Tulisan ini berangkat dari keprihatinan saya atas menjamurnya berita-berita bohong di sosial media dan media-media online hari ini. Runyamnya, ternyata banyak orang menelannya mentah-mentah. Sehari yang lalu, saya masih ingat bagaimana seorang kawan mengirim pesan berantai tentang meninggalnya BJ. Habibie padahal yang bersangkutan masih segar bugar, tadi pagi saya lihat bagaimana photo seorang kiai yang sedang melepas jenazah kemudian diberi caption sedang melepas demonstran ke Jakarta. Gilanya banyak orang meng-share. Banyak contoh-contoh lain tentang berita-berita bohong di sosial media dan media online yang bisa kita dapatkan. Baca entri selengkapnya »


Dalam kesempatan jamuan makan malam di asrama kampus ANU (Australian National University) yang dihuni oleh para mahasiswa PhD, saya duduk dengan Souveek , Rommael, dan Suzan. Souveek adalah seorang warga negara India, Rommael warga Filipina, dan Suzan adalah orang Australia. Saya, Rommael, dan Souveek berkawan akrab, kami sering masak bareng dan berbagi makanan. Tapi dengan Suzan karena ia tinggal di lantai bawah, jadi saya tidak terlalu akrab dengannya hanya say hello saja jika bertemu. Baca entri selengkapnya »


Saat saya menunggu waktu subuh di Canberra, Australia, iseng-iseng saya membuka medsos, saya lihat di beranda ada beberapa postingan tentang acara di sebuah stasiun tivi Indonesia tentang Dimas Taat Pribadi, seorang  fenomenal dari Probolinggo Jawa Timur, ia dikenal sebagai orang yang bisa mengadakan uang dalam jumlah miliaran dan bahkan triliunan. Saat artikel ini ditulis, ia menjadi tersangka kasus pembunuhan dan sejumlah kasus penipuan. Saya tertarik karena desas desus tentang kemampuannya ini sering kali saya dengar saat dulu saya berada di Surabaya. Saya pun mencoba mencarinya di Youtube tentang acara dimaksud. Betapa kagetnya saya setelah melihat acara tersebut, orang-orang yang berkumpul rata-rata saya kenal. Mulai dari akademisi hingga pengacaranya. Baca entri selengkapnya »


Saya dibesarkan di keluarga patriarkal, keluarga dengan dominasi kaum laki-laki dalam fungsi-fungsi sosialnya. Saya dididik dalam nuansa Islam yang juga patriarkal. Islam memang tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, tapi cara para guru memperlakukan perempuan sangat patriarkal sekali. Saya juga hidup dalam kalangan kawan-kawan laki-laki patriarkal, mereka adalah orang-orang yang dididik dalam setting keluarga patriarkal dan didikan yang patriarkal sama seperti saya. Di keluarga saya, di lembaga pendidikan dimana saya belajar, dan di kawan-kawan dimana saya berteman, mereka punya seperangkat ide tentang perempuan baik-baik. Perempuan baik-baik biasanya dkategorikan dengan pakaiannya yang sopan, sikapnya yang lemah lembut, dan tidak merokok. Baca entri selengkapnya »


Judul tulisan ini memang diilhami oleh kata bijak bestari di Indonesia “Guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Akan tetapi dalam tulisan kali ini saya hendak memakainya dalam kaitan saya sebagai pribadi dengan latar belakang seorang guru yang hidup di di kota-kota di Indonesia dan kota-kota lain di dunia, yang celakanya semua toilet kencingnya adalah didesain untuk kencing dengan berdiri. Curiculum vitae saya menyebutkan bahwa saya pernah menjadi guru karakter (di SAIMS), guru etika Islam (di SMP Jatiagung), dan guru (dosen) manajemen pendidikan Islam di STAI Al Fithrah. Baca entri selengkapnya »


Saya adalah penganut madhab Shafi’i, begitu pula keluarga saya dan rata-rata para guru saya. Penganut madhab Maliki mungkin hanya satu atau dua orang saja, termasuk penganut madhab Maliki yang berpengaruh terhadapku adalah Ustad Ihya’ Ulumuddin atau biasa dikenal dengan sebutan abi Ihya’ atau kiai Ihya’, pengasuh pesantren Pujon Malang yang dahulu rumahnya di dekat rumahku di Surabaya. Baca entri selengkapnya »


Jumat 9 September 2016 saya menginjakkan kaki di masjid Turki Auburn Callipoli Sydney. Melihat masjid dengan banyak kubahnya dari kejauhan, saya langsung bilang ke kawan berkebangsaan Inggris bernama Steward bahwa itu adalah masjid berasitektur Turki. Steward bilang dia tak tahu tapi mungkin saja. Saya bilang ke dia bahwa saya sangat yakin. Dan benarlah bahwa sesampai tibanya di sana, masjid itu adalah masjid Turki. Seorang berperawakan sedang dan berusia sekitar 50 tahun menghampiriku dan kawan-kawan, ia memperkenalkan diri dengan nama Orgun, rambutnya telah memutih dan berjenggot putih rapi. Dia telah tinggal di Australia sejak tahun 1980-an diajak oleh orang tuanya yang hijrah ke Australia. Orgun menjelaskan panjang lebar tentang keberadaan komunitas Islam di Sydney, bagaimana kesulitan mereka melaksanakan salat berjamaah pada awal kali kedatangannya di Australia, para imigran Turki kemudian sumbangan untuk membangun masjid, para perempuan Turki kemudian juga menyumbang banggel atau gelang-gelang emas mereka untuk pembangunan masjid. Si Orgun bahkan mempraktikkan dengan gerakan tangannya seakan melepas gelang kemudian ditaruh di sebuah tempat untuk dipakai sebagai pembangunan masjid. Dia juga bercerita bagaimana marmer dan batu pualam didatangkan langsung dari Turki. Baca entri selengkapnya »