Komunisme Bukan Musuh?

Posted: Februari 13, 2008 in pemikiran, Renungan

Pernyataan Pangdam V/Brawijaya tentang adanya beberapa orang atau kelompok yang terindikasi komunis, mengundang banyak reaksi dari berbagai kalangan. Apalagi tuduhan itu berkenaan dengan penyusupan pada bakal calon- bakal calon Gubenur Jawa Timur yang sebentar lagi dihelat. Protes berkisar pada seharusnya Pangdam V/Brawijaya tidak menyebar berita yang dapat meresahkan masyarakat dengan hanya menyebut “tersangka” yang tak jelas tapi seharusnya langsung ditunjuk siapa yang dicurigai, kalau orang siapa namanya, kalau kelompok, kelompok apa, dimana dan namanya apa? Bukan malah tebar ancaman berupa Komunisme yang dicitrakan sebagai hantu itu.

Yang jadi pertanyaan kita adalah benarkah Komunisme begitu menakutkan.hingga kita harus ketakutan mendengar kata Komunisme, jangankan untuk sejenak mau menengok apa sebenarnya komunisme, untuk mendengarnya saja imej menakutkan langsung hinggap di benak kita bahwa Komunisme adalah hantu menakutkan, bahwa Komunisme dipandang sebagai yang lain, sebagai musuh yang harus diwaspadai dan diperangi. Bukan saja mereka yang telah nyata terbukti menganut paham Komunisme tapi juga mereka yang hanya terindikasi menganut paham Komunisme. Ketakutan pada Komunisme juga menggiring sebagian diantara kita untuk mencap setiap ideologi kiri sebagai paham yang berafiliasi pada komunisme. Yang jadi pertanyaan betulkah Komunisme begitu menakutkan atau hanya kita yang takut pada bayangan?

Ketika orang menyebut kata komunis, yang terbayang adalah paham Atheis, Materialis (dalam arti yang sempit) dan selalu menghalalkan segala cara demi meraih tujuannya. Komunisme dalam imej sebagian kita juga bersanding erat dengan pemberontakan G.30 S/PKI yang biasanya oleh penguasa Orde Baru dulu digambarkan dengan pemberontakan yang sadis, penuh darah dan tidak berkeprimanusiaan. Atau lebih singkatnya sebagian diantara kita selalu mengidentikkan Komunisme dan Marxisme dengan PKI (Parta Komunis Indonesia).

Akan tetapi apakah pandangan seperti itu benar dan dapat dibenarkan? Komunisme adalah paham yang disebarkan oleh Karl Marx. Pada dasarnya Marx mengidamkan sebuah keadilan sosial dimana keadilan dapat terwujud, dimana kemiskinan dan penindasan tidak terjadi bahkan oleh Negara sekalipun. Titik puncak dari imajinasi Marx adalah masyarakat komunal dimana semua adalah berdasarkan sama rasa, sama suka dan sama bahagia.

Paham komunal ini kemudian dikenal dengan komunisme, sebelum menuju kehidupan komunal seperti itu sebelumnya ada beberapa tahapan yang dilalui oleh sebuah masyarakat dunia, pertama, Feodalisme, dimana para tuan tanah dan pemilik darah biru berkuasa dan menguasai alat-alat, kedua, Kapitalisme, dimana pemilik modal menjadi tuan bagi kaum proletat. Dan kaum proletat dalam pandangan ini tak lebihnya sebagai mesin untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya bagi kaum Capital, ketiga, Sosialisme, yaitu disaat semua control atas alat yang berkenaan dengan kepentingan publik dipegang dan dikuasai oleh Negara.

Di sini dalam pandangan Marxisme adalah titik untuk menuju kehidupan komunal, selanjutnya adalah Komunisme, yaitu dimana kehidupan komunal dapat dijalankan, dimana orang berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Dalam fase yang terakhir ini tangan Pemerintah sudah tidak dibutuhkan lagi karena masyarakat sudah terbebas dari ketidak adilan semua dilaksanakan oleh bersama dan untuk kepentingan bersama. Sebuah cita-cita yang mungkin belum pernah tercapai bahkan oleh Negara yang selama ini mengaku komunis sekalipun (tapi minimal mereka telah berusaha untuk ke arah itu).

Lalu bagaimana dengan cap bahwa komunis selalu menghalalkan segala cara untuk meraih keinginannnya dan meraih kekuasaan. Tentang hal ini, sejarah mencatat bahwa revolusi Rusia oleh Lenin memang banyak mengorbankan manusia terutama mereka yang menjadi symbol dari Feodalime dan Kapitalisme seperti para tuan tanah, penguasa-penguasa alat produksi dan pabrik serta para pemilik kekuasaan di kerajaan. Tapi Leninisme ini tidak mewakili Komunisme secara general, ia hanya satu varian saja dalam Komunisme. Orang Lenin sendiri pun bukan serta merta langsung mengahalalkan pertumpahan darah. Ia hanya boleh dilakukan dalam keadaan revolutif dimana pertempuran antara kekuatan kapitalisme bertemu dnegan kamu tertindas atau proletat.

Komunis gaya Cina tentu tidak bisa kita samakan dengan komunisme Uni Soviet, Komunisme Cina juga tidak bisa kita samakan dengan sosialime yang dianut Kuba dan Venesuela saat sekarang ini. Tapi yang terpenting dari paham komunisme adalah penentangan terhadap kesewenang-wenangan dan penindasan yang dilakukan oleh para pemegang kuasa dan modal terhadap masyarakat miskin.

Lalu bagaimana dengan tuduhan bahwa komunisme selalu atheis. Rujukan atas tuduhan ini adalah pernyataan terkenal Marx yang berbunyi,”agama adalah candu bagi masyarakat.”Kita katakan betul atas adanya statemen tersebut, tapi yang perlu kita garis bawahi bahwa pernyataan itu harus kita lihat akar historisnya. Pada masa Marx, gereja selalu jadi alat pelayan bagi kekeuasaan untuk melanggengkan kekuasaaan itu, dan fungsi gereja adalah dengan menstabilkan atau istilah kasarnya “meninabobokkan” para masyarakat miskin yang sebenarnya menurut Marx termapas haknya.

Doktrin-doktrin gereja saat itu bagi Marx tak lebih sebagai candu yang tidak dapat menjawab ketertindasan dari akar masalahnya an hanya membuat masyarakat diam tidak bertindak atas nasibnya yang terampas. Akan tetapi jika seandainya Marx hidup pada masa revolusi Iran, tentu Marx akan melihat bagaimana agama dapat menjadi spirit bagi sebuah gerakan melawan tirani.

Di Indonesia sendiri sentiment negative tentang Komunisme tak lepas dari propaganda Orde Baru untuk menindas lawan politiknya, setiap mereka yang menentang selalu ditakut-takuti dengan cap komunis. Sebuah pembersihan yang oleh Orde Baru didasarkan atas Tap MPR yang berisi ketakutan berlebihan.

Kalau boleh kita jujur, kita bangsa Indonesia berhutang terhadap teori Marxisme dan komunisme ini. HOS. Tjokro Aminoto, salah seorang pemimpin SI (Sarekat Islam) era awal adalah orang yang berpaham sosialisme relijius sebuah varian Marxisme, Mohammad Hatta juga orang yang berpaham Sosialisme Nasional, begitu juga Soekarno apalagi Tan Malaka yang terang-terangan mengaku sebagai seorang komunis. Semuanya yang disebut dan kita kenal sebagai founding father negeri ini adalah murid HO. Tjokro Aminoto dan merupakan orang-orang yang terpengaruh oleh Marxisme dan Komunisme tapi dengan teori Marx akhirnya mereka bisa mengantarkan Indonesia pada kemerdekaan.

Jadi kalaulah PKI, mempunyai dosa sejarah pada bangsa Indonesia, tak semestinya kita menghukum para orang-orang yang berpaham Komunisme. Karena tidak bisa hanya karena kesalahan satu dua orang atau kelompok tertentu maka kita menghukum semuanya. Jika umat Islam yang bersalah maka kita tidak boleh menghukum Islam sebagai sebuah ajaran, jika PKI bersalah tak semestinya kita menghukum komunisme sebagai ajaran.

Bukankah kita adalah Negara yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berekspresi yang bertanggung jawab. Tak seharusnya kita langsung mencap bahwa komunimse itu adalah musuh yang harus diberantas tanpa tahu terlebih dahulu apa itu komunisme.

Iklan
Komentar
  1. Dee berkata:

    Salam kenal..

    _dee_

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Salam kenal juga Dee 🙂

  3. noi berkata:

    sepakat!!
    hehehhh

  4. Ihsan Maulana berkata:

    Wah Noi ini main sepakat saja . 🙂

  5. kilatista berkata:

    saya sangat sepakat bung. persis tepat seperti apa yang disampaikan oleh bung karno dalam pidatonya “pancasila ideology is truly not anti-kom” [desember 1965] btw salam kenal bung

  6. Ihsan Maulana berkata:

    terima kasih telah b’sepakat. hal di atas karena masyarakat kita masih banyak yang paranoid pada komunisme

  7. […] menyebutnya sebagai sosialisme warung kopi. Setelah berdiskusi dalam secangkir kopi, mereka pun kembali tanpa harus menunggu […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s