Dari Bahasa Arab ke Inggris

Posted: Februari 19, 2018 in Uncategorized

Bahasa Inggris sangat digalakkan,
Bahasa Arab katanya kampungan.

(Rhoma Irama)

Tulisan ini muncul saat Prof. Sukron Kamil, guru besar bahasa Arab di UIN Jakarta saat mengutip lirik lagun Rhoma Irama di atas yang ditulis oleh seorang kawan, Dr. Mauidlotun Nisa’ dalam sidang promosi doktoral nya.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

sleep-learningMalas, sifat ini mengasyikkan, melenakan, dan sering kali berbuah penyesalan di kemudian hari. Tapi tak ada satu orang pun yang tidak pernah mengalami rasa malas, semua dari kita pasti pernah mengalami perasaan ini. tatkala ini terjadi lalu apa yang bisa kita perbuat?

Malas itu sebenarnya adalah perpaduan antara rasa nyaman berdiam diri, masih ingin beristirahat dari segala kegiatan atau kegiatan tertentu, hingga karena merasa kurang memiliki motivasi untuk melakukan hal dimaksud. Tatkala hal ini menyerang lalu apa yang bisa kita perbuat? Untuk menjawab hal ini tentu kita harus menganalisis kenapa kita merasa malas. Ada dua faktor paling berpengaruh terhadap timbulnya rasa malas; fisik dan psikis. Baca entri selengkapnya »

Kereta Malam

Posted: Desember 12, 2017 in Uncategorized

Pernah sekali aku pergi, dari Jakarta ke Surabaya

Untuk menengok nenek di sana, mengendarai kereta malam

(Kereta Malam-Elvi Sukaesih)

Kereta malam, demikian lagu yang masyhur tatkala saya kecil. Awal kali naik kereta, ibu tercinta dan paman Gresik mengajakku ke Kota Malang di mana nenek berada. Sejak saat itu saya selalu menyukai kereta. Yang saya rasakan saat itu, kereta menawarkan sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan ketika saya naik bus, yaitu berlarian. Baca entri selengkapnya »


Dalam keseharian, ada stereotype tentang orang NU dan Muhammadiyah. Orang NU dikenal sebagai tidak prosedural, santai, egaliter, dan suka merokok. Gambaran ini tidak seluruhnya benar karena di sebagian pesantren NU saat sekarang ini juga melarang rokok. Cuma point yang ingin saya sampaikan adalah orang NU tidak mau ribet urusan administrasi, apalagi hanya untuk ditemui orang-orang. Inilah kenapa para kiai di pesantren NU bisa ditemui kapanpun selama 24 jam. Yang penting sang kiai sedang tidak bepergian. Inilah kenapa saya lebih suka meneliti pesantren dari pada meneliti lembaga pendidikan modern. Apalagi jika lembaga pendidikannya bertitel sekolah internasional, maka untuk meneliti saja harus menyampaikan surat ijin penelitian, lalu menunggu jawaban satu, dua, tiga minggu bahkan hingga satu bulan. Itu pun kalau pimpinan sudah bilang tidak bisa maka ya tidak bisa. selesai!. Nah, hal ini tidak saya temukan di kebanyakan komunitas orang NU. Baca entri selengkapnya »


Di Surabaya, hari pertama Ramadhan,  suasana bulan yang disucikan umat Islam ini sangat terasa. Masjid-masjid penuh bahkan meluber. Pada saat-saat seperti ini biasanya saya malas tarawih di masjid. Di samping karena tidak ada tempatnya, suasananya kadang terasa kurang mendukung untuk salat, too crowded!

Beberapa hari setelah Ramadhan, barulah saya ke masjid salat isha’ dan tarawih berjamaah. Suasana memang penuh cuma lebih stabil. Setelah memasuki minggu kedua, jamaah salat tarawih berkurang hingga 50%. Tempat yang ramai adalah tempat perbelanjaan alias mall. Tempat yang buruk kata Imam Ghazali terutama kalau kita ke pasar hanya untuk kepentingan konsumtif. Ah, rasanya malas sekali. Saya pribadi memang punya sedikit masalah dengan mall. Masalahnya adalah saya tidak suka pergi ke mal dan tak suka berlama-lama di dalamnya.  Baca entri selengkapnya »


Dalam sebuah pertanyaan yang saya berikan kepada mahasiswa saya di semester 2 di sebuah kampus negeri di Surabaya, saya memberikan pertanyaan yang kalau diindonesiakan kira-kira begini, “berdasarkan argumenmu,  apakah kamu setuju terhadap kelompok kelompok yang menginginkan berdirinya kembali sistem khilafah?” Dari 40-an mahasiswa tersebut sekitar 15 orang menyatakan setuju dan yang lain tidak. Jujur, saya agak kaget mendapatkan 15 jawaban yang setuju dengan kelompok yang mengusung khilafah. Tertarik untuk menelusuri lebih jauh, kemudian Saya adakan sesi wawancara terhadap 15 orang tersebut. Hasilnya, rata-rata adalah lulusan SMA, ada satu dua yang lulusan MA, dan ada satu yang lulusan pesantren tradisional di Jombang. Baca entri selengkapnya »


Tulisan ini didasarkan pada kesedihan saya atas fenomena dunia saat ini. Setelah kita dikagetkan dengan kemenangan kelompok ultra-nasionalis di Inggris dengan Brexit-nya, kita kemudian disuguhi oleh kemenangan mengejutkan Trump. Presiden Amerika saat ini yang semasa kampanyenya selalu memgkampanyekan eksklusifisme bangsa Amerika dan ketidaksenangan dia terhadap Islam. Di penjuru dunia lainnya,  Australia misalnya terdapat senator yang memainkan anti Islam untuk menaikkan popularitasnya, demikian juga dalam pemilu Prancis saat ini dimana salah satu kandidat memainkan isu Frexit mengikuti jejak Inggris.  Baca entri selengkapnya »