Agama yang Menggerakkan

Posted: November 10, 2009 in Motivasi, pemikiran, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, ,

bung tomo64 tahun lalu, pada 10 november 1945, Bung Tomo, naik ke atas mimbar, langkahnya tegak, rahangnya terkatup rapat, tatapannya tajam ke depan, tampak bahwa air mata semangat telah sampai pada raut mukanya, geram pada tentara sekutu dan kemudian memulai pidato pengobar semangat berikut ini:

Bismillahi rokhmanir rakhim.
Merdeka
Saudara – saudara rakyat jelata diseluruh indonesia
terutama saudara – saudara penduduk kota Surabaya
Kita telah mengetahui bahwa hari ini tentara ingris telah
menyebarkan pamflet – pamfet
yang memberikan ancaman pada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka
tentukan menyerahkan senjata – senjata yang telah
kita rebut dari tangan tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah mita supaya kita datang semua pada mereka itu dengan membawa bendera putih
tanda bahwa kita menyerah pada mereka.
Saudara – saudara didalam pertempuran – pertempuran yang lampau,
kita sekalin telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya,
yang berasal dari Sulawesi, pemuda – pemuda yang berasal daari Bali,
pemuda – pemuda yang berasal dari Kalimantan,
pemuda – pemuda yang berasal dari Sumatra, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli dan seluruh pemuda yang berada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan – pasukan mereka masing -masing dengan pasukan rakyat yang dibentuk dikampung – kampung
telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol,
telah menunjukkan satu kekuatan hingga
mereka itu terjepit di mana – mana.
Hanya karena taktik yang licik dari mereka itu saudara – saudara,
dengan mendatangkan Presiden dan Pemimpin – pemimpin lainnya ke Surabaya ini,
maka kita tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu, mereka telah memperkuat diri, dan setelah kuat, sekarang inilah keadaannya.
Saudara – saudara, kita semuanya – kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tangtangan tentara Inggris itu, dan kalau pimpinan tetara Inggris yang ada di Surabaya ingin mendengar jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, dengarkan lah ini tentara Inggris!

Ini jawaban kita, ini jawaban rakyat Surabaya, ini jawaban pemuda Indonesia, kepada kau sekalian hai tentara Inggris! Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk padamu! Kau menyuruh kita membawa senjata – senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu. Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekalian akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan seluruh kekutan yang ada! Tetapi inilah jawaban kita

“selama Banteng – Banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membasahi secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu, tidak akan kita mau menyerah pada siapapun juga”

Saudara – saudara rakyat Surabaya bersiaplah. Keadaan genting. tetapi saya peringatkan sekali lagi jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang meraka itu! Kita tunjukkan bahwa kita ini adalah orang – orang yang benar – benar inggin merdeka! Dan untuk kita saudara – saudara, lebih baik hancur lebur dari pada tidak merdeka!

Semboyan kita tetap! Merdeka atau Mati! Dan kita yakin saudara – saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh kepada kita. Sebab Allah selalu berpihak kepada yang benar.
Percayalah saudara – saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Merdeka

Dikutib dari buku : DR H Roeslan Abdulgani – Seratus hari diSurabaya yang Menggemparkan Dunia, yayasan Idayu – Jakarta, 1980

Mengucap bismillahirrahmanirrahim mengajak masyarakat Indonesia untuk berjihad melawan agresi sekutu yang dikomandoi Inggris dan diakhiri dengan pekik Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! telah membangkitkan semangat para pemuda Surabaya, meneteskan setiap ari mata yang masih bisa menetes, mengisi dada-dada rakyat Surabaya dengan semangat untuk terus berjuang sampai dnengan titik darah penghabisan dan hanya ada dua pilihan, meredeka atau mati.
untuk bergerak membawa apa saja yang bisa digunakan sebagai senjata, bedil, pistol, hingga bambu runcing sekalipun. Yang penting maju berjuang melawan penjajah yang coba bercokol kembali di bumi pertiwi melewati Surabaya.

Dulu mereka memekik takbir, bertarung dengan semangat yang menyala-nyala, dengan lelehan air mata, dengan isak tangis keberanian membela tanah air. Allahu Akbar telah membuat masyarakat Jawa Timur bersatu melawan penjajah tidak menghiraukan himbauan Presiden Soekarno yang telah ditekan Sekutu agar menyeru masyarakat Surabaya untuk meletakkan senjata. Bagi masyarakat Surabaya lebih baik mati berkalang tanah daripada harus dijajah.

Perang terbuka terjadi di kota Surabaya, dua kekuatan yang tidak seimbang bertempur di kota ini, serangan dengan tank-tank modern, tembakan dari pesawat tempur dibalas dengan tembakan bedil, ketapel, bambu runcing, dan apapun yang bisa dijadikan senjata, gempuran-gempuran yang tak menyurutkan masyarakat Surabaya untuk terus bertempur dalam tekad merdeka atau mati (‘isy kariman aw mut syahidan).

Lalu apa hubungannya dengan agama, ya lihat saja bagaimana Bung Tomo mengucap basmalah, bagaimana pula ia membakar semangat masyarakat Surabaya lewat pekikan takbir yang diucapkan dengan kedalaman hati dan kebulatan tekad.

Agama, tanpa campuran ideologi apapun bisa membakar dan menggerakkan masyarakat dengan begitu hebat, ia tak perlu sosialisme, ia juga tak perlu komunisme untuk menggerakkan masyarakat. Karena masyarakat sendiri tak mau terlalu peduli dengan apa itu sosialisme dengan apa itu komunisme apalagi kapitalisme. Bagi mereka yang benar harus dibela, bagi mereka kebatilan harus segera dienyahkan, yang mereka tahu hak mereka hak atas tanah air yang telah membesarkannya haruslah diperjuangkan dengan mati-matian. inilah people power yang begitu mengharukan yang dicatat dunia, puluhan ribu orang bersatu saling bantu membantu dalam mengusir penjajah, yang masih sehat fisik ikut bertempur para wanita menyediakan suplay makanan dan perobatan, yang tua juga beruasaha dengan apa yang bisa ia usahakan. Rakyat tergerak oleh sebuah sebuah, “Sebab Allah selalu berpihak kepada yang benar.
Percayalah saudara – saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian..

Agama dalam dunia-dunia ketiga memang seringkali menjadi penggerak dan bukan pembudak. Agama telah memberikan makna hidup, kekuatan untuk bertahan di mana orang lain tak mampu bertahan dalam situasi demikian.

Ulama terjun dalam garda terdepan untuk memimpin umatnya dalam pertarungan hidup mati, menjadi jenderal dan sekaligus panutan yang dilihat dan disaksikan sendiri oleh umatnya, menjadi teladan untuk terus berjuang membela hak mereka yang coba dirampas oleh penjajah. Agama yang menggerakkan,ya begitulah kita menamakannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s