Selamat Natal Menurut Al-Qur’an

Posted: Desember 6, 2009 in pemikiran, Pitakonan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, ,

Sakit perut menjelang persalinan, memaksa Maryam
bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau
mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali.
Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: “Ada anak
sungai di bawahmu, goyanghan pangkal pohon kurma
ke arahmu, makan, minum dan senangkan hatimu.
Kalau ada yang datang katakan: ‘Aku bernazar tidak
bicara.'”

“Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk.
Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan penzina,”
demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di
gendongannya. Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya
menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang
bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah
yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta
mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa:
“Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku
pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari
ketika aku dibangkitkan hidup kembali.”

Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah Maryam ayat 34.
Dengan demikian, Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan
selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa
a.s.

Terlarangkah mengucapkan salam semacam itu? Bukankah
Al-Quran telah memberikan contoh? Bukankah ada juga salam
yang tertuju kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, keluarga
Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harus percaya
kepada Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga harus
percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya adalah hamba
dan utusan Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam
untuk. mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh
nabi dan rasul. Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir
(natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi saw. juga merayakan hari
keselamatan Musa a.s. dari gangguan Fir’aun dengan berpuasa
‘Asyura, seraya bersabda, “Kita lebih wajar merayakannya
daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s.”

Bukankah, “Para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda?”
seperti disabdakan Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat
bersaudara? Apa salahnya kita bergembira dan menyambut
kegembiraan saudara kita dalam batas kemampuan kita, atau
batas yang digariskan oleh anutan kita? Demikian lebih
kurang pandangan satu pendapat.

Banyak persoalan yang berkaitan dengan kehidupan Al-Masih
yang dijelaskan oleh sejarah atau agama dan telah
disepakati, sehingga harus diterima. Tetapi, ada juga yang
tidak dibenarkan atau diperselisihkan. Disini, kita berhenti
untuk merujuk kepercayaan kita.

Isa a.s. datang mermbawa kasih, “Kasihilah seterumu dan
doakan yang menganiayamu.” Muhammad saw. datang membawa
rahmat, “Rahmatilah yang di dunia, niscaya yang di langit
merahmatimu.” Manusia adalah fokus ajaran keduanya; karena
itu, keduanya bangga dengan kemanusiaan.

Isa menunjuk dirinya sebagai “anak manusia,” sedangkan
Muhammad saw. diperintah:kan oleh Allah untuk berkata: “Aku
manusia seperti kamu.” Keduanya datang membebaskan manusia
dari kemiskinan ruhani, kebodohan, dan belenggu penindasan.
Ketika orang-orang mengira bahwa anak Jailrus yang sakit
telah mati, Al-Masih yang menyembuhkannya meluruskan
kekeliruan mereka dengan berkata, “Dia tidak mati, tetapi
tidur.” Dan ketika terjadi gerhana pada hari wafatnya putra
Muhammad, orang berkata: “Matahari mengalami gerhana karena
kematiannya.” Muhammad saw. lalu menegur, “Matahari tidak
mengalami gerhana karena kematian atau kehahiran seorang.”
Keduanya datang membebaskan maanusia baik yang kecil, lemah
dan tertindas -dhu’afa’ dan al-mustadh’affin dalam istilah
Al-Quran.

Bukankah ini satu dari sekian titik temu antara Muhammad dan
Al-Masih? Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat Sawa’
(Kata Sepakat) yang ditawarkan Al-Quran kepada penganut
Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? Kalau demikian, apa salahnya
mengucapkan selamat natal, selama akidah masih dapat
dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan apa yang
dimaksud oleh Al-Quran sendiri yang telah mengabadikan
selamat natal itu?

Itulah antara lain alasan yang membenarkan seorang Muslim
mengucapkan selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan
ritual . Di sisi lain, marilah kita menggunakan kacamata
yang melarangnya.

Agama, sebelum negara, menuntut agar kerukunan umat
dipelihara. Karenanya salah, bahkan dosa, bila kerukunan
dikorbankan atas nama agama. Tetapi, juga salah serta dosa
pula, bila kesucian akidah ternodai oleh atau atas nama
kerukunan.

Teks keagamaan yang berkaitan dengan akidah sangat jelas,
dan tidak juga rinci. Itu semula untuk menghindari kerancuan
dan kesalahpahaman. Bahkan Al-Q!uran tidak menggunakan satu
kata yang mungkin dapat menimbulkan kesalahpahaman, sampai
dapat terjamin bahwa kata atau kalimat itu, tidak
disalahpahami. Kata “Allah,” misalnya, tidak digunakan oleh
Al-Quran, ketika pengertian semantiknya yang dipahami
masyarakat jahiliah belum sesuai dengan yang dikehendaki
Islam. Kata yang digunakan sebagai ganti ketika itu adalah
Rabbuka (Tuhanmu, hai Muhammad) Demikian terlihat pada
wahlyu pertama hingga surah Al-Ikhlas. Nabi saw. sering
menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun
bertanya, “Dimana Tuhan?” Tertolak riwayat sang menggunakan
redaksi itu karena ia menimbulkan kesan keberadaan Tuhan
pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil
pula diucapkan oleh Nabi. Dengan alasan serupa, para ulama
bangsa kita enggan menggunakan kata “ada” bagi Tuhan,
tetapi “wujud Tuhan.”

Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia
agung lagi suci itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen
yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan
Islam. Nah, mengucapkan “Selamat Natal” atau menghadiri
perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan dapat
mengantar kepada pengaburan akidah. Ini dapat dipahami
sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih, satu keyakinan
yang secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan
kacamata itu, lahir larangan dan fatwa haram itu,
sampai-sampai ada yang beranggapan jangankan ucapan selamat,
aktivitas apa pun yang berkaitan dengan Natal tidak
dibenarkan, sampai pada jual beli untuk keperluann Natal.

Adakah kacamata lain? Mungkin!

Seperti terlihat, larangan ini muncul dalam rangka upaya
memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman,
agaknya lebih banyak ditujukan kepada mereka yang
dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada
seseorang yang ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya
atau mengucapkannya sesuai dengan kandungan “Selamat
Natal” Qurani, kemudian mempertimbangkan kondisi dan
situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan
kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain,
maka agaknya tidak beralasan adanya larangan itu. Adakah
yang berwewenang melarang seorang membaca atau mengucapkan
dan menghayati satu ayat Al-Quran?

Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan,
Al-Quran memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana lawan
bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau
keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh
pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan
memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan
keyakinannya. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah
ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun
non-Muslim memahami ucapan “Selamat Natal” sesuai dengan
keyakinannya, maka biarlah demikian, karena Muslim yang
memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai dengan garis
keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan dalam rangka
interaksi sosial.

Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu,
bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai
akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang
membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana
dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal
tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.

Dostojeivsky (1821-1881), pengarang Rusia kenamaan, pernah
berimajinasi tentang kedatangan kembali Al-Masih. Sebagian
umat Islam pun percaya akan kedatangannya kembali. Terlepas
dari penilaian terhadap imajinasi dan kepercayaan itu, kita
dapat memastikan bahwa jika benar beliau datang, seluruh
umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada saat
kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan.
Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga sikap dan
ucapan umat Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah
kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat dan hari
kebangkitannya nanti.

Iklan
Komentar
  1. RUDI berkata:

    Islam tidak mengakui dg adanya tiga tuhan jadi klo kta mengucapkan sama saja dg mengakui hal tersebut dan melgalkan hal tersebut……..tidak ada toleransi dlm penkaburan aqidah dan ada hanya dlm hal muamalah……..

  2. stainless tanks berkata:

    Mengucapkan perayaan natal bagi umat agama lain tidak salah karena itu adalah merupakan wujud dari toleransi terhadap umat lain, karena itu merupakan hak azasi yang paling mendasar bagi manusia sebagai mahluk sosial,tidak mungkin manusia hidup terisolasi baik itu sesama agamanya maupun dengan manusia yang beragama lain,bahka dengan orang yang tidak beragama sekali pun.jadi marilah kita memupuk persaudaraan ,saling mengasihi,saling menghormati,sehingga dengan pelan-pelan tapi pasti akan tercipta kedamaian,ahirnya tidak ada lagi ketakutan,rasa tertindas,perasaan minoritas dan mayoritas karena semua berjalan dengan saling menghormati dan saling menyayangi.

  3. Ihsan Maulana berkata:

    Islam mengakui Isa sebagai salah satu Nabi dan Rasul dalam Islam. Jadi kenapa kita harus memusuhi orang yang bergembira atas kedatangan Isa al-Masih jika kita sendiri tidak merayakannya.

  4. ahyar berkata:

    Kepada YTH penulis artikel.
    1. Apakah anda yakin Yesus menurut kepercayaan kristiani itu lahir di tanggal 25 desember? di alkitab sendiri dijelaskan Isa lahir di musim ketika pohon gugur. di musim menggembala kambing. bukan di musim salju (Bulan Desember).
    2. Anda sebut apakah Yesus itu? Tuhan atau nabi?
    3. Anda seolah mencari persamaan diantara nabi2. tapi anda lupa satu hal. Bagi umat muslim, semua nabi membawa ajaran Tauhid, tentang keEsaan Tuhan, dan kesucian wujud Tuhan dari penyerupaan sifat dengan makhluk. Sedangkan dalam kepercayaan Nasrani mengimani Yesus (manusia) sebagai Tuhan atau anak tuhan (sifat makluk yang beranak). Jadi bagaimana mungkin anda mencari cari kesamaan titik temu dari dua keyakinan yang berbeda.
    4. Anda menyebut selamat menyebut selamat natal “Qur’ani”. dari mana anda mendapat redaksi dan osa kata tersebut dari Al-Qur’an. sedangkan al-qur’an sendiri bahkan tidak pernah mengajarkan seorang muslim untuk memperingati hari lahirnya.
    5. Anda mengutip surah Al-Ikhlas. tetapi tahukah anda bahwa surah ini berisi ayat bahwa Tuhan itu Satu, Tidak diperanakkan atau beranak, tidak menyerupai makhluk?
    6. Lalu bagaimana anda bisa mencampuradukkan aqidah islam dengan ucapan selamat natal yang seolah anda katakan “Qur’ani”?

  5. Ihsan Maulana berkata:

    1. saya tidak coba memperdebtakan tentang kapan Yesus itu lahir, tapi dalam skala dominan umat kristiani Yesus lahir pada tanggal 25 Desedmber
    2.Nabi
    3. Iya betul itu.tapi keesaan (tauhid) dalam agama-agama mempunyai pandangannya sendiri dan memiliki kebenarannya tersendiri. tiadalah suatu kebenaran yang lebih kuat kecuali ia percaya pada kebenaran itu.
    4.Silahkan lihat surat maryam ayat 33″dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Jadi mohon silahkan lihat lagi tentang ihwal perayaan kelahiran dalam Islam
    5 Oh begini maksudnya. kata Allah tidak diperkenalkan pada awal mula Islam itu datang tapi konseo tentang Tuhan (Rab).
    6. Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya tidak hendak mencampur aduk akidah Islam tapi ini adalah relasi antar sesama manusia sebagai makhluk sosial saja.

    perlu diketahui bahwa dalam hubungan antar umat beragama kita tidak hendak membahas tentang akidah yang menjadi doktrin dari masing-masing agama tapi bagaimana menemukan titik temunya sebagai makhluk sosial. Semoga bermanfaat

  6. ali musa berkata:

    assalamu’alaikum.. ana bingung dgn anda…

    pluralisme udh membudaya oleh sebagian umat islam, termasuk anda.

    gouzwul fiqri.. memang sebuah peperangan yg amat berat bagi umat muslim salah satunya anda, namun mereka umat mukmin akan slalu tegar menghadapi peperangan tsb..

    ada baiknya antum pertanyakan.. apakah antum termasuk orang2 yg beriman?

  7. infotainment berkata:

    Natal 25 Desember adalah ritual ibadah dan simbol kekristenan. Pahamilah itu.. bahkan diantara umat kristen sendiri masih bersilang pendapat tentang Natal. Natal adalah bid’ah kata sebagian mereka dan memilih kontra dan tidak merayakan Natal 25 Desember.

    Ikut menjalankan ritual agama lain atas dasar toleransi adalah kebablasan

    Untukmu agamamu, untukku agamaku… Wallahualam bissawab.

  8. duffain berkata:

    untuk saudaraku ahyar…
    tgl 25 memang bukan taggal kelahiran nabi isa…..tetapi esensi dari pada perayaannya adalah tentang kelahirannya nabi isa,,,apakah anda lupa bahwa sosok nabi kita MUHAMMAD SAW yg lahir pada tgl 12 robiul awwal itu bukan hanya di peringati pada tgl tersebut tetapi untuk di indonesia saja malah justru kerap di peringati pada bln setelah robiul awwal,,,,,,ironisnya lagi tatkala khitanan dan ritual2 lainya itu pun dibacakan kisoh maulid nabi…
    saya justru khawatir kalau jangan-jangan anda bukan seorang muslim…
    jadi permasalahannya adalah bukan karena tanggal kelahirannya tetapi esensi daripada sosok ke-nabi-an isa srbagai seorang hamba pilihan ALLAH SWT.
    …..oya saya juga ingin mengucapkan trimakasih kpd pak Ihsan Maulana yg telah memberikan pencerahan yg begitu luar biasa….maju trs pak…

  9. imam berkata:

    wah tambah bingung

  10. Abd. Basid berkata:

    Sekedar mencoba mengkoreksi ayat al-Qur’annya. Mungkin ayatnya bukan ayat 34, Melainkan ayat 33, yang artiya “dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku aku dibangkitkan hidup kembali” (Q.S. 19: 33)
    Di buku “Membumikan al-Qur’an” karya Quraisy Shihab itu memang ayat 34, setelah saya lihat ke aslinya ternyata ayat 33. Terrima kasih…

    Saya sepakat dengan artikel ini. Untuk dukungan saya bisa dilihat di;http://www.facebook.com/notes/abdi-pena/berdamai-dengan-natal/218608049365

  11. Ihsan Maulana berkata:

    Terima kasih semua, iya betul bukan maryam 34 tapi 33 dan sudah saya sampaikan pada komentar saya di atas.

  12. bayu samodra berkata:

    sebenarnya gak usah bertele-tele..mengucapkan “NATAL” jelas sirik dong,sebab yg diterangkan dalam Al-Qur’an jelas bahwa Isa .as. itu nabi,sedangkan yang mereka yakini “sekarang” Isa itu Tuhan.berarti dengan mengucapkan Natal” sama saja kita mengakui ketuhanan Isa as,dengan membenarkan mengucapkan “NATAL” sama halnya membenarkan Injil yang sekarang sudah dikotori tangan-tangan “SYETAN”

  13. Ihsan Maulana berkata:

    Isa yang dipercayai sebagai Tuhan dalam agama Kristen adalah salah satu Nabi yang harus diimani oleh umat Islam. Apakah saat kita menyebut Isa maka kita menyebut Tuhan?

  14. Ikhwan berkata:

    Intinya, jika kita mengucapkan “selamat natal” berati kita meridhoi agama mereka. Sedangkan Allah hanya meridhoi agama Islam saja.

    dan lagi pula, menurut sumber yg saya dapat perayaan natal merupakan perayaan kematian Nimrod.

    silakan baca artikel ini:

    PERTANYAAN:

    Mana dalilnya dalam Alkitab yang menyatakan Yesus lahir pada tanggal 25 Desember dan perintah untuk merayakan Natal? Jika ada umat Kristiani atau siapapun yang bisa menunjukkan dalilnya dalam Alkitab (Bibel) bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember, kami sediakan hadiah sebuah mobil BMW baru untuk satu pertanyaan ini.

    PENJELASAN:

    Natal atau Christmas diartikan sebagai hari kelahiran Yesus, yang dirayakan oleh hampir semua orang Kristen di dunia, sebenarnya berasal dari ajaran Gereja Katolik Roma. Sesungguhnya ajaran tersebut tidak terdapat dalam Alkitab dan Yesus pun tidak pernah memerintahkan kepada murid-muridnya untuk menyelenggarakan atau merayakannya.

    Perayaan yang masuk ke dalam ajaran Gereja Katolik Roma pada abad keempat ini, berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini samasekali tidak mempunyai dasar atau dalil yang tertulis di dalam Alkitab (Bibel).

    Natal berasal dari kepercayaan penyembah berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia kuno di bawah raja Nimrod (cucunya Ham, anak nabi Nuh). Nimrod inilah orang pertama yang mendirikan menara Babel, membangun kota Babilonia, Niniweah dll, serta kerajaan di dunia dengan sistem kehidupan, ekonomi dan dasar-dasar pemerintahan. Nimrod ini adalah seorang pembangkang Tuhan. Jumlah kejahatannya amat banyak, di antaranya dia mengawini ibu kandung-nya sendiri Semiramis.

    ..Natal berasal dari kepercayaan penyembah berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia kuno di bawah raja Nimrod…

    Setelah Nimrod mati, ibunya yang merangkap istrinya menyebarkan ajaran Nimrod bahwa roh Nimrod tetap hidup selamanya walaupun jasadnya telah mati. Adanya pohon Evergreen yang tumbuh di atas sebatang pohon kayu yang telah mati, ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod. Untuk mengenang hari kelahiran Nimrod setiap tanggal 25 Desember, Semiramis menggantungkan bingkisan pada ranting-ranting pohon itu sebagai peringatan hari kelahiran Nimrod. Inilah asal usul Pohon Natal.

    Melalui pemujaan kepada Nimrod, akhirnya Nimrod dianggap sebagai “Anak Suci dari Surga’. Dari perjalanan sejarah dan pergantian generasi ke generasi dari masa-ke masa dan dari satu bangsa ke bangsa lainnya, akhirnya penyembahan terhadap berhala Babilonia ini, berubah menjadi Mesias Palsu, yaitu berupa Dewa Baal, anak Dewa Matahari. Kepercayaan orang-orang Babilonia yang menyembah kepada “Ibu dan anak” (Semiramis dan Nimrod yang lahir kembali), menyebar luas dari Babilonia ke berbagai bangsa di dunia dengan cara dan bentuk berbeda-beda, sesuai dengan bahasa di negara-negara tsb Di Mesir dewa-dewi tersebut bernama Isis dan Osiris. Di Asia bernama Cybele & Deoius. Di Roma bernama Fortuna & Yupiter, juga di negara-negara lain seperti di China, Jepang, Tibet bisa ditemukan adat pemujaan terhadap dewi Madona, jauh sebelum Yesus lahir

    Pada abad ke 4 dan ke 5 Masehi, ketika dunia pagan Romawi menerima agama baru yang disebut “Kristen”, mereka telah mempunyai kepercayaan dan kebiasaan pemujaan terhadap dewi Madonna jauh sebelum Kristen lahir.

    Natal adalah acara ritual yang berasal dari Babilonia kuno yang saat itu puluhan abad yang lalu, belum mengenal agama yang benar, dan akhirnya terwariskan sampai sekarang ini. Di Mesir, jauh sebelum Yesus dilahirkan, setiap tahun mereka merayakan hari kelahiran anak Dewi Isis (Dewi langit) yang mereka percaya lahir pada tanggal 25 Desember.

    Para murid Yesus dan orang-orang Kristen yang hidup pada abad pertama, tidak pernah sekalipun mereka merayakan Natal sebagai hari kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember.

    ..Dalam Alkitab (Bible), tidak ditemukan satu ayat pun yang memuat perintah Tuhan, Allah maupun Yesus yang memerintahkan untuk merayakan Natal…

    Dalam Alkitab (Bible), tidak ditemukan satu ayat pun yang memuat perintah Tuhan, Allah maupun Yesus yang memerintahkan untuk merayakan Natal. Sebab perayaan setiap tanggal 25 Desember,adalah perayaan agama Pagan (penyembah berhala) yang dilestarikan oleh umat Kristiani.

    Upacara Natal adalah berasal dari ajaran Semiramis istri Nimrod, yang kemudian dilestarikan oleh para penyembah berhala secara turun temurun hingga sekarang ini dengan wajah baru yang disebut Kristen.

    Berdasarkan penjelasan sejarah Natal tersebut, maka jelaslah bahwa Natal sama sekali bukan ajaran Yesus. Seumur hidupnya Yesus tidak pernah sekalipun menyuruh merayakan Natal bagi dirinya. Merayakan dirinya sebagai seorang Nabi atau Rasul saja beliau tidak pernah ajarkan, apalagi menyuruh merayakan kelahirannya sebagai Tuhan!!

    Tidak ada satu dalil pun dalam Alkitab menyatakan Yesus lahir tanggal 25 Desember. Pendeta, Pastur bahkan Paus di Roma-pun mengakui bahwa Natal bukan ajaran gereja.

    Oleh sebab itu jika ada umat Kristiani atau siapapun yang bisa menunjukkan dalilnya dalam Alkitab Yesus lahir pada tanggal 25 Desember, kami sediakan hadiah sebuah mobil BMW baru untuk satu pertanyaan ini. Jawaban bisa dikirim ke SMS: 0817.702050.

    Apakah Natal memuliakan Yesus

    Apakah Natal yang dirayakan orang itu memuliakan Yesus? Biarlah Alkitab sendiri yang menjawabnya. Inilah jawaban Alkitab:

    “Maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadapanmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang allah mereka dengan berkata: Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada allah mereka? Aku pun mau berlaku begitu. Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap Tuhan, Allahmu; sebab segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa yang dibenci-Nya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi allah mereka. Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya” (Ulangan 12 : 30-32).

    ..Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia…

    “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (Matius 19 : 8-9).

    “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia” (Markus 7:7-8).

    Merayakan Natal berarti melestarikan kebohongan dan pemborosan

    Menjelang Natal akan bermunculan berbagai iklan di mall-mall, toko-toko, koran, majalah dan lain sebagainya. Jutaan dollar dan miliaran rupiah dihamburkan untuk promosi berbagai barang dagangan demi keperluan Natalan. Semuanya dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seperti “Malaikat Pembawa Terang”, padahal tanpa mereka sadari ajaran Yesus mereka telantarkan, karena yang mereka rayakan adalah tradisi ajaran agama kafir kuno, bukan perintah Tuhan ataupun Yesus.

    “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

    “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia” (Markus 7:7-8).

    “Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: “Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin” (Matius 26:8-9). [taz/voa-islam.com] (Matius 7:21-23).

    http://www.voa-islam.com/trivia/christology/2009/12/25/2209/kuis-natal-berhadiah-mobil-bmw/

  15. Ikhwan berkata:

    Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ditanya: “Apa hukum mengucapkan selamat hari raya Natal kepada orang kafir?”

    Beliau menjawab: “Mengucapkan selamat hari natal kepada orang Kristen atau ucapan selamat atas hari raya keagamaan mereka lainnya adalah sepakat haram.” (Rasail Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, 3/44).

    http://www.voa-islam.com/trivia/aqidah/2009/12/24/2154/haram-mengucapkan-selamat-natal/

  16. anjar setiawan berkata:

    Allah SWT Maha Esa Maha Satu. tidak ada Tuhan Selain Dia. maka barang siapa yang menyembah Tuhan selain Dia, berarti ia termasuk golongan orang2 kafir, syirik, dan pasti akan celaka nantinya sebelum ia bertaubat Nasuha (dengan sungguh sungguh). Wallahu’ a’lam bi showaf. semoga selalu diberikan Hidayah olehNya. amin amin Ya Robbal alamin. Syetan yang terkutuk akan selalu menghasut kita umat manusia, maka jangan mudah terhasut, jangan mudah terpancing emosi. Pagarilah diri kita dengan Iman.

  17. rio rizalino berkata:

    Bagi Anda yang mengaku muslim tapi menolak mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani, silahkan. itu hak Anda. Tapi apakah iman Anda setipis itu? apakah hanya karena mengucapkan selamat natal, Anda takut iman Anda goyah dan lantas meyakini iman Kristiani? Lemah sekali iman Anda.

    Mengucapkan natal dalam hal ini hanya dalam perspektif sosiologis saja. Karena hal itu bisa meningkatkan kerukunan umat beragama di masyarakat. Tidak ada hubungannya dengan Iman. Soal iman, itu sudah tuntas lah. Iman itu soal keyakinan dan keyakinan ini letaknya dalam hati. Kalau hanya karena mengucapkan selamat Natal Anda takut iman anda goyah, saya sarankan pertebal dulu iman Anda, baru berkomentar.

  18. yunakost yani berkata:

    buat kalian yang merasa islam
    apakah kalian yakin 25 desember yang jadi hari natal
    merupakan kelahiran nabi ISA as?
    kenapa kita harus merayakan ultah nabi isa as
    padahal nabi muhammad SAW aja gak pernah menyuruh
    umatnya merayakan kelahiran beliau
    sekedar info kelahiran nabi muhammad tgl 12 robiul awal
    tgl wafatnya juga 12 robiul awal
    semoga kita selalu dapat petunjuk dari Alloh SWT

  19. rizky berkata:

    heh kalau kalian tahu nabi isa itu bukan yesus! AL Qur’an kan sudah menjelaskan bahwa yg disalib itu bukan nabi isa tpi Yudas Iskariot yang diseripakan namanya oleh Allah. so di hadist juga ada kalo orang islam itu gak boleh ikut2an ngucapi met natal.

  20. Ihsan Maulana berkata:

    IKhwan: Mas Ikhwan terima kasih atas penjelasan panjang lebarnya. Tapi perdebatannya kenapa perdebatan tanggal 25-nya. Padahal, sekali lagi saya tegaskan bukan itu esensinya. Saya tidak ingin terjebak dalam perdebatan tanggal 25. Kalo ingin perdebatan itu marilah kita ada sesi lanjutan dalam sesi seminar. Anda jadi pembicara dan juga saya datangkan ahli sejarah Yesus Kristus. kita bisa fight secara data. Kalau Anda setuju silahkan tindak lanjuti komentar saya ini. Saya siap jadi panitia dan sekaligus moderator pada sesi kita nanti. Tempat bisa kita letakkan di hotel, Graha Pena atau hall IAIN Sunan Ampel Surabaya. Silahkan Anda langsung kontak email saya… Satu lagi, Syek Utsaimin belum bisa dikatakan memenuhi tabaqah faqih fi din… dia hanyalah seorang yang hafal banyak hadis tapi sayang tafsirnya dangkal. Para Syeikh al-Azhar pun tidak menanggap dia sebagai seorang ulama’ yang harus diperhitungkan. Ia diperhitungkan hanya di kalangan penganut Wahabi saja. Seperti di Arab Saudi.

    Anjar: Ini bukan soal Iman, ini soal relasi sosial. di Mesir, kami (para muslim) biasa mengucapkan selamat natal pada kaum kristen koptik…

    Rio: ya betul Mas… Jangan khawatir, mereka yang tidak setuju hanya mewakili sekte kecil dalam Islam saja. Kami umat Islam di NU sebagai mayoritas di negeri ini sepakat bahwa mengucap natal adalah boleh karena dapat memunculkan mashalih (kebaikan).

    Yuna: Hemmm, pertanyaan itu lagi….

    Rizky: Nama lain Isa adalah Yesus, Ia juga disebut sebagai Yusa&Isaiah. Perkaraa Yudas Eskariot. Itu keyakinan Muslim, tapi Saya sebagai muslim tetap mengakui bahwa Yesus adalah Rasul Allah sebagaimana diajarkan oleh al-Qur’an kitab suci yang saya percayai dan yakini

  21. faidzy berkata:

    aqidah & sosialisi-toleransi y punya rel msaing2,aqidah trjaga & hubngn krukunan sesama jg trjaga,apa yg diprmasalahkan??,geto aj kok repottt….

  22. Abraham Bintara berkata:

    untuk mas Gunadhi Blora,semoga ini bermanfaat…

  23. xucinxgaronx berkata:

    inilah alasan perayaan natal dilarang dalam Islam

  24. xucinxgaronx berkata:

    dan ini kelanjutannya

    natalan adalah sisa satu satunya perayaan agama para penyembah berhala yang dilanggengkan hingga sekarang …

  25. poncohariono79 berkata:

    artikelnya muanteb…jossssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s