Kecewa Dengan Novel KCB

Posted: September 4, 2008 in Cangkruan
Tag:, ,

Tiga hari lamanya saya harus menyelesaikan bacaan novel Ketika Cinta Bertasbih (KCB) karangan Habiburrahman al-Shirazy di tengah kesibukan kuliah, di tengah kesibukan menulis artikel, dan di tengah kesibukan mengajar. Dalam berbagai celah waktu selama tiga hari itu saya sempatkan membaca novel Ketika Cinta Bertasbih bahkan hingga larut malam.

Novel yang terdiri dari dua buku ini langsung menarik saya karena nama pengarangnya yang sukses dengan novel Ayat-Ayat Cinta (AAC), atas dasar itulah saya beli dua seri novel KCB. Semacam prolog dari seorang profesor yang saya kenal kualitasnya membuat saya yakin dengan isi novel ini. Bab pertama pun disajikan dengan sangat mengalir indah dengan setting Mesir di mata mahasiswa Indonesia, mengingatkan saya akan sebuah kesempatan yang dulu urung saya dapatkan karena kekeliruan informasi hari tes.

Akan tetapi memasuki bab-bab akhir novel KCB I saya mulai memperhatikan dan bersimpati atas tokoh bernama Furqan, seorang mahasiswa S2 al-Azhar yang terjebak pada lakon agen Mozzard (entah apa benar Mozzard punya rencana sejahat itu, tapi yang jelas Mozzard dalam mata kang Abik sepertinya memang sangat jahat hingga bisa melakukan segala cara hanya untuk kepentingan merusak oran lain). Si Furqan pun kemudian divonis HIV atas kesalahan yang tak pernah ia perbuat. Saya tidak terimanya terletak pada kejernihan Furqan, kecemerlangan akademiknya, keluesan pikirannya dan jiwa kepemimpinan yang begitu melekat pada dirinya. Ia harus dibuat oleh Habiburrahman menjadi pesakitan, orang yang menderita hingga akhir novel KCB II.

Dalam cerita KCB disebutkan bahwa Furqan sangat mencintai seorang gadis bernama Ana anak seorang Kiai di Jawa Tengah. Nah menurut saya sebenarnya antara Furqan dan Ana sangat klop. Mereka sangat pantas disandingkan dalam cerita KCB, sama-sama mempunyai nilai akademik bagus. Tapi membaca akhir novel kesatu, saya sudah mulai menebak bahwa Ana akan Kang Abik persatukan dengan Azam, lakon utama dalam cerita KCB.

Memang dalam ending cerita KCB disebutkan bahwa Furqan tidak menderita HIV dan AIDS seperti hasil visum yang ia dapatkan di Mesir dari seorang anggota intelijen pihak Mesir. Tapi itu semua tak bisa mengubah segalanya dan harus menerima kenyataan bahwa ia harus kehilangan Ana, gadis yang sangat dicintainya dengan alasan yang sebenarnya tidak ia alami. Kang Abik lebih memilih Azzam, mahasiswa penjual tempe dengan prestasi akademik pas-pasan.

Memang banyak muatan dakwah dalam novel ini, ceritanya mengingatkan saya akan kitab-kitab kuning yang beredar di pesantren saya bahkan beberapa diantaranya belum saya kaji dan baca. Tapi jujur saat melihat ceritanya yang sedemikian โ€œdhalimโ€ pada tokoh Furqan tampakya para pembaca novel KCB akan berpikir ulang untuk menonton film-nya seperti saat dulu para pembaca AAC begitu semangat saat filmnya diluncurkan. Saya kira saya bukan satu-satunya pembaca yang kecewa dengan pilihan cerita kang Abik walau tidak semengecewakan sinetron-sinetron yang tidak jelas endingnya.

Tapi bagaimanapun Kang Abik sudah berkarya dan harus saya acungkan jempol walau jempol saya agak saya miringkan (tapi tidak sampai menghadap bawah), dan tampaknya saya harus puas jadi kritikus picisan saja jika tidak mau berubah dari sekedar pembaca menjadi penulis. Tapi semoga hal ini tidak terjadi selamanya. Amin!.

Iklan
Komentar
  1. Brahm berkata:

    Kayaknya lebih sip kalau postingan ini dikasih gambar deh. Hehehe ….

  2. Ihsan Maulana berkata:

    bisa diatur ๐Ÿ™‚ tapi saya lak harus scaning

  3. estipipi berkata:

    Saya juga salah satu pembaca KCB, merasa kecewa sih ngga, tapi yang saya sayangkan kok ceritanya terlalu bertele2 ya? kadang2 ada bagian yang sebenarnya ditulis untuk melengkapi cerita tapi menurut saya sebenarnya tidak perlu. Kalo dijelaskan bagian mana, wah bisa jadi panjang komentarnya ๐Ÿ™‚
    Mengenai Furqan, mungkin maksud Kang Abik “memberi pelajaran ” pada Furqan adalah karena dia tidak berani berterus terang dan mengorbankan kebahagiaan Ana. Kemudian “memberi hadiah” pada Azzam karena dia sosok pria yang mau bekerja keras demi kepentingan orang lain (keluarganya). Tapi dari awal memang sudah bisa ditebak kalo akhirnya Azzam sama Ana.
    Tapi, ini sih cuma komentar dari pembaca yang hanya bisa komentar belum bisa menulis sendiri ๐Ÿ™‚
    tapi tetap berdoa dan berusaha semoga suatu hari bisa bikin karya sendiri. Amiinn.

  4. alrasyid berkata:

    keren y novel KCB nya,,
    tapi di novel itu kan anna althafunnisa tidak menyukai forqan, dia lebih menyukai pemuda yg pernah menolongnya pada saat kejadian di bus.
    lagi pula sikap furqon yg terlalu mewah yg tidak disukai anna althafunnisa. anna lebih menyukai sosok yg sederhana.
    ada kan dikutip dalam novel KCB tentang hal ini?

  5. Hasya berkata:

    Aq sebnrnya jg gak stuju klo ana nikahnya ma azzam.aq lbh sk klo ana nikahnya ma furqon.lbh cck ghitu.

  6. Ihsan Maulana berkata:

    bgtu Hasya y?! ๐Ÿ™‚ sy adl org dgn tipe Furqon dan Azzam, sukses secara akademik lulus s2 dengan predikat Cumlaude dan punya Small Bussines (msh lbh kcl drpd milik Azzam) yang alhamdullillah sudah mulai belajar berjalan. Jadi saya tidak setuju jika kesuksesan akademik selalu dipisahkan dengan kesuksesan berwirausaha. semuanya InsyaAllah bisa berjalan seimbang, jika kita bisa mengatur waktu. (semoga apa yang saya sampaikan adalah bagian dari mensyukuri nikmat)

  7. Saya sangat setuju dengan pandangan Bang Ihsan Maulana mengenai Film ini. Saya juga Sangat bersedih seandainya kisah ini benar2 diambil dari kisah nyata tentang Takdirnya si Furqan. Divonis Suatu penyakit yang bukan main-main dan bukan karena kesalahannya dia harus menderita sedemikian berat. Menghancurkan semua harapan dan semua yang telah didapatkan dari Prestasi, Cinta, dan Hidupnya karena Fitnah yang biadab itu. Namun pelajaran yang kita dapatkan adalah agar kita bisa belajar lebih Ikhlas menerima Cobaan dan Menerima Ketetapan Allah tentang Jodoh dan Kehidupan. Terkadang kita mencintai sesuatu tetapi sesuatu itu memang bukan untuk kita. dan Sesuatu yang menurut kita pantas dan baik belum tentu baik menurut ALLAH. Furqan pernah berkata kepada Azam tentang Eliana kan..?? Seandainya dia belum terlanjur melamar Ana tentunya Furqan akan Melamar Eliana. dan di Akhir cerita Furqan bertemu dengan Eliana yang mungkin dikelanjutannya adalah Jodoh. Hehe thx yah..
    Nitip Link ya Bang bukan spam tapi agar Ratenya naik.
    Kalau ada yang butuh Software Akuntansi bisa Kunjungi http://store.store-spot.com/software-akuntansi

  8. Ihsan Maulana berkata:

    iya gak apa kok mas Andtho, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s