mulai terlibat akan isu-isu sosial dan kegiatan-kegiatan populis. Layaknya para mahasiswa aktifis, saya pun juga menggelar demo, mulai dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=421&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRXBnLqmLyPfD6koqWLoABTBmPb0BIrBF31PtLmy_F0F6bSFKk8Ug" title="Franky di antara Buruh" class="alignleft" width="160" height="160" />Dulu saya mengenalnya hanya  sebagai penyanyi balada, dulu bagi saya ia tak lebih hanya sebagai seorang penyanyi layaknya penyanyi lain yang saya sukai, saat “perahu retak” diperdengarkan, saya baru saja masuk bangku kuliah. Saat itu saya mulai terlibat akan isu-isu sosial dan kegiatan-kegiatan populis. Layaknya para mahasiswa aktifis, saya pun juga menggelar demo, mulai dari demo yang main segel-segelan hingga demo tahlilan dalam rangka mendesak pemerintah untuk mengusut kematian Munir yang saat itu masih diberitakan meninggal karena mengidap penyakit jantung.<span id="more-421"></span></p>
<p>Tahun 2006, sebagaimana layaknya cara para aktifis Jatim lain cari makan, saya pun ikut bekerja dalam proyek pemberdayaan masyarakat milik Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Dulu sih inginnya menjadi idealis memberdayakan rakyat dan seterusnya, tapi rupanya saya hanya “berhasil” mempertahankan diri agar tidak asin di tengah-tengah air laut. Ternyata sistem yang korup belum bisa sama sekali saya lawan. </p>
<p>Saat saya mulai menjadi kaum yang sok elitis lokal, saya terkejut saat membaca berita bahwa Franky berada di Hongkong menjadi dirigen demo menentang pasar bebas yang diprakarsai negara-negara maju, ia juga menyanyikan lagu-lagu perlawanan di sana. Saat itu saya mulai malu pada Franky, saat di sini saya tidak berani turun ke jalan menentang ketidakadilan maka ia masih kekeh menentangnya. Diam-diam, rasa kagum lebih dari sekedar seorang penyanyi mulai tumbuh pada diri saya. Rasa kagum itu pula yang mengilhami saya untuk bertemu Franky di Masjid al-Akbar Surabaya di bulan Ramadhan. Bukan pertemuannya yang membekas, tapi pada bagaimana ia bersikap dengan sangat rendah hati dan berbaur dengan orang-orang pinggiran yang selama ini ada di lagunya. Ia tak rikuh untuk duduk di antara orang-orang biasa. Lesehan tanpa alas di halaman masjid yang jika tidak ada dia saya hampir tak pernah duduk di sana.<img alt="" src="http://202.146.4.121/photo/2010/02/f6a688dcd987d91936691696346e139e.jpg" title="Thanks Franky" class="aligncenter" width="300" height="237" /></p>
<p>Berita-berita tentang Franky timbul tenggelam di media, tapi ada satu konsistensi yaitu pada pembelaannya pada masyarakat kecil dan penentangannya akan ketidakadilan. Inilah yang membuat saya malu jika hidup harus berjalan dengan hanya mencari uang, membeli barang, menikah, punya anak dan kemudian mati tanpa ada nilai yang diperjuangkan. Jika itu terjadi, mungkin itu adalah kegagalan hidup saya. Kegagalan untuk memberi makna pada hidup, kegagalan untuk membuat hidup yang memberi makna. Jika itu terjadi maka saya telah gagal menjadi manusia!</p>
<p>Selamat Jalan Franky! Terima kasih atas pelajaran dan semangatnya. Semoga dunia ini bisa menjadi lebih baik!.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ihsanmaulana.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ihsanmaulana.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ihsanmaulana.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ihsanmaulana.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ihsanmaulana.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ihsanmaulana.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ihsanmaulana.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ihsanmaulana.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ihsanmaulana.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ihsanmaulana.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ihsanmaulana.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ihsanmaulana.wordpress.com/421/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ihsanmaulana.wordpress.com/421/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ihsanmaulana.wordpress.com/421/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ihsanmaulana.wordpress.com&amp;blog=1993074&amp;post=421&amp;subd=ihsanmaulana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ihsanmaulana.wordpress.com/2011/04/24/franky-dan-kesadaran-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bd9b30e17f2bf59d1f8c13168311d7cc?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Iksan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRXBnLqmLyPfD6koqWLoABTBmPb0BIrBF31PtLmy_F0F6bSFKk8Ug" medium="image">
			<media:title type="html">Franky di antara Buruh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://202.146.4.121/photo/2010/02/f6a688dcd987d91936691696346e139e.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Thanks Franky</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
