Memilih Suami

Posted: Mei 20, 2010 in Awewe, Cangkruan, cinta, Motivasi, pemikiran, pendidikan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, ,

“Kawinkanlah (anak gadismu) dengan laki-laki yang bertakwa kepada Allah.” Jawab Hasan putra Ali putra Abi Thalib. “Kalau laki-laki itu mencintai anakmu, ia akan memuliakannya, dan kalau tidak cinta pun (ia) takkan menganiaya dia.”

Inilah yang dianjuran oleh Hasan putra Ali, cucu Nabi Muhammad SAW kepada kita. Sengaja tulisan ini saya tulis karena pada saat sekarang ini banyak wanita yang bingung dalam menentukan seperti apa selayaknya pria yang mereka cari untuk calon suami bagi mereka. Bukan karena tidak ada lelaki, tetapi dari banyaknya serba serbi warna lelaki yang ada di sekitar mereka. Hingga kemudian menjadi selektif, itu wajar, karena pada umumnya para wanita ingin pernikahannya dilaksanakan sekali seumur hidup. Dalam bahasa klisenya adalah pasangan dunia akhirat. Jadi mereka tak ingin salah dalam memilih suami. Akan tetapi sayangnya, kebanyakan para wanita seringkali terjebak pada ukuran-ukuran duniawi yang “menghijaukan” mata mereka. Yang mereka pandang dan terkadang ada adalah lelaki seperti Nirwan Bakri dan Azrul Ananda yang tampan dan mewarisi kerajaan bisnis para orang tuanya. Tapi sekali lagi ini wajar karena para wanita juga butuh semacam DP (Down Payment) agar kelak saat mereka menikah mereka tak ada kekhawatiran secara ekonomi dan pula yang ikut berpengaruh adalah masyarakat sekitar yang dipengaruhi oleh propaganda media lewat iklan-iklan dan kehidupan hedonis yang ditampilkan.

Menurut saya, ukuran seperti ini tidak sepenuhnya tepat walau juga tidak seratus persen salah. Akan tetapi yang perlu diingat bahwa harta benda, ketampanan dan kedudukan sosial bukanlah hal yang diperhitungkan oleh Allah. Jika harta benda yang menjadi ukuran kebahagiaan seorang wanita, maka ketahuilah bahwa Manohara Odelia Pinot adalah orang yang paling bahagia se-Indonesia karena ia menikahi Pangeran kerajaan Kelantan Malaysia, tapi kenyataannya tidaklah demikian; jika ketampanan dan kecantikan yang jadi ukuran maka tentu para artis-lah yang paling berbahagia karena mereka tampan-tampan dan cantik-cantik, tapi bukti menunjukkan bahwa mereka seringkali menderita dengan pasangannya; jika kedudukan sosial yang dituju tentu istri Fir’aun-lah yang paling berbahagia karena suaminya adalah penguasa agung Mesir, tapi kenyataannya tidak.

Bagi Allah semua manusia itu sama, seperti yang dijelaskan dalam al-Qur’an, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu (Q.S.al-Hujurat:13)”. Ayat ini mengakui bahwa manusia memang diciptakan berbeda-beda, bersuku-suku akan tetapi pada asalnya dan nilai kemanusiaannya adalah sama, dan bahwa tidak seorang pun yang lebih mulia daripada yang lain, selain dengan takwanya kepada Allah Azza wa Jalla, dengan menunaikan kewajibannya kepada Allah dan kewajibannya kepada sesama manusia. Jadi seorang berkulit putih tidaklah lebih mulia di sisi Allah daripada orang Afrika yang hitam legam, tidaklah darah seorang raja lebih mulia daripada darah orang lain di sisi-Nya. Sesungguhnya kita, orang yang beriman ini adalah saudara sehingga tidaklah satu orang boleh merasa lebih mulia daripada saudaranya yang lain karena belum tentu yang merasa lebih mulia itu lebih mulia dibanding orang yang dianggap hina.

Seorang wanita bertanya kepada saya, “Lalu bagaimana kita tahu bahwa ia bertaqwa kepada Allah?” atas pertanyaan ini jawaban saya adalah sebagaimana saya singgung di paragraf di atas, “Orang yang bertakwa ukurannya bisa dilihat pada bagaimana ia menunaikan kewajibannya kepada Allah dan kewajibannya kepada sesama manusia. Insyaallah orang yang seperti itu baik jika kau jadikan sebagai suami.” Kemudian wanita tadi bertanya kepada saya lagi, “Lalu bagaimana kita bisa mengukur bahwa ia telah menunaikan kewajiban kepada Allah dan sesama manusia?” jawab saya, “Lihatlah, apakah ia menjaga shalat lima waktunya, dan lihat pula bagaima testimoni teman sekitarnya terhadap dirinya”. Dengan begitulah, insyaallah kita bisa tahu apakah orang itu adalah orang yang bertaqwa atau tidak sehingga ia pantas Anda jadikan calon suami yang akan menemani Anda dalam melodi hidup Anda.

Lalu bagaimana dengan kafa’ah atau kesepadanan antara suami-istri seperti yang disinggung oleh sebagian ulama’ (sebagian lainnya tidak menyinggung). Baiklah, saya tegaskan sekali lagi bahwa kafa’ah dalam Islam menurut saya sebagaimana juga pendapat Ibrahim Muhammad al-Jamal (pengarang kitab Fiqh al-Mar’ah), ukurannya bukanlah kekayaan, ketampanan, dan status sosial akan tetapi takwa yang ada pada dirinya. Maksudnya adalah janganlah seorang wanita yang shalihah menikahi seorang lelaki yang pemabuk, yang suka berjudi, memperoleh hartanya dengan cara yang haram dan seorang lelaki yang gemar bersumpah (hal ini juga ditegaskan oleh Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayat al-Hidayah). Jika seorang wanita muslimah dipaksa menikah dengan lelaki macam itu maka ia berhak mengajukan fasakh (tuntutan untuk membatalkan akad nikah kepada hakim).

Dengan ini maka lelaki yang dipandang rendah dalam strata sosial, boleh beristri dengan wanita yang punya kedudukan tinggi di balik dinding-dinding istana, laki-laki yang tak punya pengaruh boleh menikah dengan wanita yang berpengaruh lagi kesohor, laki-laki miskin boleh menikah dengan wanita kaya. Dan begitu pula sebaliknya, wanita yang dipandang rendah secara sosial boleh menikah dengan lelaki berkedudukan tinggi, wanita yang bukan siapa-siapa boleh menikah dengan lelaki kesohor, wanita miskin boleh menikah dengan lelaki kaya. Dengan catatan lelaki itu sebagaimana ditandaskan oleh Imam Hasan putra Ali tadi adalah lelaki tersebut bertakwa kepada Allah. Karena bagi Allah tak ada beda antara anak Brahma dan anak Sudra atau bahkan Paria (satu jenis manusia dalam litarasi Hindu yang dianggap lebih rendah dari para sudra. Mereka adalah para orang buangan), tak ada beda antara pemuda pengembala dan pemuda anak raja. tu’til mulka man tasya’u, wa tanzai’ul mulka miman tasya’u, wa tu ‘izzu man tasya’u, wa tudzillu man tasya’. Biyadikal khairu, innaka ‘ala kulli syai-in qadier (Al-Qur’an, Ali Imran, 26).diberikan kerajaan bagi siapa yang dikendaki dan diberikan kemuliaan bagi siapa yang dikehendaki” begitulah Allah menandaskan firmannya. Raja hari ini bisa jadi pesakitan di hari esok. Budak berlian bisa jadi penguasa di esok hari. Jadi ukuran-ukuran duniawi bukanlah ukuran berharga di mata Allah. Percayalah pada Allah karena ia adalah penciptamu yang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk untukmu. Jika menurut Allah baik maka yakinlah bahwa itu baik bagimu. Dan bagi Allah, orang terbaik bagimu adalah mereka yang bertakwa kepada-Nya.

Jika ada seorang lelaki yang baik agama dan akhlak-nya meminangmu maka terimalah ia. Karena jika engkau menolaknya maka Allah akan menurunkan huru-hara dan kerusakan besar di muka bumi. Sebagaimana sabda Rasul, “Apabila datang kepadamu sekalian orang yang kamu sukai agamanya dan akhlaknya, maka kawinkanlah ia. Kalau itu tidak kamu lakukan, maka bakal terjadi huru hara dan kerusakan yang besar di muka bumi ini. Para sahabat bertanya, “Ya Rasul Allah, kalau terdapat padanya….?” Rasul menukas,”Apabila datang kepadamu orang yang engkau ridhoi agamanya dan akhlaknya, maka kawinkanlah ia!” demikian kata Rasul sampai tiga kali.”

Jadi, jika Anda wanita yang mencari suami, maka carilah yang bertakwa kepada Allah. Jikapun pada suatu waktu ia tak lagi mencintai Anda maka setidaknya ia tidak akan berbuat aniaya kepada Anda”. Semoga bermanfaat dan semoga bisa mendapatkan suami yang bertaqwa kepada Allah. Amin!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s