Ternyata Hatiku Masih Belum Bersih Benar

Posted: Juli 12, 2008 in pemikiran, Renungan
Tag:,

Saya adalah orang yang tidak suka sinetron suci sejak awal, saya semakin gregetan karena ibu saya berbading 180 derajat, beliau suka pada sinetron yang satu ini. Ketidak sukaanku pada sinetron ini terletak pada eksploitasi tangis menangis dan solusi masalah yang disodorkan sangat tidak cerdas, secara jujur saya harus mengatakan bahwa sinetron suci memperkosa akal pikiran saya jauh melebih ketidak masuk akalan film Superman yang menyalahi hukum gravitasi yang dirumuskan Isac Newton.

Saat sinetron Suci ditonton oleh Ibu saya, jujur saya tidak bisa mengerjakan tugas, hati dan pikiran saya tidak bisa menerima alur cerita yang disodorkan, sehingga hal itu membuat hati saya dongkol. sehingga energi saya banyak tercurah pada kedongkolan tadi dan bisa ditebak saya jadi tidak bisa mengerjakan tugas, apalagi jika Ibu menonton sinetron Suci, suara televisi sengaja disetel keras sehingga mau tidak mau telinga saya ikut mendengarkan dengan terpaksa. semakin saya coba menolak suara televisi semakin nyaring saja rasanya.

Tapi kemudian saya sadar, bahwa saya telah termakan dengan kemarahan, sesuatu yang selama ini coba selalu saya hindari. Ternyata rasa benci dan marah masih bisa membobol dinding halus hatiku. Saya, saat menulis tulisan ini sadar dan kemudian berucap, ”Astagfirullahal adim.” Demikian saya beristigfar memohon perlindungan dari sifat membenci karena saya sadar bahwa benci dapat menjadikan pikiran saya tumpul dan menghukumi sesuatu dengan tidak bijaksana. saya teringat Sayyidina Ali saat ia berperang dan kemudian saat musuhnya terdesak kemudian musuh tersebut memaki-maki Ali, kontan Ali marah dan mengayunkan pedang ke arah musuhnya, tapi saat pedang berjarang beberapa inchi saja, Ali mengurungkan niatnya. Sang musuh bertanya, ” Kenapa Engkau tidak jadi membunuhku, wahai Ali?”. jawab Ali, “jika sebelumnya aku berperang melawanmu karena Allah, maka tadi aku telah hampir membunuhmu karena marah.” Kemudian sadarlah saya bahwa marah bukanlah suatu yang bijak. Saya berpikir untuk mencoba menghilangkan segala suara dan musik pada film Suci dan berkata, “Mereka hanya cari makan.” saya yakinkan terus menerus dalam hati saya seperti itu. Dengan begitu saya dapat meredam kedongkolanku terhadap sinetron Suci, hingga saya bisa berpikir dengan jernih bahwa mereka hanya aktor yang sedang cari uang, aktingnya saja tidak bagus-bagus amat. Apalagi saya yakin bahwa sinetron tersebut dikerjakan dengan kejar tayang.

Kini, dengan pikiran seperti itu, saya dapat lebih jernih saat “terpaksa” melihat atau mendengar adegan sinetron Suci yang membalikkan akal sehat. Saya hanya berkata dalam hati,” Oh…biarlah. mereka kan Cuma cari makan.” Legalah hati saya, dan sirnalah kebencian dan kedongkolon yang merasuk dalam hati. Sehingga api pun tidak jadi menggerogoti kaya bakar bernama hati. Semoga Allah melindungiku dari sifat marah yang membutakan.

Iklan
Komentar
  1. Nulis Suci maneh, San?

  2. Ihsan Maulana berkata:

    gak juga Bram. ku cuma menumpahkan hasrat pikiranku saja. by the way, pean kok gundul?

  3. esti berkata:

    Cuma ingin ucapkan terimakasih, tulisan penulis bisa jadi renungan buat saya menahan diri dari marah dan benci terhadap sesuatu. good thougts 🙂

  4. Keren yo. Tp ini masa laluku. Pernah gundul, pernah gondrong, tp nggak pernah jelek.

  5. Ihsan Maulana berkata:

    Thanks Esti ya! aku juga lagi belajar menahan diri, agar menjadi orang yang memiliki energi positif

    Buat Bram, tapi kayak orang habis sakit Bos. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s