Review Studi al-Qur’an al-Shabuny

Posted: Januari 9, 2008 in Kitabe Cak
  1. Identitas Kitab:

Nama                     : al-Tibyan fi ulum al-Qur’an

Penulis                   : Muhammad ‘Ali al-Shabuny

Penerbit                 : ‘Alam al-Kutub, Beirut

Tahun Terbit         : 1985 M/1405 H

Tebal                     : 239 halaman.

 

  1. Sekilas al-Tibyan

 

Kitab ini dibuat dengan tujuan sebagai buku panduan dasar bagi mahasiswa Fakultas Syariah dan Dirasat Islamiyah Universitas Ummul Qura Makkah, sebagaimana dikemukakannya dalam mukaddimah yang ditulis di awal kitab.

Isi kitab ini terbagi menjadi Sembilan pasal (chapter), masing-masing pasal memiliki perhitungan yang sejajar. Hal ini didasarkan asumsi bahwa halaman dalam satu pasal hampir sama dengan pasal lainnya. Kitab ini berisi tentang ilmu-ilmu al-Qur’an, dan memulai pasal satu tentang pengertbeliaun ilmu-ilmu al-Qur’an. Berbeda dengan kitab-kitab Islam klasik abad pertengahan, kitab ini telah memakai penulisan buku secara modern. Memakai footnote, tanda baca (titik koma) dan gaya bahasa akademik yang lugas. Hal ini tidak luput dari background penulis yang menjabat sebagai dosen di Universitas Ummul Qura-Makkah. Tapi dalam khazanah keilmuan Islam beliau tidaklah dapat digolongkan sebagai Mushannif jika merujuk pada kitab ini, tapi lebih cocok disebut sebagai Muallif atau memakai bi qalam yang lebih umum. Karena beliau hanya bersifat mensistematisir pengetahuan yang ada dan bukan tulisan asli yang tidak bergantung pada tulisan Ulama’ lainnya.

Tidak ada yang baru dari kitab ini, beliau hanya menjelaskan istilah-istilah yang muncul dalam ulum al-Qur’an dan menjelaskannya secara gamblang. Melihat al-Tibyan, seperti memutar balikkan mitos yang selama ini menghinggapi kita bahwa ulum al-Qur’an adalah hal yang sulit atau mungkin sebaliknya yaitu penulis menulis kitab ini karena banyaknya para mahasiswa yang tidak tahu istilah-istilah yang bertebaran dalam bidang Ulum al-Qur’an sehingga al-Shabuny tertarik untuk menulis sebuah risalah yang ringkas dan tidak bertele-tele.

  1. Review al-Tibyan

 

Pasal pertama, al-Shabuny memulai dengan menjelaskan tentang epistemology ulum al-Qur’an, beliau tidak memilih untuk berbeda pendapat dengan para Ulama kebanyakan, beliau mengungkapkan apa yang telah biasa disebutkan oleh Ulama Islam yang lain yaitu ulum al-Qur’an adalah segala imu yang berkaitan dengan al-Qur’an baik dari segi turunnya, pengumpulannya, tertibnya, pengetahuan asbab al-nuzul, makkiyah atau madaniyah, nasikh dan mansukh, ayat muhkam dan mutasyabih, dan semua hal yang berkaitan dengan al-Qur’an. Hal itu beliau lanjutkan dengan hal seputarnya seperti definisi al-Qur’an, keutamaan al-Qur’an dan keutamaan para Pelajar dan Pengajar al-Qur’an, nama-nama al-Qur’an, serta menjelaskan ayat pertama dan terakhir yang turun.(7-18)

Pasal kedua, berisi tentang asbab al- nuzul, di sini beliau menjelaskan apa itu asbab al-nuzul, faidah-faidahnya, cara mengetahui asbab al-nuzul, kemudian pula dijelaskan apakah ayat yang mempunyai asbab al-nuzul itu bermakna umum sesuai lafadnya atau dengan kekhususan sebab turunnya.(19-30)

Pasal ketiga, al-Shabuny meneruskan tulisannya dengan penjelasan hikmah diturunkannya al-Qur’an secara terpisah, hal ini mungkin karena beliau melihat sangat banyak hikmah diturunkannya al-Qur’an secara terpisah dan bukannya secara paket. (31-47)

Pasal keempat, Dosen Ummul Qura ini memilih pengumpulan/pembukuan al-Qur’an sebagai pembahasannya. Dalam hal ini beliau sedikit berbeda dengan Ulama’ yang lain yang biasanya memulai periode pengumpulan al-Qur’an pada masa Abu Bakar, al-Shabuny menelisiknya hingga pada masa Rasulullah, dengan menjelaskan bahwa pengumpulan al-Qur’an pada masa Rasul dilakukan dengan menghafalkannya dan meletakkannya di hati, dan cara lain yaitu dengan cara menuliskan setiap ayat yang turun atas perintah Nabi.

Setelah pengumpulan al-Qur’an pada masa Rasul, kemudian beliau melanjutkan penjelasannya dengan menceritakan pengumpulan al-Qur’an pada masa Khulafa’ al-Rasidun. Mulai periode Abu BAkar hingga masa Ustman,kemudian juga menyinggung perbedaan antara pengumpulan al-Qur’an pada masa Abu Bakar dan pada masa Ustman, beliau menyebutkan jika pada masa Abu Bakar pengumpulan al-Quran dilakukan karena banyaknya para huffad yang meninggal. Pembukuan dilakukan agar al-Qur’an tidak hilang walaupun hanya se-ayat. Sedangkan pada masa Ustman dilakukan dengan cara menyalin mushaf yang disusun pada masa Abu Bakar, hal ini oleh Ustman dilakukan setelah melihat daerah kekuasaan Islam yang begitu luas dan membutuhkan panduan mushaf al-Qur’an, sedangkan salah satu sebabnya adalah terjadinya perbedaan bacaan al-Qur’an di kalangan umat Islam. (49-61)

Pasal kelima, berisi penjelasan tentang tafsir dan mufassir. Dalam pasal ini, al-Shabuny tidak menjelaskan epistemologi tafsir dan mufassir, hal ini mungkin karena beliau menganggap para mahasiswanya telah mafhum tentang apa yang dimaksud tafsir dan Mufassir. Tapi walaupun begitu, penjelasan beliau tentang tafsir dapat kita temukan dalam perbedan antara tafsir dan takwil. Sedangkan dalam hal penjelasan mufassir generasi awal beliau letakkan pada pasal berikutnya yaitu pasal keenam.

Dalam hal tafsir beliau memberikan bagian (space) tersendiri dalam mengklasifikasikan tafsir dalam tiga jenis; tafsir bi al-riwayah, tafsir bi al-ra’yi dan tafsir bi sl-isyarah. Di bagian pertama yang ada di pasal kelima ini beliau memulainya dengan pendapat-pandapat Ulama’ yang mendukung tafsir bi al-riwayah, kemudian juga beliau menjelaskan metode penafsiran bi al-riwa>yah. Adapun bagian kedua dan ketiga, beliau jelaskan pada pasal-pasal berikutnya. (63-75)

Pasal keenam, beliu bercerita tantang para Mufassir al-Qur’an yang hidup pada masa Tabi’in, disini Ali al-Shabuny berpendapat bahwa pada masa itu para Mufassir terbagi pada tiga tabaqah (madhab); ahlu Makkah, Ahlu Madinah, dan Ahlu Iraq.(77-88).

Pasal ketujuh, berisi tentang kemukjizatan al-Qur’an, layaknya Ulama’-Ulama’ lain, al-Shabuny juga melihat kemujizatan al-Qur’an dari segi kebahasaan; kefasihan dalam kata, kandungan sastra dalam makna, dan nadam badi’ yang dipakai al-Qur’an, Kabar yang telah lalu, dan kabar yang akan datang, dst. beliau juga menyinggung paham al-shirfah yang dianut sebagian pemikir mu’tazilah dan syi’i. (90-128).

Pasal kedelapan, mukjizat-mukjizat al-Qur’an dalam sudut pandang ilmiah dijadikan terpisah oleh al-Shabuny dengan kemukjizatan yang lain. Alasannya mungkin karena al-Shabuny melihat betapa ilmu pengetahuan dan science mengalami perkembangan yang luar biasa sehingga mukjizat dari sisi science harus mendapatkan tempat lebih yang beliau terjemahkan dengan memberinya pasal tersendiri. (129-153)

Sebelum sampai pasal kesembilan, beliau memilih menjelaskan terlebih dahulu tentang bagian kedua dari macam-macam tafsir, seperti diketahui pada pasal kelima Ali telah menjelaskan bagian yang pertama, dan setelah pasal kedelapan, beliau melanjutkannya dengan tafsir bi al-dirayah.

Beliau tergolong moderat dalam menyikapi tafsir bi al-dirayah, beliau pada prinsipnya menyetujui tafsir bi al-ra’yi (nama lain tafsir bi al-dirayah) dengan syarat seorang mufassir bi al-ra’yi harus mengetahui terhadap seluk beluk bahasa Arab, dan hadis nabawi.

Beliau membagi tafsir bi al-ra’yi pada dua macam; pertama, tafsir madmum, kedua, tafsir Mahmud. (155-170).

Bagian ketiga, beliau menjelaskan tentang tafsir al-isyari dan tafsir-tafsir gharib. Beliau memulai dari penjelasan tentang apa yang dimaksud tafsir isyari, syarat-syaratnya, pandangan Ulama’ terhadap jenis tafsir ini, dan melanjutkannya dengan tafsir gharib yang terutama banyak beredar dikalangan golongan syi’ah.

Disini akan sedikit kita sebutkan pendapat al-Shabuny tentang definisi tafsir isyari, beliau mengartikan tafsir isyari sebagai cara mena’wilkan al-Qur’an berseberangan dengan makna lahirnya. Hal itu bisa karena ilham Tuhan, hasil perenungan yang mendalam, orang yang arif bi Allah baik yang diperoleh dengan suluk ataupun secara otodidak. Hal itu dilakukan dengan mungkinnya memadukan isyarat dengan makna lahir ayat.

al-Shabuny memberikan lima syarat dalam menafsirkan al-Qur’an secara isya>ri, dbeliauntaranya adalah tidak menyalahi hukum syari’at dan logika berpikir.(171-177)

Baru setelah itu beliau menyoroti tafsir-tafsir gharib yang banyak bertebaran terutama diberbagai kalangan syi’ah; istna ‘asyara, batiniyah, dll yang selama ini menjadi klaim golongan tersebut dalam menjustifiksai paham yang dianut.(181-187)

Pasal kesembilan, Ali al-Shabuny menjelaskan tentang turunnya al-Qur’an dalam tujuh huruf dan tujuh bacaan yang termasyhur. Seperti diketahui bahwa bangsa Arab memiliki begitu banyak dialek bahasa yang masing-masing qabilah memiliki dialek yang khas, dan al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab agar orang Arab bisa mengerti akan kandungan al-Qur’an maka kemudian dipilihlah tujuh bacaan yang termasyhur dalam sosiolinguistik orang Arab yang menurut al-Shabuny memiliki faidah tersendiri yaitu diantaranya; pertama, agar masyarakat Arab mengerti tentang kandungan al-Qur’an, kedua, sebagai bukti tentang kemukjizatan al-Quran karena bagaimana mungkin seorang Quraish menguasai tujuh macam bahasa terkenal arab padahal Nabi adalah seorang yang tidak bisa baca tulis. ketiga, sebagai salah satu cara Allah menjaga al-Qur’an.(215-237)

Iklan
Komentar
  1. kasorimujahid berkata:

    matur nuwun, syukron atas ilmunya semoga manfaat

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Sama-sama. semoga bisa jadi manfaat bagi semua. Dan semoga tidak lekas berpuas diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s