Kreativitas Yang Terenggut (Renungan Hari Pahlawan)

Posted: November 10, 2008 in Cangkruan, pemikiran, pendidikan, Pitakonan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:,

Dulu saat saya masih kecil, baik saat masih hidup di desa maupun setelah pindah ke kota, saya masih ingat bahwa untuk bermain-main, saya selalu menggunakan apa yang ada di sekeliling saya saat itu, apa yang disediakan alam. Saat masih di desa, jika ingin senapan mainan saya dan teman-teman akan membuatnya dari bambu kecil yang berlubang dan sebagai pelurunya kami gunakan dedaunan yang dipadatkan atau dari biji buah alpukat (inilah salah satu sebab kenapa hingga sekarang saya suka alpukat), saat ingin kuda-kudaan saya membuatnya dari batang pelepah pisang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai kuda, saat ingin bermain layangan saya dan teman-teman membuatnya sendiri; adakalanya dari bambu dan pernah pula dari lidi yang diseimbangkan. Bahkan adakalanya kami berkreativitas dengan hanya sebatang lidi; kami bisa bermain sulap, belajar berhitung, bahkan bermain rumah-rumahan dan jual-jualan. Sebuah kisah masa kecil yang tidak lagi saat sekarang ini pada anak-anak kecil umumnya terutama di kota.

Anak-anak kecil saat sekarang ini telah bermain dengan robot-robotan, boneka berbie, pistol-pistolan, play station bahkan pula sejak anak usia SD telah terbiasa bermain dengan telepon seluler sungguhan (biasanya mereka bercakap-cakap dengan teman yang sebenarnya bisa mereka temui karena jarak rumah yang dekat), yang ternyata semuanya adalah buatan pabrik. Hampir tidak ada satupun permainan yang dibuat oleh mereka sendiri, mereka telah menjadi anak-anak yang akan terus menjadi konsumen dan bukannya produsen. Mereka telah direnggut kreativitasnya, mereka telah jadi pasar nyata (bukan lagi pasar potensial) bagi beragam produk yang diciptakan oleh para pemodal-pemodal besar yang parahnya lagi didominasi oleh produsen luar negeri, Indonesia menjadi pasar, yang setiap jengkal kehidupannya akan selalu tergantung dengan barang-barang yang telah ada.

Kita lihat saja bagaimana unilever menguasai semua hajat hidup rakyat Indonesia mulai dari sabun cuci hingga makanan instant, lihat pula perusahaan transnasional nestle yang menguasai pasar susu tanah air hingga bedak bayi.

Saat saya berjalan-jalan di salah satu mall di Surabaya, saya menemukan sebuah topi petani yang terbuat dari janur yang ternyata setelah saya perhatikan adalah buatan Cina, geleng-geleng kepala saya dibuatnya, apakah Indonesia tidak mampu membuat topi semacam ini hingga harus mengimpor dari luar negeri?! Di sampingnya terdapat sebuah bingkai dari pasir dan juga made in China. Berjalan terus di mall tersebut saya semakin heran dan merasa tragis ternyata hampir semua barang adalah produksi luar negeri, mulai dari peralatan hingga asesoris untuk para gadis semuanya adalah barang luar negeri. Lalu apakah barang dalam negeri bisa kita temukan di mall. Jawabnya, iya bisa tapi butuh keberuntungan, karena produksi anak negeri hanya 10% diantara 90% yang ada, selebihnya bisa kita temukan di emperan depan mall yang sering kali diobrak Satpol PP.

Jika dibiarkan, bangsa ini ke depan dan anak-anak kita ini kelak akan menjadi manusia yang tergantung oleh pasar, mereka akan terus diwarnai pasar dan akan sulit untuk mewarnai pasar kecuali kita menyadarkannya dan mendidiknya mulai sekarang. Mengajarkan pada mereka bahwa hidup haruslah berkarya, bukan hanya mengkosumsidan asik pamer-apmeran, bahwa hidup haruslah memberi bukan hanya memperoleh atau menerima. Jika tidak mereka hanya akan jadi budak-budak pabrikan yang tidak sadar. Menjadi budak lewat perampasan kreativitas yang dilakukan secara halus tapi nyata dan bisa kita lihat.

Iklan
Komentar
  1. […] Nopember 10, 2008 · Tidak ada Komentar […]

  2. gajah_pesing berkata:

    TOSS!!!
    jaman saiki malah gak ngerti delik-delikan… kampret!!

  3. Ihsan Maulana berkata:

    kampret saja ngerti delik-delikan. hehe

  4. ndop berkata:

    ndak bisa mbayangin anak-anak kecil sekarang ini besok akan jadi seperti apa???

  5. Ihsan Maulana berkata:

    ndop nggak usah dibayangin yang perlu kita lakukan adalah bertindak dan mmbekali mereka dengan kompetensi yang bisa membuat mereka mandiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s