Tahun Baru, Moment Assesment dan Perenungan

Posted: Desember 31, 2008 in Cangkruan, pemikiran, Renungan
Tag:, , , ,

Manusia butuh penanda atas kehidupannya yang mereka sebut fase, fase tertentu dalam hidup itu kemudian dikenal sebagai momen. Otak manusia butuh seleksi memory atas segala kejadian yang terjadi secara terus menerus, mana yang dianggap penting dan mana yang dianggap sebagai hal yang biasa saja.

Otak kita akan merekam apa saja yang pernah berkelebat dan dirasakan oleh indera dan akan terekam dengan kadar tertentu (jadi tidak ada lost memory seperti perkiraan sebagian pihak). Walau begitu kita akan menyeleksi mana ingatan yang memperoleh penekanan dan mana yang tidak. Salah satu cara untuk memperoleh penekanan adalah dengan menciptakan momen-momen berdasar perhitungan-perhitungan yang pernah dihasilkan peradaban Indonesia. Momen dibutuhkan manusia untuk mengingatkan tangga-tangga kehidupan yang dilalui di mana stressing dilakukan oleh otak. Layaknya anak-anak tangga yang membentuk tangga secara utuh maka begitu pula manusia membutuhkan pengingat sebagai anak-anak tangga dalam setiap fase kehidupan yang dijalani.

Tahun baru adalah salah satu momen yang diperingati manusia setiap pergantian tahun. Setiap peradaban manusia mempunyai hitungannya sendiri, mulai dari peradaban Mesir kuno, Cina, Jawa, Arab hingga hitungan Masehi seperti yang banyak dipakai orang saat sekarang ini. Mereka mempunyai hitungan tahunnya sendiri dengan kalkulasinya sendiri berdasarkan ukuran dan permulaannya sendiri.

Prosesi tahun baru menandai proses pergantian tahun menuju sebuah hitungan yang baru dimulai dari tanggal satu dan bulan ke satu. Walau begitu pergantian tahun bukanlah satu-satunya pergantian waktu yang terjadi dalam hidup kita, sebenarnya kita mengalami pergantian setiap harinya, setiap satu menit kita telah mengalami pergantian dari detik pertama ke detik ke-60 lalu kembali ke detik pertama berikutnya, setiap satu jam kita mengalami pergantian dari menit pertama ke menit ke-60 lalu kembali menghitung dari menit pertama lagi, semuanya mengalami pergantian menuju sesuatu yang terus saja membaharu. Sebuah pergantian yang tak akan pernah surut ke belakang.

Letak momen pergantian tahun baru sebenarnya adalah bagaimana kita memandang pergantian itu sendiri, dalam hitungan masehi tahun baru kali ini menjadi sebuah penanda bahwa kita telah baru saja melalui 360 hari dan menuju 360 hari yang lain. Momen di mana kita mengganti kalender di rumah kita dan memulainya dari bulan pertama.
Akan tetapi satu yang sering dilupakan oleh orang yaitu kesadaran bahwa waktu adalah sesuatu yang holistik bukan parsial, kita sendirilah yang sebenarnya menyekat waktu dalam sekatan-sekatan parsialisme yang dibuat manusia berdasarkan tanda-tanda yang dilihat pada alam. Alam tetaplah alam apa adanya, berjalan sebagaimana ia seharusnya berjalan.

Bukti akan hal ini adalah bagi kita yang menganut tahun masehi, sekarang adalah tahun baru tapi tidak demikian halnya dengan mereka yang memakai kalender hijriah, tidak pula mereka yang memakai kelender Jawa ataupun tahun imlek. Mereka punya hitung-hitungannya sendiri atas tanda yang diberikan alam, mereka punya permulaannya sendiri untuk memulai menghitung. Jika tahun masehi ditandai dengan kelahiran Al-Masih Isa, maka kalender Hijriah dimulai dengan hijrahnya Nabi Muhammad, adapun tahun Cina dimulai sejak ribuah tahun lebih lama daripada kedua kelender yang disebut terlebih dahulu.

Momen Perenungan (Muhasabah)

Yang tak boleh dilewatkan dari momen tahun baru ini adalah perenungan atas apa yang telah kita perbuat dalam satu tahun yang telah dilalui dan bagaimana seharusnya kita melalui tahun yang baru dengan tekad menjadi lebih baik dan bermakna. Bukankah merugi bagi mereka yang menjalani hari ini sama dengan kemarin, celaka bagi yang menjalani hari ini lebih buruk dari kemarin dan orang yang beruntung adalah mereka yang menjalani hari ini lebih baik dari kemarin dan sebelumnya.

Sebuah perenungan yang akan mengantarkan kita pada kebermaknaan hidup, kebermanfaatan diri bagi diri, sesama dan lingkungannya. Bukankah telah disebutkan oleh pepatah,”gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan budi”. tanpa kebermaknaan hidup yang kita pegang dan tebarkan pada sesama tentu hidup kita akan jauh dari kebernilaian, dan kebernilaian adalah salah satu bentuk kesempurnaan hidup bagi manusia. sedangkan kesempurnaan itu sendiri adalah kebermanfaatan diri kita bagi semua.
Merayakan tahun baru dengan pesta dan bersenang-senang bukanlah hal yang terlarang karena mendekati kesenangan dan menjauhi kesedihan adalah sifat dasar manusia, dari itu tidak satupun agama melarang umatnya dari bersenang-senang dalam batas-batas tertentu. Akan tetapi satu hal yang harus diingat, hendaklah pesta tidaklah diadakan secara berlebihan (over) apalagi melanggar norma-norma kesusilaan sehingga merugikan diri sendiri. Karena apalah artinya tahun baru jika dengan perayaan yang over, di tahun yang baru kita mendapati semua menjadi buruk saat mata terbuka, saat semuanya sudah terjadi sasal tentu tiada arti.

Titik Lecut

Tahun baru hendaklah menjadi momen melecut diri sendiri untuk berbuat lebih baik lagi, tidak layak kita puas atas apa yang telah kita lakukan dan berleha diri atasnya, tiada pula suatu kesalahan jika kita mau memperbaikinya. Tak hal yang mustahil dalam hidup, selama orang mau berusaha jalan pasti ada. Tidak peduli bagaimana caranya karena kehidupan akan mengajari kita bagaimana caranya.

Pesta dan kesenangan pada momen tahun baru juga hendaklah bukan kebahagiaan sesaat yang saat kita terbangun dari tidur semuanya kembali gelap dan penuh dengan setumpuk masalah yang seakan tak terselesaikan dalam 360 hari ke depan. Tahun baru hendaklah menjadi titik lecut untuk membangun diri lebih baik lagi, lebih bermakna lagi. Hendaklah hari depan ditatap dengan optimis karena kita telah melihat hari ini dan telah menjalani hari kemarin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s