Miyabi dan Khayalan Seksual

Posted: Mei 8, 2010 in Awewe, Cangkruan, cinta, pemikiran, Pitakonan, Renungan, Uncategorized
Tag:,

Miyabi jadi bintang film di negeri ini. Semua orang kaget, para orang tua, ibu-ibu, dan para ulama jadi geram karena merasa bahwa simbol pronografi mau mengacak-acak tontonan anak muda negeri ini. Protes pun bermunculan, mereka berkata bahwa penampilan Miyabi dapat merusak akal dan mental anak-anak muda kita, para ulama berkata bahwa Miyabi banyak mudharat-nya.

Tercetuslah seorang anak muda yang memang suka “mengencingi air zam-zam” bernama Raditya Dika. Dia menulis sebuah cerita tentang sebuah cerita khayalan bertemakan “Menculik Miyabi”. Sebuah cerita yang mewakili khayalan para anak muda yang sering nonton Miyabi atau yang juga memiliki nama Maria Ozawa. Tentu mereka berpikir bagaimana ya rasanya menculik Miyabi. Ya biasalah berpikir secara nakal begitu, di saat video Miyabi bisa mereka dapatkan secara mudah di internet, di hp teman, di komputer teman, ataupun lain sebagainya. Yang jelas hampir semua remaja pria mengetahui nama Miyabi, sama baiknya dengan mengenal presiden negeri ini. Sweeping pun sering dilakukan oleh polisi dan guru terhadap hp dan laptop para siswa. Tapi tetap saja tak mempan, karena sekarang ada memory card yang dapat lepas tancap kapanpun perlu, di laptop bisa diteruh di folder yang sedemikian ruwet membukanya dan itupun masih di-hidden (disembunyikan) atau ditaruh di flashdisk khusus film-film Miyabi.

Entahlah harus dimulai dari mana, Miyabi memang seksi, paling tidak secara ukuran media yang selalu dicekokkan kepada kita seperti itu. Jadi memang Miyabi adalah personafikasi dari kecantikan fisikal yang dibentuk oleh iklan sabun mandi, iklan lipstik, iklan pemutih kulit, iklan shampo, dan iklan baju dalam wanita. (Alah, pikiranku kok ya jadi ngeres juga). Begitulah Miyabi, mulai dari kakinya yang jenjang, pahanya yang kencang, bokongnya yang samlohai, bibirnya yang sensual, matanya yang tidak sipit, kulitnya yang bersih serta wajahnya yang oval memang betul-betul personifikasi dari kecantikan iklan yang dipaksakan untuk didamba oleh setiap wanita dan diimpikan oleh setiap lelaki oleh media (kebanyak “oleh”nya semoga tidak membuat Anda bingung).

Kini Miyabi telah diputar di bioskop-bioskop kita. Ada dua mainstream yang sekarang menjadi arus besar dalam berpendapat terkait hal tersebut. Pertama, arus LSI (Lembaga Sensor Indonesia) dan produsen film, LSI beranggapan secara konten begitupun juga produsen film. Kedua, arus ibu-ibu dan MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang lebih menganggap Miyabi sebagai simbol dari pornografi. Tapi sebenarnya di antara dua kelompok tadi ada suara silent mayority yang menikmati saja aksi Miyabi dengan para bintang film lokal Indonesia tanpa memperhitungkan adanya pro-kontra.Buktinya, film “Menculik Miyabi” laris manis, bahkan untuk hanya sekedar bisa menontonnya saja harus ngantri mirip mak-mak kita saat ngantri minyak tanah.

Saya sendiri tak berhak untuk mengadili para penonton film Miyabi, karena toh itu cuma tontonan. Yang terpenting, mengutip Anggun C. Sasmi, “Your mind, your mind in your mind” pikiran Anda. Ya pikiran Anda lah yang menentukan ke mana arah langkah Anda. Film “Menculik Miyabi” hanyalah sekedar tontonan dan gosip di sisi lain. Semakin dibicarakan maka akan semakin membuat orang penasaran dan semakin banyak orang pengen tahu, termasuk juga para ulama kita. Sebuah promo gratis bagi Miyabi dan fim “Menculik Miyabi”, termasuk juga mungkin adalah tulisan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s