Penataan Ulang Pemahaman Niat

Posted: Maret 28, 2008 in pemikiran, Renungan

niat.jpgKata niat sering kita dengar, bahkan ia termasuk kosakata arab yang telah lama diserap dalam bahasa Indonesia bersamaan dengan kata kursi, pondok, dll.

Niat dalam kalangan awam, seringkali diartikan landasan untuk berbuat atau tujuan awal pebuatan itu dilakukan. lalu bagaimana pula kedudukan niat dalam agama islam? islam memandang niat sebagai satu komponen yang sangat penting dalam mengerjakan sesuatu, Muhammad SAW berkata,” sesungguhnya perbuatan manusia itu tergantung niatnya.” hadis ini ada yang mengatakan sebagai hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak dan telah mencapai derajat mutawatir (suatu derajat dimana seuatu hadis dijamin kebenarannya), tapi ada pula yang mengatakan hadis ini adalah hadis ahad dengan klasifikasi sahih (dimana semua periwayatnya dijamin tidak pernah berbohong dan memiliki budi pekerti yang baik lagi mempunyai memori yang kuat).

Hadis itu kemudian menjadi pijakan para umat islam agar menata niat dalam setiap perbuatannya, tanpa terkecuali. perbedaan tentang kedudukan niat dalam proses ritual horisontal dan ritual vertikal, mulai tercatat sejarah sejak zaman dinasti Abbasiyah masa awal, imam malik yang bersala dari madinah mengatakan bahwa kedudukan niat ini hanya untuk keutamaan saja, hal ini dibantah oleh imam syafi’i, seorang mujtahid dari irak yang jga tercatat pernah menjadi murid Malik dengan mengatakan bahwa niat adalah syarat utama sah atau tidaknya sebuah ritual dalam islam. tapi apapun itu mereka percayabahwa niat adalah hal yang penting.

Lalu apa arti niat itu sendiri?secara bahasa disebut dengan al-qashdu (menyengaja atau maksud) ada pula yang mendefinisikannya sebagai al-azmu ‘ala syain (menetapkan atas sesuatu), sedangkan secara terminologi kebanyakan ulama Islam bersepakat bahwa niat adalah qashdu asy-syai muqtarinan bi fi’lihi. (menyengaja berbarengan dengan apa yang dikerjakannya). yang jadi persoalan, adalah pemahaman sebagian santri yang menganrtikan qashdu asy-syai dengan perkataan dalam hati yang dilakukan bersamaan dengan yan dilakukannya, lewat para sebagian pengikut syafi’iyah, para santri tadi kemudian lebih memperketat lagi masalah niat dengan mengatakan bahwa kereteke ati itu harus dilakukan di awal kali kita berbuat, jika shalat berarti pada waktu takbiratul ihram, jika berwudlu’ maka pada waktu membasuh muka (hal ini tidak berlaku untuk ibadah puasa yang harus berniat sejak malam harinya).

Para santri tadi kemudian juga menetapkan syarat bahwa apa yang disebut kereteke ati tadi haruslah bersamaan dengan takbiratul ihram yang tidak terputus dan tidak terlalu panjang, ada pula yang menyebut bahwa pada waktu niat tersebut rukun ibadah haruslah hadir dalam hati. dampaknya kita yang pengalaman di pesantren akan melihat sebagian santri, mengulang-ulang takbiratul ihramnya, ada yang membaca takbiratul ihram pendek dan berulang-ulang hingga belasan kali, ada pula yang mengulang-ulang takbiratul ihram dengan lafal yang sangat panjang dan berulang-ulang, jika pada ritual wudlu’, maka mereka akan mengulang-ulan membasuh muka hingga belasan kali hanya untuk sebuah perkataan hati yang mereka sebut niat.

Istilah perkataan hati ini dari mana? asalnya adalah dari arti kata yang diberikan oleh kita dan para kyai lain saat mengajari para santri bahwa arti kata qashdu asy-syai adalah kereteke ati, para santri yang tidak kritis kemudian menerjemahkannya sebagai perkataan hati, padahal yang benar tidaklah demikian. yang penting kita sadar akan apa yang kita lakukan maka ritual itu telah sah. jika kita sadar sejak awal jika kita shalat ashar, maka shalat asahr itu telah sah, begitu juga yang lain.

Mengapa demikian, karena perbuatan manusia itu terbagi pada dua;pertama, idtirari; kedua, ikhtiyari. pebuatan idtirari itu adalah perbuatan yang kita tidak kuasa akannya, kita melakukannya karena terpaksa dan harus seperti itu, tanpa kehendak hati kita, seperti jatuh, tertabrak (naudzubillah), tercium, dll. hal itu tidak mempunyai konsekwensi hukum. sedangkan perbuatan ihktiyari adalah perbuatan yang bersamaan dengan kehendak sadar kita. seperti kegiatan menulis yang kita lakukan dengan sadar, membaca dengan sadar, beribadah dengan sadar. perbuatan tipe yang kedua inilah yang mempunyai konsekwensi hukum di mata Tuhan.

Dari itu seharusnya niat itu didefinisikan sebagai berikut,”mengerjakan sesuatu dengan sadar.” jadi apapun itu jika dikerjakan dengan sadar maka perbuatan itu telah sah di mata Islam.

 

Iklan
Komentar
  1. Lukman berkata:

    Boz,ane heran ama nt,imam 4 ilmunye udah diakui umat,kite yg ilmunye blm sberape bikin definisi baru? Ancur dong boz,makanye santri itu yg bener,ambil 1 dari yg 4,masa sih sekelas imam syafi’i nt bantah,imam nawawi,ibnuhajarasqolani,ibnuhajaralhaitami,assuyuti dll yg ilmunye seabreg kagak bikin definisi baru,mreka ikut definisi syafi’i,santri juga kaya mereka boz.

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Buat lukman terima kasih atas kritikannya. saya tidak menyalahkan mereka, tidak pula menentang mereka. akan tetapi yang perlu pemahaman ulang adalah pemahaman kita akan niat dan cara kita memandang niat. kritik saya didasarkab atas pendapat mereka dan kenyataan prakteknya pada masa kita

  3. i-dusdotcom berkata:

    pendapat antum bikin kacau, ikuti pendapat imam yang 4.

  4. Ihsan Maulana berkata:

    hehe, i-dusdotcom, sabar dulu ya…. coba baca lagi dan nanti kita berdialog. Bagaimana? Insyaallah itu lebih bijak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s