Irian Jaya Direbut Dengan Kitab Kuning

Posted: November 1, 2008 in Cangkruan, Kitabe Cak, pemikiran, Pitakonan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, , ,

Irian Jaya direbut lewat Trikora yang dikeluarkan Presiden Soekarno tentu banyak yang tahu, tapi hanya sedikit yang tahu bahwa ternyata Irian Jaya direbut dengan kitab kuning. Loh, bagaimana ceritanya?Kisah ini dimulai dengan kisah tentang kemerdekaan Indonesia, saat itu Pemerintah Kerajaan Belanda secara resmi pernah berjanji pada Indonesia, bahwa Irian Jaya atau yang sekarang lebih dikenal dengan Papua akan diserahkan kepada Indonesia pada tahun 1948. Nah, ternyata sampai tahun 1951 Pemerintah Kerajaan Belanda belum menyerahkan kedaulatan atas Irian Barat tersebut.

Setelah beberapa kali diadakan perundingan untuk menyelesaikan permasalahan Irian Barat dan selalu gagal. Bung Karno kemudian menghubungi Kiai Wahab Hasbullah di Jombang (karena beliau dulu adalah seorang santri di Jawa Timur). Bung Karno sowan pada Kiai Wahab dan menanyakan bagaimana hukumnya orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat?

“Hukumnya sama dengan orang yang ghosab,” kata Kiai Wahab.

“Apa artinya ghosab itu pak kiai?” tanya Bung Karno.

“Ghosab itu istihqoqu malil ghoir bighoiri idznihi, menguasai hak milik orang lain tanpa izin,” jawab Kiai Wahab.

“Lalu bagaimana solusinya untuk menghadapi orang yang ghosab?

“Adakan perdamaian,” jawab Kiai Wahab.

Lalu Bung Karno bertanya lagi, “Menurut instink pak Kiai apakah jika diadakan perundingan damai akan berhasil?” pertanyaan ini karena Soekarno merasa bahwa perundingan damai yang selama ini diadakan seringkali gagal karena selalu diingkari oleh pihak Belanda.

“Tidak,” jawab Kiai Wahab. Kiai Wahab juga berpikiran yang sama dengan Soekarno.

“Lalu kenapa kita tidak potong kompas aja pak Kiai?” Kata Bung Karno.

“Tidak boleh potong kompas menurut syari’ah,” jawab kiai Wahab. Karena bagaimanapun dalam hukum Islam proses hukum haruslah dilalui berdasarkan tahapan-tahapannya.

Selanjutnya, sesuai anjuran Kiai Wahab untuk berunding dengan Belanda, Bung Karno mengutus Subandrio untuk mengadakan perundingan konflik Irian Barat dengan Belanda. Perundingan inipun seperti diprediksi sebelumnya akhirnya gagal. Kegagalan inipun disampaikan oleh Bung Karno kepada Kiai Wahab. Lalu Bung Karno bertanya lagi, pak Kiai apa solusi selanjutnya untuk menyelesaikan konflik Irian Barat. Kiai Wahab menjawab, “akhodzahu qohran”, ambil atau kuasai dengan paksa. Bung Karno bertanya lagi, “Apa rujukan pak Kiai dalam memutuskan masalah ini?” “Saya mengambil literatur kitab (kuning)Fathul Qorib dan syarah-nya, al-Baijuri,” tegas kiai Wahab. Setelah Bung Karno mantap dengan pendapat Kiai Wahab yang mengkontekstualisasi literatur kitab kuning yaitu kitab Fathul Qorib agar Irian Barat dikuasai atau direbut dengan paksa, kemudian Bung Karno membentuk Trikora (tiga komando rakyat). Dengan Trikora inilah kemudian sejarah umum mencatat Indonesia berhasil menundukkan tentara kerajaan Belanda.

Iklan
Komentar
  1. Ihsan Mauana berkata:

    Salam kenal pula Bang Syaiful

  2. acip suhendar berkata:

    salam sejahtera dan tetap dalam ukhuah islamiah

  3. Ihsan Maulana berkata:

    Salam ukhuwah Islamiyah juga! :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s