MENABRAK TRADISI DEMI MENCARI MAKNA DIRI

Posted: Oktober 26, 2007 in cinta, filsafat, Fiqih, pemikiran, pendidikan, Pitakonan, Renungan, Tafsir, tasawuf, Tokoh

pada tahun 2002 aku memutuskan untuk masuk IAIN Sunan Ampel Surabaya Fakultas Tarbiyah, hal itu menjadi pilihan setelah permohonanku untuk melanjutkan kuliah di UII Yogyakarta ditolak oleh orangtuaku dengan alas an terlalu jauhii, toh di Surabaya banyak Perguruan TInggi termasuk Perguruan Tinggi Islam. Sebenarnya aku lulus MA (setingkat SMU) setahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 2001, tapi kala itu aku memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di Kabupaten Sumenep (sebuah Kabupaten yang terletak disebelah timur pulau madura) sebagai utusan dari pesantren tempat aku menempa diri.iii

Saat akan dan pertama kali kuliah , yang aku bayangkan kala itu hanyalah mengikuti kuliah aktif saja, lainnya tidak. Tapi kemudian, dari perkuliahan itu aku mulai mengenal filsafat (disiplin ilmu yangkelak akan mebawaku dalam pengembaraan pemikiran), sebuah disiplin ilmu yang sebelumnya adalah hal haram di pesantrenku.iv Sebenarnya apa yang disampaikan di bangku perkuliahan tentang filsafat tidak lebih sebagai pengantar saja bagiku, sebuah secawan air ditengah sungai yang demikian besar. Tapi entahlah saat itu aku benar-benar tertarik pada filsafat (di samping juga mewaspadainya, hal itu tidak lepas dari anggapanku sebelumnya bahwa filsafat itu adalah barang haram penuh ke-khurafat-an) mungkin karena selama ini aku dilarang dan dihalang-halangiuntuk tahu apa itu filsafat dan baru menemukan penyaluran “libido” kehausan filsafatku ketika aku kuliah. Perkenalanku dengan filsafat dan ilmu kalam (terutama buku-buku karangan harun Nasution) secara perlahan tapi pasti telah merobohkan keortodoksianku akan Islam, yang sebelumnya aku pegang erat-erat,v tapi hingga tahap ini aku masih memegang dogma-dogma standar dalam Islam sebagai satu-satunya Islam yang benar bagiku

Perkenalanku akan sekelumit dunia filsafat itu kemudian terbaca oleh seorang anggota PMII Tarbiyah angkatan 1999 (Angkatan Gus Mark- demikian mereka menamakan diri) yang kemudian memprovokasiku untuk mempelajari Sosialisme. Buku yang disodorkannya pertana kali adalah Sosialisme Relijius karangan H.O.S. Tjokro Aminoto, tak ada yang baru dari buku ini kecuali berisi pesan bahwa seorang muslim haruslah lebih menekankan keislamannya (kerelijiusitasan)pada sisi social, keislaman kita menurut beliau tidaklah dapat kita cukupkan pada ritual keislaman saja tapi juga harus mengimplementasikannya pada ranah social. Hal yang menarik dari diri Tjokro adalah sebuah kenyataan bahwa ia menjadi guru dari banyak founding father Negara kita yang pemikirannya sangat berwarna-warni mulai wahid Hasyim, Soekarno hingga yang tokoh yang terbilang “merah” seperti Tab Malaka pernah “meguru” padanya.

Selesai memprovokasiku dengan buku sosialisme relijius, ia(seorang dari angkatan Gus Mark) kemudian menarikku lebih dalam lagi untuk membaca buku-buku Marxian (baik Das Kapital ataupun karangan para pengikut Marx)

Perbenturan Itu

Lewat Marx (1813)kemudian aku mengenal materialisme, suatu paham yang dijadikan pijakan Marx untuk menganalisa masyarakat. Materialisme mengajarkan bahwa yang haq adalah materi, selain materi seandainyapun ada adalah sekunder atau pelengkap saja. Bagi Marx perubahan yang ada dalam masyarakat terjadi lewat pertentangan kelas yang terus menerus dengan sebuah teori yang ia sebut sebagai Materialism Historic (Materialisme Sejarah). Jadi, menurutnya sejarah manusia dimulai dengan zaman berburu, pada zaman ini manusia belum menetap, mereka hanya mengandalkan alam yang tersedia mulai tumbuh-tumbuhan hingga hewan yang bisa mereka makan, kemudian setelah itu muncul zaman bercocok tanam, pada zaman ini manusia mulai menetap dan mulai menggarap alam yang mereka tempati, tapi dalam tahap lanjut bermula dari kepemilikan lahan yang begitu luas dan tidak bisa dikerjakan oleh satu orang pemilik, kemudian atas dasar kebutuhan akan tenaga muncullah kelas buruh tani dan pemilik lahan sebagai tuan tanah, zaman feodalisme dimana para bangsawan dan kerajaan adalah pemilik atas tanah-tanah yang luas, pembagian kepemilikan tanah kemudian dibagi-bagi oleh para kaum feudal berdasarkan pembagian kekuasaan, hadiah, penghargaan dan upeti, zaman ini kemudian berlanjut pada zaman capital dimana pemilik modal menjadi penguasa karena kepemilikan alat produksi yang tidak dipunyai oleh kaum buruh. Nah, menurut Marx saat ini kita berada dizaman yang terakhir disebutkan di atas. Dan menurutnya lagi ada 2 zaman yang menjadi impian Marx yaitu sosialisme dimana semua dikendalikan oleh dictator proletar bagi kepentingan semua dengan asas keadilan dan kesama rataan. Pada masa ini tidak boleh ada monopoi oleh pribadi, hanya Negara yang boleh memonopoli untuk kepentingan rakyatnya; selanjutnya adalah zaman komunisme tegak dimana pada masa itu Negara sudah tidak diperlukan lagi, semuanya dikelola oleh rakyat dan untuk rakyat itu sendiri. Disinilah jargon dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat benar-benar tercapai.

Sebenarnya apa yang coba di analisa Marx adalah hal yang rasional, terutama analisanya akan perkembangan dan pemberdayaan masyarakat. Tapi kemudian juga adalah efek yang dihasilkannya pada hatiku, teori filsafat Marx telah berbenturan dengan prinsip-prinsip keagaamaan yang selama ini ku anut, bagimanapun aku masih penganut dogma-dogma fundamental agama dan hal-hal fundamental keagamaan itu adalah kebenaran absolute yang aku anut. Dan marx sebagai konsekuensi pijakan berpikirnya pada materialisme iapun menafikan agama. Agama bagi Marx adalah Hegelian sekaligus candu, sebagaimana maklum, Marx menentang teori hegel yang menyatakan baha kbenaran absolute adalah ide. Menurut Marx tidak sepantasnyalah orang-orang eropa memdudukkannya dalam tempat yang terhormat. Hal itu ia ungkapkan setelah pada masa muda (kuliah)nya adalah Hegelian tulen dan pengaruh Hegel pun sebenranya tidak bisa ia hilangkan penuh, karena seperti yang kita lihat ia masih memakai dialektika ala hegel yaitu teori yang mempertentangkan agasan-gagasan atas teas, anti teas dan sintesa, tapi dengan merubah tumpuan sketsanya pada materialisme sejarah dan pertarungan kelas-kelas, dan pula serangan Marx atas agama yang menurutnya hanya menjadi “alat” yang digunakan oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya dengan “nini bobok-nina bobok” agamadenagan begitu masyarakat akan terus terdiam dan mengangapnya sebagai sebuah kepastian dan takdir, dan hanya menyisakan harapan hampa ala agama.

Sebenarnya Marx, seperti yang aku katakan diatas, perhatiannya lebih tertuju pada kehidupan manusia; dan fakta yang ada karena manusia adalah makhluk ragawi (bermateri) maka ia membutuhkan sesuatu untuk mempertahankan kinerja ragawinya dengan baik seebagi syarat bagi nafas yang melekat pada ragawi tersebut , dari sanalah kemudian manusia membutuhkan sandang dan pangan, untuk memnuhi hal tersebut kemudian manusia menciptakan alat-alat untuk emproduksi kebutuhannya. Akan tetapi menurut Marx yang menjadi kesalahan mendasar manusia adalah menciptakan kepemilikan pribadi. Dan sejak itu manusia yang kebetulan memiilki kekuasaan, kekayaan serta kesempatan mencoba mengembang biakkan kekayaannya dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya dan untuk memenuhi hal itu ia membutuhkan tengan orang lain yang tidak mempunyai kekuasaan dan kekayaan serta kesempatan untuk menjadi pekerjanya, dari sinilah kemudian muncul dua kelas dalam teori Marx; Kelas Borjuis sebagai pemilik alat-alat produksi dan di sisi lain adalah kelas proletar sebagi pekerja atau buruh. Inilah menurut Marx awal dari Kapitalisme.

Nietczhe Memperburuk Suasana

Di tengah kegalauan diri akibat pertentangan-pertentangan paham yang terus berebut tempat di hatiku itu, kemudian datang si Psikopat Frederick Nietczhe, si “ senewen” ini malah membisikkan pada telingaku kalau Tuhan telah mati, seperti bensin disulut api, terjadilah ledakan besar, kegalauan yang memang semula ada dalam hatiku kini semakin menjadi-jadi.

Bagi nietczhe sudah waktunya aturan-aturan agama dibongkar karena tidak memiliki relevansinya bagi perbaikan hidup manusia dan malah menjadi penghambat untuk terciptanya manusia adiguna (UberMent).bagi si “Pembunuh Tuhan” ini seperti halnya Marx, menganggap bahwa bahwa Tuhan (agama)adalah ciptaan manusia dan bukanlah sesuatu yang turun dari langit (Taken For Granted) yang kebenarannya tidak dapat dilacak. Bagi Nietczhe dalam The genealogy of Morals (1887), agama menurutnya diadakan untuk membentuk moral, dan menurut Nietczhe sebenarnya moralitas dapatlah dijelaskan dalam pengertian Naturalistik serta tidak perlu Tuhan ataupun Dewa-Dewa.

Bagi NIetczhe selama ini agama dijadikan tempat berkeluh kesah oleh para Budak ditengah kejamnya Penguasa Romawi, dengan agama, mereka dapat menciptakan values (nilai-nilai) yang diinginkan dan di idealkan oleh para budak-budak itu seperti kasih sayang dan rasa iba, nilai-nilai ini kemudian dijadikan sebagai nilai luhur yang di idealkan untuk dianut dan orang-orang harus mentaatinya dan para budak menganutnya. Hal ini kemudian mendapat perhatian dari penguasa-penguasa Romawi yang pada tahap lanjut menintegrasikan nilai-nilai tersebut pada diri mereka. Hal seperti inilah yang diinginkan oleh para Budak ditengah ketidak berdayaan mereka, dan dengan cara ini kemudian mereka dapat memperoleh kebaikan-kebaikan para penguasa Romawi yang mereka dambakan selama ini karena nilai-nilai luhur tadi sudah tertanam sehingga ada semacam dorongan dari dalam diri mereka untuk mengejewantahkannya demi mendapat predikat orang yang baik dan luhur.vi

Setetes Air Pencerahan

Di tengah keterpurukan keyakinanku akan agama yang sebelumnya aku junjung tinggi-tinggi. Pada awal Nopember 2003 bertepatan dengan minggu kedua bulan Ramadlan 1424 H (hari dan tanggalnya aku tidak ingat), aku mengikuti kegiatan Ramadlan yang diadakan oleh Teater Hastasa; sebuah teater kampus yang ada di fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya . Dan pada salah satu rangkain acaranya, ada sebuah acara yang diberi nama Tadabbur, Ketika itu yang menjadi Keynote Speaker adalah Ilung S,Enha, Seorang budayawan sekaligus penulis bukuvii. Pada saat itu Cak Ilung (demikian teman-teman Hastasa memanggilnya)menjelaskan dengan olah rasanya yang tinggi tentang bagaimana alam yang luas ini bergerak teratur, bagaimana udara terus berjalan untuk menjadi syarat kehidupan di muka bumi kemudian ia menyitir ayat Al-qur’an “ apakah mereka tidak melihat bagaimana unta itu diciptakan, dan pada langit bagiamana ia di tinggikan, dan pada gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan, dan pada bumi bagaimana ia dihamparkan (QS. 88, 17-20). Ia melanjutkan lagi

Maha Besar Allah ! sungguh indah semua yang diciptakan. Lalu pantaskah kita bersombong sedangkan kita tebuat dari air yang hina.

Cobalah kita lihat bagaimana malam ini, malam penuh barokah ini,menyambut kita yang ada dalam kegalauan agar kita dapat mersakan ketengaan, kedamaian dan kehangatan malam Ramdlan ini. Sebuah hal yang tidak bisa kita hitung dengan hitungan matematis dan logika yang selalu membagi kita dan alam semuanya dalam ukuran-ukuran tetap dan terpisah, seakan semuanya terkotak-kotak dalam hitungan yang kita buat, padahal cobalah lihat langit disana, ia tiada berbatas dan luas dalam keluasannya”

Dhek!,sungguh apa yang dibincangkan Cak Ilung sangatlah menyentuh hatiku yang selama ini gersang dan lama tidak tersirami air, mungkin ungkapan Cak Ilung tersa klasik bagi sebagian orang tapi tidak bagiku kala itu aku betul-betul terhanyut sekaligus tersadar dari keterjerambabanku dalam letupan-letupan dan pertikaian pemikiran yang bertarung dalam hati dan pikiranku. Hal itu menjadi sebuah siraman tersendiri bagi kalbuku yang lama tidak tersentuh cahaya spiritual, apalagi uraian Cak Ilung disertai dengan penghayatan yang mendalam dan instuisi yang tinggi yang membuatku terhanyut dalam kalimat-kalimat indahnya.

Lepas dari kegiatan Ramadlan Teater Hastasa, aku mulai mengalami perubahan berpikir, dari seorang yang cenderung berpikir secara materialis empiris menjadi orang yang harus mencari lagi apa itu kebenaran dan hal itu membuatku menjadi pengelana baru. Aku tidak tertarik lagi akan dunia organisasi yang selama ini aku geluti, entahlah, karena saat itu tatkala aku melihat mereka berbicara dan bergerak tidaklah lebih dari sekedar gerakan tanpa bunyi,sama sekali tiada hal yang bisa membuat emosiku tergerak, mungkin ini yang disebut sunyi dalam keramaian. Merasa jenuh akan dunia tersebut akhirnya aku menjadi orang yang suka menyendiri, tempat favoritku adalah dimana aku bisa tenggelam dalam kesendirianku seperti perpustakaan kampus yang lumayan lengkap, toko Gramedia yang terletak tak jauh dari rumahku dan toko-toko buku lain walau untuk mrbacanya aku harus berdiri berjam-jam. serta jalan-jalan sunyi terutama jalan-jalan pada malam hari karena disana aku merasa dapat menenggelamkan diri pada buku-buku tasawuf yang aku baca dan dapat merenung tanpa harus ada orang yang usil untuk menyapaku.

Perjumpaan Dengan 2 Tuan Guru: Al-Hallaj dan Al-Bistami

Lewat buku-buku sufistik yang aku baca, aku kemudian mengenal Abu Yazid Al-Bistami dengan konsep Ittihad dan Al-Hallaj dengan hulul-nya. Perbedaan kedua konsep tadi adalah jika Al-Bistami dalam sakr-nya haruslah “fana’ “(“melenyapkan” diri) dengan penyerahan diri secara totalkepada Allah sehingga hanya Allah-lah yang tersisa jika hal ini tercapai maka diapun sebenarnya telah melebur dalam Allah (ittihad) hingga kemudian berdiam dalam keabadian Allah (baqa’), lain halnya dengan tuan guru Al-Hallaj, baginya manusia tidaklah harus meniadakan dirinya tapi ia tetap bisa bergumul dengan Tuhannya. Menurut al-Hallaj manusia itu mempunyai dua sisi yaitu sisi Nasut (kemanusian) dan sisi lahut (ketuhanan), jadi menurutnya manusia disamping sisi kemanusiannya terdapat pula sisi ketuhanannya seperti yang tersirat dari surat Al-Baqarah:34 tentang perintah Allah pada Malaikat dan Iblis agar bersujud pada Adam, hal itu menurut Al-Hallaj bukan karena apa, tapi karena Adam adalah Bentuk-Nya, tafsir ini bisa kita lihat pada statemen Nabi Muhammad “ Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya.”viii Dan manusia dapat “bersetubuh” dengan Tuhan jika ia menghilangkan sisi Nasut nya dan mengisinya dengan lahut, seperti nampak dalam sya’ir Al-Hallaj:

Padu sudah Ruh-Mu

Dengan Ruhku jadi satu

Bagaikan khamr dan air bening jadi Satu

Dan jika sesuatu menyentuh Mu

Tersentuhlah aku

Karena itu kau

Dalam segala hal adalah aku”(164)

Keduanya (Al-Hallaj dan Al-Bistami) menggambarkan bagaimana mabuknya seorang pecinta yang merindu kekasihnya, Kekasih Agung yang keindahan-Nya mengalahkan keindahan Surga beserta isinya, keduanya menggambarkan rasa yang tidak mungkin orang dapat mewakilinya dengan definisi secara rasio, karena segala yang ada hanya Dia, apa yang dirasakan dan dialami, hal yang pertama menjadi perhatian adalah Dia. Sehingga yang tampak adalah Dia dan tiada lagi aku karena aku adalah Dia, menyentuhku adalah menyentuh-Nya.

Ketika sseorang telah menemukan Tuhannya dan larut di dalamnya untuk kemudian fana’ dan kemudian abadi bersama Nya, yang tampak hanyalah Allah. Sebuah kenikmatan yang tidak dapat ditebus dengan dunia beserta isinya. Karena sang kekasih telah mendekapku dan mengambil jiwaragaku untuk menyatu dengan-Nya.

Asketisme seperti diatas seringkali aku alami , saat itu adalah saat yang benar-benar menyenangkan, sebuah kesenangan yang terdiri dari kebahagian dan kedamaian. Bagiku asketisme seperti ini lebih mengasyikkan daripada keasyikan orang bersetubuh dan pengantin baru, walaupun aku belum mengalaminya, saat itu yang ku ingat adalah Allah! Allah! Allah!. Disinilah para penganut eksistensialis, naturalis dan materialis tidak akan mengerti karena bagi mereka kondisi seperti ini tak lebih sebagai kondisi pribadi yang kehilangan identitas, eksistensi diri dan kehilangan ke-individualitas-an. Secara rasio mungkin iya, tapi apalah artinya aku bagi sang Pecinta karena eksistensi-Nya tidak lagi dapat dibedakan dengan eksistensinku, aku adalah Dia dan Dia adalah aku.. maka jangan salahkan al-Hallaj jika ia berkata “Ana Al-Haq”.

Dari asketisme diatas, kemudian aku berpikir munkin kenimatan seperti itulah yang dicari oleh para pengguna Narkoba dan orang yang suka melarikan diri dalam minuman keras dan tentu pula para penjahat kelamin. Aku merasa jika seandainya saja mereka tahu jalan ini, tentunya mereka akan mewninggalkan kebiasaanya itu, karena Syakr(kemabukan) akan Allah lebih nimat dan lebih mengasikkan, juga tentu tanpa efek samping yang merugikan tubuh.

Berpetualang Bersama Ar-Rumi

Dari 2 tuan guru di atas, kemudian aku mengenal seorang guru lain yang tersohor, Jalaluddin Ar-Rumi, mengenalnya laksana mengenal lautan luas dengan kedalaman pengetahuannya dan keluasan cakrawalanya. Ar-Rumi (dengan tetap dalam sikap isyq-nya) melukiskan kalau alam seisinya adalah cermin Tuhan. Sebagaimana layaknya cermin, alam memantulkan wajah Tuhan, disana ada keagungan Tuhan, keindahan dan sifat-sifat Tuhan lainnya. Begitupun manusia, ia sebagai bagian dari alam juga memantulkan keagungan Tuhan, bahkan ia menjadi cermin terbaik dalam memantulkan sinar keindahan Tuhan karena manusia laksana buah dari sebuah pohon yang terdiri dari akar, batang, cabang, daun, ranting dan berpuncak pada buah, sebuah analogi berpikir yang kemudian di identifikasi oleh para pemikir pasca Darwin sebagai teori evolusi ala Rumi.

Bagi Rumi, alam pada awal mulanya berawal dari hal yang sangat sederhana untuk kemudian timbul tumbuhan lalu hewan dan tahap lanjut adalah manusia. Akan tetapi ada perbedaan dasar antara Rumi dan Darwin yaitu pada yang asal dan penggerak evolusi. Jira Darwin mendasarkan teori evalusinya pada material dan lasan mempertahankan hidup, maka tidaklah demikian dengan Ar-Rumi. Ia berpendapat bahwa yang membuat alam terus berkembang adalah cinta, menurutnya Tuhan menciptakan alam dengan cinta maka cinta itupun merasuk pada alam yang diciptakannya, lewat cinta inilah kemudian alam terus berkembang sehingga menjadi seperti saat sekarang ini. Teori ini ia analogikan seperti rayap yang berusaha menjadi laron hanya untuk satu tujuan yaitu bertemu dengan cahaya

i Seseorang yang masih terus mencari

ii Rumahku berada di kelurahan Tegalsari Surabaya

iii Sebagaimana budaya sebagian besar pesanten-pesantren tradisional di Jawa Timur yang mengirimkan tenaga pendidik yang terdiri dari para lulusan pesantren.

iv Layaknya sebagian pesantren salaf lain, pesantrenkupum mengikuti pendapat Al-Ghozali tentang keharaman filsafat lewat karyanya Tahafuth Al-Falasifah.

v Aku dibesarkan di Pesantrenm yang menganut gaya puritan, apalagi ditambah dengan para pengajar tingkat menengah atas yang banyak terdiri dari para lulusan Saudi Arabia, dan kala itu menjadi guru-guru favoritku, ditambah lagi dengan keterlibatanku dengan gerakan FPI Cab. Pamekasan

vi Roy Jacson, Friedrich Nietczhe, Jogjakarta, Bintang Jaya, 2003. hal 99-103

vii Diantara bukunya adalah Mencari Tuhan di warung Kopi (Mizan) dan Sangkar Emas Agama (Mizan)

viii Ahmadi Isa, Tokoh-Tokoh Sufi, Jakarta, Raja Grafindo, 2000. hal.163

Iklan
Komentar
  1. el berkata:

    sepertinya cerita bapak harus diteruskan lagi, masak cuma segitu?

  2. dwi berkata:

    wah, kawan! lama g jmpa kok skr nongolnya di blog. btul kt el sptx tlsnx hrus dtrskn lg. knp g cb u/ ditrbtkn.x ja bs jd inspirasi bg smua trtma qt pr kaum md

  3. ihsan maulana berkata:

    terima kasih el. doakan saja. aq jg msh pgn lanjt

  4. ihsan maulana berkata:

    hai wi, q jg lm g ktm km. kbri aq trs y

  5. muhammad sholichul umam berkata:

    cak tulisan pyn bagus. n aq yakin pyn jg masih rindu kajian- kajian marak lagi di sanggar.

  6. ihsanmaulana berkata:

    trims ya mam. tentu aq rindu ma kajian-kajian yang mencerahkan di sanggar. karena sebenarnya dari sanalah kita banyak berkembang.

  7. Ading berkata:

    tulisan yang sangat menarik

  8. Ihsan Maulana berkata:

    terima kasih pak ading, rencananya akan saya jadikan buku baik dalam narasi filosofis or novel. mohon doanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s