Idul Adha dan Penyembelihan Ego Kita

Posted: Desember 5, 2008 in pemikiran, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, , , ,

“sesungguhnya aku melihatmu dalam mimpiku, bahwa sungguh aku akan menyembelihmu,maka apa pandanganmu?berkata (Yusuf), wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (oleh Tuhan), engkau akan mendapatiku sebagai bagian orang-orang yang sabar insya Allah”

Kita sering mendengar ayat itu disebut setiap kali idul adha, sebuah kisah yang menceritakan orang-orang berhati mulia, taat terhadap segala perintah Tuhannya. Kisahnya, saat itu Ibrahim yang baru memiliki anak setalah umur beliau 90 tahun merasa sangat gembira sekali, ia menamakan anaknya dengan nama Ismail (bahasa Ibrani/Suryani), walau saat kelahiran Ismail Ibrahim sedang tidak ada di sisi anak tercintanya.santri-cool

Saat Ismail lahir, ia hanya ditemani Ibunya. Padang pasir yang tandus saat itu menyebabkan sang Ibu harus berlarian kesana kemari, dari satu bukit ke bukit lain hanya untuk mencari air bagi dirinya dan bagi anaknya(prosesi ini kemudian diabadikan dengan prosesi lari kecil antara bukit shafa dan marwa dalam ritual haji), saat ia kelelahan dan menyerah, Sarah kemudian kembali ke anaknya, dan tatkala tiba ditempat si anak, ia terkejut saat si kecil sambil menangis menyepak-nyepakkan tumit kakinya ke tanah dan dari tanah yang didepak kaki Ismail itu keluar air, kontan saja Sarah kegirangan, ia kemudian mencoba untuk mengumpulkan air yang mulai memancar keluar sambil berkata,”zam-zam!” (berkumpullah-berkumpullah), bayi Ismail akhirnya mendapatkan air yang dibutuhkannya, tak lama beberapa bulan kemudian Ibrahim datang, dan dengan begitu senang dengan kehadiran Ismail. Saat Ismail kira-kira berusia tujuh atau delapan tahunan, Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail yang sedang lucu-lucunya, dengan hati sedih Ibrahim pu kemudian mengutarakan perintah Tuhannya itu dan mencoba melihat bagaimana reaksi Ismail, dan ternyata Ismail adalah anak yang dapat menerima akan putusan Tuhan melalui sang ayah.

Hingga saat tiba dilaksanakannya penyembelihan Ismail, tersebut Iblis menggoda kedua hamba ini dalam tiga bentuk tapi Irahim dan Ismail mengetahuinya sebagai Iblis dan melemparnya(peristiwa ini diabadikan dengan prosesi Jumrah ula, jumrah wustho, dan jumrah aqabah). Setelah berhasil melewati iblis, dan saat pedang Ibrahim menempel di leher Ismail, malaikat datang dan memerintahkan Ibrahim untuk menghentikan tindakan Ibrahim dan menggantikan Ismail dengan seekor domba.

Penyembelihan Ego
Yang patut kita cermati dari cerita diatas adalah bagaimana Ibrahim melawan egonya sebagai ayah yang saat itu mempunyai anak satu-satunya, bagaimana perang batin antara entitas dirinya sebagai hamba Tuhan dengan entitas dirinya sebagai seorang ayah, sungguh sebuah perang bathin yang sangat hebat.

Lalu bagaimana di sisi Ismail, saat itu tentu ia adalah seorang anak yang juga suka bermain, ingin bermanja-manja dengan Ibu dan Ayahnya, sedang menikmati sekali masa kecilnya, hingga Ayahnya dengan tiba-tiba mengatakan bahwa ia akan disembelih hanya gara-gara perintah Tuhan melalui mimpi sang ayah. Tapi yang sangat mengharukan ternyata jawaban Ismail tidak seperti yang kita bayangkan yang keluarnya dari seorang anak kecil, ia berkata” Lakukanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu,engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar insya Allah”
Jawaban yang tidak pernah kita bayangkan keluar dari seorang anak kecil, mungkin bukan hanya tidak terbayangkan bagi kita, tapi Ibrahim juga yang sedang berada dalam kegalauan sebagai seorang ayah sekaligus hamba Tuhan.
Tapi Ibrahim dengan berani menyembelih ego keayahannya, ego yang selama ini banyak membuat orang terbuai dengan anak semata wayangnya. Ego yang bisa membuat seorang ayah tidak bisa melihat kenyataan dengan pas, ia sembilah ketakutan dan segala pikirannya tentang perintah Allah, ia beralih dari seseorang yang mempertimbangkan perintah Allah, menjadi meyakininya dan melaksanakan keyakinannya.

Sebuah kritik bagi kita yang terus terjebak pada ego diri, terjebak pada ketakutan yang dibangun oleh pikiran-pikiran kita sendiri dan tidak pernah beranin mengambil sebuah tindakan. Ketahuilah jika ketakutan-ketakutan yang jadi pilihan kita, jangan harap kita bisa beranjak dari tempat dimana saat sekarang ini kita berdiam.

Iklan
Komentar
  1. ndop berkata:

    bagus ulasannya.. sejarah nabi ibrohim memang meneladankan, seperti sejarah-sejarah nabi yg lain.. yg namanya nabi, memang mempunyai kemampuan yg manusia biasa sulit bhkan ndak mungkin untuk menyamainya.. namun sebagai manusia biasa sudah selayaknya kita meneladani seorang nabi..

    .walaah tumben komenmu ngono ndop?.

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Nabi diciptakan dari sesama jenis dengan kita (manusia) agar bisa menjadi prototipe bagi kita seluruh manusia, betul gak?:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s