Kenapa Harus Cantik?

Posted: Juli 23, 2010 in Awewe, Cangkruan, cinta, filsafat, pemikiran, Pitakonan
Tag:, ,

“Sekarang kadernya banyak yang cewek, Cak.” Begitu kata seorang sahabat PMII Tarbiyah pada saya dalam sebuah pertemuan di Yayasan Khairul Arif Gunungsari Surabaya. Saya tidak itu nada keluhan atau nada kebanggaan. Akan tetapi yang jelas seakan-akan ia sulit untuk membentuk teman kesepemahanam dengannya yang bisa dilakukan olehku dan oleh sahabat-sahabat lain yang laki-laki. Dan itu terlihat dari prosa berikutnya. Jika itu keluhan maka saya paham atas keluhan itu, ia berprasangka bahwa jika kebanyakan kadernya perempuan maka akan terjadi beberapa hal yang tak diinginkan. Di antaranya adalah keterbatasan jam malam bagi para kader perempuan karena mereka adalah perempuan yang subordinate secara sosial atau dalam bahasa orang tua, “Rentan kejahatan, rentan pelecehan dan rentan melanggar norma sosial agama.” Lagipula memang para perempuan seringkali menutup diri dari hal-hal tertentu kepada para lawan jenisnya semisal masalah menstruasi dan lain-lainnya dalam bungkus kaidah “urusan cewek”.

Atas hal itu saya pun berujar, “Loh, berarti ini potensi kan?!” begitu saya tegaskan pada sahabat-sahabat, “Kalau para aktifis cowok, itu sudah biasa, tapi kalau cewek ini baru hebat.” Begitu kata saya pada para sahabat.

“Iya, Kang. Sekarang kadernya cantik-cantik.” Begitu kata seorang sahabat berkacamata di depan saya. Atas pernyataan itu kemudian saya nyatakan, “Apalagi cantik! Wow, itu sunggguh aset yang tak ternilai harganya. Kalau aktifis perempuan jelek itu mah biasa, tapi kalau aktifis perempuan dan cantik pula. Itu sungguh-sungguh sangat menjual.” Menjual dalam pengertian saya adalah pencitraan yang baik pada mahasiswa/i awam. Karena selama ini aktifis itu identik dengan kummel, tidak mandi, bau, jelek, dan serangkaian citra yang oleh manusia normal tidak diinginkan. Nah, dengan para kader perempuan cantik, setidaknya kita dapat mengemas idealisme dengan sedikit elegan dalam bingkai marketing modern.

“Mereka sudah cantik secara fisik. Sekarang tugas kalian adalah mempercantik secara ide-ide dan pikiran.” Begitu tambahku lagi.

“Tapi ini Kang apa tidak takut terjebak pada alasan-alasan biologis. Soalnya terkadang, beberapa senior mengincar kader-kader putri kami.” Begitu khawatir seorang sahabat yang duduk di samping saya.

“Tak usah takut. Yang penting organisasi harus terus berjalan.” Kemudian aku terdiam, “Wah itu nyinggung kamu, Ji. Kalau aku kan tidak punya cewek dari kader.” Singgungku kepada sahabat di depanku yang ku panggil Ji dengan bercanda.

Kontan singgunganku membuat sahabat tadi terdiam dan yang lainnya tertawa. Entah kenapa dia diam. Paling tidak ada dua alasan. Pertama, dia merasa sebagai terdakwa sehingga tidak berani menjawab, kedua, dia diam karena tidak ingin masalahnya akan jadi topik dalam cangkruk malam kami. Karena jika sampai jadi topik bisa habis dia di-gojloki- sahabat-sahabat lainnya.

“Sekarang para wanita itu cantik-cantik. Dan jujur ini bukan hanya pada kasus mahasiswi tarbiyah IAIN, lho! di sekolah, anak-anakku juga cantik-cantik, di Tunjungan Plaza jika aku jalan-jalan atau berbelanja di sana, para SPG dan para pengunjung itu juga cantik-cantik. Jadi sekarang itu hampir semua wanita cantik.” begitu lemparku tiba-tiba pada forum cangkrukan di sebelah sungai Gunungsari itu. “jadi saya tidak heran jika kalian atau seseorang punya pasangan atau istri cantik. karena hampir semua wanita sekarang itu cantik-cantik. maka yang mengherankan adalah jika seseorang punya pasangan atau istri jelek. Pertanyaannya adalah ketemu di mana dia wanita jelek seperti itu di tengah-tengah kerumunan wanita cantik yang ada.” Tambahku lagi. Kontan pernyataanku ini mengundang tawa para sahabat-sahabat yang melingkariku. “Pertanyaannya. Kalau si wanita cantik berarti ia punya kelebihan disbanding wanita cantik. Mungkin pintar, rendah hati, penyayang atau lain sebagainya. Tapi yang jelas, hampir semua wanita saat sekarang ini cantik-cantik.” Tambahku lagi.

“Iya, Kang. Wong sekarang semua wanita pake kosmetik kecantikan.” Sahabat di depanku memberi alasan.

“Kenapa wanita lebih suka berdandan daripada belajar karena pria lebih suka melihat daripada berpikir.” Begitu jawabku pada sahabat tadi.

“Tikk!” sahabat tadi langsung menjentikkan tangannya dan menunjuk dengan jari telunjuknya tanda sepakat denganku. Dari gayanya setidaknya dia menemukan jawaban yang juga menjadi pertanyaannya selama ini.

“Coba kita para lelaki lebih suka menghargai otak wanita daripada wajah dan tubuhnya tentu mereka akan lebih suka belajar ketimbang memantas diri.” Lanjutku.

“Oh begitu ya, Cak.” Kata seorang sahabat di samping kananku yang sedari tadi diam mendengarkan

Perbicangan pun berlanjut pada rel kereta api organisasi. Seteah malam menunjukkan kelarutannya, aku dan beberapa orang berpamitan untuk pulang meninggalkan para sahabat yang masih terus berproses. Motor ku nyalakan dan aku pun pergi menghilang dalam gelap malam.

Iklan
Komentar
  1. adul berkata:

    betul…
    akan tetapi kecantikan membuat senior dan pengurus sering terbuai. sebuah pengakuan malam hari yang tak sengaja saya mencoba menelpon kepada kader bawah saya, ungkapan yang sungguh mengejutkan. ketika saya tanya, kenapa tidak aktif. dia menjawab “aduh kak males kayaknya PMII cuma jadi biro jodoh” itu pengakuan yang sangat mengejutkan bagi saya, sebagai kader PMII tarbiyah….
    hal ini kemudian harus menjadi evaluasi bagi seluruh kader-kader PMII tarbiyah…

  2. Samodra Kalamsae berkata:

    PMII Akhir zaman…..

  3. Ihsan Maulana berkata:

    Buat Adul, tidak selalu relasi ketertarikan senior ke junior harus dilihat seperti itu. Tapi memang profesionalisme gerakan haruslah dijaga. Akan tetapi kita (termasuk saya dan Anda) tak bisa mendikte cinta. karena cinta adalah hak prerogatif Allah.

    Buat Kang Edo, kita memang hidup di akhir jaman. Tapi kita adalah intelektual organik atau ulama’ akhirat yang menuntun umat pada kebaikan. terus berusaha hingga Tuhan menganggap kita telah tidak mampu dengan mendatangkan Imam Mahdi dan Nabi Isa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s