Kereta Malam

Posted: Desember 12, 2017 in Uncategorized

Pernah sekali aku pergi, dari Jakarta ke Surabaya

Untuk menengok nenek di sana, mengendarai kereta malam

(Kereta Malam-Elvi Sukaesih)

Kereta malam, demikian lagu yang masyhur tatkala saya kecil. Awal kali naik kereta, ibu tercinta dan paman Gresik mengajakku ke Kota Malang di mana nenek berada. Sejak saat itu saya selalu menyukai kereta. Yang saya rasakan saat itu, kereta menawarkan sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan ketika saya naik bus, yaitu berlarian.

Menginjak dewasa, dalam kepergian kesekian kalinya ke Jakarta sebelum Era Jonan, menikmati kereta malam adalah menikmati dunia nano-nano. Saya sebut demikian karena di dalam kereta, ayam hidup, para penjual makanan, pengap, dan orang tidur di lantai benar-benar ada dan terjadi. Ditambah lagi, saat malam tiba di remangnya lampu kereta (saat itu lampunya remang), ada biduan dangdut yang masuk ke kereta ekonomi mencoba mengais rijeki dengan bernyanyi, penumpang pun bisa mendapatkan minuman keras dari pekerja kereta secara tidak resmi.

Era Jonan muncul, dan ia melakukan reformasi perkerata-apian di Indonesia. Hasilnya nampak, semua kereta saat ini memakai AC, semua penumpang kereta jarak jauh pasti dapat tempat duduk, dan pedagang tidak boleh berjualan di dalam kereta. Kebijakan Jonan bukan tanpa resiko karena saat itu para pedagang asongan banyak menolak dan bahkan berdemo, Jonan keukeh pada Kebijakan nya dan akhirnya kereta pun sekarang layak untuk ditumpangi serta sangat manusiawi.

Perjumpaan Intelektual

Seperti malam ini, perjumpaan intelektual bisa terjadi di kereta malam. Contohnya malam ini saya berdiskusi hangat dengan guru olahraga al-Falah tentang nama-nama teknik olah raga, saya juga terlibat diskusi menarik tentang gizi dengan mahasiswa master Universitas Semarang, tak lupa pula berbagi pikiran dan rokok dengan teman yang saya kenal di dalam kereta.

Inilah mungkin yang tidak didapatkan saat saya naik pesawat yang hanya sebentar.  Perjalanan Jakarta-Surabaya yang mencapai 11 jam membuat kami seperti telah berkawan lama, tapi itulah peradaban kereta. Saya senang karena sistem perkeretaapian apian kita lebih bagus dibanding India walaupun masih kalah dibanding Jepang.

Iklan

Dalam keseharian, ada stereotype tentang orang NU dan Muhammadiyah. Orang NU dikenal sebagai tidak prosedural, santai, egaliter, dan suka merokok. Gambaran ini tidak seluruhnya benar karena di sebagian pesantren NU saat sekarang ini juga melarang rokok. Cuma point yang ingin saya sampaikan adalah orang NU tidak mau ribet urusan administrasi, apalagi hanya untuk ditemui orang-orang. Inilah kenapa para kiai di pesantren NU bisa ditemui kapanpun selama 24 jam. Yang penting sang kiai sedang tidak bepergian. Inilah kenapa saya lebih suka meneliti pesantren dari pada meneliti lembaga pendidikan modern. Apalagi jika lembaga pendidikannya bertitel sekolah internasional, maka untuk meneliti saja harus menyampaikan surat ijin penelitian, lalu menunggu jawaban satu, dua, tiga minggu bahkan hingga satu bulan. Itu pun kalau pimpinan sudah bilang tidak bisa maka ya tidak bisa. selesai!. Nah, hal ini tidak saya temukan di kebanyakan komunitas orang NU. Baca entri selengkapnya »


Di Surabaya, hari pertama Ramadhan,  suasana bulan yang disucikan umat Islam ini sangat terasa. Masjid-masjid penuh bahkan meluber. Pada saat-saat seperti ini biasanya saya malas tarawih di masjid. Di samping karena tidak ada tempatnya, suasananya kadang terasa kurang mendukung untuk salat, too crowded!

Beberapa hari setelah Ramadhan, barulah saya ke masjid salat isha’ dan tarawih berjamaah. Suasana memang penuh cuma lebih stabil. Setelah memasuki minggu kedua, jamaah salat tarawih berkurang hingga 50%. Tempat yang ramai adalah tempat perbelanjaan alias mall. Tempat yang buruk kata Imam Ghazali terutama kalau kita ke pasar hanya untuk kepentingan konsumtif. Ah, rasanya malas sekali. Saya pribadi memang punya sedikit masalah dengan mall. Masalahnya adalah saya tidak suka pergi ke mal dan tak suka berlama-lama di dalamnya.  Baca entri selengkapnya »


Dalam sebuah pertanyaan yang saya berikan kepada mahasiswa saya di semester 2 di sebuah kampus negeri di Surabaya, saya memberikan pertanyaan yang kalau diindonesiakan kira-kira begini, “berdasarkan argumenmu,  apakah kamu setuju terhadap kelompok kelompok yang menginginkan berdirinya kembali sistem khilafah?” Dari 40-an mahasiswa tersebut sekitar 15 orang menyatakan setuju dan yang lain tidak. Jujur, saya agak kaget mendapatkan 15 jawaban yang setuju dengan kelompok yang mengusung khilafah. Tertarik untuk menelusuri lebih jauh, kemudian Saya adakan sesi wawancara terhadap 15 orang tersebut. Hasilnya, rata-rata adalah lulusan SMA, ada satu dua yang lulusan MA, dan ada satu yang lulusan pesantren tradisional di Jombang. Baca entri selengkapnya »


Tulisan ini didasarkan pada kesedihan saya atas fenomena dunia saat ini. Setelah kita dikagetkan dengan kemenangan kelompok ultra-nasionalis di Inggris dengan Brexit-nya, kita kemudian disuguhi oleh kemenangan mengejutkan Trump. Presiden Amerika saat ini yang semasa kampanyenya selalu memgkampanyekan eksklusifisme bangsa Amerika dan ketidaksenangan dia terhadap Islam. Di penjuru dunia lainnya,  Australia misalnya terdapat senator yang memainkan anti Islam untuk menaikkan popularitasnya, demikian juga dalam pemilu Prancis saat ini dimana salah satu kandidat memainkan isu Frexit mengikuti jejak Inggris.  Baca entri selengkapnya »


Tak layaknya seperti para raja lain di Sumenep yang dimakamkan di pemakaman raja-raja, Asta Tinggi (pekuburan Agung) yang terletak di utara kota Sumenep saat ini. Ada satu makam seorang raja yang tak ada di sana yaitu makam Raja Jokotole. Cerita tentang raja Jokotole ini menarik, ibunya adalah seorang putri raja yang dikenal dengan nama Potre Koneng (putri kuning). Sang putri ini dikenal sebagai putri yang cantik jelita, kulitnya kuning langsat dan berwajah indah. Dalam cerita Jokotole, konon putri ini bermimpi berhubungan badan melalui mimpi dengan seorang pemuda bernama Adi Poday, seorang perjaka, pengelana, dan petapa. Dalam ceritanya, mimpi itu terjadi saat Potre Koneng bertapa di Gunung Pajudan Sumenep dan Adi Poday di gunung Geger Bangkalan. Terlepas dari bagaimana cara Potre Koneng hamil, akhirnya karena malu, bayi Jokotole pun ia buang. Kisah sang putri dengan Adi Poday tidak berakhir dengan lahirnya Jokotole karena setelah Jokotole dibuang ternyata sang putri hamil lagi dengan pemuda yang sama dan sama dengan kehamilan pertama, bayi adik Jokotole bernama Agus Wedi tersebut akhirnya dibuang juga. Baca entri selengkapnya »


Tulisan ini berangkat dari keprihatinan saya atas menjamurnya berita-berita bohong di sosial media dan media-media online hari ini. Runyamnya, ternyata banyak orang menelannya mentah-mentah. Sehari yang lalu, saya masih ingat bagaimana seorang kawan mengirim pesan berantai tentang meninggalnya BJ. Habibie padahal yang bersangkutan masih segar bugar, tadi pagi saya lihat bagaimana photo seorang kiai yang sedang melepas jenazah kemudian diberi caption sedang melepas demonstran ke Jakarta. Gilanya banyak orang meng-share. Banyak contoh-contoh lain tentang berita-berita bohong di sosial media dan media online yang bisa kita dapatkan. Baca entri selengkapnya »