Ayat-Ayat Cinta dan Perjalanan Novel (komentar entah berantah)

Posted: Februari 25, 2008 in Cangkruan

Saya sebenarnya adalah orang yang sudah lama tidak baca novel. Novel terakhir yang saya baca sebelum ayat-ayat cinta adalah “The Da Vin Ci Code”, sebuah novel petualangan symbol-simbol yang menghebohkan dunia Eropa (mungkin karena merasa iman kristianinya terganggu), sebelum itu saya membaca “ Cantik Itu Luka” sebuah novel dengan corak merah (bukan merah itu cinta).

Sebelum itu dan termasuk diantara novel pertama yang saya baca adalah” Di Bawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wick”. Dan novel “Ayat-Ayat Cinta” adalah novel terakhir yang saya baca tapi semoga bukan menjadi akhir saya membaca novel.

Saya tertarik pada novel dimulai saat saya membaca “Dibawah Lindungan Ka’bah”, novel tersebut berhasil membuat saya menitikkan air mata, menggugah jiwa agama saya yang saat itu saya masih kelas II MTs di Pesantren. Ketertarikan saya kemudian berlanjut pada novel lain Buya,”Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk”. Sebenarnya saya tidak tertarik dengan judul kapal Van Der Wick, karena saya menganggap apa menariknya tentang tenggelamnya sebuah kapal, tapi persepsi saya berubah saat saya membaca halaman-halaman awal novel tersebut yang bagi saya sangat memukau.

Khatam “Tenggelamnya Kapal Van Der Wick” membuat saya terus belingsatan membaca novel. Tapi saat itu saya tidak bisa mendapati novel-novel di perpustakaan pesantren. Maka saya pun mencari di tempat lain, yang akhirnya membuat saya terjebak untuk membaca novel-novel “bawah tanah” anak pesantren. Novel-novel Fredy S, terutama sangat mendominasi bacaan novelku bahkan beberapa diantaranya adalah novel stensilan tanpa dicantumkan siapa penerbitnya. Tidak seperti saat membaca dua novel pertamaku, bacaan-bacaan novelku kala itu membuat saya menjadi muak dengan novel-novel macam Fredy S, walaupun kadang membuat hasrat seksual saya tergugah. Tapi jujur hal itu kemudian membuat saya malas membaca novel hingga saya kuliah. Bahkan saya melakukan generalisir terhadap semua novel-novel ringan macam karya Marga T.

Puasa baca novel saya baru berakhir pada 2005, saat itu saya diundang oleh Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) untuk menerima nominasi Ahmad Wahib Award, sehari sebelum penjurian saya sudah sampai Ciputat, pasca penjurian, saya harus menunggu satu minggu untuk menerima anugerah Ahmad Wahib Award 2005, pada saat itulah karena buku milik teman-teman adalah buku-buku berbahasa inggris yang saya kurang paham dan hanya ada satu yang berbahasa Indonesia yaitu novel” Cantik Itu Luka” membuat saya tak ada pilihan lain selain membaca novel tersebut.

Tapi saya tidak menyesal karena dengan membaca novel tersebut saya mempunyai pandangan dari sisi lain, bahkan hal yang menurut saya sebelumnya tabu yaitu seks dan sisi lain komunis. Setelah itu hal yang sering saya baca adalah novel-novel kiri yang biasanya berisi tentang imajinasi yang tak terjinakkan.

Pada 2007 saat saya bekerja di Glocal, saya mendapati seorang teman saya menulis tentang fenomena ayat-ayat cinta, saya sebenarnya tidak reflek terhadap novel seperti itu karena saya melihat pasti isinya kaku, tidak menarik dan kurang bisa mengeksploitasi imajinasi. Tapi sangkaan saya itu ternyata salah, novel ayat-ayat cinta minimal telah menggugah jiwa agama saya, hampir sama saat saya membaca novel dibawah lindungan ka’bah milik Buya Hamka.

Bedanya, saat saya membaca Di Bawah Lindungan Ka’bah, saya ingat dengan cerita cinta ala santri yang hidup di desa dengan seorang gadis desa yang memang pas dengan kondisi saya yang saat itu memang hidup di pedalaman desa, Di Bawah Lindungan Ka’bah telah membuat saya rajin membaca kitab-kitab kuning dan membaca buku-buku tasawuf, membuat sorang Ihsan menjadi seorang kutu buku.

Adapun ayat-ayat cinta dapat menggugah paham fiqh keagamaan saya yang telah luntut akibat beberapa pertarungan paham yang ada dalam diri saya yang saya dapati dari membaca buku-buku yang berjuta warna. Nocel ini juga membuat saya merasa mendapatkan teman akan paham seks saya yang demikian tertutup, saya tetap tidak mengahalalkan seks di luar pernikahan, di tengah kehidupan kota yang malah mengeksploitasi kehidupan seksual.

Membaca ayat-ayat cinta, membuat saya tergugah dan kembali sadar akan paham asal yang mulai kendur yang semakin terjebak pada paham-paham popular.

Tapi saya bukan Fahri yang bisa sedemikian kuat mempertahankan keimanannya, saya juga bukan Fahri yang sedemikian teguh memegang hukum bahkan terkesan kaku, saya hanya seorang Ihsan yang kadang lupa diri, saya juga bukan Fahri yang punya keimanan yang sedemikian teguh walau kami sama-sama kuliah S2 agama walau tidak sebergengsi ia yang kuliah di Al-Azhar Kairo, saya juga bukan Fahri yang bisa mengahasilkan banyak lembar terjemahan setiap harinya walau saya juga suka menulis. Tapi seorang Fahri dengan sedikit permak tampaknya bisa menjadi stereotip tentang seorang Ihsan yang ideal. Amin

Dan rupanya versi filmnya sendiri, walau tidak seindah imajinasi yang saya bangun waktu membaca edisi novelnya, telah cukup mewakili isi novel. Karena harus diakui banyak ketrebatasan yang bisa ditampilkan dalan versi film, diantara keterbatasan itu misalnya pengambilan tokoh domestik untuk mengisi karakter Mesir, menurut saya seharusnya mengambil tokoh-tokoh native agar lebih berkesan.

Tapi keterbatasan film ayat-ayat cinta dapat ditutupi dengan suasana yang dibangun dalam film ditambah dengan lagu karangan Melly yang mendayu-dayu saat dibawakan Rosa, membawa hati pada suasana sendu sekaligus tersentuh dan terkuatkan.

Iklan
Komentar
  1. imey berkata:

    san, ni imey yg di FS ( km pasti lupa km kan banyak bgt temen namanya imey kan,)aku imey yang disiantar. mau tanya, kamu dapet novel ayat-ayat cintanya dimana? aku kehabisan nih, bisa bantuin aku cari ga? ntar digantiin deh. kykynya seru bgt tuh novel.cape bgt carinya ga dapet2.bisa ya?

  2. Saiful berkata:

    Assalaamu’alaikum wr. wb.

    Saya mau tanya tentang dua novel yang Anda sebut, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wick. Anda mendapatkannya dari mana? Saya coba cari di toko buku sampai kios buku bekas novel itu sudah tidak ada. Mungkin Anda punya versi pdf-nya? (Mau minta nih…;-) Boleh?). Saya sangat penasaran dengan novel tersebut.

    Terima kasih sebelumnya atas info-nya.

    Wassalaamu’alaikum wr. wb.

  3. Ihsan Maulana berkata:

    terima ksaih buat imey dan mas saiful.
    untuk imey. sudah saya jawab di friendster Anda. sedangkan untuk mas saiful, saya lihat novel itu di perpusda Jawa Timur dana juga saya pernah menemukannya di pasar buku bekas di Blauran Surabaya. akan tetapi jika Anda ke Blauran, coba Anda tawar. mungkin sepuluh ribu sudah dikasih kok. o ya versi pdf-nya saya tidak punya.

  4. hilal bin rabbah berkata:

    filmnya tak sekelimaks bukunya.buku bisa membawa kita kepada imajinasi si pemeran.terutama pada tokoh Fahri. tapi bugus kok

  5. Ihsan Maulana berkata:

    filmyan memang agak mengecewakan, tapi hal itu bisa dimaklumi dari waktu syuting Hanung yang hanya sebulan dan dengan dana pas-pasa.
    keberanian hanung, tentu harus kita apresiasi.

  6. nurul suhara berkata:

    assalamualaikum,

    I’m from Malaysia. I interested in the novel ‘TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJK’. How can I get the novel in Malay version?

  7. Ihsan Maulana berkata:

    wa’alaikum salam nurul!
    kalau dalam versi malaysia saya tidak tahu, tapi sepertinya yang beredar di Malaysia dan Indonesia sama saja deh. kalau di Indonesia, insyaAllah kita bisa menemukannya di toko buku dan perpustakaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s