Semua Manusia Bersedih (In Memoriam Gus Dur)

Posted: Januari 4, 2010 in pemikiran, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:,

Tak pernah saya menyaksikan rasa kehilangan yang begitu mendalam dari semua orang akan kepergian seorang tokoh selayaknya kepergian Gus Dur ke pangkuan ilahi. Saat mendengar kepergiannya, semua orang kaget, semua orang bersedih, tak peduli ia santri, nasionalis, Muslim, Kristiani, Hindu, Budha, Konghucu, dan Atheis, baik ia dari kalangan elit negeri ini atau loper koran yang secara tak sengaja membaca beritanya di pagi hari, semuanya bersedih. Tak perduli apakah ia teman atau bahkan musuh, semua bersedih.

Sekali pernah saya dengar rasa kehilangan seperti ini adalah saat Soekarno meninggal atau di tingkat dunia adalah saat Mahatma Gandhi meninggal. Gus Dur (meminjam istilah Andrea Hirata) adalah sosok jenius yang ditempa oleh alam memang sudah menunjukkan kejeniusannya sejak kecil. Ia sudah terbiasa melahap kitab-kitab tebal milik ayah dan kakeknya di pesantren dan setelah tak ada kitab yang dibacanya lagi ia pun membaca buku-buku berat berbahasa asing saat dirinya masih usia SD, menjadi Kepala Madrasah di Madrasah Mu’allimin Tambakberas Jombang bahkan sebelum dirinya lulus sebagai santri di madrasah tersebut, menjadi mediator pemersatu Pondok Pesantren Denanyar Jombang, bahkan menjadi Ketua Tanfidz NU pertama yang lebih berpengaruh dari pada Rais Syuriah NU dan banyak seabrek lagi catatan tentang beliau yang jika ditulis akan jadi buku berjilid-jilid.

Gus Dur adalah sosok intelektual yang tak pernah berada di atas menara gading yang selama ini banyak dituduhkan kaum parlemen jalanan (extra parlementary) pada kaum-kaum intelektual, Gus Dur adalah sosok intelektual di satu sisi dan kaum pergerakan di sisin lain. Bahasanya bisa dimengerti oleh kaum terpelajar sekaligus orang awam walaupun gagasannya yang berorientasi ke masa depan (futuristik) seringkali membuat orang bingung walaupun waktu akan menjawabnya dan menjelaskan gagasan-gagasan Gus Dur. Kepalanya ada di atas langit tapi kakinya tetap menginjak bumi.

Satu hal lagi yang bisa kita peroleh dari Gus Dur adalah etika politik yang diajarkannya. Saya melihat secara sungguh-sungguh bagaimana dar’u al-mafasid muqaddam ‘ala jalbi al-mashalih dijalankan oleh Gus Dur. Contohnya adalah saat ia dijatuhkan dari pucuk kekuasaannya saat menjadi Presiden RI, sebenarnya bisa saja ia menciptakan chaos dengan memakai kekuatan militer dan atau menggalang ratusan ribu massa yang loyal kepadanya tapi dengan mengejutkan Gus Dur menerimanya dan tidak melakukan tindakan secara fisik frontal sehingga Indonesia tetap aman. Allahu Akbar! Saat itu saya terkagum-kagum atas sikap Gus Dur dan membuat saya harus mengangkat tangan di dahi tanda salam penuh hormat pada beliau.

Keistimewaan Gus Dur adalah elastisitasnya kapasitas dia sehingga bisa diterima oleh semua kalangan. Tak pernah saya melihat seorang tokoh pesantren yang bisa masuk ke semua jenis golongan masyarakat tidak saja di Indonesia tapi juga dunia layaknya Gus Dur. Ada bersamanya kita akan merasakan suasana intelektualitas yang mencerahkan di satu sisi dan kehangatan di sisi lain. Tak ada yang namanya elititas, tak ada yang namanya keeksklusifan, tak ada yang namanya kekakuan, tak ada yang namanya pendeskreditan dan dikotomi elit dan orang kecil. Semuanya berjalan secara hangat. Rumahnya selalu terbuka untuk siapapun, bahkan sebagian teman-teman NU kalangan bawah Jawa Timur, jika tidak punya tempat jujukan di Jakarta mereka tidak menginap di kantor PBNU yang sekarang berdiri mentereng itu tapi menginap di komplek rumah Gus Dur di Ciganjur, Jakarta. Seakan-akan mereka sudah sangat dekat dengan Gus Dur padahal satu kali-pun mereka tak pernah bertemu dan uniknya komplek rumah Gus Dur selalu terbuka untuk siapa saja.
Orang yang sering membuat kita tertawa semasa hidupnya kini membuat kita menangis dikala wafatnya. Selamat jalan wahai manusia yang fotonya masih terpajang sebagai Presiden Indonesia di rumah seorang sahabat di Sumenep, Madura, selamat jalan, Gus Dur!.

Iklan
Komentar
  1. arif berkata:

    sugeng tindak buat Gus Dur

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Waduh, Sugeng tindak itu selamat jalan ya?! 🙂

  3. ajiez berkata:

    yang bikin aku geli pas pertama kali melototin ni artikel adalah gambar Gus Dur

  4. Ihsan Maulana berkata:

    hahaha, hal yang terjadi saat dimuat di Surya dengan versi yang berbeda dan gaya penulisan yang berbeda pula

  5. faqih idries berkata:

    setelah Gusdur tiada, apakah ada penggantinya ?

    • lissokhibissaikhu berkata:

      yang menggantikan sosok gus Dur sampai kapanpun tidak pernah ada,tapi yang mewarisi nilai-nilai dari pikirannya pasti akan ada

  6. Ihsan Maulana berkata:

    Tak kan ada manusia yang persis sama

  7. bogel berkata:

    gusdur kuwi penjiplakan dari tokoh wayang semar setiap kali mengakhiri tertawanya diakhiri dengan tangisan, top salut buat gus dur

  8. Ihsan Maulana berkata:

    wah wah Gusdurian ya?! 🙂

  9. ahmad muzni berkata:

    hancur lah harapan kami untunk menegak kan demokrasi setelah gusdur wafat

  10. Ihsan Maulana berkata:

    Gusdur akan sedih jika dengar pernyataan Anda. kebenaran tak boleh terhenti hanya karena kehilangan seseorang. Maju terus kebenaran!

  11. Agus Syahrul Adib berkata:

    Saya ingin jadi Gus Dur, titik !.

  12. Ihsan Maulana berkata:

    hehe, Gus, Gus Dur saja gak ingin jadi titik kok

  13. Ihsan Maulana berkata:

    Mas Agus, Repot aja gak gitu kok, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s