Ariel Peterpan dan Arloji Waktu

Posted: Juni 9, 2010 in Cangkruan, cinta, filsafat, pemikiran
Tag:, , ,

Kita hidup dengan arloji, dan karena itu kita acap tak mampu menyimpan memori. Arloji, adalah gerak ke depan, tik-tok waktu yang tak pernah kembali ke belakang. Dalam “hidup arloji”, yang ditinggalkan memang tak dilupakan, tapi diogahi. Masa lalu masih ada, namun tak penting. Celakanya, masa lalu yang tak penting itu hidup dalam “ingatan kolektif yang abai”.
Hari-hari ini, ideologi arloji itu, saya temukan lagi dalam sikap seabrek orang. Yang terbaru adalah berita video *** Ariel Peterpan. Setelah beberapa hari digoncang heboh video ber ehm ehm dengan wanita yang diduga Luna Maya dan yang diduga Cut Tari (sengaja saya menggunakam kata yang diduga karena belum pernyataan resmi dari mereka-biasa takut kena pencemaran nama baik, hehe), malamnya saya melihat Ariel menyanyi dengan santainya di Global TV. Begitu juga Luna Maya yang tetap memandu acara Dahsyat di RCTI pada pagi harinya.

Aduh-aduh, polah apa ini yang sedang dilakoni. “Capek deh mikir dunia.” Begitu kata saya. Tiba-tiba seorang teman menyahuti, “Alah kamu mikir diri sendiri juga belum becus benar.” Iya juga sih. Kata Lora saya, anak seorang kiai di Madura, “Gak usah jauh-jauh. Di sekeliling kita saja juga banyak.” Kata lebar mulut saya sembari berucap, “Ah masak?!”.

Dulu Ariel, seingat saya pernah menolak mengakui Allea sebagai putrinya dan menganggap sang ibu tidak hamil karena dirinya. Tapi seperti arloji kita yang selalu kita lupakan tiap detiknya. Tik tok tik tok, si Ariel menganggap bahwa kita masyarakat Indonesia sudah alpa dan kemudian ia pun mengakui Allea sebagai putrinya dan kita pun seakan he’e-he’e saja. Eh, sekarang tiba-tiba datang dengan video heboh yang konon sengaja direkam Ariel dengan sekitar 35 wanita. Waduh-waduh! Arek iki maniak opo psikopat yo?. Sebelum Ariel, kita juga dihadapkan pada sikap Anji Drive dengan sumpah-sumpah yang menolak mengakui anak yang dikandung dan kemudian dilahirkan oleh Shella Marcia, tapi dengan segera tiba-tiba mengakuinya, cik cik… fuhh.., dan jika saya tak menulisnya di sini mungkin Anda juga telah “melupakan”nya dalam hitungan tik tok arloji kita.

Sebelum itu, diva Indonesia bernama Krisdayanti tengah gundah karena, “Aurel tak mau menatap saya ketika berbicara. Dia sibuk memainkan teleponnya.” Sebabnya, Aurel belum memberi izin ibunya untuk menilah lagi. Tabloid wanita ramai memberitakan hal itu, juga tentu, infotainment, dan situs-situs berita. Dan, seperti bisa diduga, yang akan menikahi KD adalah Rahul Lemos, lelaki yang karenanyalah Anang menjatuhkan talak.
KD, dengan santai, bercerita tentang hasratnya untuk cepat menikah, bukan karena dia lupa pada ucapannya bahwa, “Tak ada orang ketiga dalam perceraian kami,” melainkan dia percaya, penggemar dan pemirsa telah alpa.

KD tak sepenuhnya benar. Khalayak tidak alpa, apalagi lupa, cuma menganggap perselingkuhannya bukanlah sesuatu yang pantas dikenang, dimemorikan. Ironi ini, dalam bahasa Dr Risa Permanadeli, adalah ciri masyarakat Indonesia, yang, “Cenderung mengubur memori kolektifnya.”

Dan kita harus mengakui lemahnya memori kolektif itu. Tora Sudiro kemudian menikah dengan Mieke Amalia, yang dia bantah menjadi sebab kehancuran rumah tangganya. Juga Dona Agnesia, yang secara mendadak berpisah dari Okan, lalu menikah dengan Darius. Dalam sengketa asmara itu, semua aktris membantah kehadiran orang ketiga, tapi waktu kemudian membuktikannya.

Apa yang dibantah, bahkan dengan sumpah, menjadi tak penting lagi. Dalam tik-tok arloji, kelampauan adalah keusangan. Meski itu menyangkut janji, atau hati. Yang menyergap, yang harus dikalahkan, adalah masa depan.

Pada akhirnya, di masyarakat kita, kuburan memori kolektif itu adalah uang. Dan ini tak salah. Agustinus, dalam Confession menulis bahwa ingatan, juga kesadaran seseorang, terentang dengan ekspektasinya tentang masa depan. Ingatan, dengan demikian, selalu berelasi dengan kepentingan dan harapan di masa depan. Lupa adalah tindak yang dipilih jika bisa melahirkan sebuah harapan. Dan berkaitan dengan uang, harapan itu tentu berwatak personal. Dan karena itulah, kita sulit berpikir sebagai bangsa.

Ingatan dibungkam secara pribadi, orang per-orang, yang melahirkan kelupaan massal. Uang dan iklan –penghipnotis massa– ditembakkan untuk melahirkan impunitas, pengampunan, pemaafan, permakluman. Dengan itulah, Jupe berharap bisa melenggang. Atau Ruhut, dengan ringan berteriak bangsat berkali-kali, meski tahu disorot televisi. Mereka percaya, waktu, ingatan arloji itu, akan dapat memperbaharui diri mereka.
Maka, Vena Melinda pun tertawa, ketika tak hapal lagu “Indonesia Raya”. Juga Inggrit Kansil, yang tak dapat menjelaskan apa hak angket, sampai Rachel Maryam yang lupa sila kedua Pancasila. Tak ada wajah gugup, keringat, atau panik, ketika John Pantau menggoda mereka. Padahal, di saat yang sama, ditunjukkan betapa rakyat jelata, yang mereka wakili, tanpa berpikir bisa menjawab pertanyaan itu termasuk tetangga saya yang setiap hari harus mengayuh becak untuk bisa mencari sesuap nasi.

Dan mereka, aktris yang sebelum kampanye digosipkan tak akan memiliki kemampuan di DPR, tetap terpilih juga. Kita, sebagai warga, tentu masih ingat tentang “cacat” mereka. Tapi ingatan itu berjalan ke belakang, tak berfungsi ke depan.

Sia-sia.

Barangkali, inilah yang dikatakan Spinoza sabagai ingatan yang tanpa sad passion, syahwat kesedihan. Mengingat bagi kita, tak melahirkan sakit, sebaliknya perasaan riang, gembira. Karena kita percaya, dalam tiap cacat masa lalu seseorang yang kita kenang, ada rejeki, uang, harapan, di depan. Kita mengingat bukan dengan afeksi, emosi, dan sentimen-sentimen personal untuk masa depan yang lebih baik, melainkan demi kepentingan personal semata.

Ingatan arloji, kataku. Mari menari! mari beria! mari berlupa! tulis Chairil dalam puisi Cerita buat Dian Tamaela. Karena dalam lupa, dalam ingatan yang tak ingin kita kuasakan, kita bisa bahagia, meski bukan untuk bangsa.

(wes-wes ah. Perut lapar gak ada tahu tek lewat depan rumah. Dari pada nulis arloji waktu mending sekarang cari makanan dulu dan besok menjahit tali arlojiku yang putus-lumayan bisa hemat puluhan ribu rupiah-)

Iklan
Komentar
  1. Ibnu berkata:

    Wah, begitu ya kang..Iya ya kang saya saja juga kadang lupa dengan apa yang diperbuat oleh para wellknown-wellknown itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s