Review al-Milal wa al-Nihal II: Filosof

Posted: Januari 25, 2008 in Kitabe Cak

Setelah kita membicarakan tentang isi kitab al-Milal wa al-Nihal bab I yang berisi tentang kepercayaan-kepeceryaan yang ada di sekitar Asia Tengah, Asia Barat, Asia Selatan dan Asia Utara, mulai dari kelompok yang percaya terhadap adanya zat pencipta hingga yang tidak percaya dan menganggap semuanya sebagai sebuah kejadian alam saja, dari yang percaya terhadap monism hingga yang percaya terhadap banyak Tuhan (lebih lengkapnya lihat review al-milal wa al-nihal bab I). Al-Syahrastani melanjutkan bab keduanya dengan membicarakan para Filosof mulai dari filosof Yunani yang menjadi permulaan dunia filsafat di seluruh dunia hingga beberapa komentatornya di dunia Islam pertengahan. Review ini masih ditulis oleh Hilal al-Najmi, seorang Tuan Guru dari Kalimatan. Berikut adalah review kitab al-Milal wa al-Nihal bab dua dimaksud.

BAB II PARA FILOSOF

  1. TUJUH FILOSOF

Berikut Syahrastani mengemukakan ajaran filsafat Romawi dan Yunani kuno secara berurutan dari buku-buku mereka sendiri. Ilmu filsafat lahir di daerah Romawi sedangkan di daerah-daerah lain hanya merupakan cabangnya.

  1. Pendapat Thales

Thales (624-550 SM) adalah filosof pertama yang dilahirkan di pulau Malta. Menurutnya alam semesta ada yang menciptakannya namun akal manusia tidak mampu menjangkau hakekatnya. Manusia hanya mampu mengenal jejak dan sifatnya, disamping itu manusia tidak mengenal keadaan Pencipta yang sebenarnya, dia juga tidak mengetahui nama-Nya. Dia hanya mengenal perbuatan-Nya dalam mencipta segala yang ada. Manusia tidak mengenal nama zat-Nya, bahkan manusia tidak mengenal dirinya sendiri.

  1. Pendapat Anaxagoras

Anaxagoras (611-548 SM) juga berasal dari pulau Malta. Pendapat tentang keesaan Tuhan mirip dengan pendapat Thales namun berbeda tentang asal muasal alam semesta. Katanya asal muasal segala yang ada adalah zat pertama yang bagian-bagiannya sama, ialah bagian-bagian yang halus dan tidak dapat dicapai oleh indra dan tidak dapat dijangkau akal, yang menjadi hakekat alam semesta baik alam atas mapun alam bawah.

  1. Pendapat Anaximenes

Anaximenes (588-524 SM) juga berasal dari pulau Malta (Miletos), ia dikenal dengan keluasan ilmu pengetahuannya dan kebaikannya. Menurutnya, Tuhan yang azali tidak berawal dan tidak berakhir. Dia adalah permulaan segala sesuatu yang tidak berawal. Dia maha mengetahui segala yang diciptakannya, tidak ada sesuatu yang mirip dengannya dan segala sesuatu berasal dari-Nya. Dia adalah esa, tidak sama dengan satu dalam jumlah karena dalam jumlah masih bisa ditambah dan dikurangi, sgala yang ada bentuknya dalam ilmunya yang pertama dan bentuk-bentuknya tidak akan berakhir.

  1. Pendapat Empedocles

Empedocles (495-435 SM) termasuk salah seorang tokoh filosof karena pandangan yang luas dalam ilmu fisika dan mampunyai budi pekerti yang mulia. Dia hidup sezaman dengan nabi Daud, pernah bertemu dan belajar dengan nabi Daud. Katanya Tuhan tidak diketahui hakekatnya, Dia ilmu semata, Dia kehendak semata, Dia Maha Pemurah, Maha mulia, Maha Kuasa, Maha Adil, kebaikan dan kebenaran dariNya, tidak ada sesuatu atau kekuatan yang mempunyai sifat yang seperti ini bahkan sifat adalah zatnya dan semua sifat yang diterangkan diatas ada pada zatnya. Dia adalah Pencipta dan bukan diciptakan dari sesuatu.

  1. Pendapat Phitagoras

Phitagoras bin Minsarahus berasal dari Samya (pulau Samos) yang hidup sezaman dengan dengan Nabi Sulaiman bin Daud dan ia pernah belajar dengan Sulaiman. Menurutnya Tuhan itu Maha Esa, Esa tidak sama dengan satu karena esa tidak termasuk angka (bilangan), hakekatnya tidak dapat dijangkau oleh akal dan indera, akal tidak mampu menjangkaunya dan sifatnya tidak mampu diuraikan bahasa. Karena tuhan mempunyai sifat-sifat rohaniah, zatnya tidak dapat dijangkau oleh indera, hanya yang mampu dijangkau adalah bekas perbuatan dan ciptaannya.

  1. Pendapat Socrates

Socrates putra Supranicus (470 SM) terkenal dengan keluasan pengetahuan dan kezuhudan di Athena. Menurutnya Tuhan adalah zat yang sangat halus keadaannya tidak diketahui. Apabila kita kembali kepada hakekat sifat dan mengakui adanya, kita temui bahwa akal dan pikiran tidak mampu menemukan hakekat dan nama Tuhan, Tuhan Maha Mengetahui sifat dan namanya.

  1. Pendapat Plato

Plato (490 SM) Ariston anak Aristocles yang berasal dari kota Athena, ia filosof terakhir yang masuk jajaran filosof (Yunani) belakangan yang terkenal dalam filsafat dan filsafat ketuhanan. Katanya alam ini diciptakan dan penciptanya wajib ada. Dia Maha Mengetahui segala yang ada sifatnya sama dengan sifat asalnya. Dia wujudnya tidak dapat dibayangkan baik bentuk maupun panjangnya.

  1. FILSAFAT AKIDAH (TEOLOGIA)

Yang termasuk filsafat akidah adalah para filosof kuno namun tidak ditemukan tulisan khusus dalam msalah ini, hanya ditemukan dalam kata-kata hikmah yang mereka ucapkan. Diantara mereka yang tergolong filosof akidah adalah para penyair yang mengungkapkan ajarannya dalam syair-syair namun tidak bersanjak seperti syair sekarang. Biasanya pokok pikiran dalam syair itu berbentuk khayal termnya (mukaddimah) tetapi ada juga yang bersanjak namun jumlahnya sedikit, syair-syair itu ada yang berupa hikmah (kata mutiara) ada juga yang sanggahan (argumentasi).

Kelompok kedua adalah para “ubbad” yakni orang yang mengkhususkan dirinya untuk beribadah namun ibadah mereka dalam bentuk ibadah akliyah bkan dalam bentuk ibadah badaniyah. Ada juga yang berbicara tentang penciptaan, yang sifatnya maha mengetahui dan mengenai ciptaan pertama yang menjadi asal muasal.

Adapun para filosof akidah ini adalah sebagai berikut :

Plutarch, Xenophanes, Zeno of Elea, Democritus, Akademikus, Heraklitus, Epicurus, Solon, Hippocrates, Democritus, Euclides, Patlemus dan Stoic.

  1. FILOSOF YUNANI MUTAAKHIR

Yang termasuk filosof Yunani muta’akhirin adalah Aristotales Bin Nicomakhus, Alexander, Dijujanus, Para Senator, Taupavistis, Pricles, Thamositlas, Alexander Aprodis danPorphyry

  1. FILOSOF MUTAAKHIRIN DAN FILSAFAT ISLAM

Ibnu Sina (Abu ‘Ali al-Husaini bin ‘Abdullah bin Sina)

  1. Logika

Menurut Ibnu Sina seseorang yang ingin mempunyai ilmu pengetahuan seyogyanya memiliki ilmu logika, fitrah manusia belum mampu membedakan macam-macam ilmu kecuali mendapatkan petunjuk Allah SWT karena itu bagi orang yang berpikir harus mempunyai kaidah (aturan) berpikir agar terpelihara dari kesalahan dan ini dilalui dengan ilmu logika. Logika yang benar adalah yang terdiri dari materi dan susunan kalimat yang benar dan menyakinkan. Yang terdiri dari komposisi, kias, unsure, bentuk dan kesimpulannya.

  1. Ketuhanan

Pembahasan masalah ketuhanan dijelaskannya dalam sepuluh masalah, yaitu mengenai wujud, jauhar jasmaniyah dan strukturnya, , macam-macam illat, taqadum, taakhur, qadim, hadits, maddah, universal dan pertikular, wajib al wujud bi zatihi dan wajib al wujud bi ghairihi, wajib al wujud adalah akal, zat yang tunggal, inayah dan hari akhirat.

  1. Material (Benda)

Pembicaraan masaah materi (benda) dibaginya kedalam 6 masalah, yaitu :

  1. Gerak dan diam, ruang dan waktu, ketunggalan dan keragaman, arah, berdempetan, bergabung dan berurutan.

  2. Tabi’I dan yang bukan tabi’I, satu unsur dan beberapa unsur.

  3. Unsur materi.

  4. Jiwa (nafs) dan kekuatan-kekuatannya.

  5. Jiwa manusia

  6. Kala nazari dari sifat dirinya kea lam wujud, keadaan khusus roh (jiwa) dalam mimpi yang benar dan dusta, berhubungan dengan alam gaib, penyaksian terhadap bentuk yang ada wujudnya di alam fisik. Makna nubuah, mukjizat dan kekhususannya.

Iklan
Komentar
  1. Al-Banjary berkata:

    Kitab yang di review oleh sdr. Hilal al-Najmi merupakan karya munomental dari seorang Sofi al-Syahrastany. Kitab ini juga sudah mulai langka ditemukan di masyarakat ataupun toko2 kitab.
    Review ini setidaknya memberikan satu pencerahan kepada ummat tentang pemikiran2 ulama klasik tentang pandangannya terhadap Zat yang Maha Pencipta. Semoga amal-dalam tulisan- saudara mendapat ganjaran dari Allah dengan di mudahkannya segala urusan, amien. Sukses…..!

  2. Ihsan Maulana berkata:

    amin juga al-Banjary. ya pokoknya bisa berguna buat orang lain. 😉

  3. denny berkata:

    “Phitagoras bin Minsarahus berasal dari Samya (pulau Samos) yang hidup sezaman dengan dengan Nabi Sulaiman bin Daud dan ia pernah belajar dengan Sulaiman.”

    pernyataan ini gak ada malunya nih? ngaku2 pernah belajar dari sulaiman ? sulaiman di mana Phitagoras di mana?
    sumber dan bukti dari mana?
    asal cuap nih!

  4. Ihsan Maulana berkata:

    itu adl kutipan dr Kitab al-milal wa al-nihal yang dikarang oleh al-Syahrastani melalui penelitian bertahun-tahun di daerah Asia Tengah, Asia kecil, Asia Barat, Asia Timur, Afrika dan Eropa.
    Sulaiman sendiri memiliki kerajaan yang meliputi Asia Tengah hingga negeri Balkhan mewarisi kerajaan dari ayahnya yang juga seorang Nabi. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s