Kesalahan Orang Dalam Pluralisme

Posted: Juni 28, 2010 in Cangkruan, cinta, filsafat, pemikiran, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, , , ,

Saya adalah penganut pluralisme sosial. Maksudnya saya adalah seseorang yang menghargai perbedaan masing-masing individu, kelompok, dan masyarakat. Saya tidak berhak dan tidak berniat untuk menyamakan mereka dalam satu pattern yang saya anut. Karena saya berkeyakinan bahwa kami samua punya hak dan punya pendapat. Dan setiap pendapat terlepas apakah ia salah atau benar haruslah dihargai dan tak boleh dicaci maki apalagi dengan kebencian. Hak kita sebagai sesama masyarakat hanya bisa mengatakan apa yang menurut kita benar dan setelah itu terserah mereka apakah menerima atau tidak. Tak ada hak ijbar (pemaksaan) kepada sesama anggota masyarakat atas suatu kebenaran yang bersifat believe. Maka dari itulah saya tetap bergaul dengan orang-orang yang tidak sepandangan dengan saya, mereka yang beragama lain, mereka yang mempunyai attitude lain dan seterusnya. Termasuk saat saya bilang bahwa natal itu ada dalam al-Qur’an (QS: al-Maryam:33). Saat itu tiba-tiba saja sebagian saudara saya yang muslim langsung salah paham dengan saya dengan mengatakan bahwa saya telah mencampuradukkan aqidah Islam dan aqidah Kristen, saya telah menganggap Yesus sebagai Tuhan, saya telah mencampur antara yang hak dan yang bathil, lagi pula masih menurut mereka apakah saya saya yakin bahwa Yesus itu lahir pada tanggal 25 Desember.

Nah, tulisan ini adalah penjelasan saya akan tuduhan-tuduhan mereka tersebut. Apa yang mereka tuduhkan itu adalah pada isi sebuah ajaran, sedangkan saya melihatnya bukan pada apa yang mereka persepsi dan saya tidak mencoba masuk ke dalamnya. Saya tidak mengurusi apakah Yesus bagi mereka adalah Tuhan atau tidak tapi yang jelas bagi saya Yesus adalah seorang Nabi. Saya tak perlu intervensi pada apa yang mereka yakini dan mereka pun tidak mengintervensi pada apa yang saya yakini. Tengok saja sebuah contoh yang pernah diutarakan Gusdur, ia berkata bahwa hari minggu itu berasal dari Portugal “dominggo” artinya adalah hari perayaan untuk Tuhan. Di Indonesia, kata minggu tetap dipakai tanpa harus mengambil makna asalnya. Contoh lain adalah perayaan tujuh hari kematian pada masa Indonesia Hindu yang bertujuan untuk pemujaan pada arwah-arwah kemudian tetap diambil oleh para penyebar agama Islam di Indonesia lewat akulturasi budaya dan sekarang kita kenal sebagai tahlil (hallala yuhallilu tahlilan) yang dalam bahasa Arab berarti membaca Laa Ilaha Illa Allah. Gending Jawa yang biasanya identik dengan cerita ala Hindu India kemudian diakulturasi sebagai media penyampai dakwah Islam. Tapi perlu saya tegaskan lagi, saya tidak tidak bermaksud mengkiaskan antara perkara natal dengan hari minggu, tahlil ataupun gending Jawa, tapi setidaknya saya ingin mengambil semangat berpikir yang sama berupa bahwa tak selamanya jika kita berbaur dengan orang non-muslim lalu kita menjadi non-muslim. Dalam Bahasa Guru saya adalah, “Ngintiro ning ojo kintir.” Maksudnya adalah kita tetap mempunyai kendali dan kesadaran atas diri kita dan tidak terhanyut terombang-ambing dalam alur deras ‘sungai’. Memang untuk bisa ngintir kita harus bisa berenang, berenang dalam kaidah sosial adalah pemahaman pada agama sendiri secara mendalam dan dilakukan atas dasar baik sangka pada orang lain. Hal ini perlu ditegaskan karena seringkali mereka yang baru belajar agama tiba-tiba menjadi seorang muslim yang tampak militan, membedakan dirinya dengan dunia sekitarnya dan menganggap apa yang tidak sealiran dengan mereka sebagai yang salah, bid’ah, dan kafir.

Memang ada sebagian orang yang berpandangan pada pluralisme agama-agama. Agama-agama bagi mereka pada satu titik akan bertemu dalam satu titik yang sama. Pada beberapa hal saya setuju tapi pada sebagian hal saya sangat tidak setuju. Saya setuju pada penganut pluralisme agama saat mereka mengatakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, bahwa semua agama mengajarkan sebuah kepercayaan akan adanya sebuah dzat mandiri yang kemudian dalam banyak agama mempunyai nama yang berbeda-beda, tapi saya tidak setuju saat ritualitas agama kemudian mereka jadikan kulit belaka yang tak mempunyai makna. Bagi saya ritualitas dan keyakinan yang memiliki kaki-kaki dalam setiap agama haruslah diyakini oleh pengikutnya. Tak bisa seorang muslim hanya berpaham iling-iling misalnya. Tetap harus ada sisi syariah/fiqih-nya yang harus dijalankan, tapi Islam itu bukan hanya fiqih. Malah hal pertama kali yang diajarkan adalah tauhid. Tauhid itu adalah pekerjaan hati, yang juga harus melibatkan otak dan badan sebagai aplikasinya. Islam jika hanya diartikan sebagai fiqih yang kering maka dia akan jadi keangkuhan sosial yang tak bisa sampai pada rasa salam (damai/pemasrahan) seperti yang diinginkan dalam nama Islam itu sendiri.

Sehingga dengan begitu tak perlu kita memperdebatkan apakah natal itu benar-benar terjadi pada tanggal 25 Desember atau tidak, apakah Yesus itu adalah Tuhan bagi mereka atau tidak. Yang jelas Islam menyuruh kita untuk berbaik-baik pada tetangga dan lingkungan sekitar kita. Jadi mengucapkan selamat merayakan hari natal bukanlah suatu yang haram apalagi dapat menyebabkan kekafiran bagi saya dengan syarat kita tidak menganggap Yesus seperti anggapan mereka.(im)

Iklan
Komentar
  1. zakira berkata:

    Mas Ihsan,

    Setahu saya perayaan natal adalah merayakan hari kelahiran Yesus kristus. Yesus kristus dilahirkan didalam kandang domba dan kemudian setelah dewasa dia mati di tiang salib.

    Sejauh yg bisa saya pahami dari alqur’an yg menyatakan bahwa Nabi Isa a.s. tidak pernah disalib. Baik disalibkan sampai benar-benar mati ataupun di salib tapi kemudian lolos dari hukuman ini dalam keadaan hidup.
    Nabi Isa a.s. BUKANLAH orang/oknum yg sama dengan Yesus, dengan alasan:
    1. Nabi Isa a.s. dilahirkan di bawah pokok kurma (alqur’an: surat Maryam), sedangkan Yesus dilahirkan di dalam kandang domba.
    2. Nabi Isa a.s. adalah anak dari Maryam, dan Maryam yg ini TIDAK PUNYA suami ketika melahirkan nabi Isa (lihat alqur’an: surat Maryam). Sedangkan Yesus dilahirkan oleh Maria yg SUDAH PUNYA suami ketika melahirkan Yesus.
    Dua hal di atas cukup menunjukan bahwa memang mereka (Nabi Isa dan Yesus) adalah dua orang yg berbeda. Dan sebagai muslim maka kita wajib percaya kepada keterangan yg datang dari alqur’an.

    Lantas Natal yang mana yg tercantum dalam alqur’an? Tentu saja natalnya Nabi Isa a.s. yg dilahirkan dibawah pokok kurma itu.

    wassalam.

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Jika al-Qur’an saja mengatakan orang Nasrani sebagai Ahlul Kitab kenapa Anda seakan-akan elergi dengan Nasrani, Yesus dan segala atributnya.

    Isa=Yusa=Yesus. Ituadalah nama yang sama. Masalah perbedaan kisah atau sejarah. Itu sudah biasa terjadi. Lah wong kenapa Sukarno berani melawan Belanda dan Jepang saja banyuak versi. Begitu juga tentang proses penulisan pidato kejatuhan Pak Harto. Itu contoh yang masih dekat. lalu bagaimanakita tidak akan berbeda pendapat dengan hal yang jauh seperti masalah kisah The Great Alexander.

    Intinya bukan itu yang ingin saya sampaikan. Tapi adalah toleransi atas kebenaran yang dianut oleh orang lain dan tak selalu memaksakan kebenaran menurut cara kita.

    Biarlah mereka atas apa yang mereka percaya dan kita atas apa yang kita percaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s