ETIK KERJA ORANG JAWA; BENARKAH PEMALAS?

Posted: November 13, 2007 in Pitakonan

Negeri ini setiap hari selalu mengalami keruwetan ketika berbicara masalah kemiskinan, walaupun baru-baru ini BPS mengeluarkan data tentang penurunan angka kemiskinan tapi banyak pihak yang menyangsikannya. Dan di Jawa angka kemiskinan itu masih sedemikian besar menurut data BPS Jatim padatahun 2006 saja tercatat lebih dai 11 juta orang Jawa Timur terjebak dalam garis kemiskinan, angka ini bisa jadi terus melonjak tatkala kita mencermati berbagai krisis (Multi Cricis)yang terjadi di negeri ini, mulai dari belum stabilnya perekonomian negara hingga bencana alam yang terjadi yang menyebabkan pengangguran makin meningkat ditambah lagi angkatan kerja yang tidak bekerja yang setiap tahunnya mencapai 1.5 juta jiwa (menurut perkiraan BPS Jatim).

Membicarakan orang miskin selalu saja menjadi hal yang menarik sekaligus memprihatinkan, panjang dan melelahkan. Tetapi dari pembicaraan tadi sangat sedikit pembicaraan tersebut menyentuh budaya masyarakatnya, tentang bagimana suatu masyarakat menghargai kerja& hasil yang bersifat kebendaan, misalnya bagaimana etik kerja mereka?pertanyaan-pertanyan seperti ini jarang di bahas.

Padahal menurut penulis masalah budaya sangat penting dikaji untk memahami apa yang berkembang di suatu masyarakat, sebuah missal, bagaimana orang yahudi bisa sukses berdagang di penjuru dunia, orang-oang cina perantauan yang sykses menjadi kelas ekonomi elit dimana ua tinggal, mereka mungkin saja sedikit secara kuantitas tapi terasa begitu dominan salam peta perdagangan dunia.

Masalah budaya seharusnya makin banyak menjadi perbincangan terbuka kita;tentang hypermarket yang semakin menjamur, tentang pasar tradisional yang semakin terpinggirkan, masalah-masalah seperti itu haruslah dibicarakan secara jujur dan terbuka dan bukanya melalui bisik-bisik tetangga, karena maslah seperti itu tidak akan bisa dicari solusinya dengan hal demikian.

Kalau kita di negeri ini bicara tentang pasar modern dan bisnis besar, maka kita akan menunjuk pada saudara-daudara kita etnis ciona atau tionghoa, kalau pasar tradisional kita akan langsung setuju dengan keidentikannya dengan orang-orang pribumi seperti Jawa, Madura, dan bugis serta rimpin melayu lainnya. Orang-orang tionghoa walau hanya 3% di negeri ini dari 210 juta jiwa ternyata berhasil menguasai 70% bisnis dan perekonomian negeri ini(Prof.Amy Chua-2004). Meski bukan berarti bahwa orang Tionghoa tidak ada yang miskin tapi biasnya yang disebut miskin di negeri ini adalah kita masyarakat Jawa (Pribumi).

Pertanyaan klasik yang sering terdengar adalah mengapa manusia Jawa yang banyak secara kuantitas ini miskin? Ada salah satu “teori” menyebut bahwa manusia jawa ini malas. Pada tahun 1811 atau sekitar 200 tahun lalu John Joseph Stokdale telah menulisnya dalam bukunya The Island of Java, Stockdale antra lain menyatakan bahwa “orang-orang jawa dipandang lambat kerjanya(malas) dan dibutuhkan upaya keras untuk mendorongnya suka bekerja” (The Javanese are said to be of an indolent disposition, and to require much pains to incite them to labour).

Mengapa demikian? Stockdale pun melanjutkannya dengan berkata bahwa sifat demikian itu secara umum memang benar untuk orang-orang yang hidup di wilayah berhawa panas dan mereka yang didup dibawah pemeriontahan yang dispotik yang suka mewajibkan pajak yang besar atas harta benda yang dimiliki termasuk hasil pertanian. Akan tetapi persoalan berlanjut pad pertanyaan mengapa orang-orang tiongjoa yang ada di Indonesia relatif lebih makmusr dari saudara-saudara pribuminya? Padahal mereka juga sama-sama hidup di alam Indonesia yang berhawa panas? Jawabnya menurut Stockdale adalah karena orang tionghoa berdagang dan mengolah kekayaan negeri ini yang ditelantarkan oleh penduduk pribumi yang miskin, dengan kesabaran dan keuletannya mereka dapat tumbuh dankemudian mendominasi perekonomian di Indonesia.

Mangan ora mangan seng penting kumpul” adalah salah satu adigium yang menggambarkan bagaimana orang-orang Jawa merasa pias walay ia tidak memiliki apa-apa, dengan hidup yang ala kadarnya dan jauh dari kata kemakmuran mereka nrimo tampa ada tekad untuk melakukan peningkatan kemampuan ekonomi.

Kemamukmran orang-orang cina perantauan ity kini menjadi trade mark orang-orang cina atau Tiongjoa perantauan yang ada di negara-negara kawasan Asean dan bukan hanya di Indonesia, meskipun dalam skla yang lebih luas mereka masih kalah dengan salah satu etbis dari Timurtengah, Yahudi tapi untuk kawasan Asia mereka disebyt sebgai yahudinya Asia “The Jews of Asia” sebgai ungkapan perbandingan akan kesuksesan orang-orang Yahudi di Eropa dan Amerika (Daniel Chirot,1998).

Pertanyaan pun kini kembali ke orang Jawa (pribumi). Benarkah orang-orang Jawa pada dasrnya adalah orang-orang yang malas dan bodoh? Dari berbagai literature jawa kuno hingga jaman kerajaan Islam awal, ditemukan jawaban bahwa sebenarnya pada masa itu atau hingga abad ke-16 orang-orang Jawa dan puak melayu lainnya bukanlah orang-orang yang malas, mereka rajin dan ulet. Etik kerja seperti ity menjadio ciri khas orang-orang jawa dan menjadi sifat yang diakui oleh orang-orang manca yang mengadakan hubungan bilateral dengan orang-orang Jawa yang mereka anggap pintar, ulet, rajin, cerdik serta mempunyai strategi dagang yang unggul.

Hal itu berlanjut hingga masa Islam Awal yang saat itu bertumpu di daerah-daerah pesisir yang dibuktikan dengan letak-letak kota-kota strategis dan jua pusat-pusat peradaban Islam, merewka terkenal mempunyai etik kerja yang ulet dan pintar. Tetapi hal hal itu berganti tatkala Demak hancur lengkap dengan pepusrtakaannya dan kemudian muncul Kerajaan Islam Mataram yang mengalihkan kerajaannya ke pedalaman yang penuh dengan unsure mistis atau magis. Kedatangan para pedagang dan pelaut cina kemudian Eropa terytama Belanda dengan VOC-nya mendotongan semakin tersingkirnya etik kerja rajin dan ulet yang mejadi ciri khas rakyat Jawa Pesisir. Disebutkan dalam beberapa literature bahwa orang-orang bugis dan madura “agak” selamat karena mereka tetap aktif berdagang tapi tekanan politik dan kekuasaan yang terus menerus membuat mereka kalah bersaing dengan orang-orang eropa dan cina.

Mungkin sebagian kita menolak, bahkan tak kurang dari bebrapa tokoh Jawa juga menolak anggapan diatas, tapi bagaimanapun juga hal ini menjadi sebuah persoalan yang harus dikaji terus dan di cari pemecahannya dengan reorientasi orang-orang Jawa agar tidak hanya berorientasi mejadi karyawan atau Pegawai Sipil tapi juga yang paling penting adalah ditanamkannya jiwa enterpreneurship dan berdagang pada orang-orang Jawa


*Penulis adalah Pimred Jurnal Pemikiran Di@spora dan Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel

Ihsan semasa kuliah S-1 nya pernah menjadi Pemenang ke-2 pada sayembara esai ilmiah Nasional pada ajang Ahmad Wahib Award 2005 di Jakarta, setelah sebelumnya pernah menjuarai penulisan ilmiah pada tingkat mahasiswa se- Surabaya tahun 2003.

Komentar
  1. setiawan_lisno mengatakan:

    Tulisan ini masih kurang dengan menguak hubungan yahudi dengan jawa?saya yakin pasti lebih asyik masyuknya

  2. Ihsan Maulana mengatakan:

    terima kasih mas setiawan atas komentarnya. sebenarnya saya tidak membidik hubungan jawa dan yahudi. saya cuma ingin manas-manasi saudara jawa kita termasuk saya agar mempunyai etos kerja yang tinggi. tapi sepertinya menarik jika kita membahas hubungan jawa-yahudi. ada tidak ya?kalau ada konsepnya seperti apa? konon Gusdur yang mengelola yayasan yahudi itu juga dipengaruhi oleh hubungan jawa-yahudi yang sebenarnya telah lama terjadi.

  3. wongcilik mengatakan:

    Jika sedandainya Indonesia ini terdiri dari 100 orang Jawa, 100 orang Batak, 100 Melayu, 100 orang Dayak, 100 orang Cina, 100 Orang Bugis, 100 orang Minang dan suku-suku lainnya 100 orang juga. Maka kita sebagai orang Jawa terbayang gak, siapa yang bakalan banyak menjadi orang pintar dan sukses bekerja? Bayangkan!! Jawa yang berada diketiak penguasa, selalu dianakbobokan, selalu diberi bantuan dengan segala macam bantuan baik penyediaan pusat-pusat pendikan, pembangunan pusat perdagangan, pusat-pusat rumah sakit yang banayk, bercokolnya penguasa-penguasa berkaki empat yang menentukan hukum (yang kacau balau), orang-orang Jawa selalu dimanjakan dengan uang dan tanah, selalu diberikan pusat-pusat fasilitas pertanian baik bantuan bibit + pupuk + segalan macam pembangunan pengairan yang luar biasa. Namun kenyataannya apa yang dicapai sekarang adalah suatu kegagalan yang luar biasa. di Jawa banyak terjadi pengangguran yang luar biasa, quantiti pelaku kejahatan yang sulit untuk diberantas, para WTS (wanita tuna susila) yang tidak bisa diberantas, kemiskinan yang mencolok bila dibandingkan suku-suku non Jawa di Indonesia
    Kalau kita perhatikan suku Jawalah yang terbanyak dalam hal menjadi WTS, Maminya WTS, LSM-LSM Penipu, Perampok, Pemimpin yang bobrok. Jika kita pergi ke terminal-terminal di Jakarta, Aceh, Kalimantan dan daerah lainnya maka akan kita temui banyaknya Pencopet, WTS, Perampok adalah orang Jawa, maka jika dikalkulasikan comparasi quantiti dengan suku lainnya maka akan kita temui suku-suku lain yang menjadi WTS, Perampok, Penodong amatlah sedikit, bahkan hampir tidak pernah kita jumpai suku bugis, dayak dan suku lainnya. jika dilihat dari sifat orang-orang Jawa maka orang jawa selain sebagai suku yang pemalas yang hanya menunggu pemberian penyediaan fasilitas dari penguasa juga mempunyai sifat bringas, pendendam serta mengingkar janji serta suka membunuh dan banyak lagi sifat-sifat yang mengerikan lainnya.
    Dapat kita bayangkan jika seandaikan orang-orang Jawa itu bukan orang Islam maka sudah tentu telah terjadi peperangan atau perkelahian antara satu suku dengan suku lainnya. Tetapi anugrah agama ini sudah salah digunakan oleh orang-orang Jawa dalam mengenvansi penguasaan kekuasaan tanah, laut, hasil tambang, hutang dan banyak lagi kekuasaan-kekuasaan yang dipaksakan oleh suku Jawa terhadap suku lainnya.
    Sifat pemalas, sinis terhadap suku lainnya walaupun sesama Islam tidak membuat orang Jawa malu terhadap pengerukan hasil alam yang ada di daerah-daerah. 99% hasil kekayaan dari setiap 27 Provinsi di Indonesia pada masa Orba dibawa ke Jakarta dan dibagi-bagikan dengan penguasa-penguasa Jawa. bahkan rakyat Jawapun keteteran, mereka hanya dianggap wong cilik, mereka hanya diberikan penutup mulut yakni penyediaan fasiltas, transmigrasi yang dibiayai pemerintah dari A sampai Z. maka rakyat Jawa sudah merasa cukup pemberian ini. dikarenakan kebiasaan selalu diberikan oleh penguasa itulah maka orang-orang Jawa terpeliharalah sifat pemalasnya serta anti terhadap kemajuan suku-suku lainnya. Sifat pemalas Jawa ini terbiasa dengan hasil alam yang ada mereka tidak kreatif untuk memanfaatkan hasil alam untuk kemakmuran, karena sifat malas dan sulit untuk menerima kemajuan suku-suku lainnya. Jika hasil alam habis maka habislah ia tidak ada reboisasi yang maju, tidak ada pengolahan bahan alam yang maju, tidak ada pengolahan bahan tambang yang maju, tidak ada pengolahan hasil hutan yang maju. hal ini menurut Dekker, dikarenakan sifat malas berfikir sudah mengakar dalam orang-orang Jawa.
    Kenapa kemajuan suku Jawa amat lambat bila dibandingkan dengan suku lainnya walaupun dari segi statistik Jawa memegang banyak kekuasaan uang, kekuasaan Penguasa, jumlah orang yang sangat-sangat banyak, Kekuasaan Pembangunan, Kekuasaan tanah, hutang, laut, bumi tidak mempunyai kecakapan dan gagal dalam perekonomian pendidikan dan sebagainya karena kemalasan berpangku tangan menunggu pemberian dari penguasa sudah terbiasa dalam darah dan daging orang-orang Jawa. hal ini tidak heranlah jika pada abad ke 19 Van Den Bosch memberikan inspirasi kepada Belanda untuk melakukan penenaman pertanian namun orang-orang Jawa tidak begitu aktif melakukan pekerjaan tersebut sehingga banyak

    • ajizah mengatakan:

      menurut saya, justru kebanyakan orang jawa menunjukan sifat gigihnya, kebanyakan petani berasal dari jawa, entah jawa barat, jawa timur, jawa tengah, dari sana mreka menunjukan bahwa atas kegigihannya indonesia bisa merasakan beras yang dimasak menjadi nasi yang enak, orang jawa menunjukan ke uletannya, lihat kebanyakan tokoh2 yang berjasa diindonesia adalah orang2 dari jawa.

  4. wongcilik mengatakan:

    Kenapa kemajuan suku Jawa amat lambat bila dibandingkan dengan suku lainnya walaupun dari segi statistik Jawa memegang banyak kekuasaan uang, kekuasaan Penguasa, jumlah orang yang sangat-sangat banyak, Kekuasaan Pembangunan, Kekuasaan tanah, hutang, laut, bumi tidak mempunyai kecakapan dan gagal dalam perekonomian pendidikan dan sebagainya karena kemalasan berpangku tangan menunggu pemberian dari penguasa sudah terbiasa dalam darah dan daging orang-orang Jawa. hal ini tidak heranlah jika pada abad ke 19 Van Den Bosch memberikan inspirasi kepada Belanda untuk melakukan penenaman pertanian namun orang-orang Jawa tidak begitu aktif melakukan pekerjaan tersebut sehingga banyak pendudukan ditangkap karena kemalasan mereka dalam bekerja. beberapa orang raden bahkan dibuang atau diasingkan hal ini dikarenakan asumsi “PEMALAS” hingga belanda mengambil tindakan ini untuk memberikan contoh kepada orang-orang Jawa pada masa itu agar tidak MALAS.

  5. Ihsan Maulana mengatakan:

    Wah, sebenarnya orang Jawa juga memiliki sisi lain yang patut dipelihara. mereka punya sikap gotong royong yang tinggi, kepedulian terhadap sesama yang tinggi pula.
    tapi jujur, sistem priyayi dan wong cilik membuat banyak orang jawa menjadi pemalas, dengan berbagai analisis

  6. Wongcilik mengatakan:

    sistem priayi yang telah mendarah dan tingkatan kasta dalam bahasa Jawa dan Tingkatan Sistem bermasyarakat membuat orang jawa mempunyai sifat adanya perbedaan antara wong cilik dan golongan atas. golongan atas akan berusaha untuk membuat wong cilik bodoh dan tetap enggeh kepada penguasa. ini membuat suku jawa semakin terpuruk. selain itu jika wong cilik pada suatu saat menjadi penguasa maka wong cilik akan berusaha mempertahankan kekuasaannya hal ini disebabkan karena jika ia lepas dari kekuasaannya maka ia akan menjadi non priayi lagi. akibatnya secara sosiologi orang jawa mempunyai sifat tidak ingin membuat suku-suku lainnya maju hal ini dilakukan dengan cara mebodohn-pembodohan yakni dengan penangkapan orang-orang pintar baik secara terang-terangan maupun penculikan. penghancuran perekonomian yakni dengan memperlambat pergerakan peraturan daerah-daerah yang mempunyai peluang untuk maju dengan peraturan yang sempit dan kuno dari Petinggi jawa yang berkuasa. mereka takut jika daerah-daerah maju kekuasaan tidak berada dari orang Jawa lagi. sikap PEMALAS, TIDAK SUKA MELIHAT SUKU LAIN MAJU, PENDENDAM, akan membuat suku Jawa lambat untuk berkembang sehingga mengkaibatkan lambatnya perkembangan moderenisasi INDONESIA

  7. wongcilik mengatakan:

    Takut Suku lain lebih maju. Dari hal dapat dengan jelas dilihat dari awal munculnya suatu Negara Kesatuan Indonesia. Dengan cara mempersatukan kerajaan-kerajaan di setiap penjuru Nusantara untuk disatukan dalam wadah satu kekuasaan Jawa yakni Indonesia yang dikuasai sendiri oleh penguasa Jawa setelah Jajahan BELANDA lengser dari Nusantara. Maka Jawa Raya memboncengi keadaan ini untuk membujuk setiap kerajaan-kerajaan untuk bersatu di bawah Bendera Indonesia Raya. Maka dibuatlah perundang-undangan yakni Pancasila yang mempersatukan dan sekaligus melebur kekuatan-kekuatan kerajaan nusantara dalam satu wadah kekuasaan terpusat yakni kekuasaan Jawa Raya.
    Saat pembuatan undang-undang maka sebagian dari komponen Nusantara berasatu atas bendera Jawa Raya maka diajukan salah satu pasal yang intinya agar “setiap warga negara beragama Isalam menjalan syariat Islam sebagai landasan Hukumnya dan warga negara yang non Islam menjalankan syariat agamanya pula dalam hal hukum. Maka pemerintah pada saat itu tidak mau ambil resiko karena hal ini cukup memakan dana dan pelik untuk diatur dalam proses prakteknya karena akan adanya banyak kantor perwakilan dan banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengurus setiap warga yang agamanya berbeda-beda. Maka pasal tersebut dihapus. Mengapa usuan ini ditolak oleh tim penguasa pada saat itu karena SIFAT PEMALASLAH dan sifat yang tidak kreatiflah yang sudah melekat pada watak orang jawa maka mereka memutuskan untuk membuat suatu perundang-undangan yang kaku yakni tetap memihak pada UNDANG-UNDANG atau HUKUM kolonialisme BELANDA. Kenapa? Karena mereka sudah terbiasa dengan ajaran para kolonialisme penjajahan Belanda. Sehingga sampai sekarang sifat pemalas dan Menjajah sudah mendarah daging baik dari wong cilik maupun para priayi kesultanan masyarakat Jawa.
    Agar kekuasaan tetap langeng mereka membuat langkah-langkah yang sangat spektakuler. Yakni dengan menjadikan suku-suku lain sebagai kambing hitam dalam ketidakmajuan Indonesai Raya ini. Segala peraturan dibuat agar Indonesia tidak lepas dari cengkraman Jawa Raya. Setiap orang baik orang Jawa sendiri atau non Jawa yang memberikan ide yang cemerlang akan kemajuan Indonesia dan ketidakadilan diculik, disiksa, dan dibunuh. Salah satunya adalah suami EVA ARNAS yang diculik dan dibunuh. Sifat takut akan kemajuan perkembangan yang moderen mengakibatkan suku Jawa terkekang. Bahkan mengorbankan wong cilik sendiri hal ini mengakibat pertanian yang gagal, industri yang gagal, perdagangan yang terpusat di Jawa dan sekitaranya telah gagal mengantarkan Jawa Raya dalam menghadapi pasar bebas yang sudah dielu-elukan oleh Penguasa-penguasa TANAH JAWA sendiri. Sehingga Indonesia Raya terpuruk dan jauh tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang mana JAWA RAYA sendiri mencemooh mereka dengan negara-negara yang Pemalas.
    Jepang sendiri memberikan nilai yang tidak memihak kepada Penguasa Jawa yakni dengan memberikan nilai minus kepada Perguruan-perguruan tinggi baik swasta maupun negeri yang mana Jepang menyimpulkan bahwa tidak ada satupun Universitas di Indonesia memuhi standar berkualtas. Ini terjadi karena sifat pemalas dan tidak kreatif dalam pemahaman Jawa sehingga tingkat manajemen system setiap yang dibuat amburadur dan kaku sehingga membuat citra masyarakat Indonesia Raya yang semakin terpuruk. Sifat malu dan tebal muka sudah mendarah daging pada Penguasa Jawa. Sehingga orang-orang Eropa pada zaman orba menyatakan bahw Indonesia masih dalam tahap masa KANIBAL. Bisakah kepemimpinan JAWA membawa Indonesia menjadi Negara yang moderen…..? jawabnya walaupun orang jawa memimpin Indonesia selama 100 tahun ke depan maka Indonesia tidak mencapai tahap kemajuan tatanan system eknomi, hukum, perdagangan, pendidikan seperti yang dimiliki Malaysia, Singapura, Brunai, dan Vietnam (para ahli menyatakan 15 tahun setelah Vietnam merdeka dari gejolak maka akan menyamai perekonomian seperti Negara Indonesia).

  8. wongcilik mengatakan:

    orang Melayu, Batak, Minang, Bugis dan suku-suku lainnya mereka merantatu ke daerah lain tanpa dibantu fasilitas, dana dll oleh pemerintah. tetapi, Suku Jawa mereka dibantut dengan penyediaan tanah, bantuan pertanian seperti bibit, pupuk, uang saku setiap bulannya sampai usaha mereka dianggap telah mampu berdiri sendiri. dengan kata lain orang jawa merantau ke daerah lainnya rumah dan fasiltas telah disediakan oleh pemerintah yakni mereka tinggal duduk dan makan serta bekerja tanpa susah-susah. Hal ini bisa dibuktikan dengan transmigari JAWA yang membuldak setiap tahunnya yang mencapai ribuan warga ke setiap pelosok provinsi.Pembiayaan Transmigrasi tersebut diambil dari uang negara (RABPN) tetapi apa yang terjadi kemajuan orang jawa tidak begitu berati. walaupun suku-suku lainnya tidak mendapatkan bantuan seperti suku Jawa bahkan suku-suku lainnya bisa mengimbangi kemajuan suku Jawa. kenapa orang Jawa tidak mengalami kemajuan dari segi modernisasi? karena orang mereka telah terbiasa dengan sifat menjajah dan SIFAT PEMALAS berpangku tangan menunggu pemberian pemerintah belaka.

  9. wongcilik mengatakan:

    Wakil presiden Yusuf Kala pernah berkata di salah satu TV swasata ia mengatakan bahwa jika kapal luar neger merapat ke deramaga Indonesia maka diperlukan waktu berminggu-minggu agar bisa bongkar muat. Hal ini disebabkan oleh pengurusan izin yang berbelit-belit. Maka akibatnya transaksi perdagangan luar dan dalam negeri menjadi lambat. Jika di Malaysia, Singapor dan negara lainnya hanya memakan tidak lebih dari 1 hari. kenapa ini terjadi? karena system yang dibangun di Indonesia dibuat pimpin oleh kepemimpinan PEMALAS.

  10. Ihsan Maulana mengatakan:

    Wah ada betulnya tuh. mental para pejabat kita masih mewarisi mental yang ditanamkan selama pemerintahan penjajah Belanda yang mengajarkan bahwa rakyat adalah budak pemerintah.
    Mental pemerintah kita masih mental upeti, sebuah mental yang juga ditanamkan oleh VOC di Hindia Belanda

  11. wonglicik mengatakan:

    Ah.. masa? bukannya kebalikannya? coba lihat dengan seksama disekeliling kita. Orang Jawa kerja aja lebih baik/bagus, apalagi jadi pengusaha…… 😛

  12. ramses mengatakan:

    orang jawa sbg kaum mayoritas terkadang merasa kuat krn menang jumlah.. tapi cob lihat pada saat mereka berada di perantauan… baru tau rasa mereka krn terbalik menjadi minoritas.. tapi mungkin justru dgn keadaan seperti inilah orang jawa yg pernah merasakan mjd minoritas menjadi lebih ulet dan tidak malas..

    tapi klo kita lihat memang terkadang orang jawa dlm berbisnis masih mempunyai mental priyayi… dari fakta yg ada.. pada saat kita lihat toko2 yg dipunyai org jawa biasanya yg punya jrg berada di toko itu… dan cuma pegawainya saja… oleh krnnya sering toko atau pelayanan pegawai tidak berjalan semestinya krn tdk ada si pemilik yg mengawasi.. tapi dibandingkan toko pemilik tionghoa.. terkadang mereka bersikeras utk menunggui toko mereka… klo perlu jika kekurangan pegawai dia yg turun langsung melayani pelanggannya.. maaf mungkin untuk pemilik jawa yg sering saya lihat justru pada saat toko sedang ramai mereka justru duduk saja tidak ikut melayani pelanggannya… sehingga menimbulkan asumsi bahwa sudah menjadi bos maka tidak mau “tangannya kotor” dgn melakukan pekerjaan pegawai..

    yah tapi itu cuma sebagian kasus yg saya lihat saja… memang terkadang ada juga orang jawa yg tidak begitu… namun sayangnya kebanyakan yg saya lihat justru mencitrakan mental priyayi tsb..

    walaupun saya bukan org jawa, namun dari lahir dan semasa hidup saya tinggal dan berbaur dgn orang2 jawa.. berbahasa jawa pun saya bisa walaupun masi sebatas “ngoko”..

    sehingga saya mungkin dapat melihat lebih objektif.. krn sebagai orang peratauan namun juga org “setengah” jawa (krn sedikit terpengaruh budaya jawa).. sehingga walaupun ada suatu sisi negatif dari mental orang2 jawa, namun ada juga hal2 positif yg dipunyai org2 jawa.. seperti yg sudah rekan2 dibahas di atas adalah kerukunan… tapi ttp saja sesuatu jika terlalu banyak tidak baik.. berani tapi terlalu berani artinya kurang ajar.. rukun tapi rukun trs bisa mengakibatkan tidak maju2..

    yah yg pasti sih jgn terlalu banyak..🙂

  13. Ihsan Maulana mengatakan:

    wah, saya baru sadar bahwa saya sendiri juga mempunyai mental seprti itu yaitu dengan jarang datang ke toko yang saya kelola

  14. andi mengatakan:

    jawa it ditakdirkan jadi pemimpin.lha kalau orang irian jadi WTS yo g laku lah.siapa yg mau.setau ku wts palhng bnyak sunda bukan jawa.jawa it beda dengan sunda bung.paling pemalas it orang aceh.paling pelit orang padang.paling licik dan penjilat orang batak.paling bau orang irian.paling primitp orang kalimantan.paling priyayi dan harum orang jawa.g usah iri.postur tubuh it di takdir sudah.contoh lama aja.mana ada kerajaan yg bs sekuat kerajaan di tanah jawa.hayo.para suku luar jawa.aku ber rikrar kalau suatu saat akan ada pemimpin yg di lahirkan dr tanah jawa untuk membw negri ini menjadi lebh baik.jawa ki keturunan dewa.bukan dr primitip.

  15. andi mengatakan:

    maaf ya suku luar jawa ato setengah jawa.it udah garis nasib kalian

  16. Ihsan Mauana mengatakan:

    Wah-wah Mas Andim, narsis cenderung primordial ya?! tidak ada satu sukupun yang lebih mulia di mata Tuhan dari suku lain. Bisa saja suku yang kita anggap lebih rendah sesungguhnya mereka lebih mulia. Kita semua sama, sama manusia, sama berdarah merah, sama menginjak bumi dan sama butuh udara. kecantikan it relatif. cantik bagi kita hari ini belum tentu cantik bagi kita besok hari, Who knows?!

  17. ramses mengatakan:

    ha13x… iya ni mas… kita sama2 manusia.. klo emg org jawa tu ebat apalagi seperti yang mas andi blg kerajaannya di tanah jawa kuat2.. harusnya kraton g pecah jadi 2 dnk ya…? hmmmm bngung ni.. klo emg jawa kturunan dewa berarti ngikut kaya’ cara raja jawa yg bilang klo dia titisan dewa biar pengikutnya pada patuh smua krn takut ama amarah dewa… hooo… ngeri iki wong jawa… ku pikir orang jawa itu rendah hati dan membudayakan rukun…😀

    tapi ternyata emg ada jg kasus2 yg berbeda..

    cuii,,, setuju bwt mas ihsan.. ^ ^
    klo emg Tuhan memutuskan suku Jawa emg paling baik.. berarti ntu kerajaan majapahit bakal ancur kali ya… hi13x… *ngacirrr sblum kena sambit mas andi…😄 *

    udah yuk,,, ayo bersatu sbg satu indonesia raya…

    (=^w^=)

  18. Ihsan Maulana mengatakan:

    setuju buat Mas Ramses. Gaya semua kerajaan mereka memang akan mengaku sebagai Dewa atau keturunan Dewa untuk memperoleh legitimasi rakyatnya. Orang Yunani bilang mereka Keturunan Zeus, orang Mesir bilang mereka keturunan Dewa Ra, orang Jepang bilang mereka keturunan Dewa Matahari. Jadi bukan saatnya lagi ita percaya pada mitos-mitos begituan.
    Ini zaman Obama, Bung. Bukan zaman Fir’aun.🙂

  19. walley mengatakan:

    Maksudnya di sini tuh, orang jawa aka wong cilik, jawa keraton bukan jawa barat dan jabodetabek!

  20. John mengatakan:

    saya sudah melakukan tips poin 2 dan 3 untuk point 1 menyusul , Aerona

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s