Dialog Jodoh (Dialoque of Marriage Partner)

Posted: Juli 11, 2010 in Cangkruan, cinta, filsafat, Pitakonan, Renungan
Tag:, , ,

Malam itu jam 21:54:27 WIB saya hendak tidur setelah sehari lelah beraktifitas. Saat mata akan terpejam, samar-samar kulihat handphone N1200-ku berada lurus dengan sudut mataku. Setengah sadar ku raih hp dua warna itu; warna kuning pada layar dan hitam pada tulisan. Ku ketik huruf “F” di phonebook dan muncullah nama F. Hanim, seorang teman lama yang pernah dekat. Segera saja, ku sapa ia dengan sapaan ringan sms, “Nim, sudah tidur?” lalu ku geletakkan hp itu di sampingku. Saat otak sudah mulai memasuki gerbang mimpi tiba-tiba ada balasan sms dari Hanim yang berada di kota Si Pitung,

“Belum, baru mau tidur. Apa kabar?” kontan mataku langsung terdorong lagi ke dunia nyata untuk membaca sms Hanim.

Ku ketik lagi sms buat Hanim, “Ku baik, Nim. Ku Cuma mau tanya berapa kali kau pernah istikharahkan masalah lelaki?Soalnya ku tengah berada dalam krisis kepercayaan terhadap istikharah, nih.” Begitu kataku pada Hanim.

Sungguh aku tak tahu juga kenapa aku sms begitu. Saat aku sms itu dan langsung mengirimkannya pada Hanim, hati kecilku interupsi, “Ihsan, apa kau tak percaya pada petunjuk Allah?” otak kiriku menjawab, “Bukan tidak percaya. Ini hanya sharing saja kok!” terus hati kecilku tadi berkata lagi, “Kenapa kau pakai acara krisis kepercayaan terhadap istikharah?” lalu sisi lain diriku menjawab, “Nanti dululah jangan buru-buru kau hakimi aku.” Hati kecilku menjawab, “Oke, Fine.” Mendengar jawaban itu kontan aku langsung teringat pada kata-kata Anastasia Marin Purnama, muridku di SMP Alam Insan Mulia yang selalu berkata “fine” setiap kali ku memerintahkan sesuatu.

Dari seberang terdengar bunyi sms balasan,“tit tit, tit tit”. Mataku semakin padang rembulan. Tiba-tiba kantuk itu hilang. Ku buka sms dan kubaca, “Hehe, aku gak bisa ‘n belum pernah istikharah. Biasanya ku minta bantuan orang-orang terdekatku. Aku Cuma shalat hajat. Emang kenapa sampai krisis kepercayaan?” begitu tanya Hanim padaku. Keistimewaan Hanim memang ketenangannya setiap kali ku bertanya. Mirip Timnas Spanyol yang dapat serangan dari Timnas Jerman, mereka tetap saja tenang dan tidak panik serta pintar mengatur ritme permainan. Aku utarakan pada Hanim, “Beberapa kali ku istikharah, mulai dari mengistikharahkanmu dan nyatanya kau tahu sendiri kan, begitu juga mengistikharahkan adek kita, hubungan kami juga tak berhasil. Dan seperti itu juga sepertinya dengan yang sekarang.” Karena mata telah segar bugar, otakku ingat bahwa aku belum shalat isya’. Maka akupun ke kamar mandi mengambil wudhu’ dan melaksanakan shalat isya’ di kamar yang dipan-nya telah ku buang agar terlihat lebih luas untuk ukuran kamar 3×3 meter. Setelah mengucap salam tanda shalat telah selesai. Bunyi sms berdering kembali. Aku ambil dan ku baca, “Aku juga pernah bingung. Apalagi tentang misteri jodoh. Aku juga sering mendapat hasil istikharah yang baik dengan seseorang tapi selalu gagal. Akhirnya ku bisa menyimpulkan sementara teori,’Ibarat botol yang terbuat dari kristal dia bagus. Ada tutup panci yang terbuat dari emas dia juga bagus. Ada tutup botol yang terbuat dari plastik hasil limbah. Dia biasa, bahkan ada yang bilang tidak istimewa. Tapi botol lebih pantas pakai tutup botol atau tutup panci?” untuk membaca sms panjang Hanim, hp-ku error sebagian sms-nya tak dapat ku baca dan muncul bacaan “sebagian teks tidak bisa dibaca”. Waduh kenapa lagi hp ini. Kontan saja aku sms Hanim lagi, “kata-kata sehabis botol tidak terbaca, Nim. Kirim lagi ya…,  “ dan barulah setelah Hanim mengirimkan lagi smsnya baru bisa ku baca seperti yang ku tulis di atas itu.

“Tutup botol? Lah apa hubungannya, Nim? Apa Hanim sedang berbicara tentang masalah kafa’ah/kufu’?” begitu tanyaku pada teori botol milik Hanim. Istilah kafaah atau kufu’ (setara) memang menjadi pembahasan tersendiri dalam hukum Islam. Tidak ada kata sepakat atau ijma’ tentang hal ini. Menurut pendapat yang kuat kafaah dalam Islam adalah dalam masalah iman dan ketaatan. Maksudnya pihak wanita boleh menolak lamaran laki-laki jika diketahui bahwa si laki-laki tidak beriman kepada Allah atau sering berbuat maksiat seperti minum minuman keras, suka berzina, mencuri dan sejenisnya. Namun, sebagian orang walau tak pernah dinyatakan secara langsung kadang-kadang juga percaya bahwa kafa’ah berarti juga kesetaraan dalam harta benda dan status sosial. Itu misalnya terjadi saat ada anak petinggi polisi di Surabaya yang cantik jelita lewat di depanku. Aku bertanya pada teman yang menemaniku, “Subhanallah cantik sekali! Siapa dia, leh?” pangilan leh untuk menyebut nama temanku yang bernama Sholeh. Orang Surabaya memang suka memanggil nama seseorang dengan satu suku kata saja. Misalnya memanggil Ihsan dengan San, memanggil Sholeh dengan Leh, memanggil Haji dengan Ji, memanggil Muhammad dengan Mad, dan seterusnya. Kontan Sholeh langsung menjawab, “Ndue pabrik piro awakmu kok takok-takok arek iku?-Kamu punya pabrik berapa berani-beraninya tanya anak itu?-“. Nah, ini menandakan pendapat Sholeh yang ingin mengatakan bahwa saat itu saya tidak level dengan anak petinggi polisi yang cantik jelita dan sering bergonta-ganti mobil itu. (walaupun sampai sekarang aku tak tahu dari mana mobil-mobil itu. Apalagi setelah tahu bahwa gaji perwira polisi ternyata tidak tinggi atau hampir sama dengan pendapatan kotorku dari usaha laundry).

Layar hp menyala lagi, kali ini sengaja ku silent agar orang rumah yang sedang tidur tidak terganggu dengan bunyi sms. “Maksudku lebih dari sekedar kafa’ah,” Begitu kata Hanim.

“Lebih dari sekedar kafa’ah? Lalu apa ya? Apa mungkin yang Hanim maksud adalah klop/nyambung/sreg. Tapi bukankah hubungan itu pasti pasang surut?” aku mengernyitkan dahi dan mencoba menebak apa kira-kira maksud Hanim lebih dari sekedar kafa’ah. Sambil begitu ku klik kirim. Sesaat kemudian ada balasan lagi yang berbunyi, “Gak tahu bener apa gak. Menurutku yang namanya jodoh itu ibarat botol+tutupnya. Kalau udah menyatu, meski kosong. Ditaruh di air dia gak akan tenggelam,” wah berat nih. Begitu pikirku membaca sms Hanim. Anak ini tambah filosofis saja sejak pertemuan terakhir dua tahun yang lalu.

Aku keluar rumah untuk menghirup bunga melati yang biasanya merekah dan menimbulkan semerbak mewangi. Ku cium bau wanginya dan hatiku berkata, “Terima kasih ya, wahai melati. Sungguh engkau sangat baik sekali.” Tersenyum aku ke arahnya. Ternyata banyak orang belum tidur di tengah malam ini. Mungkin efek dari Piala Dunia. Hp yang kupegang bergetar lagi tanda sms masuk. Ku lihat dari Hanim, ku baca, “Pertanyaannya, misalkan pean mengistikharahi tiga perempuan, dalam kondisi dan waktu berbeda dan masing-masing hasilnya baik semua, apakah tiga orang ini jodoh pean.” Sebenarnya saat itu ingin kujawab “mungkin saja” tapi tentu sekarang aku tak mau terlibat perdebatan tentang poligami dengan Hanim karena pasti bisa membawa mimpi buruk. Saat itu ku tulis, “Jawabannya mungkin tidak. Walau sebenarnya aku gak tahu. Sederhana tapi agak ribet juga ya……” dari seberang setelah ku berbincang-bincang dengan tetangga yang belum tidur. Sms dari Hanim datang lagi, “He..he.., iya ya. Ku juga sering tertawa sendiri, kalau mikir tentang filosofi jodoh. Tapi saat ini, aku menyimpulkan ternyata sesuatu atau seseorang yang secara umum terlihat baik. Belum tentu cocok dengan kita. Kadang kita membutuhkan seseorang yang secara umum gak baik, untuk melengkapi hidup kita. Dan ternyata itu yang paling kita butuhkan dan yang tahu tu hanya Sang Maha Pengatur.“ wah dalem nih jawaban Hanim. Makin malam makin dalem saja. Tapi itulah Hanim seorang perempuan yang selalu berpikir dan suka membuktikan bahwa dirinya mandiri. Ku klik jawab, dan ku tulis, “Wah itu dalem, tapi juga penuh pertanyaan. Kalau aku jujur, ingin yang baik, cantik dan seiman. Tapi entahlah….” begitu kataku dalam sms. Memang bingung mikir masalah jodoh. Kadang mirip dengan saat membicarakan roh. Apa mungkin ribet karena termasuk empat urusan yang telah ditentukan Allah sejak zaman azali? Ah, tak tahulah itu. Beberapa saat kemudian hp bergetar lagi dan ku buka, “He.. he.. mudah-mudahan keinginan pean terkabul. Amin.” Begitu kata Hanim, terbayang senyumnya yang manis tapi segera aku beristigfar, “Astagfirullahal adhim!” ku ketik lagi padanya, “Buat kita berdua. Amin ya Mujibas Sailin. Terima kasih ya, Nim.” Begitu ujarku atas sharing Hanim malam itu yang begitu menarik. Aku bersiap kembali ke dalam rumah. Ku buka perlahan daun pintu agar ibu tidak terbangun, ku tutup pintu dan ku kancing secara perlahan. Sampai di kamar, ada sms kejutan dari Hanim, “Gak Ah.” Hah… begitu kataku seketika saat membaca sms Hanim. Tapi ku segera mengerti saat melanjutkan membaca sms, “Aku gak mau punya suami cantik…., ya sama-sama.” Oh begitu toh maksudnya. “Ya lek (kalau) pean seng ganteng yaa.. minimal kaya aku lah, ” begitu ralatku pada Hanim dengan sedikit bergurau. “He..he…,” begitu jawab Hanim. Aku pun menaruh hp di atas lemari kecil di dalam kamar. Ku pejamkan mata dan alam tidurpun segera terbuka untukku.

Sebelum benar-benar ternyenyak. Hati kecilku menagih janji,”Ayo katakan kenapa kau bilang krisis kepercayaan terhadap istikharah?” mendengar hati kecil yang kritis aku tersenyum dan berkata, “I still believe My God. Mungkin aku hanya berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain.” Begitu kataku mengutip kalimat terkenal dari Khalifah Umar bin Khattab.

Entahlah, bagaimana konsep jodoh menurut Anda. Mudah tapi kalau dipikir rumit juga, rumit tapi kalau dijalani kadang mudah. Kata orang madura, “Pang gempang melarat” tapi apapun itu Allah punya rahasia tersendiri bagi kita. Mungkin yang perlu kita ingat bahwa cinta dan jodoh adalah hak prerogatif Tuhan. Jangan sekali-kali kita mendahului Tuhan karena mungkin takdir Tuhan tak pernah terbayang dalam pikiran kita. Wallahu ‘a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s