Valentine dan impor budaya

Posted: Februari 9, 2009 in Awewe, Cangkruan, pemikiran, Pitakonan, Renungan
Tag:, , ,

Sejarah Hari Valentine

seksiAsal mula hari Valentine tercipta pada jaman kerajaan Romawi. Menurut adat Romawi, 14 Februari adalah hari untuk menghormati Juno. Ia adalah ratu para dewa dewi Romawi. Rakyat Romawi juga menyebutnya sebagai dewi pernikahan. Di hari berikutnya, 15 Februari dimulailah perayaan ‘Feast of Lupercalia.’Pada masa itu, kehidupan belum seperti sekarang ini, para gadis dilarang berhubungan dengan para pria. Pada malam menjelang festival Lupercalia berlangsung, nama-nama para gadis ditulis di selembar kertas dan kemudian dimasukkan ke dalam gelas kaca. Nantinya para pria harus mengambil satu kertas yang berisikan nama seorang gadis yang akan menjadi teman kencannya di festival itu.

Tak jarang pasangan ini akhirnya saling jatuh cinta satu sama lain, berpacaran selama beberapa tahun sebelum akhirnya menikah. Dibawah pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi terlibat dalam peperangan. Claudius yang dijuluki si kaisar kejam kesulitan merekrut pemuda untuk memperkuat armada perangnya. Ia yakin bahwa para pria Romawi enggan masuk tentara karena berat meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Akhirnya ia memerintahkan untuk membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Romawi. Saint Valentine yang saat itu menjadi pendeta terkenal di Romawi menolak perintah ini.

Ia bersama Saint Marius secara sembunyi-sembunyi menikahkan para pasangan yang sedang jatuh cinta. Namun aksi mereka diketahui sang kaisar yang segera memerintahkan pengawalnya untuk menyeret dan memenggal pendeta baik hati tersebut. Ia meninggal tepat pada hari keempat belas di bulan Februari pada tahun 270 Masehi. Saat itu rakyat Romawi telah mengenal Februari sebagai festival Lupercalia, tradisi untuk memuja para dewa. Dalam tradisi ini para pria diperbolehkan memilih gadis untuk pasangan sehari.

Dan karena Lupercalia mulai pada pertengahan bulan Februari, para pastor memilih nama Hari Santo Valentinus untuk menggantikan nama perayaan itu. Sejak itu mulailah para pria memilih gadis yang diinginkannya bertepatan pada hari Valentine.

Kisah St. Valentine

Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ketiga. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut, dan ia bukan satu-satunya. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.
Namun sayangnya keinginan ini bertepuk sebelah tangan. Para pria enggan terlibat dalam perang. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Hal ini membuat Claudius sangat marah, ia pun segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.

Ia berfikir bahwa jika pria tak menikah, mereka akan dengan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Para pasangan muda menganggap keputusan ini sangat tidak manusiawi. Karena menganggap ini adalah ide aneh, St. Valentine menolak untuk melaksanakannya. Ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini diketahui kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tak bergeming dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin, tanpa bunga, tanpa kidung pernikahan.

Hingga suatu malam, ia tertangkap basah memberkati sebuah pasangan. Pasangan itu berhasil melarikan diri, namun malang ia tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis mati. Bukannya dihina, ia malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara.
Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta itu adalah putri penjaga penjara. Sang ayah mengijinkannya untuk mengunjungi St. Valentine di penjara. Tak jarang mereka berbicara selama berjam-jam. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta itu. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar.
Di hari saat ia dipenggal,14 Februari, ia menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis itu atas semua perhatian, dukungan dan bantuannya selama ia dipenjara. Diakhir pesan itu, ia menuliskan : “Dengan Cinta dari Valentinemu.”

Pesan itulah yang kemudian merubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.

Tradisi Valentine

– Selama beberapa tahun di Inggris, banyak anak kecil di dandani layaknya anak dewasa pada hari Valentine. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah sambil bernyanyi.

– Di Wales, para pemuda akan menghadiahkan sendok kayu pada kekasihnya pada hari kasih sayang itu. Bentuk hati dan kunci adalah hiasan paling favorit untuk diukir di atas sendok kayu tersebut.

– Pada jaman Romawi kuno, para gadis menuliskan namanya di kertas dan memasukkan ke dalam botol. lalu para pria akan mengambil sah satu kertas tersebut untuk melihat siapakan yang akan menjadi pasangan mereka dalam festifal tersebut.

– Di Negara yang sama, para gadis akan menerima hadiah berupa busana dari para pria. Jika ia menerima hadiah tersebut, ini pertanda ia bersedia dinikahi pria tersebut.

– Beberapa orang meyakini bahwa jika mereka melihat robin melayang di udara saat hari Valentine, ini berarti ia akan menikah dengan seorang pelaut. Sementara jika seorang wanita melihat burung pipit, maka mereka akan menikah dengan seorang pria miskin. Namun mereka akan hidup bahagia. Sementara jika mereka melihat burung gereja maka mereka akan menikah dengan jutawan.

Hari Valentine dan Kesesatan Orientasi

Valentine bagi anak muda sekarang perannya hampir menyerupai hari raya, dua minggu sebelum valentine para remaja banyak yang sudah merencanakan mau apa mereka pada tanggal 14 yang dikenal dengan hari valentine itu.

Budaya yang berasal dari kisah tragis Valentino dengan kekasihnya di benua Amerika itu saat sekarang ini seakan-akan menjadi hari raya bagi muda-mudi, dan lebih parahnya, bentuk perayaannnya pun banyak yang berorientasi pada cinta lahiriah saja, ukuran cinta ketimuran yang lebih agung seakan tidak mereka kenal, padahal mereka mempunyai warisan cinta yang begitu agung yang tidak menonjolkan fisik dalam hal cinta, karena orientasi cinta ketimuran bukan fisik maka pelampiasannyanya pun bukan fisik walaupun fisik tidak dinafikan. Tengoklah dalam romansa Qais dan Laila, Sampek Ing Tai, dan Siti Nurbaya, lain halnya dengan hal cinta versi barat yang banyak memuja simbol-simbol fisik karena mereka hidup dalam filsafat materialisme yang diperkenalkan oleh Darwin, Karl Marx, dll. fisik yang jadi pedoman maka banyak pelampiasannya adalah hubungan fisik dengan alasan “cinta” seperti yang tampak pada karya-karya Sheakerspears.

Cinta bagi mereka diukur dengan fisik. Yang lebih memprihatinkan banyak anak-anak muda di Asia (Indonesia di antaranya) zaman sekarang kemudian mengkonsepsikan cinta sebagai kenikmatan fisik, yang dalam pengejawantahannya diartikan dengan OK-OK saja saat diajak untuk melakukan seks bebas. informasi seks yang didapat dari teman sejawat, internet, film Hollywood yang penuh ideologi dan media lain membuat konsepsi mereka tentang cinta dan seksualitas pun berkembang di luar bingkai para orang tua. Padahal belum tentu apa yang mereka lihat dan pahami sebagai baik sebenarnya buruk. Banyak di antaranya adalah hal-hal yang malah negatif bagi mereka, penderita HIV dan AIDS meningkat tajam, banyak bayi tidak diinginkan dilahirkan (pada tingkat lanjut bayi-bayi ini akan mewarisi kebencian dan kesedihan orang tuanya). Sungguh sebuah konsepsi cinta yang salah arah. Jika demikian yang terjadi maka masa depan mereka akan suram sesuram tangisan mereka saat mengetahui bahwa semuanya telah terlambat untuk disesali.

Iklan
Komentar
  1. Lex dePraxis berkata:

    Ini entri yang menarik. Terima kasih sudah berbagi cerita. Kalau mau referensi lain tentang hal yang terhubung, baca artikel Mengapa Sulit Jatuh Cinta di blog saya. Salam kenal, sobat.

    Lex dePraxis
    Romantic Renaissance

  2. kak, tolong beri komentar sama artikel aku yang ini

  3. xanggit berkata:

    Susah juga jadi manusia….Banyak budaya yang kita miliki tapi tidak kita ketahui sedangkan budaya lain menjadi primadona ? kenapa ya…tapi menengok ke belakang semua masalah berasal dari ketidak tahuan.. segala peraturan yang tidak di beritahahukan alasannya.tapi yang pasti menurutku adalah memberikan kebebasan yang terarah dengan pengertian. sentuhlah hati mereka dengan kelembutan dan mereka akan mengagungkan kebenaran dengan ikhlas.. thank you artikelnya bagus walaupun cenderung memojokkan budaya barat … heheheh.. bye

  4. Ihsan Maulana berkata:

    bukan niat awak untuk memojokkan, tapi begitulah kita seharusnya mengambil sikap dan pendirian. saya tidak anti valentine, tapi ayolah kita saring mana yang baik dan tinggalkan yang jelek. hehehehehehehehe 🙂

  5. ramses berkata:

    tergantung ngerayainnya mungkin dgn niat gmn gtu mungkin y mas? soalnya kdg anak2 muda tu cuma ikut2 aja… ^ ^

    kaya gitaris BALAWAN bilang klo dia lebih suka manggung di luar negeru krn orang2 yg dtg bnr2 pgn ntn smua… bkn krn cuma pgn ngeceng ato rame2 doank kaya’ d indonesia… hi13x..

    eh iya tapi pernah baca ni.. ada yg ampe ngata2in valentine tu setan kapitalis.. tapi stlah dpikir2… kapitalis tu ujung2nya duit… emg lebaran g ya? toh lebaran y sama aja beli baju baru,sarung baru,apa baru,,, makan2… klo yg namanya seneng2 dibilang setan kapitalis smua bisa2 habis ni nikmat duniawi yang hallal… T_T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s