Ratoh, Bentuk Apresiasi Orang Madura Terhadap Perempuan

Posted: November 23, 2007 in Cangkruan, Renungan

Carilah seorang raja di Madura, samapai tua anda tidak akan pernah menemukannya. Kenapa? Karena dalam khazanah orang Madura tidak mengenal kata Raja, yang ada adalah ratu atau Ratoh, loh, kok bisa? Ini tidak lepas dari sejarah orang Madura yang dilahirkan dari seorang Putri yang terbuang, Putri itu dibuang ke Madura dalam keadaan bunting dan ayah dari anak yang dikandungnya tidak diketahui siapa. Melihat kenyataan itu, Ayah sang Putri yang juga seorang Raja memerintahkan pada algojonya untuk memenggal leher sang putri karena dianggap membuat malu keluarga kerajaan, konon kerajaan itu adalh kerajaan yang terletak di daerah perbatasan Malang dan Lumajang, ada pula yang menyebut sebagai kerajaan Kedi di daerah Kediri, tapi sang Putri membela diri dengan berkata”tidak ada seorang laki-laki pun yang membuntingiku dan sebelum ini aku tidak pernah berhubungan dengan seorang laki-lai” tapi sang Ayah tetap saja tidak bisa menerima penjelasan yang tidak masuk akal itu dan tetap memerintahkan Algojo kerajaan untuk memenggal sang putrid di tengah hutan.

Tatkala sang algojo membawa sang putri untuk dipenggal ternyata sang putrid dilindungi oleh suatu kekuatan sehingga raga sang putrid tidak bisa dipenggal. Dari sana sang algojo sadar bahwa memang sang putrid tidak bersalah dan dtiak melakukan perbuatan nista, tapi karena sang algojo tidak diperbolehkan pulang oleh raja sebelum leher sang putrid dipenggal maka algojo membuatkan rakit untuk si putri agar bisa hidup dan tidak ditemukan oleh orang-orang kerajaaan.

Dari Putri itulah generasi Madura lahir. Nama Madura sendiri diambil saat Putri tersebut terdampar disebuah gugusan pulau disana terdapat tanah lapang dan ditengahnya terdapat madu, dari sanalah timbul kata “maddu e ra-arah” yang berarti madu di tanah lapang. Putri tersebut melahirkan generasi pertama orang Madura, kelak putrid tersebut disebut sebagai ratoh oleh orang Madura.

Dari sana berkembang sebuah pemahaman bahwa seorang penguasa atau pemimpin Madura disebut Ratoh dan bukan Raja. Maka kemudian memang tercatat dalam sejarah orang Madura bahwa Madura dipimpin oleh seorang ratoh, walaupun ia adalah seorang laki-laki, ratoh tidak membedakan seks yang melekat pada diri sang pemimpin walau ia adalah seorang laki-laki atau seorang wanita tetap sja ia akan dipanggil oleh Madura sebagai ratoh, walau kebuadayaan Islam masuk ke pulau Madura dan member gelar pemimpin Madura sebagai Sultan, tetap saja orang Madura memanggilnya sebagai ratoh.” Sultan Abdurrahman Ratoh sumenep” ungkapan itu akan kita temui jika kita bertanya tentang siapa penguasa Madura paling terkenal di sumenep,sebuah kabupaten paling timur di pulau Madura. Ada pula 4 orang yang wajib dihormati oleh orang Madura yanga ada dalam ungkapan “Bebak, bebuk, guruh, ratoh” yang artinya Bapak, Ibu, Gru, dan Ratu (Penguasa). Raja tidak masuk dalam hitungan yang empat tadi, karena mereka memang tidak ada dalam khazanah Madura.

Dari legenda Putri tersebut juga menimbulkan bentuk penghormatan orang Madura terhadap perempuan. Mereka menempati derajat yang tinggi dalam budaya orang Madura. Sehingga jangan anda coba-coba mempermainkan perempuan Madura, atau coba-coba menjalin affair dengan istri orang Madura, jika anda tetap nekad, harga yang anda harus bayar terlalu mahal, karena nyawa andalah yang menjadi harganya. Sedikit sadis memang tapi itulah bentuk apresiasi orang Madura terhadap perempuan.

Ratoh, Bentuk Apresiasi Orang Madura Terhadap Perempuan

Carilah seorang raja di Madura, samapai tua anda tidak akan pernah menemukannya. Kenapa? Karena dalam khazanah orang Madura tidak mengenal kata Raja, yang ada adalah ratu atau Ratoh, loh, kok bisa? Ini tidak lepas dari sejarah orang Madura yang dilahirkan dari seorang Putri yang terbuang, Putri itu dibuang ke Madura dalam keadaan bunting dan ayah dari anak yang dikandungnya tidak diketahui siapa. Melihat kenyataan itu, Ayah sang Putri yang juga seorang Raja memerintahkan pada algojonya untuk memenggal leher sang putri karena dianggap membuat malu keluarga kerajaan, konon kerajaan itu adalh kerajaan yang terletak di daerah perbatasan Malang dan Lumajang, ada pula yang menyebut sebagai kerajaan Kedi di daerah Kediri, tapi sang Putri membela diri dengan berkata”tidak ada seorang laki-laki pun yang membuntingiku dan sebelum ini aku tidak pernah berhubungan dengan seorang laki-lai” tapi sang Ayah tetap saja tidak bisa menerima penjelasan yang tidak masuk akal itu dan tetap memerintahkan Algojo kerajaan untuk memenggal sang putrid di tengah hutan.

Tatkala sang algojo membawa sang putri untuk dipenggal ternyata sang putrid dilindungi oleh suatu kekuatan sehingga raga sang putrid tidak bisa dipenggal. Dari sana sang algojo sadar bahwa memang sang putrid tidak bersalah dan dtiak melakukan perbuatan nista, tapi karena sang algojo tidak diperbolehkan pulang oleh raja sebelum leher sang putrid dipenggal maka algojo membuatkan rakit untuk si putri agar bisa hidup dan tidak ditemukan oleh orang-orang kerajaaan.

Dari Putri itulah generasi Madura lahir. Nama Madura sendiri diambil saat Putri tersebut terdampar disebuah gugusan pulau disana terdapat tanah lapang dan ditengahnya terdapat madu, dari sanalah timbul kata “maddu e ra-arah” yang berarti madu di tanah lapang. Putri tersebut melahirkan generasi pertama orang Madura, kelak putrid tersebut disebut sebagai ratoh oleh orang Madura.

Dari sana berkembang sebuah pemahaman bahwa seorang penguasa atau pemimpin Madura disebut Ratoh dan bukan Raja. Maka kemudian memang tercatat dalam sejarah orang Madura bahwa Madura dipimpin oleh seorang ratoh, walaupun ia adalah seorang laki-laki, ratoh tidak membedakan seks yang melekat pada diri sang pemimpin walau ia adalah seorang laki-laki atau seorang wanita tetap sja ia akan dipanggil oleh Madura sebagai ratoh, walau kebuadayaan Islam masuk ke pulau Madura dan member gelar pemimpin Madura sebagai Sultan, tetap saja orang Madura memanggilnya sebagai ratoh.” Sultan Abdurrahman Ratoh sumenep” ungkapan itu akan kita temui jika kita bertanya tentang siapa penguasa Madura paling terkenal di sumenep,sebuah kabupaten paling timur di pulau Madura. Ada pula 4 orang yang wajib dihormati oleh orang Madura yanga ada dalam ungkapan “Bebak, bebuk, guruh, ratoh” yang artinya Bapak, Ibu, Gru, dan Ratu (Penguasa). Raja tidak masuk dalam hitungan yang empat tadi, karena mereka memang tidak ada dalam khazanah Madura.

Dari legenda Putri tersebut juga menimbulkan bentuk penghormatan orang Madura terhadap perempuan. Mereka menempati derajat yang tinggi dalam budaya orang Madura. Sehingga jangan anda coba-coba mempermainkan perempuan Madura, atau coba-coba menjalin affair dengan istri orang Madura, jika anda tetap nekad, harga yang anda harus bayar terlalu mahal, karena nyawa andalah yang menjadi harganya. Sedikit sadis memang tapi itulah bentuk apresiasi orang Madura terhadap perempuan.

Iklan
Komentar
  1. ardi berkata:

    salam kenal ya saya tertarik sekali shering budaya madura apa lagi tentang Ratoh ada gak referensi atau buku-buku manuskrip tentang budaya ratoh sendiri atau tulisan budaya madura selain ratoh? saya tertarik dengan budaya madura

  2. Ihsan Maulana berkata:

    ada tulisan desertasi mahasiswa Amerika tentang budaya Madura, Kiai, dan bangsawan. Bukunya ada di perpustakaan IAIn Sunan Ampel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s