Otot pun Perlu Otak

Posted: Januari 24, 2010 in Cangkruan
Tag:,

Malam itu saya pulang dari mushola di kampungku. Untuk pulang setidaknya saya harus melewati 20-an rumah. Saat tiba di lapangan yang ditumbuhi buah kinco yang sepi itu terlihat segerombolan anak kelas 6 SD, saat itu saya baru kelas 5 SD. Tiba-tiba enam anak itu menghadang saya. Saya tak tahu apa salah saya, yang saya tahu saya baru saja melaksanakan shalat isya’ berjamaah dengan orang-orang yang rata-rata sudah uzur. Saat itu mereka menantang saya, melihat anak-anak yang lebih besar dari saya saya jadi ngeri sendiri. “waduh, bisa kotor nih baju.” Pikirku kala itu. Jika baju kotor maka ibu pasti akan memarahiku. Tak ingin baju kotor karena dipukuli di atas tanah beramai-ramai, saya pun memutar otak. Saya bilang pada mereka, “hey jika memang berani ayo maju satu-satu!”. Sejanak saya lihat mereka memandang satu sama lain. Saat mereka masih berpikir kemudian saya melanjutkan provokasi saya, “mosok wanine kroyokan- masak beraninya keroyokan-.” Saat itu ku lihat seorang anak yang ku tahu bernama Bonang menyerangku. Dengan sedikit berkelit serangan Bonang ku hindari dan ku pukul balik hingga ia terjerembab jatuh ke tanah yang becek akibat hujan. Saat Bonang jatuh kemudian Agung menyerangku tapi sekali lagi bisa ku tangkis dan membuat Agung mundur. Masih dengan kuda-kuda anak kecil yang tak tahu ku pelajari dari mana kemudian mereka berenam mengeroyokku. Saat saya sudah hampir jongkok untuk menghindari pukulan dan tendangan mereka tiba-tiba saja seorang dewasa datang dan mencegah anak-anak itu memukuliku. Saat itu selamatlah aku dari keroyokan anak-anak kampungku sendiri.

Ingat akan hal itu saya jadi ingat ternyata saat otot melawan otot teryata pikiran jernih tetap harus dipergunakan. Jika saja saya tidak mengajak mereka bertarung satu-satu tentu bajuku sudah kotor dan mukaku akan berdarah terkena bogem mentah walau mungkin aku tak akan menangis karena saat itu aku tak tahu cara menangis yang baik dan benar.

Saat ini keenam anak tersebut jadi temanku dan siap sedia men-back up-ku jika ada masalah. Bahkan mereka saat ini menjadi sahabat terbaikku disamping sahabat-sahabatku yang lain. Buktinya adalah kemudian mereka mengangkatku menjadi ketua kartar di kampung dan sering curhat masalah hidup mereka padaku dan saya senang atas hal ini. Apalagi sekarang Agung yang dulu menyerangku telah memakmurkan mushalla saat saya sendiri tak bias aktif di mushalla.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s