Beberapa hari ini atau mungkin sudah sekitar seminggu lebih, saya merasa bahwa saya tidak lagi produktif.  Tak ada tulisan serius yang saya hasilkan untuk disertasi saya dan tidak pula untuk bahan presentasi di seminar yang akan saya isi bulan depan di Sydney dan bulan depannya lagi di Marlbourne. Rasanya diri ini sangat malas sekali melakukan sesuatu. Semacam tak ada gairah. Jangankan untuk membaca dan menulis untuk bergerak pun malas. Selepas bangun tidur dan salat, saya terjebak untuk bersantai-santai di tempat tidur sambil bermain hape. Membuka aplikasi sosial media, mulai dari fesbuk, instagram, twitter, dan lain-lain. Saya suka mengupdate status atau sekedar berkomentar atas status kawan-kawan di fesbuk. Melihat komentar orang-orang di instagram saya sekaligus mencari gambar-gambar lucu. Berhari-hari saya merasa seprti itu. Berolahraga pun rasanya malas sekali. Akibatnya, kesehatan saya beberapa hari ini memburuk, perut rasanya mual dan kepala pening. Hingga satu titik, saya memutuskan untuk mengakhiri semua kemalasan ini. Baca entri selengkapnya »


orang Indonesia rasanya belum makan kalau belum makan nasi. Nah, itu jadi tantangan utama orang Indonesia saat tinggal di luar negeri, tak terkecuali saya. Cuma saya beruntung saat kecil dulu ibu berkata, “makan nasi itu di luar negeri jadi barang istimewa”. Ibu paham karena ia pernah tinggal di Mekkah selama 2 tahun. Saya tak pernah membayangkan jika ternyata nasi memang barang istimewa di negara-negara Eropa, Amerika, dan Australia. Akan tetapi nama terakhir disebut nasi lebih mudah didapat walau harganya 4 kali lipat dibanding harga di Indonesia.  Baca entri selengkapnya »


saya dibesarkan dalam lingkungan dengan toilet jongkok. Di rumah ibu di Surabaya, toilet yang kami gunakan adalah toilet duduk, di desaku, kami biasa berak di jamban, yaitu toilet jongkok tanpa air. Orang lain menyebutnya jumbleng. Untuk cebok kami para lelali harus memegang “burung” kami menuju tempat air. “Burung” kami harus kami pegang agar tidak terkena sarung yang kami pakai. Dalam keyakinan kami, jika “burung” kami yang basah karena selesai kencing menyentuh sarung, maka sarung tersebut akan menjadi najis dan tidak bisa digunakan salat.
Baca entri selengkapnya »


Dulu saat aku kecil, ibu suka sekali membelikan aku dan adik adikku ceker ayam, sayap ayam, dan kepala ayam. Sempat aku bertanya kepadanya, “kenapa ibu tidak beli paha ayam atau dada ayam?” Saat itu ibu bilang, “sama saja. Malah enak ceker ayam, sayap ayam, Baca entri selengkapnya »


Sebagan besar orang-orang di Indonesia beranggapan bahwa menjadi anak pejabat itu enak. Fasilitas semua ada, ingin apa saja dituruti, dan hidup terpandang. Anggapan itu pulalah yang saya amini hingga suatu ketika kehidupan mengajarkanku hal lain. Setidaknya saya punya beberapa kawan anak para pejabat di Indonesia. Dan ternyata saya menemukan kenyataan lain. Menjadi anak pejabat itu tidak melulu enak. Ketidak enakan itu berasal dari kebebasan yang seringkali terengut saat kita menjadi anak pejabat. Saya beruntung dilahirkan sebagai anak orang biasa-biasa saja. Tak ada ekspekstasi berlebihan dari orang tua saya, kecuali hanya jadilah orang baik dan jagalah solatmu. Sudah itu saja. Selain itu mau saya jadi apa, mau saya kemana, mau saya lulus dengan menjadi nomor satu atau nomor buntut, bagi orang tua saya semua hal itu tidak jadi persoalan. Dengan kata lain, saya diberikan kemerdekaan untuk jadi apa saja tanpa fasilitasi dari orang tua karena memang orang tua saya tidak punya fasilitas berlebihan. Doa setiap hari dan malam dari orang tua untuk saya sudah lebih dari cukup bagi saya. Baca entri selengkapnya »


Saya termasuk orang yang beruntung menjalani masa muda di banyak tempat di Indonesia, negeri sejuta etnis. Melalui masa remaja di pesantren Pamekasan, dan kemudian mengabdikan satu tahun dari masa muda di sebuah desa di Sumenep, bermain-main di pantai Camplong Sampang di lain hari, melalui banyak hari di sebuah desa di Bangkalan, menjalani beberapa bulan di Bojonegoro, berkawan dengan etnis Cina di Surabaya, dan mengenal kecantikan Sunda.
Yang paling berkesan tentu masa muda di Madura dan Surabaya karena di kedua tempat ini masa mudaku banyak dilalui. Saat di Sumenep dahulu, saya mengenal ekspresi cinta dari kawan-kawan sekitar. Anak-anak muda di Madura pada tahun 2000-an kala itu ekspresi rasa cintanya banyak dipengaruhi oleh lagu-lagu India, dangdut, dan tentu saja kesenian asli Madura. Lagu yang disukai cenderrung mendayu-dayu. Cinta saat itu bagi mereka seperti ekspresi yang sulit dinyatakan karena budaya Madura yang Islami tidak mengenal kata pacaran. Bagi kaum tua, itu sesuatu yang patut untuk dilakukan. Akan tetapi anak muda tetaplah anak muda, ekspresi cinta menyembul tak dapat mereka sembunyikan, lagu-lagu mendayu-dayu kiranya menjadi penanda bagaimana mereka mengekspresikan cinta dalam diri mereka. Mulai dari lirikan mendalam dan malu-malu hingga memendam rasa, menghela nafas dalam-dalam seakan ingin mengungkapkan rasa cinta mendalam. Karena itulah mungkin lagu-lagu mendayu khas Madura menjadi penanda rasa cinta mereka. Jika sedikit nekat, tukar-menukar surat saat itu dilakukan dengan perantara (belum jaman hape). Kira-kira begitulah gaya ekspresi rasa cinta anak-anak muda etnis Madura kala itu. Saling melirik, saling memberi tanda, dan bersurat ria biasanya terjadi. Biasanya hubungan akan menjadi lebih serius saat si pemuda meminang si gadis. Cerita perempuan atau pemuda Madura yang dinikahkan juga membuat eskpresi mendayu-dayu dalam lagu-lagu Madura itu semakin menjadi-jadi. Budaya dijodohkan di Madura sampai tahun 2000-an masih sangat kuat, tapi mulai memudar saat menginjak 2005 sejak banyak pemberontakan terhadap sistem perjodohan ini (termasuk saya yang dahulu memberontak terhadap perjodohan orang tua:D ).

Baca entri selengkapnya »


Tiba di Autralia pada musim panas (summer) menjadikanku harus kerja keras untuk menyesuaikan diri. Malam pada musim panas di Australia sangat larut jika dibanding Indonesia. Magrib di bulan Februari ini ada di kisaran jam 8 malam. Isya’nya baru dimulai saat jam menunjukkan sekitar jam 9.30 malam. Siangnya lebih panjang. Karena subuh di sini sudah dimulai dari jam lima pagi hingga sekitar jam 6.30 pagi. Jika Anda adalah orang yang terbiasa beraktifitas selama sehari penuh, menunggu isya’ bisa jadi menjadi sebuah perjuangan sendiri. Karena jam 7 malam mata kita terkadang sudah mulai redup. Apalagi bagi kita yang biasa melaksanakan puasa senin kamis. Selain siang yang 3 jam lebih panjang. Udara di sini juga relatif lebih kering. Sehingga jika Anda adalah seorang guru atau orang yang aktif di luar ruangan, maka sebentar-sebentar bisa terasa haus. Tapi semuanya terserah kita yang penting puasa bukan berarti menjadikan kita tidak professional. Alasan keagamaan apapun tidak akan ditoleransi orang jika itu menghalangi profesionalitas Anda karena agama di sini adalah masalah private, dan masalah private bukan urusan orang lain. Baca entri selengkapnya »