Madhab Cinta Gusti Allah

Posted: Maret 30, 2010 in Cangkruan, cinta, Motivasi, pemikiran, pendidikan, Pitakonan, Renungan, Tafsir, tasawuf
Tag:, ,

Saat itu saya melakukan transaksi ekonomi dengan dua orang junior di Surabaya. Semuanya terasa lancar-lancar saja hingga saat pembayaran tiba. Tiba-tiba kedua junior tadi mengklaim bahwa ia telah memberi DP sejumlah 1500 untuk 1000 yang mereka bayarkan. Awalnya saya ragu apakah mereka telah memberi 1000 atau 800 tapi antah kenapa tiba-tiba saja mereka mengklaim telah memberi 1500. saya bingung, bukan karena apa tapi karena untuk itu saya harus berhutang uang counter milik ibu dan untuk membayarnya saya harus pinjam uang paman yang ada padaku. Bukan hanya itu saja yang membuatku pusing, kreditan bank yang mencapai angka hampir 800 dan sudah mencapai deadline juga membuatku panik. Hal tersebut masih ditambah dengan perkataan yang tak pantas dikatakan oleh seorang junior pada seniornya. Jujur, sakit hati juga saat mereka menuduh yang macam-macam.

Saat bingung seperti itu saya sms beberapa sahabat yang ku anggap bijaksana, ada yang bilang sabar, ada yang malah bilang, “Siapa bang orangnya?’ tapi jujur saat itu bagiku belum bisa menyelesaikan masalah. Titik terang terjadi saat saya sms seorang sahabat lama bernama Taufiq, jawabannya singkat tapi mengena, “Fa in tusibka khasasatun fatajammali” yang kira-kira maksudnya adalah jika dikenai suatu hal maka baguskanlah. Sebenarnya itu adalah petikan syair atau nadham ilmu nahwu untuk contoh “in”. Tapi untuk kasus saya seperti mafhum kalimatnya yang ingin disampaikan. Hanya sekedar tahu saja, di pesantrenku, para santri biasa memakai nadham nahwu untuk permasalahan etiket hingga masalah fiqih. Sebuah penempatan yang sebenarnya tidak pada tempatnya tapi setidaknya menurut Gus Yunan Athoillah hal itu disebut dengan ilmu gatok. Tapi bagi saya yang penting maksudnya bisa tersampaikan.

Setelah itu saya pun berpikir, kalau saya baguskan itu bentuknya seperti apa? Kongkritnya itu bagaimana? Saat pertanyaan-pertanyaan itu timbul tenggelam dalam benak saya, saya pun membaca koran Jawapos (tanggalnya saya lupa), saat itu tampa sengaja saya membaca tulisan Gus Ali Masyhuri, Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo. Dan beliau mengutip QS. Ali Imran: 134. penasaran dengan isi ayat saya pun membuka al-Qur’an. Ayat tersebut ternyata berbunyi, “alladhina yunfiquna fi al-sarraa’i wa al-dharraa’i wa al-kaadimiina al-ghayda wa al-‘aafina ‘an al-naas, wa allahu yuhibbu al-muhsiniin”-adalah mereka yang menafkahkan hartanya saat mereka lapang dan saat mereka sempit dan menahan amarah dan memaafkan manusia, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik-. Saat itu tiba-tiba saja hati saya bergetar dan berkata kepada diri sendiri, “Jangan-jangan engkau kurang bersedakah pada lembaga yang telah membesarkan engkau?”

“Mungkin iya juga sih” dijawab sendiri oleh sisi hati yang lain,
“ Nah ini saatnya kamu bersedekah pada lembaga itu!” hati yang pertama berkata lagi
“Tapi apa bisa?” tanya hati kedua saya
“Bisa! Niatkan saja sedekah. Jika uang itu diklaim oleh juniormu maka sesungguhnya ia telah mengklaim uang lembaga. Akan tetapi jika mereka mengakui kesalahan mereka maka biarlah mereka membayarnya pada lembagamu. Bagaimana?” jelas hati pertamaku memberi usulan

Lama hati keduaku yang mewakili amarah dan segala hal yang ada pada diriku berpikir. Mungkin ia harus bermusyawarah dengan amarahku, dengan rasa kebutuhanku, dengan perutku dan dengan akalku.

“Ehm, tapi bagaimana dengan amarah yang sudah kepalang marah dengan perkataan mereka?” protes hati keduaku
Wa al-Kadimiina al-ghayda– dan orang yang menahan amarah-” jawab hati pertamaku

Jadilah amarah saya mulai terkendalikan, tapi tetap saja tak bisa terima dengan apa yang mereka perbuat, “Ini sudah pencemaran nama baik” kata hati keduaku lagi.

Wal ‘afiina ‘an al-nas– dan memaafkan manusia-“ seru hati pertamaku lagi
“Tapi itu berat?!” keluh hati keduaku
“Tapi bisa, kan?”
“Iya sih bisa. Tapi….”
“Kenapa harus menunggu tapi jika saat ini telah bisa memaafkan?”
“Baiklah ku maafkan mereka” kata hati keduaku setelah beberapa lama berdiam diri.

Hati pertamaku itu bernama hati yang diterangi oleh mewangi keluhuran dan ilmu sedangkan hati keduaku itu adalah aku apa adanya sebagai manusia dengan berbagai persoalan dan problemnya serta di tengah-tengahnya ada hati hakim yang memutuskan apa-apa yang menjadi sikap dan keputusan..

“Lalu apa yang aku peroleh?” tanya hati keduaku seakan-akan minta bertransaksi dengan hati pertama
“Kamu memperoleh salam dari Allah”
“Apa salam-Nya?”
“Dia mencintaimu jika kau lakukan yang ku katakan tadi?”
“Bagaimana bisa?” jawab hati kedua tidak mengerti
wa Allah Yuhib al-Muhsinin– dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik-. Itu adalah penutup QS. Ali Imran: 134. Jadi jika engkau mau melakukannya maka Ia bilang “I Love U” kepadamu”

Agak tersipu-sipu hati kedua menoleh pada hati hakim, hati hakim tak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju.

Hati keduaku pun tersenyum tersipu malu dibuatnya. Dengan perlahan ia berkata,I LOVE YOU TOO, ALLAH!”

Iklan
Komentar
  1. ipoel82 berkata:

    Wah, mantap bener tulisan anda.. Gaya bahasanya aduhai..i like it.. Pengalaman saya lain lagi: saya dibesarkan ortu dengan didikan agama dgn keras.. Tapi saya bosan dengan semua ini.. Mulai hapalan nahwu dll bikin saya bosan.. Akhirnya saya bertemu dengan pengajian tauhid disurabaya selatan. Disitulah saya temukan keindahan islam.. Satu hal yg saya alami dengan indah adalah sabar. Sabar: 1.menjalankan taat. 2.menjauhi maksiat. 3.ditimpa musibah(ini yg paling disukai Allah).. Sabar yg ketiga inilah yg diutus oleh Allah untuk mengiringi hidup saya.. Suatu contoh bila sakit panas, atau demam dll.. Dulu saya langsung ke dokter.. Sekarang malah bibir saya bisa mengucap Alhamdulillah.. Dan disaat sakit bisa jadi ajang buat mohon ampunan.. Begitu juga dalam mrnghadapi gangguan orang lain.. Ada kata2 dari ahli tauhid: BILA ENGKAU BERSABAR MENGHADAPI UJIAN ALLAH, SESUNGGUHNYA ALLAH AKAN MENAIKKAN DERAJATMU DISISINYA.. Kesimpulan saya: setiap cobaan adalah anugrah Allah, agar kita masuk samudra ridhoNya;

  2. ipoel82 berkata:

    Sekarang saya malah gemar belajar ilmu syari’ah, ternyata setelah mengecap sedikit ilmu tauhid (ilmu tauhid tiada batasnya) belajar ilmu syari’ah jadi lebih semangat (padahal dulu saya bosan) dan sudah menjadi kebutuhan hidup.

  3. Ihsan Maulana berkata:

    Subhanallah, sepertinya saya harus belajar pada Mas Ipul. saya adalah manusia yang masih faqir dalam pengetahuan.

  4. ipoel82 berkata:

    Alhamdulillahirobbil’alamin.. Mas ihsan.. Saya juga masih belajar, (semoga tetap diberi Allah kemauan belajar) ada kata2 yg menjadi pemicu semangat saya: AMALKAN ILMUMU WALAU MASIH SEDIKIT.. Moga2 kita senantiasa dalam ridhoNya..amin

  5. Ihsan Maulana berkata:

    Iya betul itu. tapi satu hal juga sebagai tambahan saya. jangan pernah puas dengan ilmu yang ada padamu, karena jika kau puas maka itu pertanda bahwa kita masih seperti katak yang ada dalam tempurung

  6. ipoel82 berkata:

    Benar sekali mas.. Karena kepuasan dan kebanggaan bisa menjegal kita dalam menuntut ilmu..

  7. Ihsan Maulana berkata:

    Betul. tapi kita selayaknya bersyukur karena telah diberi ilmu pengetahuan dan hikmah yang tak semua orang bisa menerimanya. Alhamdulillahil ladhi arzaqana bi nuril ilmi wa ja’alana minal muslilim

  8. yunan athoillah berkata:

    Masya Allah top juga tulisanya tuh… oya dalam tulisan antum ada yunan Athoillah, itu saya atau orang yang lain…. hehehe saatnya antum menilus buku..!

  9. Ihsan Maulana berkata:

    Iya betul Gus, itu Anda, Gus Yunan Athoillah, Pengurus Tariqat Muda Jatim dan dewan pengasuh Pesantren Bangsalsari. Anda adalah guru saya dalam bidang kelinuwihan ilmu dan ilmu gatok.
    Mohon doanya Gus, agar saya bisa mempersembahkan buku bagi umat ini. sebagai kenang-kenangan bahwa saya pernah hidup di dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s