Oblek Tuhan

Posted: September 18, 2008 in Cangkruan, pemikiran, Renungan
Tag:, , ,

Allah itu Cahaya langit-langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti oblek yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu ada di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Nur: 24)

Sengaja kata misykat dalam kata kamisykatin fiihaa mishbah saya artikan dengan kata oblek, karena orang-orang di rumah saya tidak mengerti dengan kata misykat, apalagi saya sendiri tidak mengerti bentuk misykat dalam bentuk aslinya sebagaimana orang Arab zaman Nabi mememahaminya. Jadi saat saya membacakan surat al-Nur:24 tersebut dan saat ada yang bertanya, “Apa misykat itu Ustadz?” saya jawab saja, “ Oblek…, ya obleke Tuhan”. Saya berani mengambil kata oblek karena kata misykat menurut keterangannya dalam kitab-kitab tafsir adalah lubang yang terdapat di dinding yang tidak tembus ke dinding sebelahnya yang biasanya digunakan untuk tempat lampu. Lah, kalau di tempat saya yang para nenek moyangnya hanya mempunyai rumah yang terbuat dari gedek (bidik/tabing) tentu tidak ada dalam kamus mereka misykat seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an tersebut. Yang ada di rumah mereka hanyalah oblek yang menyinari ruangan di dalam rumah. Jadi seandainya saya salah, semoga dimaafkan oleh Tuhan.

Ayat al-Nur:24 sendiri menjadi pembicaraan dalam dunia Islam sejak generasi kedua Islam. Tepatnya pada zaman Abbasiyah awal, sejak itu para ulama terutama mereka yang tertarik dengan ilmu akhlaqi (cikal bakal tasawuf) sudah memperdebatkan tentang cahaya Tuhan dan  misykat Tuhan. Perdebatan semakin menarik saat filsafat Yunani masuk ke dunia Islam lewat terjemahan-terjemahan yang dilakukan oleh beberapa ahli bahasa daulah Abbasiyah. Teori emanasi pun berkembang dalam filsafat Islam, kata nurun ala nurin menjadi salah satu perdebatannya sehingga kemudian timbul pula teori cahaya pertama hingga beberapa cahaya di bawahnya, ada pula teori akal pertama hingga akal ke sepuluh. Sebuah teori-teori filosofis yang kemudian ditentang oleh al-Ghazali yang hidup pada masa Perdana Menetri Nidzamul Mulk yang bermadzhab Syafi’iyah dalam bidang fiqh dan Asy’ariyah dalam bidang ilmu tauhid (teologi).
Kembali lagi ke oblek Tuhan, disebutkan bahwa kita ini adalah wadak-wadak kasar yang terlempar di muka bumi. Nah, sebenarnya kita semua punya kesempatan dan potensi yang sama dengan manusia yang lainya yaitu bisa menerima cahaya Tuhan, cuman masalahnya kita itu kan sama seperti cermin, kalau kita sering membersihkan cermin kita maka ia akan memantulkan bayangan dengan lebih baik dan lebih jernih, kita itu juga seperti kaca, semakin mengkilap kita maka kita akan bisa menembus pandangkan apa pelita yang ada di dalam diri kita yaitu pelita pemberian Tuhan. Nikmat bukan?!

Masalah oblek ini menjadi salah satu  tema sentral dalam kajian filsafat Islam dan tasawuf serta tarekat sebagai turunan tasawuf. Pembersihan diri agar bisa menerima cahaya Tuhan menjadi bentuk kongkrit dari pembahasan kata misykat ini.

Selain oblek Tuhan yang memikat para ulama selama belasan abad, kata yang menarik dalam surat al-Nur:24 di atas adalah kalimat, “Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki” ini adalah blue print dalam setiap pencarian Tuhan oleh manusia dalam panjangnya rintangan zaman. Karena dalam pencarian Tuhan dalam sejarah manusia, tak semua manusia bisa menemukan keberadaan Tuhannya akan tetapi beberapa diantara mereka tersesat dalam penuhanan makhluk-makhluk tuhan lainnya yang oleh mereka dianggap memiliki kekuatan yang lebih besar darinya. Jika ini yang terjadi maka layaklah jalan Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan dipakai, yaitu memakai akal pikiran dan nurani. Jika akal dan nurani kita tidak bisa menerima maka itu bukan Tuhan kita.

Iklan
Komentar
  1. djdepagskw berkata:

    teromakasih mas ihsan pencerahannya

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Ingge, sama-sama mas dj depag skw (entah mengejanya seprti apa?;-))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s