Was-Was dan Obatnya

Posted: April 13, 2009 in Kitabe Cak, pemikiran, Pitakonan, Renungan, tasawuf
Tag:, , , ,

waswas1Setiap manusia pasti pernah dilanda kewas-wasan. Jika Anda mengalami was-was dalam melakukan kebaikan, jangan pernah mengurungkan niat baik Anda itu hanya karena dilanda kewas-wasan oleh sebab apapun itu.

Seorang sahabat bertanya pada saya, “Ihsan, saat saya sedang melakukan kebaikan, hati saya seperti dilanda kewas-wasan sehingga kadang saya berpikir saya urungkan saja ibadah yang akan saya kerjakan. Bagaimana menurutmu?” saya menjawab, “ Wahai saudaraku. Janganlah engkau terpengaruh oleh kewas-wasan sehingga menyebabkanmu terjauhkan dari kebaikan!”  sahabat tadi kemudian bertanya lagi, “Tapi apakah tidak membatalkan kebaikan atau pahala ibadah yang saya lakukan?” saya kemudian menjawabnya, “ Sahabat, yakinlah! Tidak sesuatu kebaikan apapun yang akan berjalan sia-sia” masih dalam tema yang sama sahabat tadi masih penasaran,” Lalu apa yang harus saya lakukan dengan kewas-wasan yang melanda diri saya?” saya menjawabnya lagi, “Biarkanlah dan jangan pedulikan! Karena was-was akan hilang dengan sendirinya. Yakinlah!”.

Paragraf di atas adalah sekelumit percakapan saya dengan seorang sahabat di kota Surabaya. Was-was, membicarakannya tak kalah samarnya dengan kita berbicara niat, ikhlas, dengki dan hal-hal yang berkenaan dengan hati (qalbu). Ia tak tampak oleh mata karena itu banyak luput dari perhatian kita yang selama ini sering kali mengukur segala sesuatu dari yang tampak oleh panca indera. Lalu was-was itu sendiri apa, dalam al-Qur’an surat al-Nas ayat empat dan lima disebutkan, “dari was-was yang tersembunyi (yang berasal dari) Syetan. Yang membisikkan kewas-wasan dalam hati manusia.” Jadi was-was adalah bisikan dari syaitan yang didengungkan pada hati manusia agar manusia itu berhenti dari tindak kebaikan dan atau agar orang tersebut berbuat kejahatan. bentuk was-was yang paling bisa kita kenali adalah bisikan-bisikan yang tidak kita kehendaki yang merasuk ke dalam hati kita secara tiba-tiba. Biasanya was-was bertujuan untuk memberikan kita keraguan atas kebaikan yang kita kerjakan atau bisikan agar berbuat kejahatan.

Dari itu setiap manusia yang beriman dianjurkan oleh Allah agar meminta perlindungan kepada Tuhan manusia agar dilindungi dirinya dari bisikan (was-was) syaitan. Banyak orang berbuat nekat karena gara-gara was-was ini bahkan orang yang bunuh diri juga berasal dari bisikan kewas-wasan yang diberikan syaitan pada dirinya.
Pernah pada suatu ketika saat saya masih ada di pesantren saat itu saya sedang memegang tasbih dan berdzikir di Musholla dan tiba-tiba banyak orang yang saya kenal berlalu lalang di hadapan saya dan biasanya mereka memperolok orang yang dianggap sok alim, ada bisikan dalam hati saya, “Ah…lebih baik saya berhenti dulu agar tidak dianggap sok alim.” Dan saat itu saya menghentikan dzikir saya dan memilih untuk mengantongi tasbih yang saya pegang. Sesampai di pondok saya membuka kitab Sullam, di sana saya membaca sebuah kalimat, “Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena manusia maka sesungguhnya ia telah riya’ (ingin dipuja manusia) dan barang siapa yang mengerjakan sesuatu karena manusia maka ia telah terjatuh pada perbuatan syirik.” Sehabis membaca kalimat itu saya tertegun beberapa saat dan kemudian beristigfar akan perbuatan saya yang salah. Ternyata saat kita melakukan kebaikan, walaupun ada orang yang mencaci maki kita atau bahkan memuja-muji kita jangan tinggalkan pekerjaan tersebut dan tetaplah lakukan karena Allah atau karena memang Anda ingin melakukannya.

Dari sana sadar bagaimana seharusnya diri kita menghadapi kewas-wasan yang sering melanda hati umat manusia. Jadi sekali lagi, jika Anda melakukan sebuah kebaikan lalu was-was melanda diri Anda, lanjutkan saja pekerjaan Anda tersebut dan jangan berhenti hanya gara-gara was-was. Jadi just do what we must do! Semoga bermanfaat!.

Komentar
  1. Kocoworo Brenggolo mengatakan:

    kalau was-was anda harus yakin kalau anda was-was, kalau was-wasnya tidak yakin berarti anda tidak was-was

  2. Ihsan Maulana mengatakan:

    Wah. tu sepertinya saya harus belajar lagi

  3. yopie mengatakan:

    pengalaman ku was was itu cuman perasaan aja harus berkata pada diri sendiri self talk, aku terbebas dari was- was….dengan yakin bayangkan kita dalam keadaan yakin ..selamat mencoba.

  4. Ihsan Maulana mengatakan:

    Benar, tapi seringkali kita tak bisa membedakan istilah was-was (bisikan setan) dan self talk (sebuah upaya peneguhan diri atas diri sendiri). Maka dari itulah tulisan ini dibuat.

    Dalam istilah self talk tidak dipelajari istilah was-was. Yang ada pada konsep self talk adalah pada konsep diri yang akan kita wujudkan. dalam konsep self talk kemudian kita mengenal istilah konsep diri dan realita diri. Nah, keteguhan hati atas kebaikan akan menjadikan was-was seperti air hujan yang tak bisa menembus batu yang licin. Semoga bermanfaat

  5. Kan Sas mengatakan:

    makasih saya butuh nasehat nasehat agar was-was saya hilang ternyata benar kata ibuk saya

  6. Hendri mengatakan:

    Cara hilang was was:
    1. Jangan prcaya adnya was was gangguan setan
    2. Berlindung kpd Allah swt
    3. Bnyak menyibukkan pikiran
    4. Buang yg ragu, tanam yg YAKIN

  7. mulya mengatakan:

    emang uda kodrat dalam hati manusia ada prasaan was was.tp was was terhadap tuhan agar ke imanan kita bertambah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s