Lumpur Lapindo dan Logika Dagelan

Posted: Februari 21, 2008 in Cangkruan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, ,

Beberapa saat yang lalu, DPR RI mengadakan paripurna yang membahas lumpur Lapindo Jaya. Tidak ada yang istimewa dari rapat para wakil rakyat ini kecuali logika menyedihkan berupa kesimpulan sebagian anggota paripurna yang mengatakan bahwa lumpur lapindo adalah fenomena alam yang mengandung konsekwensi hukum bahwa PT. Lapindo tidak bertanggung jawab atas hal itu.

Anak sepuluh tahun yang tahu sejarahnya saja akan bilang bahwa itu logika dagelan. Logika yang tidak memenuhi premis-premis logika. Sebodoh itukah anggota DPR kita?

Lumpur Lapindo, terjadi akibat terjadinya kebocoran saat mengebor gas di Sidoarjo, karena kebocoran itu maka lumpur gas yang ada di dalam bumi jadi keluar. Salah seorang kakek di Surabaya bilang bahwa ia punya naskah peninggalan Belanda yang menyebutkan bahwa daerah Porong sebenarnya adalah zona bahaya untuk dibor. Belanda saja tahu masak kita yang hidup belakangan malah jadi lebih bodoh. Apa sebgaian besar anggota DPR kita itu melek tapi tidak bisa melek, punya otak tapi tidak bisa mikir, disekolahin tapi tetap saja bodoh.

Anggota DPR memang pintar bersilat lidah, diajak silat sungguhan malah K.O. anggota DPR yang memang bukan fak-nya membahas gejala lumpur lapindo, malah membahas dan coba menentukan apakah lumpur lapindo adalah bencana alam atau human error.

Membahas tentang kemiskinan rakyat mereka malah tidak mengerti, membahas tentang penderitaan korban lapindo yang sudah dua tahun menderita mereka tidak bisa mengerti. Iya sih mereka berkunjung ke korban Lumpur Lapindo, tapi kayak kunjungan Raja ke kawula-nya. Kalau memang DPR peduli, cobalah Tim Penanganan Lumpur Lapindo yang dibentuk DPR menginap bersama pengungsi korban lumpur merasakan penderitaan mereka dan tidak mau pindah kecuali korban lumpur telah terbebas dari penderitaan. Lha, wong dulu Timnas Lapindo saja tidurnya di hotel berbintang yang ada di Surabaya Barat, rapat pun diadakan di kisaran hotel dan restoran. Bagaimana mereka bisa merasakan penderitaan korban yang tidak bisa berbuat apa-apa akibat kecerobohan Lapindo itu.

Sebenarnyakan hal itu mudah! Sita saja harta keluarga Bakri untuk membayar lahan yang tergenang lumpur, kalau Lumpur terus meluber atauyang biasa dikenal dengan ring tiga ya harus diyar juga dong. selesai toh. Kalau perlu tahan saja mereka agar tidak bisa kabur ke luar negeri. Lha, sekarang mereka malah dibiarkan menari, masih bisa naik mobil mewah, menikmati gaji pemerintah, dan tidur dengan nyenyak di rumah mewah. Sedangkan korban Lumpur hasil buah tangan mereka harus kedinginan di tenda pengungsian, anak-anak tkehilangan sekolahnya, para orang tua kehilangan mata pencahariannya.

Maaf jika saya kasar menulisnya. Habis saya kesel dengan Lapindo dan DPR yang tidak berpihak ke rakyat. Padahal mereka digaji untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebenarnya dunia politik itu kan dunia moral, apalagi mereka orang timur yang menjunjung tinggi kehormatan. Tapi kok tidak malu ya berlogika dagelan seperti itu?

Iklan
Komentar
  1. korbanlapindo berkata:

    Masalahnya, si Om sudah mengangkangi semua lembaga negara mas. Jadi semua manut aja apa kepentingan si Om ini. Perpres yang tidak berupaya menghentikan semburan dan memihak korban, keputusan DPR yang menurut sampeyan bak dagelan, juga keputusan pengadilan dan proses penyidikan polisi yang semuanya menguntungkan bisnis si Om Abu’jahal’ Bakrie ini.
    Mau apa lagi kami sebagai korban kalau sudah begini.
    benar2 ruwet bin bikin mules

    salam dari Sidoarjo

  2. Ihsan Maulana berkata:

    tapi penguasa yang seperti itu harus kita ingatkan. sehingga mereka tidak bisa semena-mena memperlakukan rakyat kecil. kita tidak ingin para penguasa yang kita pilih itu punya mata tapi tak bisa melihat, punya hidung tapi tak bisa mencium, punya telinga tapi tak bisa mendengar tangisan saudara-saudara kita korban lumpur lapindo.

    Satu hal lagi yang harus diingat, mereka kita pilih untuk mempejuangkan kepentingan kita, bukan kepentingan pemilik modal.

  3. advokatku berkata:

    penderitaan yg harus segera diakhiri tanpa kata “tapi”

  4. ihsanmaulana berkata:

    Setuju!!! “tapi” di tengah ketidakberdayaan, di tengah hilangnya asa, di tengah kerinngnya air mata. Kata”tapi” sangatlah penting untuk membangkitkan harapan yang hilang.

    Akan “tetapi” saya tetap setuju bahwa penderitaan harus diakhiri tanpa kata “tapi”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s