liberal, apaan tuh?

Posted: Oktober 31, 2007 in Cangkruan, Renungan

Oleh : Ihsan*
Kata liberal akhir-akhir ini menjadi kata favorit untuk dibicarakan, baik untuk di diskusikan, diterapkan, di puji hingga di hujat.
Tapi kata liberal menjadi kosa kata yang tidak jarang membingungkan bagi kalangan awam bahkan termasuk kalangan terpelajar sekalipun seperti Mahasiswa. Mungkin sebagian ada pula yang berpendapat mengapa harus dipersoalkan. Hal ini misalnya tampak ketika penulis di Undang ke Freedom Institute dan Jaringan Islam Liberal yang tampak saat itu pada penulis adanya perbedaan pandangan antara Dawam Raharjo, Saiful Mujani, Lily Zakiah Munir dan Rizal Mallarangeng dalam hal memaknai kata Liberal.
Ternyata dari perbincangan penulis dengan para orang di atas muncul sebuah persoalan tentan Islam Liberal, Liberalisme ( system sospol yang gatra ekonominya bahkan sudah mencanangkan neo-liberalisme yang hiper-liberal) dan Theology of Liberation yang di usung oleh Hasan Hanafi dan tokoh-tokoh Islam kiri yang sebaliknya bermuatan roh Marxisme dan justru anti liberalisme.
Tentu pertanyaan-pertanyaan dan diskusi diatas bukanlah karena kedangkalan pengetahuan para orang-orang daiatas sehingga tidak mampu membedakan antara disatu sisi liberlisasi dalam ajaran Islam yang tak lain dari persoalan metode tafsir ajaran agama yang berusaha kritis atas unsure-unsur ruang dan waktu khsusus dalam dalam teks kitab suci serta tradisi (turasy) demi meluhurkan pesan-pesan ilahi yang universal (Mashalihul Mursalah) dan pesan-pesan eternal, di sisi lain yakni sistem sosial politik liberal yang katanya demi memuliakan martabat dab bahkan sekedar menjaga nyawa warga harus berjuang menghalau kecenderungan alamiah negara menjadi totaliter dzalim yang hendak menetapkan apa yang menjadi menu makan siang setiap warga setiap saat, dan di sisi lainnya lagi yakni teologi pembebasan (liberation) yang demi menunaikan amanat kasih bagi kaum tertindas (Mustad’afin) maka (berdasarkan kesadaran structural yang dijelaskan teori Marxis: setiap bantuan yang kita berikan hanya akan merupakan usaha penggemukan korban yang segera di mangsa) haruslah menghancurkan pula struktur yang menindas yang dikuasai oleh padam kapitalisme yang mendominasi dan mengalienasi yang didukung oleh system politik ekonomi liberal.
Dan tampak persoalan diatas terasa simpang siur. Hal ini sesungguhnya merupakan problem klasik yang nyaris abadi. Bahkan para pemikir besar dari pelbagai zaman sudah terperangkap di sini. Mereka memberlakukan asas kebebasan ataupun pembebasan sebagai grand idea yang darinya ditarik implikasi dan derivasi ke segala penjuru gatra serta matra yang ada. Sehingga sedala hal yang berkait dengan kebebasan (Liberation) hendak dipaksa menjadi satu paket utuh koherens sejurusan.
Banyaknya kerancuan disini salah satu sebabnya adalah pesona yang sangat kuat yang berasal dari semangat zaman awal demokratisasi melepas belenggu feodalisme yang sarat dengan kewenang-wenangan, sejumlah hak bebas lantas disakralkan sebagai hak asasi (human right). Bebas menjadi tampak terbesar dan utama dalam kondisi reaktif. Dalam penindasan dan kedzaliman srtuktural yang dialami begitu lama, kebebasan akan bernilai sebagai paling utama.
Bebas menurut penulis sebenarnya bukanlah tujuan puncak, ia hanya tujuan antara, bebas demi tujuan yang lain, bebas untuk melakukan pilihan, bebas untuk beribadah bahkan termasuk bebas untuk tidak bebas demi sebuah tujuan terpenting. Bebas bukan pula berarti melanggar kebebasan orang lain Banyak orang memperoleh kebebasan pada saat ia mengenakan ketidakbesasan pada dirinya dan hal itu adalah merupakan wujud kebebasan memilih. Jika hanya kebebasan adalah dal yang dituju oleh para pencari kebebasan. Maka seperti yang dilukiskan oleh Sartre bebas yang demikian rupa sampai jadi tidak bebas untuk memilih tidak bebas bagaikan ikan yang harus bergerak terus-menerus tanpa pernah bisa berhenti walaupun hany untuk sekedar sesaat.
Jadi tampak dari pergulatan makna liberal diatas, wajar misalnya jika Dawam Rahardjo terasa sangat liberal dalam pandangan keagamaannya tapi sebagai ekonom ia adalah anti liberalisme ekonomi atau seringkali juga disebut anti pasar, tapi bebeda dengan Rizal Mallarangeng, mungkin secara pandangan agama tidak sebegitu liberal tapi ia adalah pendukung garda depan dalam ekonomi liberal di Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s