Kacang Tangis (Crying Peanuts)

Posted: Maret 15, 2010 in Cangkruan, Motivasi, Pitakonan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, , , , ,

Hari itu dalam sebuah kesempatan menuju ke pulau Madura melalui jalur laut (melalui kapal Feri), seseorang dengan kopyah putih bulatnya dan baju apa adanya membungkus tubuh kurus sang lelaki berumur lima puluhan itu, di sampingnya duduk seorang lelaki tiga puluh limaan tahun memakai kopyah hitam dan kemeja lengan panjang. Sedang di depannya duduk seorang sopir dan di sebelahnya terdapat seorang pemuda tanggung memakai kopyah berwarna emas. Pria kurus berkopyah bulat kurus itu biasa dipanggil Ra Bayan, salah seorang pengasuh pesantren terbesar di Madura dengan hampir sepuluh ribu santri, sedang lelaki di sampingnya adalah Ustad Ruslan, seorang ketua alumni pesantren tersebut, di depannya adalah seorang pria yang biasa dipanggil Ra Majid, seorang pria yang juga masih keturunan pengasuh pesantren. Mereka berempat duduk dalam sebuah mobil dalam rangka menunggu kesempatan naik kapal Feri yangs sekarang eksistensinya sedang terancam dengan jembatan beton bernama Jembatan Suramadu.

Saat itu, sambil menunggu masuknya mobil yang dikendarai ke dalam kapal, Ra Bayan memerintahkan kepada Ra Majid, pemuda sopan tersebut untuk membeli camilan dan tentu camilan yang paling murah dan bisa dikonsumsi oleh orang banyak dan mengandung kalori adalah kacang. Maka dipilihlah kacang sebagai teman perjalanan.

“Jid, belikan kacang, Jid!” perintah Ra Bayan

Enggi, ka’dintoh-iya, baiklah-“ jawab Ra Majid

Setelah itu pria yang disebut Ra Majid itupun membuka pintu mobil dan turun mencari penjual kacang sesaat setelah menerima uang dari Ra Bayan. Sedang Ra Bayan beserta rombongan lain menunggu di dalam mobil. Tak lama kemudian, Ra Majid datang dengan membawa kacang dan uang sekaligus. Ra Bayan dan Ustad Ruslan pun bingung dan berkata dalam hati, “loh kok bisa”

“loh uangnya kok kembali, Jid?” Tanya Ra Bayan

“Enggi, orangnya gak mau nerima” kata Ra Majid

“Loh kok bisa?” Tanya Ra Bayan penasaran

“Yang jual kacang ternyata adalah alumni Pesantren Bata-Bata” jelas Majid lebih lanjut

Jiah, Lan. Lihat!” kata Ra Bayan pada Ustad Ruslan
Ustad Ruslan pun terdiam mencoba mencari jawaban tapi tetap saja belum ketemu.
“Cepat cari Jid. Suruh kemari!” perintah Ra Bayan
Enggi ka’dintoh” kata Ra Majid. Ia pun segera berlalu untuk mencari si penjual kacang yang ternyata seorang alumni Bata-bata.

Sesaat setelah itu, datanglah Majid beserta seseorang yang nampak bermandi peluh dengan pikulan berisi kacang. Tampak lelaki penuh penat itu menunduk tak berani menatap wajah Ra Bayan tanda penghormatan khas seorang santri.

“Kenapa gak mau terima uang dari saya?” Tanya Ra Bayan

Bunten tak ponapah- tidak, tidak mengapa-“ kata orang itu dengan Bahasa Madura halus

“Kalau gak kamu terima. Kacangnya saya kembalikan!” ancam Ra Bayan

Orang itu pun menerima uang dari Sang Lora akan tetapi ditambahnya lagi dengan kacang yang lain

“Loh kok ditambah lagi?”

“Iya karena uangnya ditambah”

Kemudian setelah ditambah kacang, Ra Bayan pun menambah uang lagi, kemudian ditambah kacang lagi kemudian di tambah hingga mencapai 350 ribu untuk sekedar beli kacang. Dan orang itupun memberikan semua kacangnya pada Ra Bayan hingga semua kacang yang ada dalam pikulannya habis tidak tersisa.

Ra Bayan pun menitikkan air mata tanda tersentuh tentang kondisi alumni pesantren yang diasuhnya. Dari itu kemudian Ra Bayan memerintah Ruslan untuk mengkoordinasi para alumni pesantren Bata-Bata agar para alumni bisa terangkat secara ekonomi. “semacam ekonomi kerakyatan-lah” kata Haji Fauzi, seorang bos tampelas halus di kawasan Kalianak Timur Surabaya.

Jadilah kacang tadi disebut sebagai kacang tangis karena telah membuat Ra Bayan tersentuh dan menangis. Dari cerita inilah konon Ra Bayan begitu bersemangat untuk mengkomunikasikan lagi ikatan alumni pesantren yang diasuhnya dengan semangat pemberdayaan.

(cerita ini ditulis berdasar cerita dari Haji Fauzi dan Mohammad Zehrie Kalianak kepada penulis dengan tambahan beberapa ilustrasi di dalamnya oleh penulis)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s