Filsafat Mati

Posted: Maret 1, 2008 in pemikiran, Renungan

Siapa yang tak tahu mati, siapa pula yang coba mengingkari. Kita semua percaya bahwa kematian itu akan selalu ada. Dia akan datang pada setiap jiwa yang hidup tanpa terkecuali. Apa yang hendak kita katakan jika kematian mendera, apa yang bisa kita katakan saat kematian menjemput.

“bila waktu telah berlalu, teman sejati hanyalah angan, bila waktu telah terhenti teman sejati tinggallah sepi.”

Lagu Opick di atas dengan tepat mengambarkan bagaimana sebuah kematian akan datang menghinggapi seluruh jiwa. Mati, tidak tahu kapan ia akan datang, bisa 40 tahun lagi, 20 tahun lagi, setahun lagi, sebulan lagi atau bisa beberapa saat lagi. Tak ada yang mengerti, tak ada pula yang tahu, semuanya terkesan misterius, sedikit mencekam bagi sebagian orang tapi adakalanya dinantikan oleh sebagian yang lain.

Prosesi perpisahan badan dan ruh ini sebenarnya menjadi bahasan sejak ribuan tahun silam, ia bersanding erat dengan kematian manusia pertama di bumi. Cerita tentang kematian bermula dari sini,  apakah hidup hanya demikian adanya. Mati dan tidak hidup lagi, sedemikian singkatkah? Banyak cerita dibangun dari kenyataan ini, mulai dari yang sifatnya dialektika mistis hingga dialektika materialis.

Dialektika mistis yang dipahami oleh orang materialis batau naturalis bermula dari cerita tentang kematian yang terjadi pada suku primitive, cerita ini berangakat dari penelitian etnografi yang dilakukan oleh ilmuwan barat pada suku-suku marjinal yang ada di benua Amerika. Di sana mereka menemukan sebuah fakta bahwa cerita ruh bermula dari kematian yang terjadi pada anggota kelompok suku, konon, saat kematian biasanya akan datang seekor rusa. Rusa tersebut sebagai perwujudan dari ruh badan yang telah meninggal.

Konon dalam kepercayaan suku nomaden tersebut diceritakan, jika kita bisa membunuh rusa yang datang pada waktu kematian maka orang yang sudah meninggal dapat hidup kembali. Tapi untuk menghindari hal ini sang dukun kemudian membuat aturan-aturan ketat tentang syarat pembunuhan si rusa jelmaan, diantaranya harus dibunuh secara langsung saat rusa tersebut terlihat  pada waktu kematian, selain itu pula dibuat ciri-ciri rusa dimaksud yaitu rusa adalah rusa yang tinggi besar melebihi rusa biasanya.

Cerita di atas menjadi makanan empuk bagi para ilmuwan barat yang memang beraliran materialis untuk menjustifikasi bahwa dunia kehidupan setelah mati hanyalah mitos semata. Tak masuk akal dan hanya khayalan orang primitif.

Lain kamu metrialis, lain pula orang penganut paham mistis. Mereka meyakini akan adanya kekuatan di luar diri manusia yang mengatur kehidupan. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa kuno, jiwa yang mati akan berada dekat dengan raga yang mati selama tujuh hari, ia tetap hidup di dunia sekitar kita berbagi dengan kita. Ceriat ini kemudian menimbulkan cerita hantu pada masyarakat Jawa kuno. Konon setelah tujuh hari itu dan setelah jiwa melayang-layang, jiwa akan ditarik ke alam nirwana berdasarkan amal perbuatan yang dikerjakan pada waktu di dunia.

Rata-rata kepercayaan timur memepercayai bahwa ada kehidupan setelah mati. Mulai Hindu di India, Budha juga, Zoroaster di Persia, pemuja matahari di Jepang dan Mesir, bahkan Islam yang hadir di Semenanjung Arabia.

Dalam Islam disebutkan bahwa kematia adalah pintu ke kehidupan lain. Kedudukannnya sama dengan perpindahan kehidupan di rahim ke kehidupan di dunia. Jadi orang yang mati adalah orang yang hidup kembali di alam barzah. Sebuah alam yang ada setelah alam dunia dan sebelum alam akhirat.

Tapi berbeda dengan kepercayaan Budha yang mengatakan bahwa manusia yang belum mencapai kesemournaan, ia akan bereinkarnasi pada kehidupan berikutnya hingga ia mencapai kesempurnaan. Islam menyatakan bahwa kehidupan setelah mati adalah panen atas apa yang ada di dunia. Tak ada remedial bagi mereka yang tidak bisa menanam dengan baik di dunia. Tak ada pengulangan waktu, tak ada pula reinkarnasi. Jadi menurut Islam, kesempatan kita hanyalah saat sekarang ini.

Ada seorang teman bertanya,”apa bukti jika ada kehidupan setelah di dunia ini?”, saya bilang tak ada bukti empirik yang ditemukan karena memang kehidupan di alam barzah adalah kehidupan alan jiwa. Tapi saya meneruskan jawaban saya,”jika memang akhirat itu tidak ada saya tidak akan rugi karena mempercayainya, tapi jika akhirat itu ada, mungkin saya orang yang beruntung.”

Iklan
Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s