بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

  1. إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ .2

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ .3

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ .4

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ .5

  1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. 2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? 3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

Baca entri selengkapnya »


jujur tulisan ini dilatarbelakangi rasa sebel saya saat membaca disertasi seorang kawan bernama Mahrus As’ad (dosen STAIN Metro) yang mensifati paham jabariyah sebagai jumud, tidak kreatif, masa bodoh, dan tidak bergairah menghadapi kehidupan. Lebih lengkapnya berikut adalah tulisannya:

manusia fatalis (jabariyah) adalah manusia yang terlalu menonjolkan sikap pasrah berlebihan terhadap taqdir Allah, akibat kuatnya pengaruh teologi Jabariyah dari al-Asy’ari yang cenderung fatalistis, serta ajaran  tasawuf yang mengedepankan qana’ah secara pasif, yaitu sikap menerima taqdir Tuhan secara total, sehingga menyebabkan terabaikannya kemampuan dan ikhtiat manusia. Keyakinan ini pada gilirannya membawa manusia pada sikap berserah dan bergantung sepenuhnya pada kekuasaan mutlak Tuhan, nrimo, jumud, masa bodoh, tidak kreatif, tidak bergairah menghadapi kehidupan, dan mudah menyerah pada nasib (taqdir) yang secara determinan telah ditentukan Tuhan sebelumnya (Mahrus Mas’ud, 2008, 236)

Baca entri selengkapnya »


Jika mencari orang-orang bodoh carilah di media sosial, jika ingin mencari orang-orang pander carilah di media sosial, jika ingin mencari orang tidak bertatakrama carilah di media sosial. Di media sosial, persepsi terkadang lebih utama dibanding fakta dan data. Di media sosial, seorang professor bisa dibabat dengan sedemikian sadis oleh orang tidak berpendidikan. Media-media online yang memuja rating pun memperkeruh suasana. Tak jarang mereka mengabarkan atau lebih tepatnya menyesatkan para penghuni media sosial oleh berita-berita sesat mereka. Entah sengaja atau tidak, tapi cara itu banyak berhasil merayu dan menggoda para penghuni media sosial bermental pandir. Baca entri selengkapnya »


Terdengar suara merdu pemuda mengaji dari masjid-masjid di Ciputat pada malam bulan Ramadhan. Ditilik dari suaranya, tampaknya yang mengaji berumur 20 sampai 30 tahunan. Bacaan yang mengingatkanku kembali pada masa kecilku di sebuah kampung di tengah Kota Surabaya. Setiap bulan Ramadhan saya dan anak-anak kampung bergiat ke musolla KH. Ghufron faqih, sebuah langgar kecil yang terletak 100 meter di selatan rumahku.  Kelak dikemudian hari langgar ini berubah nama menjadi masjid Sayyid Abbas al-maliki karena dibangun oleh ustad di kampungku, murid sayyid Abbas yang saya panggil Ustad Ihya’. Sekarang nama resminya menjadi KH. Ihya’ Ulumuddin dan menjadi pengasuh pesantren Pujon, Malang. Baca entri selengkapnya »


Beberapa hari ini saya mengedit naskah artikel teman-teman saya di kelas doctoral pada Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta untuk mata kuliah Comprehensive Islam. Dahulu awalnya, kami para peserta kelas bingung, ini sebenarnya Prof. Azyumardi Azra (koordinator dosen) mau kemana. Kami yang berasal dari berbagai disiplin ilmu berada dalam satu kelas dan diajari oleh bermacam dosen dengan beragam disiplin ilmu pengetahuan. Mulai dari disiplin ilmu sejarah hingga kedokteran. Tapi di kemudian hari kami sadar bahwa  hal tersebut ternyata bermanfaat bagi kami para peserta kuliah. Baca entri selengkapnya »


Wahabisme adalah paham keagamaan yang disandarkan padaMuhammad bin Abdul Wahhab, seorang tokoh Islam di jazirah Arab. Akhir-akhir ini para pengikut Wahabi ini lebih suka menyebut diri mereka sebagai pengikut salaf atau salafi dan seringkali mereka menyebut diri mereka sebagai al-muwahhidun (orang-orang yang beratuhid). Baca entri selengkapnya »


Ada satu hadis terkenal berbunyi, “sataftariqu ummati ala ahada wa sab’ina firqatan”. Akan terbagi umatku pada  tujuh puluh satu golongan. “kulluhum fin nar illa wahida”. Semuanya di neraka kecuali yang satu. “ma ana ‘alayhi wa ashhabiy”. Yaitu yang mengikuti ajaranku dan ajaran para sahabatku. Dalam teks yang lain disebutkan, “ma ana ‘alayhi wa ahli bayti”. Yaitu yang mengikutiku dan sanak keluargaku. Dalam teks yang lain disebutkan pula,”kulluhum fil jannah illa al-wahidah” semuanya di surge kecuali yang satu golongan. Baca entri selengkapnya »