Tangan Tuhan

Posted: Februari 4, 2010 in Cangkruan, Motivasi, pemikiran, Renungan
Tag:,

Pagi hari senin (01/02/2010) saya mencari ekspedisi untuk pengiriman barang ke Pamekasan, Madura. Saat itu saya bertanya ke orang-orang di warung kopi. Mereka menunjukkan pada jasa ekspedisi yang ada di dekat rumah dan ternyata setelah saya cari memang ada jasa ekspedisi di sana tepatnya di Jl. Cempaka Surabaya. Kemudian saya tanya pada mereka (Jasa Ekspedisi), “berapa harga jasa yang harus saya bayar untuk mengirim barang seberat 100 kg ke Pamekasan?”, mereka menjawab, “ada dua jasa ekspedisi di sini, Mas. Pertama kalau yang berangkat hari ini itu harganya total 545 ribu dan kedua yang berangkat hari rabu biaya totalnya adalah 115 ribu.” Saya tanya pada mereka, “apa tidak ada yang berangkat hari ini tapi murah atau apakah ada yana harga 115 ribu tapi berangkat hari ini?” Mereka menjawab, “wah kalau yang ke Pamekasan tapi yang murah itu cuma berangkat 2x seminggu, Mas. Jadi ya kepastian berangkatnya baru hari Rabu.” Saya bingung. Saya berpikir jika saya ambil yang 545 ribu maka tekor di saya karena laba yang saya dapatkan tidak sampai segitu tapi jika saya ambil yang hari Rabu maka Customer akan kecewa karena mereka sudah mengharapkan barangnya tiba hari ini. Di tengah kebingungan saya bilang pada jasa ekspedisi tersebut, “saya pikir-pikir dulu ya Mbak”.

Sambil berpikir, saya pun pulang menuju rumah. Saat itu saya ingat ada jasa pengiriman JNE di Jl. Basuki Rahmat Surabaya. Dekat juga dengan rumahku, saya pun berpikir untuk pergi ke sana, tapi sekali lagi saya ragu karena kemarin saja saya ke sana jam sembilan pagi mereka belum buka. Menurut tetanga-tetangga toko di sebelahnya JNE di tempat itu tak mesti kapan bukanya. Selama pikiran berkecamuk saling tanya jawab, saya pun mengemasi barang yang menurut saya memiliki bobot 100 KG yang harus saya kirimkan ke atas sepeda motor. Setelah selesai mengemasi dan akan berangkat entah mau ke mana. Saya bertanya pada tetangga rumah yang saya lihat sering keliling kota Surabaya.

”Mas Bobo, di mana ya kalau ngirim barang yang murah?”

“Oh cobaen, awakmu nang JL. Raden Saleh” tetangga saya tadi menjawab,
Iku nang ndi toh, Mas?” tanya saya lagi dengan bahasa Jawa

Yo cede’e-dekatnya- Bubutan dan Stasiun Pasar Turi iku”

“Oh suwon, Mas”

“Iya podo-podo

Saya pun dengan memakai sepeda motor yang telah dimuati barang-barang langsung menuju Jl. Raden Saleh Surabaya. Tapi ternyata beberapa kali saya keliling Jl. Raden Saleh tak saya dapati jasa ekspedisi satupun. Padahal saya juga ingat-ingat lupa. Dulu saat saya pulang dari Jakarta via kereta api saya memang mendapati beberapa jasa ekspedisi di daerah sekitar stasiun Pasar Turi. Saya pun memutuskan untuk coba mengelilingi daerah Stasiun Pasar Turi. Tapi memang tidak saya temukan dan hanya saya temuka Tiki Ekspress. Saya tanya pada pihak Tiki,

“Untuk mengirim barang ke Pamekasan per kilonya kena berapa, Mbak?”

“kena 18 ribu per kilo, Mas”

“Kalo 100 KG berarti 1.800.000” Waduh ini bukan saja tekor di bandar tapi bisa-bisa bangkrut di bandar!. Pikirku saat itu

“kok sangat mahal, Mbak?”

“iya, Mas. Barang Anda itu masih kami bawa ke Jakarta dulu baru nanti ke Pamekasan. Jadi mungkin sampainya baru empat hari”

Saya membatin saat itu, “wah ini bukan saja mahal tapi juga sangat lambat.” Diam-diam saya pun kembali berpikir kalau begini lebih baik saya kembali saja ke jasa pengiriman di dekat rumah. Akan tetapi entah kenapa saya bertanya begitu saja pada orang yang baru saja mengirimkan barangnya via jasa Tiki.

“Mas, kalau mengirimkan jasa barang selain Tiki ini di mana ya?”

“saya tidak tahu, Mas. Tapi coba saja ke daerah Perak. Dari Barunawati terus saja nanti banyak di sana” kata orang itu setelah beberapa saat berpikir

“Oh matur suwon, Mas” saya berterima kasih

Saya pun menuju ke Perak. Jam di HP saya menunjukkan pukul 10 pagi, Surabaya sudah makin panas, padahal biasanya musim hujan begini mendung. Tapi saya tak peduli, saya coba ke sana. Yang saya jumpai di daerah Perak bukannya jasa ekspedisi barang tapi yang ada adalah ekspedisi dokumen dan jasa penjualan tiket kapal laut dan pesawat. Bahkan saat itu begitu ada tulisan jasa pengiriman barang yang sudah robek-robek saya pun langsung masuk tapi ternyata bukannya jasa ekspedisi tapi malah jasa pencucian mobil.
Hampir putus asa saya dibuatnya. Akan tetapi saya tetap menjalankan sepeda motor saya menyusuri Jl. Perak setidaknya saya putar balik dan pulang lagi ke rumah. Saat hampir menyerah, saya pun menghentikan sepeda motor saya di halte Jl. Perak Timur. Niat saya adalah sekedar istirahat sejenak dan siapa tahu ada yang jual es. Saya pun memarkir kendaraan saya di tepi jalan dan saya menuju halte untk berteduh. Tapi belum sempat saya duduk. Dua orang penjual pentol bilang pada saya,

“Wah Mas. Pengiriman barangnya sekarang sudah pindah”

“maksudnya, Pak?” tanya saya sambil mengernyitkan dahi

“ya pengiriman barangnya sudah pindah”

“pindah ke mana, Pak?” di tengah kebingungan saya bertanya, sok-soknya saja saya mengerti.

“pindah ke Perak. Dekat KPJ atau kantor Polisi Perak”

“Sudah lama tah Pak pindahnya?”

“sudah dua bulanan”

“kenapa pindah?”

“oh itu setelah ada tol Suramadu dan tercapainya kesepakatan antara pihak bus antar kota dengan para sopir angkot”

Saya sebenarnya bertambah bingung. Nah, ini bicara ekspedisi kok tiba-tiba bicara bus antar kota. Apa hubungannya!

Saat itu ada pengendara sepeda motor yang berhenti di halte itu. Saya lihat penjual pentol itu pun menemui pengendara motor tersebut. Oh, ternyata temannya.

“Mas Mas! Ikut bapak ini saja. Dia mau ke Perak. Biar nanti ditunjukkan tempatnya”

“Oh, iya, Pak. Terima kasih” jawab saya yang sebenarnya masih bingung.
Walau masih bingung, saya membuntuti pengendara motor itu hingga menuju tempat mangkal Bus Akas antar kota. Dan ternyata benar, belum saya turun dari sepeda motor, orang-orang sudah pada bertanya, “ngirim barang ya, Mas?” langsung saja saya jawab,

“Iya, Pak”

“ke mana, Mas?”

“Pamekasan”

“Oh di mana alamatnya?”

“di tengah kota, Pak. Bisa?”

“Kami gak boleh masuk ke dalam kota Pamekasan. Jadi saya kirim sampai terminal saja. Entar teman Mas jemput di terminal”

“Oh begitu?” kata saya dengan muka bloon yang coba disembunyikan

“Iya, Mas”

“berapa, Pak?”

“30 ribu”

“20 ribu, Pak” saya coba menawar walau sebenarnya harga itu bagi saya sangat murah jika dibandingkan jasa ekspidisi yang saya temukan selama setengah hari itu

“Gak bisa, Mas. 30 ribu jika mau”

“Baiklah”

Kemudian orang-orang itu pun mengangkut barang saya yang berisi kaos pesanan seorang customer dari Pamekasan itu. Ternyata memang berat, karena yang mengangkatnya memerlukan dua atau tiga orang.

Dan memang hanya beberapa jam saja sudah sampai di Pamekasan dan setelah saya minta kabar dari pihak Pamekasan mereka mengkonfirmasi bahwa barang sudah mereka terima. Ternyata saya baru tahu jika bus antar kota juga nyambi jadi jasa ekspedisi.
Inilah cara Tuhan menuntunku dengan tanganNya yang begitu indah. Akhirnya ending dari pencarian saya saat itu berakhir dengan indah dan saya bersyukur atas hal ini. Atas petunjuk yang tidak saya sangka-sangka. Saya pun tersenyum-senyum dalam perjalanan pulang ke rumah. Alhamdulillah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s