Tak layaknya seperti para raja lain di Sumenep yang dimakamkan di pemakaman raja-raja, Asta Tinggi (pekuburan Agung) yang terletak di utara kota Sumenep saat ini. Ada satu makam seorang raja yang tak ada di sana yaitu makam Raja Jokotole. Cerita tentang raja Jokotole ini menarik, ibunya adalah seorang putri raja yang dikenal dengan nama Potre Koneng (putri kuning). Sang putri ini dikenal sebagai putri yang cantik jelita, kulitnya kuning langsat dan berwajah indah. Dalam cerita Jokotole, konon putri ini bermimpi berhubungan badan melalui mimpi dengan seorang pemuda bernama Adi Poday, seorang perjaka, pengelana, dan petapa. Dalam ceritanya, mimpi itu terjadi saat Potre Koneng bertapa di Gunung Pajudan Sumenep dan Adi Poday di gunung Geger Bangkalan. Terlepas dari bagaimana cara Potre Koneng hamil, akhirnya karena malu, bayi Jokotole pun ia buang. Kisah sang putri dengan Adi Poday tidak berakhir dengan lahirnya Jokotole karena setelah Jokotole dibuang ternyata sang putri hamil lagi dengan pemuda yang sama dan sama dengan kehamilan pertama, bayi adik Jokotole bernama Agus Wedi tersebut akhirnya dibuang juga.
Jokotole kemudian diasuh oleh orang biasa dan ia tumbuh dengan baik sebagai pemuda yang gagah berani. Bahkan di masa mudanya ia berhasil menyusup ke kalangan istana sebagai prajurit pilih tanding dan sekaligus sebagai ahli senjata mewarisi keahlian ayah angkatnya. Karena keahlian ini pula akhirnya ia terkenal hingga ke kerajaan Majapahit karena masterpiece gerbang kerajaan yang dibangunnya dan diklaim sebagai gerbang terbaik yang perna dimiliki oleh Majapahit. Setelah terlibat dalam banyak perang dan memenanginya, akhirnya diketahui bahwa ia adalah anak putri raja Sumenep, Potre Koneng , ia pun kemudian dinobatan sebagai raja Sumenep. Akan tetapi yang menarik, tak ada hikayat yang menceritakan kenapa ia tidak dimakamkan di makam raja-raja Sumenep setelah ia meninggal padahak tradisini kerajaa Sumenep, makam raja-raja Sumenep selalu dimakamkan di Asta Tinggi. Jawaban paling memungkinkan atas pertanyaan ini adalah pertama Jokotole melakukan Lengser keprabon alias ia meninggalkan tahtanua dan kemudian ia memilih menjadi petapa hingga ia meninggal dalam pertapaannya, kedua, ada intrik politik di kerajaan Sumenep saat itu yang membuat Jokotole tersingkir sehingga membuat Jokotole diasingkan ke dalam hutan, apalagi Jokotole mempunyai masalah dengan nasab atau trah nya, baik secara etika kerajaa ataupun secara ajaran agama Islam.

Mencari Makam

Penasaran terletak dimanakah makam Jokotole, menggunakan kebaikan kolega di Sumenep saya kemudian mengarahkan mobil ke arah utara lewat desa Pakondang. Dari sana saya mengajak beberapa kawan untuk menuju makam Jokotole. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke arah kecamatan Manding Sumenep. Dari Pakondang, perjalanan ditempuh satu hingga dua jam mengunakan mobil. Setelah sampai di pasar kecamatan Manding, tepatnya di perempatan pasar, kami masuk ke arah timur sekitar 3 kilo meter. Tulisan petunjuk arah yang dibuat mahasiswa kkn di tempat tersebut membantu saya untuk menemukan makam dimaksud. Mendengar suara mobil kami , juru kunci menyambut kami di pintu gerbang, tak lama kemudian muncul dua perempuan tua yang saya Tenggarai sebagai pengemis yang memang selalu menunggu para peziarah yang sangat jarang datang ke tempat tersebut dibandingkan dengan makam Asta Tinggi. Di sana saya lihat terdapat dua makam; makam pertama dipercaya sebagai makam Jokotole sedangkan d sisi selatannya terdapat makam yang lebih kecil yang konon adalah makam kudanya yang sangat setia pada Jokotole. Cerita tentang kesetiaan kuda ini mengingatkan saya kepada cerita Zorro dari tanah Meksiko.
Setelah selesai melakukan ritual doa layaknya umat muslim di daerah tersebut dan bercengkerama sejenak dengan sang juru kunci, saya dan kawan-kawan akhirnya pamit untuk pulang. Satu makam tersembunyi telah kami kunjungi, saatnya mencari makam lagenda-lagenda lain di bumi Nusantara.


Tulisan ini berangkat dari keprihatinan saya atas menjamurnya berita-berita bohong di sosial media dan media-media online hari ini. Runyamnya, ternyata banyak orang menelannya mentah-mentah. Sehari yang lalu, saya masih ingat bagaimana seorang kawan mengirim pesan berantai tentang meninggalnya BJ. Habibie padahal yang bersangkutan masih segar bugar, tadi pagi saya lihat bagaimana photo seorang kiai yang sedang melepas jenazah kemudian diberi caption sedang melepas demonstran ke Jakarta. Gilanya banyak orang meng-share. Banyak contoh-contoh lain tentang berita-berita bohong di sosial media dan media online yang bisa kita dapatkan. Baca entri selengkapnya »


Dalam kesempatan jamuan makan malam di asrama kampus ANU (Australian National University) yang dihuni oleh para mahasiswa PhD, saya duduk dengan Souveek , Rommael, dan Suzan. Souveek adalah seorang warga negara India, Rommael warga Filipina, dan Suzan adalah orang Australia. Saya, Rommael, dan Souveek berkawan akrab, kami sering masak bareng dan berbagi makanan. Tapi dengan Suzan karena ia tinggal di lantai bawah, jadi saya tidak terlalu akrab dengannya hanya say hello saja jika bertemu. Baca entri selengkapnya »


Saat saya menunggu waktu subuh di Canberra, Australia, iseng-iseng saya membuka medsos, saya lihat di beranda ada beberapa postingan tentang acara di sebuah stasiun tivi Indonesia tentang Dimas Taat Pribadi, seorang  fenomenal dari Probolinggo Jawa Timur, ia dikenal sebagai orang yang bisa mengadakan uang dalam jumlah miliaran dan bahkan triliunan. Saat artikel ini ditulis, ia menjadi tersangka kasus pembunuhan dan sejumlah kasus penipuan. Saya tertarik karena desas desus tentang kemampuannya ini sering kali saya dengar saat dulu saya berada di Surabaya. Saya pun mencoba mencarinya di Youtube tentang acara dimaksud. Betapa kagetnya saya setelah melihat acara tersebut, orang-orang yang berkumpul rata-rata saya kenal. Mulai dari akademisi hingga pengacaranya. Baca entri selengkapnya »


Saya dibesarkan di keluarga patriarkal, keluarga dengan dominasi kaum laki-laki dalam fungsi-fungsi sosialnya. Saya dididik dalam nuansa Islam yang juga patriarkal. Islam memang tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, tapi cara para guru memperlakukan perempuan sangat patriarkal sekali. Saya juga hidup dalam kalangan kawan-kawan laki-laki patriarkal, mereka adalah orang-orang yang dididik dalam setting keluarga patriarkal dan didikan yang patriarkal sama seperti saya. Di keluarga saya, di lembaga pendidikan dimana saya belajar, dan di kawan-kawan dimana saya berteman, mereka punya seperangkat ide tentang perempuan baik-baik. Perempuan baik-baik biasanya dkategorikan dengan pakaiannya yang sopan, sikapnya yang lemah lembut, dan tidak merokok. Baca entri selengkapnya »


Judul tulisan ini memang diilhami oleh kata bijak bestari di Indonesia “Guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Akan tetapi dalam tulisan kali ini saya hendak memakainya dalam kaitan saya sebagai pribadi dengan latar belakang seorang guru yang hidup di di kota-kota di Indonesia dan kota-kota lain di dunia, yang celakanya semua toilet kencingnya adalah didesain untuk kencing dengan berdiri. Curiculum vitae saya menyebutkan bahwa saya pernah menjadi guru karakter (di SAIMS), guru etika Islam (di SMP Jatiagung), dan guru (dosen) manajemen pendidikan Islam di STAI Al Fithrah. Baca entri selengkapnya »


Saya adalah penganut madhab Shafi’i, begitu pula keluarga saya dan rata-rata para guru saya. Penganut madhab Maliki mungkin hanya satu atau dua orang saja, termasuk penganut madhab Maliki yang berpengaruh terhadapku adalah Ustad Ihya’ Ulumuddin atau biasa dikenal dengan sebutan abi Ihya’ atau kiai Ihya’, pengasuh pesantren Pujon Malang yang dahulu rumahnya di dekat rumahku di Surabaya. Baca entri selengkapnya »