Jurank Kandank Doank Dan Obsesi Besarku

Posted: Agustus 29, 2008 in Cangkruan, pendidikan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, , ,

Saat melihat Jurank Kandak Doank (JKD) yang menampung anak-anak jalanan agar dapat menikmati pendidikan dengan menyenangkan di tivi swasta, saya langsung teringat oleh obsesiku untuk membuat sebuah taman pendidikan di mana anak-anak yang tidak mampu untuk mendapatkan pendidikan layaknya anak-anak orang kaya bisa mendapatkannya. Anak-anak yang hidup di gang-gang kecil di daerah yang ku tempati sekarang ini sebenarnya adalah anak-anak yang penuh potensi, mereka istimewa bahkan sebenarnya mungkin mereka adalah lebih bisa berkembang jika punya kesempatan yang sama dengan anak-anak orang kaya. Jujur harus kuakui, anak-anak miskin tersebut hidup di dunia yang agak kurang menguntungkan bagi perkembangan diri mereka, mereka hidup di lingkungan yang kurang berpendidikan, mereka hidup di tengah-tengah mental kemiskinan, mereka hidup di tengah-tengah mental buruh yang hidup hanya untuk cari makan, sangat sayang jika anak-anak tadi tidak mendapatkan pendidikan mental dan moral yang baik. Selama ini nilai-nilai moral mereka didapatkan dari lingkungan yang selama ini menjadi konsumsi berita-berita koran kriminal.

Di tempat seperti di atas, saya mempunyai sebuah lemabaga TPQ, saat TPQ ini kupegang, anak-anak yang mengaji hampir habis tak tersisa, yang ada hanya dua orang anak yang masih bertahan mengaji. Tapi aku coba tetap bertahan, prinsipku selama ada anak yang mau belajar maka aku akan mengajarinya, walaupun Cuma satu orang. Yang penting aku sudah melakukan tugas yang oleh Tuhan telah dimandatkan padaku, yaitu mengajar anak-anak. Selang beberapa minggu, kemudian anak-anak terus bertambah dari hari ke hari, tapi saat anak-anak makin bertambah maka aku memutuskan untuk membatasi anak didikku, bukan karena apa tapi aku melihat bahwa jika terlalu banyak murid dalam satu kelas maka tidak akan berlangsung efektif, mereka akan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melakukan hal-hal yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan belajar, dan juga akan mengganggu proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dari itu aku memutuskan untuk sementara membatasi anak-anak didikku maksimal 20 orang. Perlu diketahui bahwa aku menampung anak-anak dengan usia yang bervariasi; mulai dari anak berusia TK hingga anak yang usia SMP. Tentu mereka membutuhkan pelajaran yang tidak sama, dengan tingkat emosi yang tidak sama pula. Tapi adakalanya itu menjadi tantangan tersediri bagiku bagaimana meramu anak-anak yang sedemikian “berwarna”nya baik dari segi usia ataupun level pelajaran yang akan mereka dapatkan darik. Dari pengalamanku itu aku melihat bahwa adakalnya anak-anak SD bisa mengalahkan anak-anak SMP karena terus terang di lembagaku tidak membedakan jenis kelamin dan tidak pula usia. Barang siapa yang lebih mampu menyerap pelajaran lebih cepat maka ia akan cepat naik derajat pelajaran.

Anak-anak yang level pelajarannya lebih tinggi ku coba agar bisa membagikan ilmu pada adik-adiknya yang lebih rendah mata pelajarannya, dan Alhamdulillah selama ini berhasil. Ternyata kakak-kakak mereka bisa mengajari adik-adiknya. Dan jujur aku sangat senag sekali

Melihat JKD, aku merasa kagum dengan Dik Doank, ternyata ia lebih mampu dari aku untuk saat ini. Aku salut, sangat salut. Jika seorang Dik Doank yang tidak memiliki basis pendidikan saja bisa seharusnya aku lebih bisa, karena aku kuliah di fakultas pendidikan (tarbiyah).

Ini obsesiku ke depan, aku ingin membuat sebuah tempat yang layak, yang di satu sisi ruangannya terdapat rak-rak buku dengan buku-buku yang edukatif, yang membuat mereka merasa berkelimpahan dalam hal-hal bacaan. Mungkin semacam rumah baca lah. Terus cat-catnya akan ku cat bersih tapi ramah terhadap kondisi psikologis anak-anak, kusediakan tenaga pendidik yang konsep dan jiwa pendidikannya selaras dengan jiwaku. Dan yang terpenting, hal ini betul-betul misi sosial untuk melihat mereka tumbuh lebih baik. Mereka dapat belajar, bercengkrama dan mengenal hidup mereka. Aku ingin menanamkan sebuah visi bahwa mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka bisa mendapatkan apa yang oleh orang-orang di lingkungan mereka sebagai hal yang tidak mungkin karena bagiku tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini selama kita mau berusaha, selama tujuan kita baik.

Kalau perlu aku akan membuat sebuah ruang bulu tangkis, ruang futsal dan ruang tenis meja. Inilah obsesi besarku, walau mungkin tak sebesar JJD milik Dik Doank tapi semoga bisa bermanfaat agar adaku tidak sama dengan tidak adaku. Inilah salah satu cara memberi makna kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s