Saatnya ”Rakyat Hidup” bukan “Hidup Rakyat!”

Posted: Mei 12, 2008 in Cangkruan, pemikiran

Hidup rakyat!, Hidup Buruh!, Hidup Orang Miskin! dan hidup-hidup yang lain sering kali kita dengarkan. Bahkan saya sendiri sebenarnya dulunya adalah penganut madhab ini, berada di bawah terik matahari, di jalanan panas, dipentungi petugas yang memang ditugasi sebagai centeng oleh orang yang kita pilih sendiri sebagai pemimpin. Lama saya ikut demonstrasi-demonstrasi seperti ini dalam skala besar ataupun dalam skala kecil di Jawa Timur. Bahkan adakalanya giuran datang dari beberapa “pemain” untuk berunjuk rasa bukan atas nama nurani. Idealisme seperti dipertaruhkan dalam ombang-ambing “Tuhan” yang bernama demokrasi. Lama saya termenung, apakah ini semua menyelesaikan masalah?mungkin pada tahun 1998, saat penindasan begitu terasa dan saat kebebasan betul-betul dibutuhkan secara mendesak dan Soeharto tuli mendengar tuntutan rakyat, unjuk rasa memang menjadi jalan satu-satunya untuk mengungkapkan ketidakpuasan kita. Tapi saat sekarang ini, masihkah itu tepat untuk mengatasi segala permasalahan yang terjadi, yel-yel “hidup rakyat” masih saja dikumandangkan mulai saat saya mendengarnya tahun 1998, saat saya meneriakkannya pada 2002 dan saat saya masih mendengarnya pada tahun 2008.

Tapi apa yang saya lihat di lapangan, kemiskinan bukannya semakin berkurang, tapi semakin bertambah, rupiah seakan-akan tidak ada artinya di tengah semakin tingginya harga bahan pokok. Saat harga sepiring nasi sudah mencapai Rp 5000, gaji Guru Honorer maih saja berkisar antara 200 ribu sebulan, jika kita makan 3x sehari=15000 maka sebulannya kita butuh 450.000 tanpa minum. Jika segelas air es harganya Rp 1000 maka kita butuh Rp 90.000, total untuk makan dan minum, seorang yang hidup di kota setidaknya butuh Rp 540.000 itupun kita tidak boleh naik kendaraan dan kita harus jalan kaki, dan apabila kita harus naik angkutan umum yang sekali naik berharga Rp 2500, maka kita harus mengeluarkan Rp 5000 untuk pulang pergi ke tempat kerja atau Rp 150.000 sebulan atau total dengan pengeluaran yang di depan menjadi Rp 690.000, itu dengan syarat kita tidak boleh membayar listrik atau kost setiap bulan, jika untuk bayar listrik atau kost kita butuh 150.000 maka setidaknya kita butuh Rp 840.000 untuk biaya hidup dalam sebulan.

Jadi guru honorer yang bergaji 200 ribu maka saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa hidup, saya hanya bisa bilang itu rezeki “min haitsu laa yahtasib” dari Tuhan tapi dengan syarat mereka harus berada dalam posisi yang sangat jauh dari standart minimal. Setali tiga uang dengan guru honorer, banyak karyawan swasta yang masih bergaji dibawah UMR.

Lalu kapan mau hidup layaknya? UMR yang hanya 850.000 hanya bisa menghidupi manusia untuk menjadi mesin bagi para pemilik usaha. Lalu kapan hidup layaknya? Kapan beli rumahnya? Para angkatan kerja saat sekarang ini sedikit sekali yang mampu beli rumah sehingga rumah orang tuanya harus dipetak-petak untuk menaungi mereka yang sudah beristri dan beranak pinak. Itu belum lagi para pengangguran yang jumlahnya terus meningkat.

Kapan rakyat hidup layak? Teman-teman dan para senior yang dulu selalu berteriak hidup rakyat, malah sekarang memakan uang hak rakyat tanpa malu-malu, lalu mana yel-yel mereka dahulu. Adakah itu hanya untuk menhidupi diri mereka sendiri.

Maka dengan ini saya katakan, sudah bukan saatnya lagi “Hidup Rakyat” dikumandangkan, tapi selayaknyalah sekarang kita berkata, “ Rakyat (harus) Hidup (layak)”. Tidak ada kata tawar-menawar lagi. Caranya adalah dengan meningkatkan Sumber Daya Masyarakat kita, memberikan rakyat kita kemampuan vokasioanal, menyediakan berbagai kesempatan kerja, menjadikan mereka se kreatif mungkin dalam melihat peluang dan menjadikan masyarakat kita bermental entrepreneur dan intrapreneur.

Jika hal tersebut sudah dilakukan maka rakyat Indonesia akan hidup (layak), bermartabat bukan hanya di mata bangsa sendiri tapi juga di mata bangsa lain. Kita harus ingat, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar, memiliki sejarah yang besar, kemakmuran yang besar, maka tidak ada alasan untuk tidak menjadi bangsa besar, gemah ripah loh jenewi, toto tentrem kerto raharjo.

Iklan
Komentar
  1. olvy berkata:

    rakyat (harus) hidup!!!

    tapi bagaimana dengan pemikiran Margareth Thatcher yg pro ekonomi masyarakat kelas atas dan menengah ke atas? dan menumbalkan masyarakat dengan ekonomi di bawah garis kemiskinan?

    akibatnya kemiskinan semakin menjadi, namun ekonomi mulai terangkat…
    *gimana neh, jd bingung aku*

  2. Ihsan Maulana berkata:

    ketidak adilan tidak boleh didukung. penjajahan sistemik haruslah dilawan. tak peduli apapun itu bentuknya.

    orang kaya yang sedikit, ia akan terancam oleh orang miskin yang banyak. stabilitas sosial dapat diciptakan jika ketimpanagn tidak ada lagi. Semakin lebar jurang ketimpangan, maka akan semakin besar potensi terjadinya gesekan sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s