Filosofi “AKU” (Sebuah Proses Penemuan Diri)

Posted: Maret 1, 2010 in Cangkruan, cinta, pemikiran, Pitakonan, Renungan, tasawuf
Tag:, , , ,

“aku” adalah sebuah simbol bunyi yang diucapkan untuk menunjukkan si empunya bunyi. Sebuah simbol penunjukan eksistensi diri pada sebuah realitas yang berdiri di sekitarnya atau bahkan pada diri si pengucap.
Kata “aku” dalam artian bahwa itu menunjukkan subjek ke-1 atau yang dalam tata gramatikal Bahasa Arab dikenal dengan sebagai “mutakallim wahdah” yang berarti si pembicara itu sendiri tanpa melibatkan orang lain untuk bersekutu dengannya. Misal, “aku mengangkat batu ini.” kalimat ini mempunyai pengertian bahwa yang mengangkut batu adalah orang itu by him self, tidak dengan bantuan sekutu. Lain halnya jika kita mengatakan, “kami mengangkat batu ini” maka hal itu menunjukkan bahwa yang mengangkat batu lebih dari satu orang atau ada orang lain yang ikut mengangkat selain si pembicara.
“aku” juga berbeda dengan kata “saya”. “Aku” lebih bebas sekatan sosial ketimbang “saya”. Jika “saya” itu bermakna merendahkan diri karena berasal dari kata “hamba sahaya” maka tidak demikian dengan “aku”. Aku biasa ditujukan pada orang yang sejajar dan bahkan yang lebih tinggi secara sosial.
Di sisi lain “aku” adalah penunjukan eksistensi diri akan ke-aku-an. Sedangkan penunjukan eksistensi diri adalah hal niscaya bagi yang berjiwa. Penulis ingin menunjukkan ke-aku-an penulis pada orang lain dengan coba mengekspresikan apa yang bisa penulis perbuat. Karena sungguh naif sekali jika ada jiwa yang tidak ingin menunjukkan ke-aku-an-nya. Jangankan kita sebagai manusia sebagai kreasi tertinggi Tuhan, tumbuhan pun mengekspresikan keakuannya dengan tumbuh, berbunga untuk kemudian mati. Tumbuh dan berkembangnya tumbuhan adalah bentuk ekspresi diri akan eksistensinya. “aku” adalah ekspresi kata yang digunakan kala ia menciptakan Adam (sesungguhnya aku menjadikan di muka bumi seorang pemimpin), Tuhan juga memakai kata “aku” untuk menunjukkan eksistensi kekuasaannya pada ciptaan atau makhluk-Nya.
Dari ke-aku-an inilah manusia kemudian memiliki ke-khas-an- ke-khas-an yang melekat untuk kemudian menjadi kepribadian-kepribadian. Kepribadian sendiri adalah ke-khas-an yang bermula dari citra diri, citra rasa dan citra karsa yang dilakukan oleh manusia secara kesinambungan dalam ketiga ranahnya (kognisi, afeksi dan psikomotorik-Bloom-).
“aku” yang sebenarnya adalah aku yang ideal dan yang benar seperti kata Tuhan, “Aku adalah yang Benar-Ana al-Haq-”. Maka dari itu idealitas ke-aku-an manusia adalah tatkala ia mempunyai sifat-sifat kesempurnaan Tuhan. Akan tetapi pernyataan ini tentu tidak cocok untuk kaum materialisme dan paham materialistiknya. Dalam paham materialisme selain materi tidak ada yang benar. Kebenaran yang mutlak dalam materialisme adalah materi itu sendiri tanpa terkait pada hal-hal yang non-inderawi. Namun tidak demikian bagi orang-orang beragama yang percaya bahwa materi itu sebenarnya transendental (bergantung atau bersandar). Itu disebabkan orang beragama percaya bahwa ada kekuatan lain yang tidak nampak yang berkuasa atas manusia dan bersifat superior. Kekuatan inilah yang dipercaya sebagai kreator atas keberadaan manusia di atas muka bumi.
Mengapa kekuatan yang dipercaya harus tidak nampak atau berbeda dari semua mahkluk. Hal itu dikarenakan jika masih sama dengan makhluk (yang dicipta) maka ada rangkaian cara berpikir yang akan menyatakan bahwa ia bukanlah pencipta. Yang mencipta haruslah yang benar-benar kuasa dan abosulu kekuasaannya, ia tak dibatasi oleh kekuasaan manapun. Kemutlakan adalah sifatnya. Dalam bahasa Aristoteles disebut sebagai Nous.
Proses ke-aku-an dalam diri manusia menuju aku yang mutlak berbeda dari satu orang ke orang lain, berdasarkan realita eksternal dan realita internal yang ada dalam dirinya. Tapi setidaknya secara psikoligi dapat menjadi acuannya. Sebagaimana diketahui perkembangan manusia secara dasar terbagi pada masa balita, masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, dan masa lanjut usia.
Dalam perkembangan kedirian manusia, masa balita adalah masa manusia melibatkan instink dasar untuk mengekspresikan diri pada kebutuhan yang dasar pula. Seperti ekspresi lapar ataupun ekspresi hendak buang kotoran. Uniknya manusia dewasa bisa mengerti akan ekspresi ini.
Masa ekspresi yang kedua adalah masa kanak-kanak. Masa ini ditandai dengan duplikasi-duplikasi yang dilakukan oleh seorang anak. Masalah makna belum menjadi penting bagi anak. Yang penting ia melihatnya dilakukan oleh pribadi baik secara rekayasa ataupun natural ia akan mencontohnya. Masalah ideologi pada masa ini juga akan secara mudah bisa diterima oleh si anak tanpa pertanyaan yang bersifat esensi. Maka pada masa ini yang paling banyak dilihat dan diperhatikan haruslah menjadi perhatian para orang tua dan orang sekitarnya. Paling tidak sebagai dasar sikap saat kelak ia akan memasuki fase lebih lanjut.
Masa ketiga adalah masa remaja. Pada masa ini anak-anak telah mulai bertransisike dunia dewasa tapi ia tak dapat sepenuhnya lepas dari dunia anak-anak. Pada masa ini para remaja mulai memikirkan kembali apa yang dipercayanya secara mentah pada saat ia anak-anak, pada masa ini remaja telah mulai berpikir tentang idealitas dan realitas. Remaja sangat rentan akan stress karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya baik secara psikis maupun fisik. Sebuah masa yang saya sebut sebagai pertaruhan terbesar dalam hidup manusia. Jika ia selamat pada masa ini maka ia akan bisa menentukan mau kemana hidup selanjutnya, tapi jika ia tidak bisa selamat pada godaan pada masa ini maka masa-masa selanjutnya ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, penyesalan tiada henti, kedua, memperbaiki kesalahan yang ada atau dalam istilah yang sedikit konyol, “mencoba mengolah nasi yang sudah terlanjur menjadi bubur”.
Masa keempat adalah masa dewasa. Pada masa ini manusia sudah dan harus bertanggung jawab sepenuhnya atas semua yang diperbuatnya. Pada masa ini ia sudah bisa berlaku bijak dalam setiap mengambil keputusan. Pada masa dewasa awal, seringkali seseorang mengalami konversi agama atas dasar realita internal yang ada dalam dirinya dan atas beban batin yang ada di kepala dan hatinya.
Sedangkan masa yang kelima adalah masa lanjut usia. Pada fase ini manusia cenderung menarik diri dari aktifitas keduniawian dan cenderung untuk berprilaku lebih spiritual dibanding pada masa sebelumnya. Mungkin ini juga menjadi jawaban kenapa masjid-masjid dan vihara kita lebih banyak dihuni oleh orang yang sudah lanjut usia dibanding mereka yang masih muda.
Semua proses dan fase di atas pada puncaknya akan menuju penyatuan diri pada entitas yang lebih besar berupa alam dan secara ruhani menuju Tuhan yang kekal. Inilah salah satu jawaban kenapa dalam Islam saat ada orang meninggal kita dianjurkan untuk mengucap, “sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya pada-Nya lah kita kembali”. Ini proses tertinggi dari ke-aku-an kecil melebur menuju ke-AKU-an besar. Ana al-Haq, Ana al-Haq, Ana al-Haq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s