Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Filsafat dan Tasawuf Pasca al-Ghazali

Al-Ghazali; Pemikiran, Kondisi Sosiologis Dan Dampaknya

Al-Ghazali, tokoh yang satu ini namanya begitu besar dalam sejarah Islam, ia dianggap sebagai hujjah al-islam, wali al-ulama’, dan sebutan prestise lainnya. Bahkan namanya menembus hingga pada khazanah sejarah ilmu pengetahuan orang-orang Eropa.

Tokoh yang satu ini juga sering disebut al-Ghazzali (tasydid huruf za’) yang berasal dari kata ghazzal yang berarti tukang pintal, karena Ayahnya adalah seorang tukang pintal benang wol. Dilahirkan di kota Thus, ia diangkat sebagai guru besar di Madrasah al-Nidhamiyah, setelah sebelumnya menunjukkan kecemerlangan sebagai seorang murid Juwaini yang mengagumkan.

Pada masa hidupnya al-Ghazali berada pada kondisi pertentangan madhab yang begitu hebat, setiap madhab berusaha berebut pengaruh dari kekuasaan dan tak jarang yang hendak melakukan pemberontakan hanya karena ia berbeda madhab atau firqah. Saat al-Ghazali dewasa, Nizamul Mulk, Perdana Menteri Dinasti Abbasiyah, menganut madhab al-Syafi’iyah dalam madhab fiqh dan al-Asy’ariyah dalam madhab teologi sebagai ideology negara. Sebelum masa Nizamul Mulk madhab Negara adalah madhab Muktazilah.

Di saat seperti di atas, al-Ghazali banyak melahirkan karya-karyanya. Kepentingan al-Ghazali sebagai Ulama’ Negara juga ikut memberinya andil dalam sudut pandang yan ia pilih, ia adalah Islam sunni yang hidup pada pemerintahan yang sunni pula. Jadi wajar jika ia membela apa yang dianggap kita (nahnu) oleh al-Ghazali dan menggunakan isim dlomir dalam setiap serangannya dengan kata mereka (hum). Kitab-kitabnya yang dikenal oleh kita diantaranya adalah Tahafut al-Falasifah, al-Munqid min al-Dhalal, Bidayah al-Hidayah, Ihya’ ulum al-Din, dan yang lain.

Karangan-karangan yang membentuk sebuah paradigma adalah karangan al-Ghazali yang dapat dibaca sebagai berikut ini, tahap awal ia menelurkan serangan telak pada logika-logika filsafat lewat Tahafut al-Falasifah, setelah serangan ini banyak berpengaruh dan mendapatkan respon dari kalangan luas muslim sunni, ia pun melanjutkannya dengan menetaskan al-munqid min al-dhalal yang berisi petunjuk-petunjuk agar orang tidak terperangkap dalam kesesatan, setelah itu ia menumbuhkan ihya’ ulum al-din yang berisi bagaimana seorang muslim seharusnya menjalani hidup.

Dan makalah kali ini akan bercerita bagaimana dunia tasawuf menggelinding bagai bola salju dan pula bercerita tentang bagaimana nasib ilmu pengetahuan dan filsafat setelah pemikiran-pemikiran al-Ghazali yang sangat berpengaruh tersebut.

Tapi tentu tidak adil jika kita menimpakan kesalahan pada al-Ghazali, karena ia hanya seorang Pemikir dan menulis apa yang menurut pikirannya benar. Masalahnya adalah pada kita umat Islam yang terninabobokkan pada pemikiran-pemikiran al-Ghazali, walau seratus tahun kemudian Ibnu Rusyd tampil dan mencoba membangunkan kita dari tidur panjang pemkiran dan ortodoksi tapi ternyata kegiatan Ibnu Rusyd lebih banyak didengar oleh orang lain daripada oleh saudara-saudara Muslimnya.

Ilmu Pengetahuan dan Filsafat pasca al-Ghazali
1. Mercusuar Ilmu Pengetahuan dan filsafat di Barat Islam

Di saat Timur Islam terhenyak dengan serangan al-Ghazali> pada filsafat. Islam di Eropa justru terus menemukan semangatnya pada ilmu pengetahuan termasuk filsafat.

Semenjak era Islam melebarkan sayapnya di Eropa lewat penaklukan T}a>riq bin Ziya>d, seakan menjadi penanda bahwa Eropa akan tercerahkan oleh peradaban Islam yang sedang berada di puncak, matahari dari timur sedang menuju ke arah barat. Semenjak digulingkannya dinasti Umawiyah di Timur oleh Dinasti Abbasiyah. Para keluarga dinasti Umawiyah memilih untuk menyingkir dari keramaian kota Bagdad dan memutuskan menetap di Andalusia. Saat itu Andalusia tidak lebih sebagai propinsi pinggiran bagi Bagdad, atau mungkin tak lebih dari hanya sekedar Papua bagi Jakarta. Sebuah gambaran bagi daerah yang kurang diperhitungkan dalam hiruk pikuk pemerintahan, perdagangan, dan pengetahuan yang berpusat di Bagdad.
Akan tetapi semenjak Islam membuka wilayah ini, ia terus berkembang. Puncaknya di saat timur Sunni terhenyak dan terkesima oleh kecemerlangan pemikiran al-Ghazali, dan membuat masyarakatnya takut dan pada akhirnya terkurung pada doktrin-doktrin ortodoksi. Di Barat Islam budaya pengetahuan masih terus berlangsung dan masih berada dalam masa kegairahan ilmu pengetahuan. Di saat Timur mulai terjebak pada budaya penghormatan pada guru yang begitu mendalam dalam bidang inteleklektual hingga terjebak pada dialektika matan, syarah, khasiyah, dan mukhtas}ar , di Barat justru muncul para pengarang-pengarang kitab yang tidak terikat pada satu naskah.

Salah seorang yang termasyhur dari bumi Andalusia adalah Ibnu Rusyd (1126-1198 M), ia hidup 100 tahun setelah al-Ghazali wafat. Ia banyak menulis buku. Diantaranya yang masyhur di kalangan sunni adalah sanggahannya pada taha>fut al-fala>sifah-nya al-Ghazali yang mendekonstruksi (dengan metode hadm) semua pemikiran filsafat lewat dua tokoh pentingnya di dunia Islam Ibnu Sina dan al-Farabi, karangan tersebut diberi judul taha>fut al-taha>fut.

Ibun Rusyd (12 M), rasionalis muslim Eropa mengemukakan kerancuan-kerancuan al-Ghazali, kritiknya terutama mengacu pada kesalah pahaman al-Ghazali atas filsafat yang disandarkannnya pada Ibnu Sina dan al-Farabi. Bagi Ibnu Rusyd sebenarnya al-Ghazali hanya salah paham saja, karena al-Ghazali tidak pernah mempelajari langsung filafat Yunani, ia hanya membaca terjemahannya saja dalam bahasa Arab dan mendengar tentang filasafat dari orang kedua sehingga pemahaman al-Ghazali tidak utuh dan memandang filsafat secara parsial, apalagi Ibnu Rusyd juga mengkritik Ibnu Sina atas terjemahannya pada filsafat Aristoteles sehingga terjadi kesalahpahaman mana pendapat Aristoteles dan mana pendapat Ibnu Sina.
Bagi Ibnu Rusyd misalnya kesalah pahaman terjadi pada pasal pengetahuan Tuhan yang kulliat dan bukannya juz’iyat. Al-Ghazali menganggap bahwa mustahil Tuhan tidak mengetahui hal juz’iyat. Dan menurut Ibnu Rusd, Tuhan tahu tentang yang juz’iyat tapi pengetahuannya tidaklah memakai pengetahuan juz’iyat itu sendiri layaknya makhluk tapi dengan pengetahuannya yang kulliayat, terus pula diantara kesalahpahaman al-Ghazali terletak pada kesalahan ke-qadim-an waktu, sebenarnya menurut Ibnu Rusd waktu itu hanyalah ukuran atas apa yang ada. Sejak materi pertama ada secara otomatis waktu juga berlaku pada materi jadi waktu itu juga qadim dan keqadiman waktu tidaklah sama dengan ke-qadim-an Allah. 20 masalah yang dikritik oleh al-Ghazali dikritik kembali oleh Ibnu Rusyd. Tapi seandainya al-Ghazali masih hidup ketika itu mungkin akan ditulis lagi Tahafut Al-Tahafut Al-Tahafut oleh al- Ghazali untuk menjawab sanggahan Ibnu Rusyd. Tapi seharusnya demikianlah dinamika kelimuan Islam.

Dengan begitu Ibnu Rusyd berharap agar umat Islam tidak terus hanyut dalam sebuah tradisi yang bisa mengkerdilkan umat Islam dari pengetahuan. Akan tetapi sayang pemikirannya tidak banyak berpengaruh pada dunia Islam timur, akan tetapi ia malah menjadi bapak rasionalitas di Kristen barat.

Ibnu Rusyd adalah seorang pemikir Islam yang mencoba menggabungkan antara rasionalitas dan ortodoksi, baginya syariah tidak lah harus dipertentangkan dengan akal, filsafat dan rasionalitas. Karena seperti Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd yakin bahwa kebenaran yang dilalui dengan akal dan syariat hasilnya akan sama yaitu hakikat kebenaran. Kitab beliau yang masih sering dipakai di Pesantren Salaf hanya karangan Ibnu Rusyd yang berjudul Bidayah al-Mujtahid yang berisi tentang ilmu fiqh.

Selain Ibnu Rusyd, di Saragoza telah lahir Ibnu Bajjah pada abad 11 M, beberapa karangannya yang pernah kita dengar adalah Risalah al-Wada>’ (berisi kajian filosofis) dan Tatbir al-Mutawahhid (berisi tentang menejemen diri), disamping itu ia juga dikenal sebagai komentator Aristoteles, selain itu juga sebelum Ibnu Rusyd ada Ibnu Tuffail (1110 M) yang dikenal sebagai filosuf juga dokter dan karangannya yang paling kita kenal adalah berupa Novel dengan ber-genre filsafat berjudul Hayy Ibn Yaqzan, ada pula Ibnu Bat}ut}ah yang terkenal dengan catatan ekspedisinya dan pernah sampai di Indonesia. Dan yang tidak terlupa adalah Ibnu Ma>lik yang mengarang kitab nadham Alfiyah yang hingga kini masih dipakai oleh hampir 100% Pesantren di Indonesia.

Salah satu yang menarik, jika di Timur Islam yang menganut madhab yurispuridensi yang empat tergerus dalam erosi rasionalitas, di barat Islam yang menganut madhab yang sama malah berkembang kultur rasionalitas yang sangat tinggi.

Disamping tokoh-tokoh di atas, masih banyak tokoh lain dari berbagai bidang ilmu pengetahuan yang terus bermunculan di Eropa Islam. Mulai dari bidang pendidikan,bahasa dan sastra, logika dan filsafat, sains, seni musik dan kaligrafi, juga tentu tidak pernah ketinggalan ilmu-ilmu fiqh. Di Cordova juga berdiri Universitas Cordova yang menyaingi Universitas Nidhamiyah di Bagdad dan Uniersitas al-Azhar di Kairo. Setelah itu juga berdiri Universitas Granada. Dan disusul oleh Universitas Sisilia.

Salah satu analisis kenapa Barat Islam tidak terpengaruh Timur Islam yang mulai redup. Jawabnya, diantaranya adalah karena Dinasti Umawiyah II tidak mau tunduk pada Dinasti Abbasiyah. Walau mereka tetap mengaku sebagai Amir (Gubenur) pada masa Abdurrahman I- Abdullah bin Muhammad, tapi mereka dalam pengelolaan pemerintahannya memegang otoritas penuh yang terlepas dari Bagdad. Dan tercatat baru pada masa Abdurrahman III, Spanyol Islam memproklamirkan kekhalifahannya. Hal itu sebenarnya bukanlah sebagai bentuk pembangkangan pure terhadap Bagdad, akan tetapi saat itu di Mesir telah berdiri Dinasti Fatimiyah yang mendaulatkan diri sebagai kekhalifahan dan terpisah dari Bagdad, melihat dualisme kekhalifahan di dunia Islam, lemahnya kekhalifahan Bagdad, dan semakin tidak absolutnya konsep ketunggalan kekhalifahan, maka Spanyol dengan berbagai alasan termasuk untuk membendung pengaruh Dinasti Fatimiyah yang berasal dari golongan Syi’ah yang terus menguat. Maka Spanyol Islam memutuskan untuk memproklamirkan diri sebagai Khalifah. Selain sebab tersebut, sebab lainnya adalah kecintaan para khalifah Eropa Islam terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat walau ada beberapa kasus diantara khalifah di Eropa yang tidak berkenan terhadap filsafat.

Dari sini pulalah, proses peralihan pengetahuan menyebar ke komunitas Kristen Eropa melalui kontak pemikiran rasional dan ilmiah pada abad 12. Seperti yang dikemukakan oleh Jared Diamond, Ahli Fisiologi dari Ucla.
“ Mediaval Islam was technologically advanced and open to innovation. It achieved for higher literacy rates than in contemporary Europe; it assimilated the legacy of classical books are now to us only through Arabic copies. It invented windmills, trigonometry, lateen sails and made major advances in metallurgy, mechanical and chemical engineering an irrigation methods…. In the middle-ages the flow of technology was overwhelmingly from Islam to Europe rather from Europe to Islam only after the 1500’s did the net direction of flow begin to reserve”

Kebesaran ilmu pengetahuan dan filsafat masih terus bergema walau suatu saat kemudian Eropa Islam terpecah menjadi beberapa dinasti, setelah Andalusia, hadir pula Islam Sisilia, Italia dan Granada, disana juga berdiri universitas-universitas yang terus melakukan kajian-kajian ilmu pengetahuan dan filsafat hingga pada satu titik dinasti-dinasti Islam di Eropa berebut kekuasaan dan menjadi lemah. Terus berlangsungnya semangat pada semangat pengetahuan ini dikerenakan bahwa antara dunia ilmu penegtahuan dan kekuasaan adalah dunia yang dipisahkan oleh kulit ari, sangat tipis tapi terpisah. Khalifah pada prakteknya bukanlah menjadi sentrum masyarakat dalam segala hal seperti masa Nabi Muhammad dan empat khalifah awal.khalifah berfungsi sebagai penjaga teritori. Perannya dalam ilmu pengetahuan adalah pada pemberian kebebasan untuk kegiatan ilmu pengetahuan dan menfasilitasinya. Tapi banyak pula para ilmuwan swata yang tidak memperoleh fasilitas Negara tapi giat mengembangkan pengetahuan dan memiliki jaringan pengetahuan yang kuat di komuni Islam.

Pada satu titik kulminasi Barat Kristen merasa mampu untuk menyerang Islam dan merebut kota-kotanya, mereka melakukannya. Dari sanalah kebudayaan Barat Islam tamat dalam arti perjalanan sejarahnya, tapi proses ilmu pengetahuan dan filsafat diambil alih oleh Barat Kristen dengan mengambil pengetahuan-pengetahuan Islam dan yang pada saatnya berpuncak pada Reinessans (13 M)

2. Kontinuitas Filsafat di Dunia Syi’i

Kontinuitas keilmuan terus berlangsung meskipun di kalangan saudara sunninya kelimuan sudah mulai berpendar tapi kontinuitas keilmuan terutama filsafat masih terus terus berlanjut di dunia Syi’i. kebanyakan tokoh-tokoh filsafat pasca al-Ghazali selain tokoh-tokoh muslim sunni Barat Islam adalah orang-orang Islam syiah. Tak tercatat berapa tokoh Syiah yang telah menelurkan pemikiran-pemikiran filsafat. Diantaranya yang kita kenal adalah Ikwa>n al-Shafa>, yang beisi majlis-majlis ilmu dan filsafat, Niza>mi Arudhi, orang Islam Persia yang terkenal dengan syair-syairnya, At-T{u>si yang lahir di Khurasan Irak, ia terkenal sebagai Astrolog dan geografer sekaligus ahli agama dan berhasil merayu Hulagu Khan untuk memberikan keleluasaan terhadap ilmu pengetahuan yang dikembangkan di dunia Islam, Suhrawardi al-Maqtul yang lahir di Persia dan hidup pada masa Salahuddin al-Ayyubi, terkenal dengan teori al-nu>r-nya atau iluminasi, ada pula filosuf Persia Fariduddin Att{ara>da juga Mulla>h Sadra>(Shad al-Di>n Shira>zi), ada Sa’di yang tekenal gubahan syair-syairnya, para pemikir-pemikir dan filosof terus bermunculan hingga sampai pada suatu masa dimana sunni berada dalam belenggu penjajahan, mereka terus menelurkan para pemikir-pemikir Islam, seperti Alla>mah T}aba>t}aba>’I, Murtadla Mutt}ahari, Ali Syari’ati, ada pula yang terkini adalah Sayyid Husain al-Nasr,

Menurut Taba>taba>’I, secara relatif, pasca Ibnu Rusyd wafat, ilmu pengetahuan dan filsafat beralih ke dunia Syi’i. para pemikir yang tampak setelah Ibnu Rusyd misalnya adalah Nasr al-Di>n al- T{u>si yang bagi Taba>taba>’I mirip dengan filosofi Ibnu Rusyd, ada pula Mi>r Da>mat dan Sadr al-Di>n Shi>ra>zi yang terus mengembangkan pemikiran filsafat, disisi lain mereka juga dikenal dalam dunia sains, seperti al-T{u>si yang terkenal sebagai ahli Matematika disamping sebagai sebagai filosuf.

Di antara faktor terjaganya kontinuitas keilmuan dan filsafat di kalangan Syi’i adalah karena mereka tidak bisa menerima begitu saja apa yang ada di Timur Sunni, mereka punya filter atas segala sumber yang berasal dari sunni, atas nama solidaritas atas ahli> bait menjadikan mereka terus tafaquh dalam kepercayaannya akan sebuah kebenaran imamiyah, lagi pula mereka lebih dekat pada paham mu’tazilah dari pada asy-ariyah dalam mendudukkan akal , sehingga walau disatu sisi Syi’I telah membuat satu golongan yang terpisah dari Sunni (bukan dalam arti absolut) ia juga menjadi salah satu penyelamat tradisi keilmuan Islam, yang disaat bersamaan saudara Sunni mereka terjebak pada tarekat-tarekat yang tidak mementingkan (uncare) apresiasi terhadap orisinalitas ilmu pengetahuan apalagi men-support filsafat. Sebaliknya tradisi Syi’ah telah mengantarkannya pada dinamisasi kehidupan keagamaan. Agak berbeda dengan di dunia sunni, keadaan ilmu pengetahuan, filsafat dan doktrin syi’I berjalan lebih harmonis diantara Ulama’ Syi’i.semenjak dari zaman ikhwa>n-al-shafa>, pada abad 10 M/4 H, terus ke Nashiri>-i-Khusru> diabad ke 11 M/5 H, sampai zaman Mulla>h Shadra> pada abad ke 17 M/11 H itu.

Dan sebetulnya tidak ada yag perlu ditakutkan dari Syi’ah kecuali ketakutan itu sendiri. Mereka diakui atau tidak telah banyak memberikan warna pada sejarah kehidupan umat Islam, mereka golongan Syi’ah juga dikenal sebagai golongan yang menganut secara ketat terhadap nilai-nilai agama Islam, bahkan jauh lebih ketat mereka ketimbang kita yang ada di dunia Sunni. Jadi tidaklah bisa dibenarkan jika sebagian dari kita terus menyebarkan kebencian kepada sesama saudara muslim kita. semua persoalan tidaklah boleh diambil dari satu sisi pandang saja tapi juga sudut pandang si Pelaku.

Tentang Ihsan Maulana

It's all about be better, a better life and better world

Posted on April 8, 2010, in Fiqih, Kitabe Cak, pemikiran, pendidikan, Tafsir, tasawuf. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. saya sangat tertarik dngan tulisan ini,, terimakasih sudah membagi ilmunya..

  2. salam kenal…

    semangat…. di tunggu kunjungan baliknya

  3. salam kenal juga flying insurance. Wah spertinya all about insurance nih

  4. thanks atas infonya, simak juga blog saya and kasihkan saran and coment

  5. nice sharing..
    bisa minta bibliography ny mas? apalagi klo ada pdf ny, lumayan bwt baca2

  6. Hi, for all time i used to check webpage posts here in
    the early hours in the morning, as i like to gain knowledge of more and more.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: