Dinikahkan Kok Malah Menikahkan

Posted: April 6, 2010 in Awewe, Cangkruan, cinta, Fiqih, Pitakonan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, ,

Ini sebuah cerita para aktivis organisasi pemuda keislaman di Jawa Timur. Tersebutlah seorang aktivis bernama Hani, ia berniat menikahi gadis pujaannya di Jember Jawa Timur. kami para aktivis pun mengantar Hani ke tempat mempelai wanita. Tercatat setidaknya ada sepuluh orang mengantar untuk akad nikah Hani. Di jalan, teman kami yang bernama Dahlan, Alumni PP. Bata-Bata dan alumni STIKA Sumenep mencoba mengingatkan pada Hani,

“ Hani, sudah hafal tah lafal nikah-nya?”.
“Andai ada Nabi setelah Nabi Muhammad SAW maka aku adalah orangnya!” Jawab Hani dengan dada membusung dan suara tegas. Menandakan bahwa ia sangat percaya diri dan cenderung menganggap remah masalah lafal ijab qabul nikah
“Awas kamu jika malu-maluin kita?!” Ancam Dahlan dengan dongkol bercampur geli mendengar jawaban Hani
Kendaraan kami pun terus melaju menyusuri Kota Pasuruan terus ke arah timur menuju Jember. Sebagai anak-anak muda kami selalu saja ada yang dibicarakan, mulai menggoda Hani yang akan segera “belah duren”, menyindir Dahlan yang belum juga berani menikah dan ledekan-ledekan khas lelaki lain yang terus bergema mengiringi deru mesin kendaraan yang kami kendarai ke Kabupaten Jember.

Sesampai di sana, kami pun disambut oleh keluarga mempelai wanita dengan penuh kehangatan dan shalawat tala’al badru dengan tabuhan rebana khas Indonesia (karena di Arab sendiri jenis rebana semisal ini telah punah). Kami memasuki sebuah ruangan tamu sederhana, setelah acara penyambutan dan seremonial yang saya tidak tahu bagaimana bisa terbentuk seperti itu, akhirnya tibalah akad nikah. Modin yang akan menikahkan Hani telah duduk dengan sigapnya dan Hani pun demikian. Ia tampak jantan dengan setelan jas yang diperolehnya dengan cara meminjam pada teman-teman.

Sesaat Hani tersenyum kepada kami, para pengiring dan para sahabatnya. Tampak muka penuh percaya diri menghadapi upacara ijab kabul yang akan segera dilaksanakan.

“Aku nikahkan engkau dengan ……… binti……………… dengan mas kawin…………” begitu kata Penghulu alias Modin yang menikahkan teman kami itu dengan memegang mix.
“Aku nikahkan engkau dengan…………binti,……………. dengan mas kawin………..” kata Hani spontan setelah ia diberi tanda untuk menjawab lafal ijab dari Modin.
“Loh?!” kata Modin heran
“Kita ulangi lagi ya?!” pinta Modin dengan halus pada Hani.

Terlihat Hani mulai berkeringat, tak tampak lagi kepercayaan diri yang ditampakkannya sebelum akad. Kami pun saling pandang satu sama lain agak heran dengan apa yang terjadi pada Hani.

“Aku nikahkan engkau dengan ……… binti……………… dengan mas kawin…………” begitu kata Penghulu alias Modin yang menikahkan teman kami itu dengan memegang mix untuk kedua kalinya.
“Aku nikahkan engkau dengan…………binti,……………. dengan mas kawin………..” kata Hani spontan setelah ia diberi tanda untuk menjawab lafal ijab dari Modin. Tetap dengan kesalahan yang sama.
Dahlan berkata padaku, “Ini yang menikahkan siapa yang dinikahkan siapa?Lah kok lafal-nya sama?”
Salah seorang teman kami yang tidak sabar pun langsung bilang, “Sah! Sah!”. Kami semua menoleh ke arahnya. Begitu juga sang Modin, yang sepintas tersenyum pada kami para aktivis. Memang perkataan salah satu dari kami itu bisa dibenarkan karena sebuah pengertian itu tidak berdasarkan lafal kata tapi pada hakikat makna.

“Sah si sah, tapi kita ulang lagi ya!” kata Modin meminta dengan halus.

Kami pun para pengiring Hani dibuat tertunduk malu dengan peristiwa yang terjadi. Andai bisa menutupi muka kami saat itu tentu akan kami lakukan, atau jika kejadiannya seperti ini tentu kami tak jadi ikut. Tapi rasanya tak adil jika harus berpikir seperti itu di saat seperti ini.
“Baiklah!” kata Hani setelah beberapa saat diam karena sudah diulang dua kali.
“Aku nikahkan engkau dengan ……… binti……………… dengan mas kawin…………” begitu kata Penghulu alias Modin yang menikahkan teman kami itu dengan memegang mix untuk ketiga kalinya.
“Aku terima nikahnya ………….. binti………………. dengan mas kawin…………….” jawab Hani dengan lancar.
“Alhamdulillah!” kata kami para pengiring Hani dengan serentak.

Acara pun berlanjut dengan doa dan ramah tamah. Ternyata sang Modin adalah alumni sebuah pesantren besar di Timur Madura.

Setelah kami dalam perjalanan pulang, yang paling marah adalah Dahlan.
“Patek Jeh! Neng-eneng pantes dedi Nabi marena Nabi Muhammad. Iya’ macah akad nikah beih tak taoh- Brensek Lu! Tadi saja bilang pantas jadi Nabi jika ada Nabis setelah Nabi Muhammad. Eh ini baca akad nikah saja tidak tahu-“ Umpat Dahlan dengan nada marah
“Sorry, tadi aku benar-benar bingung dan nervous” kata Hani meminta maaf

Akhirnya Hani pun memcatat sejarah sebagai pengantin yang menikahkan Modin-nya. Betul-betul peristiwa aneh!

Iklan
Komentar
  1. Hasan berkata:

    Lucu ya jadi ingat teman saya yang saat diminta membaca lafal nikah malahberujar, “Pake bahasa apa pak modin?Arab, Indonesia, Jawa, Madura atau Inggris?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s